NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Bugh!

"Bajingan kau Robert!!" teriak Victor setelah memukul telak di bagian rahang Robert.

Robert tidak melawan, ia paham atas dasar apa kemarahan Victor sekarang ini. Sudah pasti Aurel sudah menceritakan semuanya kepada Victor semalam.

Napas Victor tersengal menatap tajam Robert yang sudut bibir nya sudah mengeluarkan darah, dengan lebam juga.

"Kau datang padaku dan merencanakan perjodohan antara putriku dengan salah satu putramu. Aku pikir kamu tulus dan emang benar-benar ingin hubungan kita semakin erat makanya saling menjodohkan," kata Victor.

Nada dan tatapannya itu kecewa kepada sahabatnya sendiri. Robert sangat memahami kekecewaan itu.

"Ternyata kau memiliki rencana tersembunyi yang tidak aku ketahui. Sialnya aku begitu percaya padamu karena mengira kau tidak akan menyakiti putriku karena kemungkinan besar kau sudah menganggapnya seperti anak sendiri juga. Ternyata dari semua pemikiran ku, aku lah yang keliru," papar Victor.

"Maafkan aku Vic. Aurel memang putriku," ujar Robert dengan rasa bersalahnya yang besar.

"Kalau dia memang putrimu, kamu tidak akan menggunakan putri sendiri sebagai alat Robert!!" tegas Victor dengan tangan terkepal kuat.

Robert tidak bicara, karena memang ini salahnya.

"Kau tau bagaimana aku menjaganya setelah kepergian Ibunya kan? Aku menjaganya layaknya seorang putri yang tidak harus kekurangan kasih sayang seorang Ibu, aku menjadi Ayah sekaligus Ibu untuknya. Setiap kali aku melihatnya menangis, hatiku perih Rob, sakit sekali rasanya saat anak sendiri menangis. Itu sebabnya aku selalu berusaha keras untuk tidak membuat air matanya jatuh selama ini, tapi kau... Kau malah menghancurkan isi hatinya, air matanya turun semalaman hanya karena tindakan mu yang tidak memiliki perasaan dan hati!!"

"Putriku itu bukan alat atau mainan mu yang bisa kau kendalikan untuk kepentingan mu sendiri, Robert!! Kalau dirimu memiliki masalah dengan salah satu putramu, kenapa harus melibatkan putriku yang bahkan tidak tahu apa pun?"

Pertanyaan yang sulit Robert jawab karena dia sendiri juga tidak memiliki jawaban itu.

"Maaf Victor."

Dan kata yang mampu keluar dari mulut Robert hanya itu. Maaf. Walau pun sebenarnya Robert tau, permintaan maaf nya itu tidak akan memperbaiki semuanya. Justru persahabatan mereka sedang retak sekarang ini dan itu karena kesalahannya sendiri.

Robert juga sadar diri. Andai dia yang ada di posisi Victor sekarang ini, dia pasti juga akan melakukan hal yang sama. Kemarahan seorang Ayah itu sangat wajar, itulah kenapa Victor datang ke rumahnya sekarang ini.

"Senang mengenal mu sejak SMP sampai sekarang kita sudah memiliki anak masing-masing Robert. Harapan persahabatan yang akan terpisah setelah maut yang memisahkan ternyata itu semua salah. Persahabatan kita hancur karena ulahmu sendiri, bukan karena maut atau orang lain," ucap Victor dengan kekecewaan pergi meninggalkan mansion besar sahabatnya ini.

"Ya, ini memang ulahku Vic, bahkan kata maaf pun tidak akan bisa menembus rasa kecewa mu dan juga rasa sakit yang di alami putrimu," ujar Robert sangat menyesal sudah pernah mengambil keputusan bodoh ini.

~•~

Disty menahan desahannya di pagi ini karena Javeno yang sedang berulah. Pagi-pagi Javeno sudah mempermainkan dirinya, untung saja ini hari libur.

"Ah Jav."

Dan pertahanan Disty akhirnya runtuh, membuat senyum miring Javeno tercetak.

"Jangan tahan sayang, aku lebih suka kamu menyerahkan dirimu dan menggila di bawah kendaliku," bisik Javeno sebelum menghisap telinga Disty dengan nafsu yang tinggi.

Permainan panas di pagi hari memang selalu lebih memabukkan bagi keduanya. Karena sensasi yang di rasakan sangat berbeda.

Dua insan itu tidak tahu kalau di luar kamar, ada seseorang yang baru saja Amel antar kan karena ingin bertemu dengan mereka.

Aurel.

