azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu
Seminggu sejak kematian Naima, rumah keluarga terasa begitu hening, malam itu Kiano ijin pulang pada kedua mertuanya yang terpekur di ruang tamu.
"Aku harus pulang, pak, buk. Lusa aku harus masuk kerja" pria itu bersila duduk di depan kedua mertuanya.
"Rania akan kubawa"
Pak Amir dan buk Danila menatap lekat menantunya itu, sorot mata keduanya masih sendu.
"Kalau kamu bawa Rania, siapa yang mengurusnya kalau kamu bekerja?"
Kiano tak menjawab, pertanyaan mertua perempuannya itu sudah menjadi pertanyaannya juga sejak kemarin. Namun tidak mungkinkan kalau dia meninggalkan bayi cantiknya itu di sini.
"Aku akan cari pengasuh buk" sahutnya lirih, pria itu menatap kedua mertuanya bergantian.
"Kian!" panggil pak Umar, pria paruh baya itu menatap lekat Kiano.
"Bapak tahu apa yang ingin bapak sampaikan padamu ini, mungkin terdengar janggal. Tapi coba kamu pikirkan dengan kepala dingin yah"
Kiano mengernyitkan keningnya, menatap heran mertuanya itu, yang kelihatan sedikit gugup.
"Kami tak tega melepasmu pulang membawa Rania, usianya juga baru seminggu..."
Kening kiano semakin berkerut, kedua mertuanya menatap ke arahnya dengan sorot mencurigakan.
"Tinggalkan Rania di sini, beberapa bulan saja sampai kamu bisa mengurusnya dengan bantuan pengasuh.."
Mata kiano semakin memicing, duduk buk Danila, ibu mertuanya itu terlihat gelisah di samping suaminya yang berbicara.
"Tapi kalau kamu bersikeras tetap ingin membawa Rania pulang..."
Pak Umar menggantung ucapannya, menatap Kiano lekat, menanti reaksi pria itu.
Alis Kiano semakin tertaut, kegugupan kedua mertuanya sedikit mengganggu.
"Bawa Azalea, Kian"
Kiano terperangah, menatap tak percaya. Seakan ingin meyakinkan apa yang barusan didengarnya, pria itu menaikkan alisnya sebelah.
"Maksud Bapak apa yah?"
"Nikahi Azalea, Kian!"
"Pak!" kiano terkejut, "Istri saya baru meninggal pak, kuburan Naima juga masih basah.."
"Bapak tahu!" sahut pria paruh baya itu mengangguk setuju.
"Tapi Rania butuh ibu, putri kecilmu itu butuh kasih sayang seorang ibu, Nak"
Kiano menggeleng keras, tak terima. Matanya menatap nanar, bagaimana bisa ayah mertuanya itu meminta ia menikahi adik iparnya sendiri.
Dia tahu Rania butuh seorang ibu, walau Kiano tidak memiliki niat untuk menikah lagi, dia tahu putrinya butuh kasih sayang seorang ibu.
"Aku tidak ingin menikah, pak. Apalagi ini! Menikahi Azalea..hhhhh, tidak mungkin pak"
Pak Umar dan buk Danila saling menatap, keduanya menghela nafas bersamaan. Mereka sangat tahu kalau Kiano sangat mencintai Naima, mereka juga tahu kalau menantu mereka itu tidak ingin menikah lagi.
Namun usul ini tetap harus mereka bicarakan dengan Kiano, tak tega rasanya melihat cucu mungil mereka itu hidup tanpa seorang ibu.
"Tak bisakah kamu memikirkan Rania, Kian?bagaimana kamu bisa mengurus bayi merah itu sendirian?"
"Tapi Buk" sambar Kiano cepat, kepalanya masih menggeleng."Tetap tidak mungkin rasanya kalau aku harus menikahi Aza"
Kiano menatap kedua mertuanya yang terdiam, "dan Aza juga nggak mungkin mau!"
Wajah buk Danila seketika tersenyum, "Urusan Aza biar ibu yang membujuknya, gadis itu juga pasti setuju"
Kiano mengamati kedua mertuanya, benaknya masih berisik. Bagaimana bisa mereka memiliki ide seaneh itu, memintanya menikahi Azalea yang ternyata juga tidak tahu menahu.
"Kalau kamu harus kembali besok, pergilah!" ujar pak Umar, kepala pria paruh baya itu mengangguk pelan.
"Minta cuti lagi untuk beberapa hari di kantormu, setelah menikahi Aza. Kalian bertiga boleh pulang ke Jakarta"
Kiano tak menjawab, matanya hanya menatap kedua mertuanya itu.
