NovelToon NovelToon
SEPHIA

SEPHIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Slice of Life
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Lagi

Pagi itu, suasana SMA Garuda kembali dipenuhi riuh suara para siswa yang baru datang.

Beberapa sibuk mengerjakan PR yang lupa dikerjakan semalam, sebagian lagi mengobrol di koridor sebelum bel masuk berbunyi.

Di kelas XI...

Sephia baru saja meletakkan tasnya di atas meja.

Hana yang duduk di sampingnya langsung menyenggol pelan lengannya.

"Pia."

"Hm?"

"Itu."

Hana mengangguk ke arah pintu kelas.

Sephia refleks menoleh.

Alan baru saja masuk.

Seragamnya masih rapi seperti biasa.

Hanya saja, wajahnya terlihat sedikit lebih pucat dibanding biasanya.

Seolah dua hari terakhir benar-benar menguras tenaganya.

Tanpa sadar, Sephia langsung berdiri.

"Lan."

Alan menoleh.

Begitu melihat Sephia dan Hana menghampirinya, ia tersenyum tipis.

"Pagi."

"Pagi."

jawab Hana lebih dulu.

"Gimana, Tante Olive?"

tanya Sephia.

Alan mengangguk pelan.

"Udah lumayan."

"Dokter bilang kalau nggak ada kendala, besok udah boleh pulang."

Wajah Sephia langsung terlihat lega.

"Syukurlah."

"Gue sempet kepikiran."

Alan tersenyum kecil.

"Makasih."

Hana ikut tersenyum.

"Ya iyalah."

"Kemarin aja ada yang gelisah dari pagi."

Sephia langsung menoleh cepat.

"Hana."

"Apa?"

"Bener, kan?"

"Bukan urusan lo."

"Ih, galak amat."

Alan hanya terkekeh pelan melihat keduanya.

Entah kenapa...

Suasana yang sempat terasa berat sejak kecelakaan mamanya perlahan mulai terasa lebih ringan.

"Eh, Alan."

Suara dari depan kelas membuat mereka bertiga menoleh.

Bu Lilis baru saja masuk sambil membawa beberapa lembar map.

"Setelah pelajaran pertama selesai, Ibu minta tolong ke ruang guru sebentar ya."

Alan mengangguk.

"Iya, Bu."

"Udah, sana duduk dulu."

Bel masuk pun berbunyi.

Para siswa segera kembali ke bangku masing-masing.

Sephia sempat menoleh sekali lagi ke arah Alan.

Melihat senyum tipis di wajahnya...

Entah kenapa, ia ikut merasa sedikit lebih tenang.

Di bangku dekat jendela...

Alan tanpa sadar membalas tatapan itu.

Lalu pelan-pelan mengalihkan pandangannya ke depan kelas.

Jam pelajaran pertama berlalu seperti biasa.

Meski sudah kembali ke sekolah, Alan masih beberapa kali kehilangan fokus.

Beruntung, Bu Lilis tidak banyak bertanya.

Sesekali ia hanya melirik Alan, lalu kembali melanjutkan pelajaran.

Bel istirahat pertama berbunyi.

Suasana kelas kembali ramai.

Beberapa siswa langsung berhamburan ke kantin.

"Ke kantin, yuk."

Hana berdiri sambil merapikan rok seragamnya.

Sephia mengangguk.

Baru saja mereka hendak keluar kelas, Alan juga berdiri dari bangkunya.

"Lan."

Alan menoleh.

"Lo gak ke kantin?"

Alan menggeleng pelan.

"Nggak."

"Mau ke ruang guru bentar."

"Oh iya..."

Sephia baru teringat ucapan Bu Lilis pagi tadi.

"Yaudah."

Alan mengangguk kecil sebelum berjalan keluar kelas.

Hana memperhatikan punggung Alan yang semakin menjauh.

"Masih kepikiran, ya."

Sephia ikut melihat ke arah koridor.

"Iya..."

"Kelihatan capek."

"Nggak heran sih."

Hana mengangguk pelan.

"Kalau gue jadi dia juga pasti kepikiran terus."

Sephia hanya menghela napas.

Mereka berdua akhirnya berjalan menuju kantin.

Tak terasa...

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suara kursi yang bergeser memenuhi ruang kelas.

Para siswa mulai membereskan buku dan memasukkannya ke dalam tas.

Alan bergerak lebih cepat dari biasanya.

Ia menutup ritsleting tasnya, lalu berdiri.

Seperti dua hari terakhir...

Tujuannya tetap sama.

Rumah sakit.

"Lan."

Alan menoleh.

Sephia dan Hana sudah berdiri di samping mejanya.

"Gimana?"

"Tante jadi boleh pulang besok?"

Alan mengangguk.

"Kalau hasil cek sore ini bagus."

"Semoga aja."

Sephia tersenyum.

Lalu ia saling pandang dengan Hana sejenak.

Seolah sedang memberi isyarat.

Hana mengangguk pelan.

Sephia kembali menatap Alan.

