Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33- pemandangan luar biasa
Bab 33
Bima sampai. Itu adalah pinggir tepi sunggai, berada di atas tebing. “Edan aku harus memanjat tebing?”
Di sana terdapat tanaman yang terlihat gemuk, sehat, dan hijau : ...sebuah tanaman jahe merah liar raksasa yang tumbuh menyembul di antara celah bebatuan cadas tebing. Ukuran daunnya tiga kali lipat lebih besar dari tanaman jahe biasa, ada aura pendaran warna hijau zamrud tipis yang hanya bisa ditangkap oleh Mata Terawangan Intuitif milik Bima.
Ini jelas bukan tanaman jahe biasa. Maksudnya jahe merah macam apa yang tertanam, dan menancap di tebing sungai yang menjulang tinggi ini? Edan! Orang cari mati kalau mau cabut jahe begituan.
"Itu namanya Jahe Merah Mustika, Bima. Usianya sudah lebih dari lima puluh tahun, bertahan hidup dengan menyerap sari pati air hulu sungai dan mineral tebing," suara Ki Ageng kembali menggema di kepalanya, terdengar sangat antusias. "Akar dan rimpangnya menyimpan bensin murni yang kamu butuhkan. Cepat panjat!"
Bima menelan ludah, menatap tinggi tebing curam yang berada tepat di bawah deru arus sungai yang berbatu tajam. Jaraknya sekitar sepuluh meter ke atas. Jika dia masih menjadi Bima yang dulu—si tukang penyakitan miskin—melihat tebing sepi ini saja sudah membuat lututnya gemetaran.
Namun sekarang, rasa takut itu mendadak lenyap digantikan oleh debaran adrenalin yang membakar darah mudanya. "Oke, Kek. Mari kita tes seberapa abnormal fisik saya sekarang."
Sret!
Bima mencengkeram batuan tebing pertama. Begitu telapak tangannya menempel pada batu, kalung bola batu di dadanya mendadak berdenyut kencang, menyalurkan hawa hangat yang membuat otot-otot lengan dan kaki Bima mengeras seketika.
“Oh … kamu udah lapar ya? Sange mau makan ini? Sabay ya sayang,” ujar Bima kayak orang gila kepada batu yang dijadikan liontin kalung itu.
Dengan kecepatan dan kelincahan yang di luar nalar manusia biasa, Bima merayap naik. Jari-jarinya mencengkeram sela-sela batu cadas seolah batu-batu keras itu hanyalah gundukan tanah liat yang empuk.
Hanya dalam beberapa lompatan taktis, tubuh tegap Bima sudah mendarat sempurna di sebuah cerukan tebing, tepat di depan tanaman jahe merah raksasa tersebut.
"Gila... napas seger bener, gak ada capek-capeknya," gumam Bima puas sambil menyeka keringat tipis di pelipisnya.
Tanpa membuang waktu, Bima berlutut dan mengulurkan kedua tangannya untuk mencabut tanaman herbal kuno itu. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh batang jahe tersebut, kalung bola batu di balik kausnya mendadak meloncat keluar, memancarkan cahaya hijau terang yang menyilaukan mata!
Wusssss!
Sebuah pusaran angin gaib berskala kecil mendadak tercipta di sekeliling Bima. Bima bisa merasakan sensasi luar biasa dahsyat mengalir deras dari akar tanaman, masuk melewati telapak tangannya, lalu disedot paksa oleh bola batu di lehernya sebelum akhirnya dialirkan mutlak ke dalam ulu hatinya.
Itu adalah proses kultivasi instan! Sari pati energi herbal murni diserap tanpa sisa. Di mata terawangannya, wadah energi Mustika Hijau di dalam dadanya yang sempat menyusut dan kering akibat dihajar puluhan pasien selama empat hari, kini terisi kembali dengan sangat cepat. Warnanya bukan lagi hijau redup, melainkan hijau keemasan yang jauh lebih pekat dan berkilau tajam.
Bersamaan dengan itu, tanaman jahe merah di depannya perlahan-lahan layu dan mengering menjadi abu, setelah seluruh esensi kehidupannya diperas habis oleh Bima.
"Ughhh...!" Bima melenguh berat. Tubuhnya mendadak terasa sangat panas, terutama di area bawah perutnya. Otot-otot dada, perut, dan lengannya tampak berkedut-kedut, menjadi semakin padat, kekar, dan berserat sempurna. Rasa hangat yang menjalar di selangkangannya terasa berdenyut kencang, membuat aset kejantannya kembali menegang keras seolah siap menghantam apa saja.
"Haha! Bagaimana? Terasa perbedaannya, kan?" tawa Ki Ageng bergemuruh bangga. "Fisikmu saat ini sudah setingkat lebih tangguh. Stamina kelelakianmu berlipat ganda, dan cairan intimu kini menjadi obat yang luar biasa mematikan bagi segala jenis penyakit dalam!"
