Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.
Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.
Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]
Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.
Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemeriksaan
Fajar menyingsing di atas langit Konoha dengan membawa kabut tebal yang tidak biasa. Suasana pagi ini terasa sangat mencekam; tidak ada suara riuh para pedagang yang biasanya mulai membuka toko di sepanjang jalan utama, tidak ada obrolan santai penduduk yang berjalan kaki, bahkan burung-burung pun seolah enggan bersuara. Jam malam darurat yang diumumkan secara mendadak oleh pihak otoritas desa beberapa jam sebelum subuh membuat seluruh warga sipil mengunci pintu rumah mereka rapat-rapat.
Di dalam dapur Panti Asuhan Konoha, Ren berdiri di depan meja kayu, memotong lobak putih dengan ritme yang lambat dan konstan. Dia sengaja mengatur kecepatan tangannya agar terlihat seperti anak remaja pada umumnya yang tidak memiliki pelatihan fisik khusus. Di sekelilingnya, beberapa pengasuh panti asuhan sedang berbisik dengan wajah pucat, menyebarkan rumor simpang siur yang mereka dengar dari jendela tentang kepulan asap dan bau darah yang tercium dari arah Distrik Uchiha semalam.
Ren mendengarkan semua itu tanpa memberikan reaksi yang berlebihan. Dia tetap fokus pada pisaunya, memastikan setiap potongan lobak memiliki ketebalan yang seragam. Di dalam pikirannya yang tenang, dia tahu betul bahwa desa saat ini sedang berada dalam kondisi siaga satu. Panti asuhan ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari perimeter luar dinding pembatas klan Uchiha, menjadikannya salah satu titik krusial yang pasti akan disisir oleh pasukan keamanan desa.
Brak!
Pintu geser utama aula panti asuhan dibuka secara paksa dari luar dengan suara benturan yang cukup keras. Tiga orang pria dewasa melangkah masuk ke dalam ruangan dengan gerakan yang sangat teratur dan tanpa suara kaki. Mereka mengenakan jubah abu-hadap tanpa lambang klan, wajah mereka ditutupi oleh topeng porselen putih polos, dan di punggung mereka tersampir sebilah pedang pendek ninjato.
Pengasuh panti asuhan yang berada di dapur seketika menghentikan aktivitas mereka. Atmosfer di dalam ruangan langsung jatuh ke titik beku. Kehadiran ketiga orang ini membawa aura tekanan yang sangat berbeda dari ninja biasa; mereka tidak memiliki emosi, dingin, dan bergerak bagai mesin pembunuh yang berjalan.
Mereka bukan Anbu resmi bawah perintah Hokage Ketiga. Mereka adalah agen Ne atau Root—pasukan bayangan yang dikomandoi langsung oleh Danzo Shimura.
"Kumpulkan seluruh penghuni panti asuhan di aula utama. Sekarang," perintah salah satu agen yang berdiri di tengah. Suaranya terdengar datar, berat, dan keluar dari balik topeng tanpa ada intonasi manusiawi sedikit pun.
Hanya dalam waktu singkat, seluruh anak-anak panti asuhan dan para pengasuh telah duduk bersimpuh di atas lantai kayu aula utama yang dingin. Ketakutan terasa sangat nyata di udara; anak-anak kecil mulai terisak pelan sambil memeluk erat pakaian pengasuh mereka, sementara para agen Root berdiri tegak di setiap sudut ruangan, mengawasi setiap pergerakan dengan pandangan mata yang tidak berkedip di balik lubang topeng.
Danzo benar-benar bergerak cepat. Pembantaian semalam seharusnya menjadi ladang panen mata Sharingan terbesar untuk dirinya, namun karena intervensi senyap dari Ren dan keberadaan Obito, jumlah mata yang tersisa di lapangan pasti berkurang drastis dari estimasi awal. Danzo yang paranoid curiga bahwa ada pihak ketiga yang menyusup ke dalam distrik di tengah kekacauan, dan kini dia memerintahkan pasukannya untuk menyisir setiap wilayah terdekat tanpa terkecuali.
