Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — Lelaki yang Tidak Pernah Dikenal Dila
"Jatmiko bukan ayah biologismu."
Kalimat Azam jatuh seperti petir di tengah ruangan yang sunyi. Tidak keras, tapi menghantam setiap dinding, setiap napas, setiap jantung yang ada di sana.
Dila tidak bergerak.
Matanya yang semula menatap Azam, perlahan beralih kepada Jatmiko. Mencari. Memohon. Menunggu satu bantahan yang bisa menyelamatkannya dari kenyataan ini.
"Ayah..." suaranya hampir hilang.
Jatmiko berdiri kaku. Wajahnya yang tadi sudah pucat, kini seputih kertas. Bibirnya bergetar, mencoba merangkai kata.
"Dila..."
"Bilang kalau itu bohong, Yah," Dila melangkah maju, matanya mulai berkaca-kaca. "Bilang kalau hasil tes itu salah. Bilang kalau laboratoriumnya salah."
Jatmiko membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya tercekat.
"Bilang, Yah!" Suara Dila meninggi, pecah oleh tangis yang ia tahan. "Bilang kalau Ayah adalah ayahku! Bilang!"
Jatmiko akhirnya menutup matanya. Air mata yang ia tahan selama puluhan tahun akhirnya jatuh. Satu anggukan pelan, yang lebih menyakitkan dari seribu penolakan.
"Ayah bukan ayah biologismu, Nak."
Dunia Dila runtuh.
Air matanya langsung tumpah deras, tanpa bisa ia tahan lagi. Lututnya lemas.
Fadil dengan sigap menangkap tubuh istrinya yang hampir ambruk dan memeluknya erat dari samping.
"Dila... tarik napas, Sayang... tarik napas..."
"Aku..." Dila terisak di dada Fadil, suaranya terputus-putus. "Selama ini aku memanggilnya Ayah... aku menunggu Ayah selama seumur hidupku..."
Jatmiko menundukkan kepala dalam-dalam. Bahunya terguncang.
"Dan Ayah tetap menganggapmu sebagai anak Ayah, Dila. Dari detik pertama Larasati meletakkanmu di pelukan Ayah, kamu adalah anakku. Darah tidak pernah mengubah itu."
"Tapi Ayah bukan..." Dila tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Kata itu terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Jatmiko melangkah mendekat, ingin menyentuh putrinya.
"Dila..."
"Jangan," Dila mundur selangkah, mengangkat tangan. Bukan karena benci, tapi karena ia butuh udara. "Jangan dulu, Yah. Beri aku waktu. Tolong."
Jatmiko berhenti. Ia mengangguk dengan hancur. "Ayah mengerti. Ayah akan menunggu. Berapa lama pun."
Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari rumah lama Larasati yang lembap dan dingin itu.
Dila duduk di kursi belakang mobil bersama Fadil. Tubuhnya bersandar di jendela, matanya menatap kosong ke hamparan sawah yang gelap yang melintas cepat. Jatmiko memilih duduk di mobil lain bersama Azam, memberi Dila ruang yang ia minta.
Sepanjang perjalanan pulang, Dila tidak berkata apa-apa. Fadil juga tidak memaksanya bicara. Ia hanya duduk di sampingnya, menggenggam tangan Dila yang dingin, sesekali mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Ia tahu ada saatnya seseorang tidak butuh nasihat, hanya butuh seseorang yang tetap tinggal dan tidak pergi ke mana-mana.
Akhirnya, dalam sunyi itu, Dila bersuara pelan, hampir seperti berbisik pada kaca jendela.
"Mas."
"Ya, Sayang?"
"Kalau aku bukan anak kandung Ayah Jatmiko..." suaranya bergetar, "lalu siapa aku? Siapa aku sebenarnya?"
Fadil menoleh dan menatap istrinya dengan lembut.
"Kamu tetap Dila," jawabnya tanpa ragu.
"Tapi siapa orang tuaku, Mas? Kenapa hidupku harus begini? Kenapa dari lahir aku sudah dibohongi?"
Fadil meraih tangannya yang lain, menggenggam kedua tangan Dila dengan erat.
