NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Panah angkasa

Setelah mendengarkan penjelasan dari tabib Min, aku menurunkan kewaspadaanku terhadap semua orang di kediaman itu.

Aku kembali menatap pria yang telah menyelamatkan nyawaku yang masih enggan menoleh atau berbicara satu patah kata pun mengenai semua ini.

Menyadari diriku yang hanyalah seorang rakyat biasa, aku segera merendahkan diri kepada jenderal muda Guan Yu, seorang pria bangsawan terhormat dan juga seorang abdi negara ini.

Tapi yang membuatku tidak mengerti adalah kenapa seorang jenderal terhormat seperti Guan Yu mau menolong diriku yang hanya seorang rakyat biasa dan juga rendahan ini?

Dan hal tersebut tentu membuatku penasaran hingga menyimpan tanda tanya besar terhadapnya.

Kenapa? Mengapa? Dan apa alasannya?

"Maaf atas sikap kasar hamba sebelumnya pada anda Tuan," ucapku menunduk hormat dan mengakui kesalahanku karena telah merutuk dan mengatainya badjingan. "Tapi jika hamba boleh tahu, kenapa anda menyelamatkan hamba yang hanya seorang rakyat biasa ini?"

Namun jenderal Guan Yu sama sekali tidak menoleh atau membalas pertanyaanku, malah ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan ini hingga tabib Min membuka suaranya karena merasa kasian padaku yang masih menunggu jawaban darinya.

"Nona Qiuye ..."

"Tunggu tabib Min, kenapa anda tahu namaku?" tanyaku sebelum tabib Min berkata lebih jauh.

"Oh tentu saja hamba tahu nama anda dari tuan muda," jawab tabib Min.

"Tapi bagaimana tuan muda Guan Yu bisa mengenal hamba yang cuma dari kalangan rendah ini?" tanyaku ingin tahu.

"Maaf Nona Qiuye, hamba tidak bisa menjawab pertanyaan anda. Mungkin anda bisa menanyakannya langsung kepada tuan muda nanti," jawab Tabib Min.

"Bagaimana aku bisa bertanya langsung padanya? Apa anda tidak lihat sikapnya yang barusan? Dia hanya diam saja dan bersikap dingin seperti itu," balasku enggan.

"Oh anda jangan khawatir, Nona. Tuan muda memang bersikap seperti itu, acuh dan tidak banyak bicara. Tapi percayalah, tuan muda orangnya sangat baik dan juga pengertian," balas Tabib Min.

"Benarkah?" balasku sulit percaya.

"Benar, percayalah pada hamba." Tabib Min menyudahi perbincangan ini dan mulai memeriksa denyut nadiku.

"Nona Qiuye, walau kondisi anda sudah membaik, tapi anda harus banyak beristirahat. Kurangi gerakan fisik dan jangan berpikir keras untuk saat ini," saran Tabib Min.

"Baik," balasku mengerti.

"Bagus kalau anda sudah mengerti, Nona. Berbaringlah dulu agar luka diperutmu tidak tertekan dan tungu hamba menyiapkan sarapan untuk anda," ucapnya lalu pamit.

Aku hanya bisa mengangguk patuh, "Baiklah," balasku kemudian berbaring kembali.

Sejenak pikiranku kembali memikirkan sesuatu, tentang keadaan nona Huang apakah ia baik-baik saja? Lalu bagaimana dengan ayah dan ibuku? Apa mereka sudah tahu mengenai kondisi ku saat ini?

Seketika kepalaku menjadi pusing saat memikirkan semua itu, rasa cemas dan kekhawatiran yang melanda membuat luka ditubuhku sakit kembali.

"Akh ... " Lirihku seorang diri didalam kamar asing yang tidak ku kenali."

Aku hanya ingin kembali pulang, bertemu dengan kedua orang tuaku dan juga nona Huang. Tapi sepertinya aku harus menetap disini terlebih dahulu, sampai kondisiku benar-benar membaik.

Tapi bagaimana jika mereka mencariku? Apa mereka tahu aku berada disini? Pasti saat ini mereka sedang mencemaskanku. Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar dikepalaku, namun rasa sakit membuatku berhenti memikirkannya.

