NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berharap benih itu tidak tumbuh

Pagi itu, setelah melakukan pemeriksaan terakhir, dokter akhirnya mengizinkan Tiara pulang. Di depan ruang perawatan, Keenan masih berbincang dengan dokter sebelum kepulangan putrinya.

"Secara fisik kondisi Tiara sudah jauh lebih baik. Namun, proses pemulihannya belum selesai. Yang paling penting sekarang adalah menjaga kondisi psikologisnya. Jangan sampai dia merasa tertekan atau terus-menerus mengingat trauma yang dialaminya."

Keenan mengangguk pelan.

"Baik, Dok. Saya mengerti."

"Obat-obatnya tetap harus diminum sesuai jadwal. Kalau ada keluhan atau perubahan kondisi, segera bawa Tiara kontrol kembali."

Keenan kembali mengangguk paham.

Dokter tersenyum tipis.

“Setelah administrasi selesai, Tiara sudah diperbolehkan pulang. Saya permisi."

"Terima kasih banyak, Dok."

Setelah dokter berlalu, Keenan hendak memasuki ruang perawatan. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya.

"Assalamu'alaikum, Mas."

Keenan menoleh. Kinanti berdiri di belakangnya. Perempuan itu segera menyalami lalu mencium punggung tangan Keenan dengan penuh takzim.

"Wa'alaikumsalam," jawab Keenan lembut. "Daffa sudah berangkat sekolah?"

"Sudah. Begitu mobil jemputannya datang, aku langsung ke sini."

"Dokter sudah mengizinkan Tiara pulang pagi ini."

Wajah Kinanti langsung berbinar.

"Alhamdulillah... “

"Mas mau mengurus administrasi dulu. Tolong bantu Tiara bersiap-siap, ya."

"Tentu."

Kinanti pun masuk ke dalam ruang perawatan.

"Assalamu'alaikum."

Tiara yang sedang merapikan rambutnya segera menoleh.

"Wa'alaikumsalam... Tante Kinanti."

Sorot matanya seketika berbinar melihat kedatangan ibu sambungnya.

"Tadi ayahmu bilang dokter sudah mengizinkanmu pulang. Sekarang beliau sedang mengurus administrasi."

Tiara terdiam beberapa saat. Jemarinya saling bertaut, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

"Tante..."

"Ya, Sayang?"

Tiara menundukkan kepala.

"Aku... mau minta maaf."

Kinanti tersenyum tipis.

"Minta maaf untuk apa?"

"Selama ini aku sering bersikap jahat sama Tante. Aku sering nyakitin hati Tante." Suaranya mulai bergetar. "Padahal Tante baik banget sama aku."

Hening sejenak menyelimuti ruangan.

Tiara kembali mengangkat wajahnya. Tatapannya dipenuhi harap. "Kalau aku minta Tante pulang lagi ke rumah... Tante mau, nggak?"

Kinanti menatap wajah Tiara cukup lama. Bibirnya membentuk senyum tipis, tetapi ia sengaja tidak langsung menjawab.

"Hmm... gimana, ya?"

Tiara langsung memasang wajah memelas.

"Aku kan baru sembuh dari sakit. Dokter bilang aku harus makan makanan yang sehat. Kalau Tante nggak ada, nanti siapa yang masakin? Masa aku jajan terus?"

Kinanti menahan senyum.

"Hmm..."

"Please, Tante..." Tiara meraih tangan Kinanti lalu menggenggamnya erat. "Aku janji bakal nurut. Nggak bakalan jahat lagi.”

"Janji?" tanya Kinanti, memastikan.

"Janji." Tiara mengangguk mantap.

Senyum hangat mengembang di wajah Kinanti.

"Kalau begitu... Tante mau pulang ke rumah."

Mata Tiara langsung berbinar.

"Serius? Makasih, Tante."

Tanpa mampu menyembunyikan rasa bahagianya, Tiara segera memeluk erat pinggang Kinanti. Kinanti membalas pelukan itu sambil mengusap lembut punggung gadis tersebut.

"Aduh... ada yang lagi pelukan, nih. Ayah kok nggak diajak?" goda Keenan yang baru saja kembali setelah menyelesaikan urusan administrasi.

Mendengar suara Keenan, Tiara dan Kinanti buru-buru melepaskan pelukan. Keduanya saling berpandangan lalu tersenyum canggung. Keenan ikut tersenyum melihat perubahan sikap putrinya terhadap Kinanti.

"Semuanya sudah selesai. Kita bisa pulang sekarang."

Tiara mengangguk, tetapi senyum di wajahnya perlahan memudar.

"Yah..."

"Ya, Nak."

"Aku nggak mau ketemu sama Mas Yudha." Tatapan Tiara berubah dingin. "Aku benci sama dia."

Keenan menarik napas panjang. Ia memahami luka yang masih menganga di hati putrinya.

"Ayah mengerti perasaanmu." Suaranya tetap tenang. "Untuk sementara, Yudha akan tinggal di rumah nenekmu."

"Kok cuma sementara?" Tiara langsung menyahut. "Lebih baik aku nggak usah ketemu dia lagi... selamanya."

Wajah Tiara kembali menegang. Nafasnya mulai memburu, seolah amarah yang selama ini ia pendam kembali menyeruak ke permukaan.

