Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Dua
"Makin hari makin bersemangat aja nih bro." goda pak Sandi yang melihat pak Galih yang fokus dengan pekerjaannya namun tidak terlihat tertekan, justru bibirnya mengulum senyum manis, seolah olah pekerjaan itu hanya mainan yang sangat dia sukai.
Pak Galih menatap sebentar ke arah teman dekatnya itu, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Iya dong, aku berencana saat liburan semester sekolah, mengajak anak anak dan istri ku pulang ke kampung halamannya." ucap pak Galih.
"Wahhhh... Bagus itu, pasti istri mu sangat suka." ucap pak Sandi ikut senang.
"Bukan lagi, istri ku sampai menangis haru, karena sudah sangat lama tidak bertemu dengan orang tuanya, mereka sudah kehilangan kontak sejak lama, semua karena salah ku." ucap pak Galih sendu.
Pak Sandi menepuk pundak temannya itu, pak Sandi tau temannya benar benar sudah sangat menyesali semua perbuatannya, kini temannya itu mau menebus satu persatu kesalahannya itu.
"Anak anak ku juga sangat senang akan bisa bertemu dengan keluarga mereka dari pihak ibu mereka, tapi juga ada rasa trauma akan di tolak oleh keluarga ibunya itu, anak anak ku benar benar di buat trauma karena ulah aku dan keluarga ku." ucap Pak Galih semakin miris, matanya sudah berkaca kaca, dadanya terasa sesak.
"Kamu tenang lah, istri mu pasti bisa menenangkan dan meyakinkan klau keluarganya tidak sama dengan keluarga di sini, sehingga anak anakmu tidak akan merasa takut untuk bertemu dengan keluarga dari pihak ibunya." ucapa pak Sandi menenangkan pak Galih.
Pak Galih mengangguk. "Kau benar, semalam mereka masih bilang tidak ingin pergi, tapi entah apa yang di bisikan oleh istri ku, tadi pagi anak anak sudah bersemangat tidak sabar ingin pulang ke kampung halaman ibunya." ucap pak Galih dengan raut wajah yang kembali cerah.
"Jadi karena itu kau bersemangat bekerja hari ini?" kekeh pak Sandi.
"Hmmm.... Iya, aku ingin membuat beberapa ide proyek yang akan di mulai, semoga ide ini berhasil, aku bisa mendapatkan bonus lebih banyak lagi, dan aku bisa membawakan banyak oleh oleh untuk keluarga istriku di luar kota sana" ucap pak Galih penuh tekad.
"Bagus. Semoga ide kamu di Terima oleh atasan, dan kau bisa punya banyak uang untuk pulang kampung, tapi... Bagaimana dengan ibu mu, apa dia tidak akan menghalangi niat mu? " ujar pak Sandi yang tau akan kelakuan orang tua Pak Galih.
"Aku tidak perduli, aku akan tetap memberikan nafkah untuk ibu ku, jadi dia tidak bisa melarang niatku untuk membawa istriku pulang ke kampung halamannya, istri ku bukan orang sebatang kara, dia masih mempunyai orang tua dan saudara, karena kebodohanku selama ini, istri ku jadi putus hubungan dengan keluarganya." ucap pak Galih.
Pak Sandi mengangguk tanda mengerti, "Rahasiakan dulu niatmu yang mau pulang kampung ini dari ibu dan adikmu, takutnya mereka akan mengggalakan rencana kalian." ucap pak Sandi.
"Iya, kamu benar, klau sampai adik dan ibu ku tau, pasti mereka akan mencari segala cara untuk mengggalakan rencanaku.' ucap pak Galih.
" Ma, apa kakek dan nenek mau menerima kami seperti yang mama bilang? " ucap Laras yang masih ragu dengan ucapan sang mama tadi malam.
"Tentu saja, mereka adalah nenek dan kakek kalian, mereka pasti sangat menyayangi kalian." ucap bu Soraya meyakinkan anak anaknya.