"Kita akan cari tahu sama-sama. Pelan-pelan."
"Kalau ternyata orang itu sudah meninggal?"
"Kita tetap cari kebenarannya. Supaya kamu bisa berdamai."
"Kalau ternyata dia orang jahat, Mas? Kalau ternyata ayah kandungku adalah orang yang membunuh Ibu?"
Fadil tersenyum tipis, senyum yang tulus dan menenangkan di tengah kekacauan itu.
"Kalau dia orang jahat, kita tidak harus menjadi seperti dia, Dila. Kamu buktinya. Kamu tumbuh menjadi perempuan baik hati bahkan setelah semua kebohongan ini. Darah tidak menentukan siapa dirimu. Pilihanmu yang menentukan."
Dila menatap suaminya, air matanya kembali mengalir, tapi kali ini terasa hangat.
"Mas tidak takut punya istri yang bahkan tidak tahu siapa ayahnya?"
"Takut," jawab Fadil jujur.
"Lalu kenapa Mas tetap tenang begini?"
"Karena kalau aku ikut panik," Fadil mengusap air mata di pipi Dila, "kamu tidak punya tempat untuk bersandar. Dan tugasku malam ini hanya satu: menjadi tempat kamu bersandar."
Dila terdiam. Perlahan kepalanya bersandar di bahu Fadil yang kokoh. Bahu yang selalu ada.
"Terima kasih, Mas."
Fadil mengusap rambutnya dengan lembut. "Tidurlah. Walaupun pura-pura."
"Aku tidak bisa tidur."
"Kalau begitu pura-pura tidur saja. Biar aku yang berjaga."
Dila tertawa kecil di tengah tangisnya. Tawa kecil yang pecah. "Mas aneh."
"Yang penting berhasil membuatmu tersenyum sedikit."
Di mobil lain, suasana tidak kalah berat.
Jatmiko duduk diam menatap jalanan yang kosong. Kedua tangannya mengepal di atas lutut.
Azam yang menyetir, melirik dari kaca spion.
Beberapa kilometer berlalu tanpa percakapan, hanya suara mesin mobil.
Akhirnya Jatmiko bersuara, suaranya serak.
"Azam."
"Ya, Paman?"
"Kamu yakin hasil DNA itu benar? Tidak ada kesalahan pengambilan sampel?"
Azam menghela napas pelan. "Laboratorium sudah memeriksanya dua kali, Paman. Sampel pembandingnya dari sikat rambut Larasati dan darah Dila. Hasilnya nol persen kecocokan alel paternal dengan Paman. Secara biologis, Paman bukan ayahnya."
Jatmiko menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar hebat.
"Tidak mungkin... Larasati tidak mungkin mengkhianatiku... Dia mencintaiku..."
"Selama dua puluh delapan tahun aku percaya Dila adalah darah dagingku, Zam," isaknya tertahan. "Walaupun ternyata dia bukan anak biologisku... dia tetap anakku. Dia tetap putri kecilku yang dulu kutimang-timang."
"Aku tahu, Paman. Aku tahu," jawab Azam pelan.
"Yang ingin aku tahu sekarang..." Jatmiko mengusap matanya yang merah, tatapannya berubah menjadi tajam dan penuh amarah yang tertahan, "Siapa ayah kandungnya? Siapa lelaki yang membuat Larasati harus berbohong padaku selama ini?"
Azam memandang jalanan gelap di depan.
"Kita akan menemukannya, Paman."
"Tapi aku takut, Zam," bisik Jatmiko.
"Takut apa?"
"Sebelum Larasati meninggal, dia pernah berkata satu hal yang tidak pernah aku pahami sampai malam ini. Dia bilang... Dila bukan hanya disembunyikan karena masalah warisan keluarga Wiratama."
Azam mengerutkan kening. "Lalu karena apa?"
Jatmiko menjawab pelan, dengan suara yang penuh ketakutan seorang ayah,
"Dia disembunyikan karena ayah kandungnya adalah orang yang sangat berbahaya. Orang yang bahkan keluarga Wiratama pun takut padanya."
Malam hari, mereka kembali ke rumah aman yang sederhana itu.