Bima berdiri perlahan, gila kekuatan melimpah di tubuhnya! Hanya modal ginian doang!
"Edan... beneran bensin super ini mah. Kalau staminaku sekencang ini, jangankan cuma mijet, Mbak Rasti, Wulan, sama mbak siska kalau digabung sekaligus juga bakal ampun-ampunan di bawahku," batin Bima tertawa mesum.
Bima melihat masih ada satu lagi jahe gede, jadi dia simpan dan masukin kantong buat jaga-jaga. Tapi, lalu kepala dewasa yang penuh bisnis dari bima mulai berpacu. Sebentar kalau dia bisa menarik tenaga dari tanaman herbal, bukannya dia bisa melakukan hal sebaliknya? Dia memberikan tenaga ke dalam tanamah herbal.
Tanaman herbal yang punya tenaga mustika kehidupan kemudian di jual .. bom! Pasti bakal menghasilkan uang!
Bergegas bima melakukan klarifikasi atas teori ngawur ke kakek-kakek cabul di dalam pikirannya.
"Wah, kamu punya ide gila yang cukup cerdas juga, Anak Muda!" sahut Ki Ageng Raga Samudra, suara tertawanya bergaung kagum di dalam kepala Bima. "Membalikkan aliran Hawa Murni Kehidupan untuk menghidupkan atau mempercepat pertumbuhan tanaman... secara teori, itu sangat bisa dilakukan!"
Bima langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya berbinar cerah membayangkan tumpukan uang kertas. "Tuh kan, bener! Kalau jahe merah biasa disuntik pakai energi Mustika Hijau, ukurannya pasti bakal jadi raksasa kayak tanaman tadi. Khasiat medisnya juga bakal naik seribu persen! Dijual ke bos-bos besar yang butuh kesehatan atau pabrik jamu herbal di kota, harganya pasti bisa melesat sampai puluhan juta per rimpang!"
Namun, tawa Ki Ageng mendadak mereda, digantikan oleh dehaman berat yang bernada memperingatkan.
"Jangan terlalu cepat kegirangan, Bima. Ingat, ada hukum keseimbangan alam yang tidak bisa kamu langgar begitu saja. Menyalurkan hawa murnimu ke tanaman biasa berarti kamu sedang membagikan sebagian dari 'bensin' kehidupanmu ke benda mati. Jika kamu terlalu serakah dan melakukan itu dalam skala besar tanpa kultivasi yang sepadan, wadah energimu bisa terkuras habis, bahkan tubuhmu bisa ikut melemah!"
Bima mengernyitkan dahi, mencoba mencerna peringatan sang sesepuh. "Oalah, jadi ada batasannya ya, Kek? Gak bisa asal langsung bikin ladang gaib?"
"Tentu tidak bisa, Bocah Sinting! Minimal, kamu harus memiliki tanaman indukan yang berkualitas baik, dan kamu hanya boleh menyuntikkan energi dalam takaran yang pas agar wadah energimu tidak kedodoran," jelas Ki Ageng. "Tapi, jika kamu menggunakannya dengan bijak... ide bisnismu ini bisa menjadi kedok yang sangat sempurna untuk menyembunyikan identitas aslimu sebagai pemilik Mustika Hijau."
"Hehe, tenang aja, Kek. Otak Bima ini otak pebisnis. Gak bakal Bima kuras sampai habis," seringai Bima kembali terkembang lebar. Skema bisnis baru sudah tersusun rapi di kepalanya. Klinik pijat ajaib dipadukan dengan suplai tanaman herbal premium—pundi-pundi rupiahnya dijamin akan mengalir lebih deras dari air hulu sungai di bawahnya.
Puas dengan hasil kultivasi darurat dan pencerahan bisnis barunya, Bima bersiap untuk melompat turun dari cerukan tebing setinggi sepuluh meter itu. Fisiknya yang sekarang terasa seringan kapas namun sepadat baja, membuatnya sangat percaya diri.
Sret! Berisik..
Baru saja ujung sandal Bima menyentuh tepian batu untuk melompat, telinga tajamnya yang kini memiliki sensitivitas di luar nalar mendengar suara yang menggoda iman.
Suara gadis cantik mandi. Seseorang mandi di sungai ini. Mengikuti naluri jantannya dia melihat ke bawah, ke sunggai itu. Wow! Luar biasa. Di sana agak tertutup kabut, namun dia bisa melihat dengan jelas bayangan gadis di sana. Mempunyai lekukan tubuh yang mantap!
"SALAM SATU NYALI, WANI"
LOSS GAK REWEL BOSSKU, PREI WONG RUWET...🦾💪💪🏼💪🏾💪🏿