"Tapi klau nenek dan kakek tidak menyukai kami, kita tidak usah berlama lama berada di sana ya ma, kita lansung pulang saja ya." pinta Laras berkaca kaca.
"Jangan berfikir yang tidak tidak sayang, nenek dan kakek kalian bukan lah orang yang seperti itu, mereka sangat menyanyangi anak dan cucu cucu mereka." ucap bu Soraya menenangkan sang putri dengan sangat lembut, bukan hanya Laras yang ada di sana, tapi juga ada Ares dan Gibran, ke dua anak laki-laki nya itu hanya diam, mendengarkan pembicaraan ke dua wanita kesayangan mereka itu.
"Adek tenang saja, klau nanti kita lihat hal yang kurang nyaman, kita tidak usah berlama lama di rumah nenek, tapi kita pergi jalan jalan saja ke tempat wisata, kita kan belum pernah jalan jalan sekeluarga, dan juga sampai ke luar kota, kita akan memanfaatkan waktu liburan ini sebaik mungkin." ucap Ares ikut menenangkan sang adik.
"Betul itu kak, nanti klau di sana ada yang galak, kakak tenang saja, aku akan jadi orang terdepan membela kakak." ucap Gibran tidak mau kalah.
Laras mengangguk tanda mengerti.
"Ya sudah, sebentar lagi papa pulang, kalian siap siap gih, pas papa pulang kita lansung makan malam." ujar bu Soraya lembut.
Saat anak anak mereka masuk ke dalam kamar masing masing, pak Galih muncul dari arah ruang tengah, lalu memeluk sang istri dengan sangat erat.
"Maaf." bisik Pak Galih dengan suara serak, dia sudah sampai dari tadi, karena saking fokusnya anak anak dan istrinya bercerita sehingga tidak tau klau pak Galih sudah berada di dalam rumah, dan pak Galih mendengarkan semua pembicaraan istri dan anak anaknya itu, sungguh hati pak Galih sangat sakit melihat putrinya sangat trauma dengan kakek neneknya.
"Mas sudah pulang, kok aku nggak dengar suara mobilnya? " kaget bu Soraya saat merasakan pelukan seseorang dari belakang.
"Kalian sedang asik bercerita, sehingga tidak tahu klau mas sudah pulang.' ucap pak Galih.
Bu Soraya membalikan badannya, lalu menatap wajah sang suami yang terlihat sendu, dia tau suaminya pasti sangat sedih mendengar pembicaraan mereka tadi.
" Tidak apa apa, mereka hanya sedikit takut saja, maklum ini pertama kalinya mereka akan bertemu dengan kakek dan neneknya dari pihak ibu." ucap bu Soraya menenangkan hati sang suami.
"Semua karena salah mas sayang, membuat mereka trauma dengan keluarganya." bisik pak Galih penuh sesal.
"Suuttt.... Tidak usah di ingat ingat lagi, jangan terpaku pada masa lalu, jadi kan saja semua pelajaran, mari kita buka lembaran baru, kita ciptakan kebahagian untuk anak anak kita, agar trauma itu tidak menghantui mereka." ucap bu Soraya lembut, dia juga tidak ingin sang suami terus merasa bersalah.
Pak Galih mengangguk, "Terimakasih sudah memaafkan mas, dan mau memberikan kesempatan ke dua untuk mas, mas janji akan selalu menyayangi kalian dan akan membuat kalian bahagia." ucap pak Galih sungguh sungguh.
"Iya, aku mengerti, sekarang lekas lah bersihkan badan mas, sebentar lagi kita makan malam." ujar bu Soraya mendorong dada sang suami.
"Baiklah, klau gitu mas mandi dulu." ucap pak Galih.
Cuuppp....
Sebelum melangkah pergi, pak Galih mendaratkan kecupan sayang di dahi sang istri.
Bersambung....
sana beli sendiri🤣
geraam banget liatny ,,