Dila langsung masuk ke kamar dan mengunci diri. Fadil menyusulnya, membiarkan istrinya menangis sepuasnya di dalam pelukannya.
Jatmiko memilih duduk sendirian di ruang tamu yang temaram, menatap foto Larasati yang ada di kotak kayu, tanpa bergerak.
Azam dan Laras duduk di meja kerja, membahas hasil penyelidikan dengan suara pelan.
Namun sebelum mereka sempat mengambil keputusan, suara deru mobil berhenti di depan gerbang rumah terdengar. Lampu sorot mobil itu menyinari jendela.
Laras yang paling dekat dengan monitor CCTV langsung siaga.
"Pak Azam."
"Apa?"
"Ada seseorang di depan. Sendirian."
Laras memperbesar gambar. Wajah seorang lelaki tua terlihat jelas di layar infra merah. Rambutnya memutih, wajahnya tirus, tapi sorot matanya tajam menusuk.
Jatmiko yang mendengar percakapan itu langsung berdiri dan melihat ke layar. Seketika, wajahnya yang sudah pucat menjadi semakin pucat, seperti melihat hantu.
"Tidak mungkin... tidak mungkin dia masih hidup..."
Azam menoleh cepat. "Paman kenal orang ini?"
Jatmiko mengangguk dengan bibir gemetar. "Itu... itu..."
Pintu depan diketuk. Tiga kali. Pelan, sopan, tapi tegas.
Tok. Tok. Tok.
Dila yang mendengar suara itu keluar dari kamar dengan mata sembab. "Ada siapa?"
Jatmiko langsung panik dan berdiri di depan Dila, menghalanginya.
"Jangan keluar, Dila! Masuk kembali ke kamar! Dengarkan Ayah!"
"Kenapa, Yah? Siapa di luar?"
Namun sebelum Jatmiko selesai bicara, suara berat seorang lelaki tua terdengar jelas dari balik pintu kayu itu.
"Jatmiko. Aku tahu kamu di dalam. Buka pintunya."
Jatmiko membeku. Suara itu. Suara yang telah puluhan tahun tidak pernah ia dengar, suara yang ia kira sudah terkubur bersama masa lalu.
"Buka pintunya, Jatmiko. Aku tahu Dila ada di sana."
Dila terkejut dan menatap Jatmiko. "Dia tahu namaku?"
Jatmiko akhirnya berbisik dengan suara yang penuh kebencian dan ketakutan, "Dia adalah orang yang paling tidak ingin Ayah temui seumur hidup Ayah."
"Siapa, Yah?" desak Dila.
Jatmiko menatap pintu itu seolah pintu itu adalah pintu neraka.
"Raden Pranoto. Mantan tangan kanan ayahku. Orang yang dulu mengurus semua bisnis kotor keluarga Wiratama."
Azam langsung berdiri, terkejut. "Raden Pranoto? Bukankah dia sudah meninggal sepuluh tahun lalu? Kecelakaan di tol?"
Jatmiko menggeleng pelan, matanya tidak lepas dari pintu. "Itulah masalahnya, Zam. Seharusnya dia sudah mati."
Pintu akhirnya dibuka perlahan oleh Laras atas isyarat Azam.
Seorang lelaki tua berdiri di sana. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, disisir rapi ke belakang. Mengenakan kemeja batik cokelat yang sederhana, namun sorot matanya begitu tajam dan berwibawa, sorot mata seorang pemain lama yang sudah melihat segalanya.
Ia memandang Jatmiko yang berdiri kaku.
"Sudah lama sekali, Jatmiko," ucapnya dengan senyum tipis.
Jatmiko tidak bergerak. "Kau seharusnya sudah mati, Pranoto."
Pranoto tertawa kecil. "Banyak orang di keluarga Wiratama yang berharap begitu, Jatmiko. Banyak sekali."
Kemudian pandangan Pranoto beralih. Ia melihat Dila yang berdiri di belakang Fadil.
Tatapannya yang tajam tadi seketika melembut, berubah menjadi tatapan yang sulit diartikan. Kaget, haru, dan sedih bercampur menjadi satu.
Ia terdiam beberapa detik, menatap Dila dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kemudian ia tersenyum. Senyum tulus pertama malam itu.