Kinanti segera meraih tangan gadis itu.

"Tiara..." ucapnya lembut. "Bagaimanapun juga, Yudha tetap kakak kandungmu."

"Tapi gara-gara dia aku ngalamin semua ini!" bentak Tiara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dia jahat! Aku benci sama dia!"

Tatapannya beralih kepada Keenan.

"Ayah kirim aja dia ke pondok pesantren! Biar dia tahu rasa!"

Suasana mendadak hening.

Keenan menatap putrinya dengan penuh kesabaran.

"Tiara..." katanya pelan. "Sudah, ya. Jangan marah-marah terus. Dokter juga bilang kamu harus menghindari stres. Ayah nggak mau tekanan darahmu naik lagi."

Tiara menunduk, berusaha menahan gejolak emosi yang kembali memenuhi dadanya.

"Kamu juga nggak mau ‘kan kalau kepulanganmu harus ditunda sampai besok?"

Mendengar itu, Tiara langsung menggeleng cepat.

"Semuanya sudah beres. Kita pulang sekarang," ujar Kinanti lembut, memecah ketegangan.

Tiara mengangguk pelan. Ia meraih masker medis yang tergeletak di atas meja, lalu mengenakannya hingga menutupi sebagian wajahnya. Setelah itu, ia menarik tudung jaketnya, seolah ingin bersembunyi dari dunia luar. Namun, begitu tiba di ambang pintu, langkahnya mendadak terhenti.

Tubuhnya membeku.

"Kenapa, Sayang?" tanya Kinanti, penuh perhatian.

Tiara menunduk. Jemarinya mencengkeram ujung jaket.

"Yah... Tante...Aku takut.” Suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

Keenan dan Kinanti saling berpandangan.

"Takut apa?" tanya Keenan hati-hati.

Tiara mengangkat wajahnya. Di balik masker itu, matanya dipenuhi kecemasan.

"Gimana kalau semua orang memandangku hina? Gimana kalau mereka jijik sama aku?" Suaranya mulai bergetar. "Gimana kalau aku jadi bahan gunjingan?”

Ucapan itu membuat dada Keenan terasa sesak. Ia memahami ketakutan putrinya. Terlalu sering ia mendengar kisah korban yang justru dihakimi, disalahkan, bahkan dijauhi oleh lingkungannya. Ketakutan Tiara bukanlah sesuatu yang berlebihan. Sayangnya, Keenan tak mampu menemukan kalimat yang benar-benar bisa menenangkan hati putrinya.

Melihat kebimbangan di wajah suaminya, Kinanti melangkah mendekat. Dengan lembut ia menggenggam tangan Tiara.

"Kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendirian, Sayang," ucapnya hangat. "Ada Ayah, ada Tante, dan masih banyak orang yang menyayangimu. Apa pun yang orang lain katakan, itu tidak akan mengubah siapa dirimu. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja."

Mata Tiara kembali berkaca-kaca. Hangatnya genggaman Kinanti sedikit demi sedikit mengikis rasa takut yang sejak tadi menghimpit dadanya.

Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. Bersama Keenan dan Kinanti yang berjalan di sisi kanan dan kirinya, Tiara akhirnya melangkah keluar dari kamar perawatan.

Begitu tiba di ruang tunggu, langkah Tiara kembali melambat. Meski sebagian wajahnya tertutup masker dan tudung jaketnya menutupi kepala, ia tetap merasa puluhan pasang mata sedang mengawasinya.

Beberapa orang yang duduk di kursi ruang tunggu tampak saling berbisik sambil sesekali melirik ke arahnya. Awalnya Tiara berusaha mengabaikan. Namun, salah satu bisikan itu terdengar cukup jelas di telinganya.

"Kasihan banget gadis itu. Semoga saja dia nggak hamil."

"Iya. Biasanya korban perkosaan itu hamil dan bayinya juga biasanya lahir cacat."

Kalimat itu menghantam Tiara sekeras petir. Wajahnya seketika pucat. Nafasnya memburu, sementara tubuhnya mulai gemetar hebat. Suara-suara itu bercampur dengan bayangan malam kelam yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Air matanya mengalir tanpa mampu ia bendung.

"Aku nggak mau hamil..." bisiknya dengan suara bergetar.

Sesaat kemudian, emosinya pecah.

"Aku nggak mau hamil! Aku juga nggak mau punya bayi cacat!" teriaknya histeris.

Keenan sontak memeluk putrinya erat sebelum tubuh gadis itu benar-benar kehilangan kendali. Di sisi lain, Kinanti mengusap bahu Tiara sambil terus membisikkan kalimat-kalimat penenang.

"Tiara... sudah, Sayang. Tenang... kami ada di sini."

Tanpa membuang waktu, Keenan dan Kinanti segera menggiring Tiara meninggalkan ruang tunggu. Mereka membawanya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah sakit, menjauh dari tatapan dan bisik-bisik yang hanya memperparah luka di hati gadis itu.

Sepanjang langkah, Kinanti terus menggenggam tangan Tiara seolah ingin menguatkan bahwa gadis itu tidak sendirian. Di dalam hati, ia terus melangitkan do'a.

"Ya Allah... jika hamba boleh meminta, jangan biarkan ada benih yang tumbuh di rahim Tiara.”

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!