Itu memang dirinya.

Aurel yang berdiri menegang karena mendengar suara dan desahan dari permainan kedua insan di dalam kamar sana.

"Nona...."

Aurel mengangkat tangannya. Air matanya jatuh dan ia dengan cepat menghapus itu. Setelah itu Aurel melangkah mundur dan kembali turun ke lantai bawah.

Memilih duduk di sofa dan menunggu di sana dari pada harus mengganggu aktivitas mereka yang jelas belum sah sebagai suami istri.

"Disty.. kamu.."

Aurel menggeleng, dia tidak mau ber-prasangka buruk kepada Disty.

Aurel menunggu cukup lama, ini sudah hampir 2 jam tapi Disty atau pun Javeno belum juga keluar dan turun dari kamar.

"Nona, apa anda ingin sarapan? Saya akan menyiapkannya," tawar Amel yang sedari tadi berdiri di samping Aurel untuk menemani.

Aurel tersenyum dan menggeleng. "Nanti saja," jawabnya lembut menolak tawaran Amel.

Di kamar, Javeno sedang membantu Disty mengeringkan rambut panjangnya itu.

"Kamu masih marah?" tanya Javeno.

Walau pun Disty menikmati permainannya tadi, tapi tetap saja, Disty tidak banyak bicara dengannya.

"Kalau aku punya hak untuk marah lebih lama, aku bahkan nggak akan izinin kamu untuk tidur di kamar, dan sentuh aku pagi ini, Jav," ucap Disty berani mengutarakan apa yang ia rasakan.

Javeno tertawa kecil dan meletakkan hair dryer di meja, menunduk untuk memeluk Disty yang sedang duduk ini.

"Jadi kamu bakal kunci kamar dan suruh aku untuk tidur di luar hm?" Javeno bertanya sambil mencium pipi Disty. Pertanyaan nya lembut, tidak ada penekanan.

"Iya kalau aku punya hak itu," jawab Disty mengangguk pelan. Sangat jujur.

Javeno tertawa lagi. "Belum menjadi suami istri sepenuhnya, tapi kamu udah mau jalanin peran sebagai istri, atau mau menikah sekarang aja?" tawar nya senang.

"Kenapa malah bahas nikah sih," ujar Disty sambil memakai liptin agar bibirnya tidak pucat.

Javeno menggigit telinga Disty karena merasa gemas.

"Aww, sakit Jav," keluh Disty dan melihat telinganya yang memerah.

Javeno tidak peduli, ia berdiri tegap. "Duduk dan sarapan duluan sana," titahnya.

Disty menatap Javeno dari pantulan cermin nya, di mana Javeno yang mulai mengambil laptop dari meja belajar.

"Kamu?"

"Aku ada beberapa email yang harus di periksa sebentar," jawab Javeno duduk dan mulai membuka laptopnya.

"Aku tunggu kamu aja deh," kata Disty malas keluar dan merapikan meja riasnya.

"Ini udah lewat dari jam sarapan mu, Disty," ucap Javeno tanpa melihat Disty.

"Iya gapapa, kamu juga belum sarapan kan? Aku nggak mau sarapan sendiri," ucap Disty memberi alasannya.

"Telepon Amel dan minta dia untuk antar sarapan ke kamar," suruh Javeno.

Disty menghela napas pelan dan berdiri dari duduknya. "Nggak usah deh, aku aja yang keluar. Kamu nggak lama kan?" tanyanya memastikan lagi.

"Setengah jam," jawab Javeno.

"Yaudah aku tunggu di luar...."

"Jangan membantah bisa?!" Javeno menaikkan pandangan untuk menatap Disty yang menghela napas pelan.

Disty mengangguk pasrah. "Iya aku sarapan duluan, maaf," ucapnya segera keluar dari kamar.

"Padahal aku juga sering telat sarapan kalau pas mau sekolah tuh, tapi setiap hari libur, jadwal sarapan nggak boleh lewat tanpa seizinnya," gerutu Disty sambil menuruni anak tangga dengan perasaan dongkol.

"Tapi semua yang ada di rumah ini emang atas izinnya dulu sih, kalau enggak ya dia bakal ngamuk," lanjut Disty lagi pelan.

Aurel yang masih setia menunggu di ruang tamu itu, segera menoleh saat mendengar langkah kaki Disty. Dia juga segera berdiri.

Dengan Disty yang sudah berhenti di anak tangga ke-empat. Terdiam melihat Aurel ada di sini. Aurel memancarkan senyum kepadanya. Sebuah senyuman tulus untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!