"Kalau gitu..."

"...gue sama Hana mau ikut jenguk Tante boleh?"

Alan tampak sedikit terkejut.

"Hah?"

"Jenguk?"

"Iya."

Alan menggaruk tengkuknya.

"Boleh sih..."

"Cuma..."

"Kayaknya nggak usah repot-repot."

Sephia langsung mendelik.

"Repot apanya?"

"Orang sekalian."

Alan hanya tersenyum kecil.

Belum sempat ia menjawab...

Sebuah suara terdengar dari arah pintu kelas.

"Pia."

Mereka bertiga menoleh bersamaan.

Sagara berdiri di depan kelas sambil menyampirkan tas di bahunya.

"Mau pulang?"

"Iya."

Sephia mengangguk.

"Eh, sekalian."

"Gue sama Hana mau ke rumah sakit jenguk Tante Olive."

Sagara mengangkat sebelah alisnya.

"Oh ya?"

Sagara mengangguk pelan.

"Kalau gitu... gue ikut."

Alan sempat menoleh ke arahnya, lalu mengangguk singkat.

"Yaudah."

Di samping mereka, Hana langsung menghela napas pelan.

"Padahal gue juga pengen ikut."

Sephia menoleh.

"Lah, terus kenapa nggak ikut?"

"Gue ada les."

Hana mengangkat ponselnya.

"Guru gue udah ngingetin dari tadi."

Sephia terkekeh pelan.

"Yaudah."

"Nanti gue titip salam aja."

"Iya."

Hana mengangguk.

"Titip bilang semoga Tante Olive cepet sembuh."

"Pasti."

Setelah berpamitan dengan Hana, mereka bertiga berjalan keluar gerbang sekolah.

Begitu sampai di depan sekolah, Alan mengeluarkan ponselnya.

"Gue pesen taksi online dulu."

"Iya."

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.

Alan membuka pintu belakang.

"Naik aja."

Sephia masuk lebih dulu.

Disusul Sagara.

Sementara Alan memilih duduk di kursi depan, tepat di samping pengemudi.

Mobil perlahan meninggalkan kawasan sekolah.

Tak ada satu pun yang membuka percakapan.

Sephia memandang keluar jendela.

Sementara Sagara hanya menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.

Alan pun lebih banyak diam.

Sesekali ia menjawab singkat ketika pengemudi memastikan rute menuju rumah sakit.

Jalanan siang itu cukup padat.

Deretan kendaraan memenuhi setiap lampu merah yang mereka lewati.

Sekitar lima belas menit kemudian...

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta.

Alan membayar ongkos perjalanan sebelum turun lebih dulu.

"Yuk."

Sephia dan Sagara mengangguk.

Mereka bertiga berjalan memasuki lobi rumah sakit.

Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka.

Tanpa banyak bicara, Alan melangkah menuju lift.

Jemarinya menekan tombol menuju lantai tiga.

Pintu lift perlahan menutup.

Pintu lift terbuka.

Alan melangkah lebih dulu, diikuti Sephia dan Sagara di belakangnya.

Lorong rumah sakit sore itu tampak lebih lengang dibanding biasanya.

Beberapa perawat berlalu-lalang sambil membawa berkas pasien.

Alan berhenti di depan sebuah pintu bernomor 307.

Sephia dan Sagara mengangguk pelan.

Tanpa ragu, Alan langsung membuka pintu kamar rawat.

"Ma..."

Suaranya terhenti.

Tangan Alan masih menggenggam gagang pintu.

Tatapannya lurus ke dalam.

Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Lan?"

Sephia yang berdiri tepat di belakangnya mengernyit bingung.

Karena Alan tak kunjung masuk, Sephia sedikit memiringkan tubuhnya untuk melihat ke dalam.

Di dalam kamar...

Mama Olive sedang duduk di ranjang pasien.

Sementara di kursi samping ranjang...

Duduk seorang pria paruh baya mengenakan kemeja putih dengan sebuah buket bunga di pangkuannya.

Pria itu perlahan menoleh.

Tatapannya langsung bertemu dengan Alan.

Suasana seketika berubah sunyi.

Alan melangkah masuk perlahan.

Rahangnya mengeras.

Tatapannya dingin.

Sangat dingin.

"Ngapain lo di sini?"

Kalimat itu terdengar pelan.

Namun cukup membuat Sephia dan Sagara saling berpandangan.

Mereka belum tahu siapa pria itu.

Tapi dari sorot mata Alan...

Jelas terlihat...

Pria itu bukan tamu yang ingin ia temui.

1
Ayunda
judulnya bikin inget lagu Sheila on seven yg viral pd jamanya
Arya Suluran
wahh adapakah ini??😄
Arya Suluran
plenger juga sih Sephia ini ya😄
Azkaqia Ratna: ya gugup soalnya doi hehe
total 1 replies
Arya Suluran
apakah jatuh cinta pandangan pertama??
Azkaqia Ratna: belum kyknya, cuma awal mengagumi 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!