Salah satu agen Root yang tampaknya memiliki spesialisasi dalam bidang sensorik maju ke depan kelompok anak-anak. Dia membentuk sebuah segel tangan satu tangan yang rumit, memicu aliran chakra tipis yang berputar di sekitar telapak tangan dalam bentuk gelombang transparan.
"Kami akan melakukan pemeriksaan residu energi dan sirkuit chakra," kata agen tersebut secara dingin. "Siapa pun yang mencoba menyembunyikan sesuatu atau melakukan gerakan mencurigakan akan langsung dianggap sebagai ancaman keamanan desa."
Pemeriksaan dimulai satu per satu dari barisan paling depan. Agen sensorik itu menempelkan telapak tangannya ke dahi setiap anak selama beberapa detik, memindai apakah ada tanda-tanda penggunaan chakra skala besar semalam, luka dalam akibat pertempuran, atau sisa energi asing yang menempel pada tubuh mereka akibat berada di dekat lokasi pembantaian.
Ren duduk di barisan tengah, menjaga posisi tubuhnya agar sedikit membungkuk. Dia sengaja melemaskan otot-otot bahunya, meniru postur tubuh anak-anak lain di sekitarnya yang sedang gemetar ketakutan. Di dalam kesadarannya, Sistem secara otomatis mendeteksi bahaya yang mendekat tanpa memicu respons energi keluar.
[Pemberitahuan Sistem: Pemindaian Sensorik Tingkat Tinggi Terdeteksi]
[Identifikasi Target: Ninja Sensorik Kelas Elit (Spesialisasi Pemindaian Sirkuit Chakra Mikro)]
[Menjalankan Protokol: Kamuflase Warga Sipil...]
"Sistem, pastikan seluruh parameter biologis dan energi saya terkunci sepenuhnya," perintah Ren dalam hati, mempertahankan ekspresi wajahnya yang tampak cemas.
Kini giliran Ren yang dipanggil ke depan. Dia bangkit dengan gerakan yang sedikit ragu-ragu, sengaja membuat langkah kakinya terdengar agak berat di atas lantai kayu, persis seperti orang awam yang sedang gugup setengah mati.
Ren bersimpuh di depan agen sensorik Root tersebut. Di balik topeng porselen itu, sepasang mata sang agen menatap Ren dengan sangat tajam, mencoba mencari tanda-tanda anomali psikologis melalui gerakan mikro pada pupil atau kerutan di dahi Ren.
[Sistem Melakukan Manipulasi Parameter Biologis Mandiri:]
Detak Jantung: Dinaikkan dari 60 bpm menjadi 118 bpm (Meniru respons panik yang logis).
Produksi Adrenalin: Ditingkatkan sebesar 45% (Menghasilkan efek keringat dingin di pelipis).
Suhu Kulit: Diturunkan secara mikro (Meniru efek penyempitan pembuluh darah akibat rasa takut).
Agen Root itu mengulurkan tangan kanannya yang diselimuti pendaran chakra sensorik berwarna biru tipis, lalu menempelkannya tepat di dahi Ren.
Seketika itu juga, Ren bisa merasakan sebuah aliran energi asing yang dingin dan tajam mulai merayap masuk menembus kulit dahinya, mencoba memeriksa sirkuit aliran chakra di dalam tubuhnya. Aliran energi tersebut bergerak sangat invasif, memeriksa setiap sudut jaringan tubuh, mencari tahu apakah ada cadangan chakra tersembunyi yang biasa dimiliki oleh seorang ninja terlatih.
Pada saat yang sama, energi sensorik tersebut mulai bergerak naik, mencoba mendekati area kepala belakang dan rongga mata Ren—tempat di mana sepasang mata Sharingan tiga tomoe baru saja ditanamkan beberapa jam yang lalu.
Meskipun tekanan di dalam ruang kesadarannya berada di titik tertinggi, visual Sistem yang terpampang di kesadarannya tetap menunjukkan kestabilan yang mutlak.