"Jadi kamu Dila," bisiknya.
Dila merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada sesuatu yang aneh. Familiar.
"Siapa Anda? Apakah Anda mengenal saya?" tanya Dila.
Pranoto tidak langsung menjawab. Ia justru memandang Jatmiko dengan tatapan menyalahkan.
"Dia sangat mirip ibunya, Jatmiko. Persis sekali seperti Larasati waktu muda. Keras kepala dan pemberani."
Jatmiko langsung melangkah maju, berdiri di depan Dila seperti tameng. "Jangan mendekat padanya, Pranoto. Apa maumu?"
Pranoto mengangkat kedua tangannya, menunjukkan ia tidak membawa senjata.
"Aku tidak datang untuk menyakitinya, Jatmiko. Untuk apa aku menyakiti cucu dari orang yang paling aku hormati? Aku datang untuk memberitahunya tentang ayah kandungnya. Karena hanya aku yang tahu kebenaran itu."
Dila langsung maju selangkah, melupakan rasa takutnya. Fadil mencoba menahannya, tapi Dila sudah terlanjur bertanya.
"Apa Anda tahu siapa ayah kandung saya? Siapa? Tolong katakan!"
Pranoto mengangguk pelan. Ia menatap Jatmiko sejenak, lalu kembali menatap Dila.
"Namanya... Rangga Adiprana."
Nama itu membuat Jatmiko langsung pucat pasi, kakinya hampir lemas dan harus berpegangan pada dinding. Azam yang mendengarnya terkejut bukan main.
"Rangga? Rangga Adiprana?!" Azam mengulang dengan tidak percaya.
Pranoto mengangguk. "Ya."
Dila menatap mereka bergantian, bingung. "Siapa Rangga Adiprana? Siapa dia?"
Jatmiko tidak menjawab. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara.
Pranoto yang menjawab, dengan suara yang pelan dan berat.
"Dia adalah lelaki yang dicintai ibumu, Larasati, sebelum ibumu menikah dengan Jatmiko. Cinta pertamanya. Dan satu-satunya lelaki yang pernah benar-benar dicintai ibumu."
Dila membeku. Kakinya terasa kehilangan tenaga. Fadil yang baru keluar dari kamar dan mendengar kalimat itu ikut membeku di tempat.
"Apa... apa maksud Anda?" bisik Dila.
Pranoto melanjutkan, setiap katanya menghantam jantung Dila.
"Dan dialah... ayah biologismu yang sebenarnya, Dila."
Dila merasa lututnya lemas. Pandangannya berkunang-kunang. Fadil dengan sigap menangkap tubuh istrinya yang limbung.
"Dila! Dila, istighfar!"
"Aku..." Dila menatap Pranoto dengan air mata yang kembali mengalir deras. "Apakah... apakah Ibu mencintai dia?"
Pranoto mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. "Sangat mencintainya. Melebihi nyawanya sendiri."
"Lalu kenapa Ibu menikah dengan Ayah Jatmiko?" tanya Dila sambil menatap Jatmiko yang masih tertunduk.
Jatmiko akhirnya menjawab dengan suara yang hancur. "Karena... karena Larasati mengira Rangga meninggal. Kecelakaan. Itu yang ayahku katakan padanya."
Pranoto langsung menggeleng keras.
"Tidak, Jatmiko. Itu bohong. Itu cerita yang dibuat ayahmu agar Larasati mau menikah denganmu."
Ruangan seketika membeku.
Dila menatap Pranoto dengan napas tertahan. "Dia masih hidup? Ayah kandungku masih hidup?"
Pranoto mengangguk mantap. "Masih hidup. Sangat hidup."
"Di mana? Di mana dia sekarang?"
Pranoto tersenyum tipis. "Itulah alasan aku datang jauh-jauh kemari malam ini."
Ia mengeluarkan sebuah foto dari saku batiknya. Foto yang sudah agak usang.
Dila mengambilnya dengan tangan gemetar.
Foto seorang pria muda yang sangat tampan, dengan senyum yang hangat dan mata yang teduh. Di belakang foto tertulis dengan spidol: Rangga Adiprana — Jakarta, 28 tahun lalu.