^^^^^^^^^^^^^^
Kiano Sadewa, pria itu sangat mencintai Naima Larasati. Wanita yang dipacarinya sejak di bangku kuliah, seminggu sejak kepergian Naima, Kiano merasa hidupnya begitu hampa.
Usia pernikahannya dengan Naima baru berjalan 2 tahun, dia dan Naima dengan beberapa temannya membuat sebuah badan usaha yang cukup berkembang.
Saat ini Kiano menjabat sebagai pimpinan di sana, sementara Naima begitu menikah mengundurkan diri. Wanita itu mengabdikan hidupnya sebagai ibu rumah tangga, menjadi wanita rumahan, cita-cita yang selalu ia dengungkan.
Kiano sangat mencintai Naima, begitu juga sebaliknya. Hubungan mereka di mulai di tahun pertama perkuliahan mereka, jika dihitung-hitung, mereka telah bersama lebih 8 tahun.
Kiano telentang di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Naima wanita anggun yang sangat cantik, Kiano jatuh cinta pada pandangan pertama. Rambutnya yang ikal, dengan kulit putih. Mata indahnya yang selalu berbinar indah, membuat Kiano benar-benar jatuh dalam pesona wanita itu.
4 tahun mereka menjadi pasangan paling romantis di kampus, pasangan paling serasi. Kiano dengan tubuh tinggi kekarnya, hidung mancung dengan bola mata keabu-abuan.
Dengan visual yang ia punya sebenarnya Kiano bisa saja menjadi pria mata keranjang. Apalagi banyak wanita yang mendekatinya, namun cintanya pada Naima membuatnya buta.
Bagi Kiano, Naima adalah cinta pertama sekaligus terakhirnya. Sedikitpun tak ada niatan di hatinya untuk mengganti posisi wanita itu dari hidupnya.
Namun tiba-tiba saja takdir berkata lain, Naima meninggal saat melahirkan Rania, buah cinta mereka.
Kiano hampir gila, sampai saat ini hatinya masih belum menerima kepergian istrinya itu. Seminggu ini pun ia tak melirik putrinya sama sekali.
Bayi merah itu tidur bersama mertuanya, tangisan bayi itu tidak menganggunya sama sekali. Kiano merasa kehadiran Rania merusak hidupnya.
Tidak, Kiano tidak membenci putrinya, hanya saja ia masih merasa kalau Rania penyebab kepergian Naima.
Kiano menyayangi Rania, walau rasa itu, perasaannya yang sedih karena kehilangan Naima masih begitu bercokol di hati, Kiano juga tak ingin menghadirkan ibu sambung untuk putrinya itu.
Namun ide ayah mertuanya tadi cukup membuatnya terkejut. Bagaimana bisa mereka meminta dirinya menikahi adiknya Naima itu.
Azalea, gadis itu. Kepala kiano menggeleng pelan, masih menatap langit-langit kamar.
Wajahnya cantik, namun Kiano tidak pernah menganggapnya sebagai seorang wanita. Hubungan mereka juga tidak terlalu dekat, Azalea sedikit berbeda dengan kakaknya.
Gadis itu sedikit tomboy, dengan penampilannya. Rambutnya bondol, dan Kiano tidak pernah melihat Azalea berpenampilan feminim.
Saat ini adik iparnya itu bekerja di showroom mobil, bertugas sebagai debt kolektor.
Kepala Kiano menggeleng keras, walau Azalea cantik. Visualnya malah lebih cantik dari Naima, tapi Azalea sangat tidak mungkin bisa menjadi seorang ibu.
Pesimis rasanya membayangkan, jika benar ide kedua mertuanya itu bisa terjadi. Bagaimana bisa Rania dibesarkan dan diurus gadis tomboy itu.
Tapi membayangkan Rania dibesarkan orang lain, Kiano juga tak tega.
"Aku harus bicara dengan Aza" gumamnya pelan.
Kalau Azalea menyetujui usul kedua orangtuanya, Kiano harus berbicara dulu dengan gadis itu. Pernikahan apa yang akan mereka jalani kedepannya.
Baginya Azalea tetaplah adik ipar, ada beberapa hal yang harus mereka sepakati terlebih dahulu.
"Hhhhhhh" Kiano menghela nafasnya yang terasa menyesakkan dada.
"Benar kata bapak dan ibu tadi, bagaimanapun Rania butuh ibu"
Bersambung....
Hallo..semuanya. Ketemu lagi dengan karya terbaruku ❤️❤️
Dukung terus yah 💪💪💪
Jangan lupa like, komen dan votenya.
Biar makin semangat nih 😍😍
.