[Mengaktifkan Protokol: Isolasi Jembatan Saraf]
[Seluruh sirkuit energi milik sepasang mata Sharingan telah diputus total dari aliran tubuh utama dan disembunyikan di dalam ruang isolasi pasif Sistem]
[Aliran Chakra Utama Tubueh: Diformat menjadi status "Sipil Murni" (Kapasitas Rendah, Tanpa Struktur Pusaran Ninja)]
Energi pemindaian milik agen Root berputar di sekitar rongga mata Ren selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Sang agen mencoba mencari sisa-sifat Genjutsu atau tanda bahwa mata tersebut telah mengalami modifikasi medis. Namun, berkat Protokol Sintesis Saraf yang dikerjakan Ren semalam, jaringan daging dan urat darah di sekitar matanya telah menyatu dengan sangat sempurna secara biologis, sementara energi Sharingan-nya dikunci rapat tanpa ada satu partikel pun yang bocor keluar.
Bagi ninja sensorik tersebut, rongga mata Ren terasa seperti mata anak manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan apa pun.
Pemeriksaan berlangsung selama hampir tiga puluh detik penuh. Agen Root itu menarik kembali tangannya, lalu beralih menatap tajam ke arah mata hitam normal milik Ren.
"Di mana posisimu semalam saat jam dua pagi?" tanya agen tersebut dengan nada menginterogasi.
Ren menelan ludahnya secara visual, membiarkan jakunnya bergerak naik turun untuk mempertegas kesan gugup. "S-saya ada di dalam kamar, Tuan. Saya tidak bisa tidur karena mendengar suara burung gagak yang sangat bising di luar, lalu... lalu saya mendengar suara angin kencang dari arah barat. Saya terlalu takut untuk keluar."
Jawaban Ren sangat sederhana dan sesuai dengan psikologi anak panti asuhan yang ketakutan. Dia tidak mencoba membuat alibi yang terlalu rumit atau mendetail, karena agen intelijen terlatih seperti Root justru akan curiga jika seorang anak kecil mampu mengingat detail waktu dengan terlalu akurat di tengah situasi panik.
Ninja sensorik itu berdiri diam selama beberapa saat, mendengarkan fluktuasi detak jantung Ren yang tetap konsisten berada di ritme orang panik melalui sisa energinya. Setelah tidak menemukan adanya ketidakcocokan antara respons tubuh dan jawaban verbal, agen tersebut akhirnya berbalik dan memberikan isyarat gelengan kepala kecil kepada pemimpin timnya di sudut ruangan.
Artinya: Bersih. Anak ini tidak memiliki chakra ninja dan tidak berbohong.
"Kembali ke barisanmu," perintah sang agen datar.
"Baik, Tuan..." Ren menundukkan kepalanya, lalu berjalan kembali ke tempat duduknya dengan bahu yang masih tampak gemetar kecil.
Setelah memeriksa seluruh penghuni panti asuhan dan tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan, ketiga agen Root tersebut langsung berbalik arah dan pergi meninggalkan aula utama dengan kecepatan yang sama seperti saat mereka datang. Pintu geser ditutup kembali, meninggalkan keheningan yang panjang di dalam ruangan sebelum akhirnya para pengasuh panti asuhan mengembuskan napas lega yang luar biasa besar.
Ren kembali duduk bersimpuh dengan tenang di posisinya. Di sudut pandang matanya, visual Sistem perlahan-lahan mengembalikan seluruh parameter biologis tubuhnya ke tingkat normal.
[Protokol Kamuflase Dinonaktifkan]
[Detak Jantung: Kembali ke 62 bpm (Stabil)]
[Kondisi Tubuh: 100% Aman Tanpa Jejak Kebocoran]
Ren tidak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya. Ketika para pengasuh mulai membubarkan anak-anak untuk kembali ke aktivitas mereka, Ren berdiri dengan tenang. Dia berjalan kembali ke arah dapur, mengambil pisau pemotong yang sempat ia tinggalkan di atas meja kayu, dan melanjutkan tugasnya memotong lobak putih untuk makan siang.
Di luar sana, Konoha mungkin sedang menghadapi awal dari badai politik yang besar akibat hilangnya klan Uchiha, namun di dalam sudut dapur yang sunyi ini, Ren hanya mendengarkan suara gesekan pisaunya sendiri. Baginya, badai politik di luar sana hanyalah latar belakang dari sebuah rencana yang butuh waktu untuk matang.