Namun ada satu foto lain yang diselipkan di baliknya. Foto terbaru. Hasil cetakan printer.
Dila melihat wajah pria yang sudah jauh lebih tua, rambutnya mulai beruban, tapi senyum dan sorot matanya masih sama persis.
Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa sakit.
"Itu... itu..."
Pranoto berkata pelan, "Rangga masih hidup, Dila. Dan dia tinggal di Jakarta."
Dila menelan ludah dengan susah payah. "Kenapa... kenapa dia tidak pernah mencariku? Kenapa dia membiarkan aku hidup seperti ini?"
Pranoto terdiam sejenak, tatapannya penuh iba.
"Karena dia tidak tahu kamu masih hidup, Nak. Sama seperti Jatmiko dulu."
Dila mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena seseorang membuatnya percaya bahwa kamu dan Larasati sudah meninggal dalam kecelakaan yang sama. Seseorang mengirimkan akta kematian palsu atas namamu kepadanya."
Jatmiko mengepalkan tangannya begitu keras hingga kukunya menancap. "Siapa? Siapa yang tega melakukan itu pada Rangga?"
Pranoto menatap Jatmiko lekat-lekat. Tatapannya penuh arti.
"Kamu seharusnya tahu, Jatmiko. Siapa lagi yang paling takut jika Rangga dan Larasati bersatu dan mengambil kembali apa yang menjadi milik mereka?"
Jatmiko menggeleng pelan. "Tidak... tidak mungkin Ayah..."
Pranoto tersenyum pahit. "Jatmiko... orang yang membuat Rangga menghilang dari kehidupan Larasati dua puluh delapan tahun lalu... adalah ayahmu sendiri. Ayahanda Wiratama."
Jatmiko terhuyung, seperti kehilangan seluruh tenaga. Ia bersandar di dinding.
Dila menatap Pranoto dengan mata yang penuh air mata dan kebingungan.
"Jadi kakekku sendiri... yang memisahkan Ibu dari ayah kandungku?"
"Ya," jawab Pranoto. "Karena keluargamu menganggap Rangga tidak pantas menikahi Larasati. Bukan karena miskin."
"Karena apa, Kek?" tanya Dila, tanpa sadar memanggilnya kakek.
Pranoto menatap semua orang di ruangan itu satu per satu, lalu berkata dengan suara yang sangat pelan namun mematikan.
"Karena Rangga mengetahui rahasia terbesar keluarga Wiratama. Rahasia yang bisa membuat seluruh keluarga itu masuk penjara."
Dila memegang foto itu erat-erat hingga kusut. "Rahasia apa?"
Pranoto menatap Azam, lalu menatap Dila.
"Rangga bukan orang biasa, Dila. Dia bukan staf biasa."
"Apa maksud Anda?"
Pranoto menjawab dengan kalimat yang membuat Azam membeku di tempatnya.
"Dia adalah pemilik sah perusahaan yang sekarang sedang kalian coba selamatkan. Perusahaan Wiratama Group yang kalian banggakan itu... sebenarnya adalah perusahaan milik keluarga Rangga Adiprana. Ayahmu, Jatmiko, dan ayahnya, kakekmu, hanya pengelola yang kemudian merebutnya."
Azam terkejut bukan main, wajahnya pucat. "Mustahil! Semua saham atas nama keluarga Wiratama!"
Pranoto tersenyum sinis. "Saham bisa dipalsukan, Nak. Sama seperti akta kematian bisa dipalsukan. Seluruh keluarga Wiratama telah menggunakan perusahaan milik ayah kandung Dila selama puluhan tahun, di atas penderitaan ibumu."
Dila merasa kepalanya berputar hebat.
"Lalu... di mana dia sekarang? Di mana ayahku?"
Pranoto menjawab, "Dia sedang mencari keluarganya juga. Dia tahu Larasati sudah meninggal, tapi dia tidak pernah berhenti mencari anaknya. Dia tahu anaknya masih hidup."
Dila menahan napas. "Dia tahu tentang aku?"
"Belum. Tapi dia akan tahu malam ini jika kamu mau."
"Lalu bagaimana kita bisa menemukannya? Bagaimana caranya?"
Pranoto tersenyum dan menunjuk buku hitam milik Larasati yang masih ada di tangan Dila.
"Buka halaman yang hilang itu, Dila."
Dila mengerutkan kening. "Halaman itu dibawa Suryanto. Sudah disobek."
Pranoto menggeleng pelan.
"Tidak, Nak. Halaman itu tidak pernah dibawa Suryanto. Suryanto hanya mengambil fotokopinya."
Dila terkejut. "Lalu di mana yang asli?"
Pranoto menatap Jatmiko dengan tatapan yang dalam.
"Halaman terakhir yang asli itu... selama dua puluh delapan tahun... disimpan oleh Jatmiko sendiri tanpa ia sadari apa isinya."
Semua orang di ruangan itu serentak menoleh kepada Jatmiko.
Dila membeku. "Ayah?"
Jatmiko menutup matanya rapat-rapat. Bahunya naik turun.
Dila melangkah mendekat dengan air mata yang mengalir.
"Ayah menyimpan halaman terakhir buku Ibu? Kenapa Ayah tidak pernah bilang?"
Jatmiko tidak menjawab selama beberapa detik. Lalu dengan tangan gemetar, ia mengambil dompet kulitnya yang sudah usang dari saku celananya.
Ia mengeluarkan selembar kertas tua yang telah dilipat menjadi sangat kecil, dilipat berkali-kali hingga hampir hancur, diselipkan di bagian paling rahasia dompetnya.
Dila menatap kertas itu.
"Kenapa Ayah menyimpannya, Yah?"
Jatmiko menyerahkannya pada Dila dengan tangan gemetar.
"Karena ibumu memintaku... sehari sebelum dia meninggal. Dia bilang, 'Mas, simpan ini. Jangan dibuka sampai Dila sudah cukup umur untuk tahu siapa ayahnya. Dan jangan biarkan siapa pun melihatnya, bahkan kamu'."
Dila membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati. Kertas itu sudah menguning dan hampir robek.
Hanya ada satu kalimat pendek di sana, tulisan tangan Larasati yang tergesa-gesa, dengan noda air mata yang mengering.
Jika suatu hari Dila mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, jangan biarkan dia bertemu Rangga sebelum mengetahui kebenaran terakhir tentang ayahnya. Karena Rangga...
Kalimat itu terpotong. Tinta selanjutnya luntur.
Dila menatap Jatmiko dengan napas tertahan. "Kebenaran terakhir apa, Yah? Apa tentang Rangga?"
Jatmiko tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Pranoto justru tersenyum tipis, senyum yang penuh teka-teki dan menyakitkan.
"Karena Rangga bukan satu-satunya orang yang kehilangan anak malam itu, Dila."
Dila mengerutkan kening, bingung. "Apa maksud Anda, Kek?"
Pranoto menatap Dila dengan tatapan yang dalam dan penuh iba.
"Dila... Rangga memiliki alasan sendiri kenapa dia tidak mencarimu selama ini, selain karena dia dikira kamu sudah meninggal."
Dila menahan napas. "Alasan apa?"
Pranoto berkata pelan, dengan suara yang nyaris berbisik, namun menghantam ruangan itu seperti bom.
"Karena dua minggu sebelum Larasati meninggal... Rangga juga pernah menerima sepucuk surat kaleng. Surat yang mengatakan bahwa bayi yang dikandung Larasati... Dila... bukan anaknya. Melainkan anak Jatmiko."
Dila membeku. Darahnya berhenti mengalir.
Dunia yang baru saja ia pahami, yang baru saja ia susun kembali kepingannya setelah tahu Jatmiko bukan ayah kandungnya, kini kembali runtuh untuk ketiga kalinya, dengan cara yang jauh lebih kejam.
Dan kali ini, pertanyaan yang muncul jauh lebih besar dan lebih mengerikan:
Jika Jatmiko bukan ayah biologis Dila berdasarkan tes DNA, dan Rangga juga pernah diberi tahu bahwa Dila bukan anaknya...
Lalu sebenarnya...
Dila adalah anak siapa?
Bersambung...