Aah kepalaku sakit sekali ...

Beberapa saat kemudian, tabib Min kembali datang ke kamar ini sambil membawakan semangkuk bubur hangat untuk diberikan padaku.

"Nona Qiuye anda belum makan apapun sejak kemarin, jadi cobalah makan bubur hangat ini. Walau hanya sesuap setidaknya bisa membuat tubuh anda kembali bertenaga," ucap Tabib Min menyerahkan mangkuk bubur itu.

Namun rasa sakit pada bahuku membuatku kesulitan menerimanya.

"Oh maaf Nona, hamba benar-benar tidak peka. Ijinkan hamba melayani Nona ya," ucap Tabib Min berinisiatif kemudian mulai menyuapiku.

Aku hanya bisa menerima bantuannya itu dan tidak menolak satu pun suapannya, rasa hangat yang tabib Min berikan saat ini, setidaknya mengobati sedikit rasa rinduku pada ayah.

...***...

Sementara itu, Xin memasuki ruang baca Guan Yu untuk menyampaikan informasi.

"Tuan muda, pasukan kita telah berkumpul dan mereka telah siap diperintahkan kapanmu anda minta," ucap Xin.

"Bagus, Xin. Kalau begitu kita akan bergerak malam ini," balas Guan Yu.

"Baik, Tuan!" patuh Xin lalu pergi ingin menyebarkan berita tersebut kepada yang lainnya.

Namun sebelum pergi Guan Yu memberikan selembar kertas pada Xin agar dikirimkan segera. "Kirim surat ini ke kediaman tabib Jiang," ucapnya ingin memberitahu tabib Jiang mengenai kondisi Qiuye yang kini telah baik-baik saja dan meminta tabib Jiang agar tidak perlu mencemaskannya.

Lalu Guan Yu juga menyarankan tabib Jiang agar mengijinkan Qiuye untuk tinggal dikediamannya sementara waktu sampai kondisinya membaik, dan meminta agar merahasiakan hal ini dari siapapun termasuk keluarga Huang, mengingat pada saat ini pasukan istana tengah gencar mencari keberadaan Qiuye.

Hal tersebut dilakukan karena kediamannya adalah tempat yang aman untuk Qiuye saat ini, ia juga tidak mau kaisar Song sampai bertemu dengan Qiuye yang akan menimbulkan masalah baru nantinya.

"Baik Tuan," Xin membawa surat tersebut lalu mengirimnya melalui panah angkasa.

Panah angkasa sendiri adalah senjata rahasia mata-mata yang dimiliki oleh Guan Yu, kecepatan panah angkasa itu setara dengan kecepatan 100 kuda berlari dengan jangkauan luas mencapai ratusan kilometer.

Lalu anak panah angkasa yang berisikan surat itu akan tiba pada kantor cabang rahasia lain dibawah kekuasaan kantor rahasia pusat. Dan akan disalurkan pada yang bersangkutan sesuai keperluan.

Hal tersebutlah yang membuat Guan Yu mengirim dan menerima informasi dengan cepat dari anak buahnya yang berada di masing-masing daerah yang jaraknya cukup jauh.

...***...

Setelah Xin pergi, Guan Yu kembali ke kamar Qiuye untuk menemui tabib Min yang masih bersama gadis itu.

Ia melihat perhatian tabib Min pada Qiuye, yang dilakukan selayaknya seorang ayah kepada putrinya, sehingga Qiuye merasa aman dan nyaman berada dikediamannya.

Ia kemudian mengetuk pintu, hingga tabib Min berhenti menyuapi Qiuye.

"Tuan muda," ucap Tabib Min menaruh mangkuk bubur yang masih tersisa setengah.

"Tabib Min, jika sudah selesai datanglah keruanganku."

"Baik Tuan," patuh Tabib Min lalu membereskan semua dan menatap Qiuye. "Jika perlu sesuatu, panggil saja pelayan yang ada di depan kamarmu ini ya," ucapnya sebelum pergi dan aku mengangguk mengerti.

"Ya Tuan Muda," ucap Tabib Min setelah tiba di ruangan Guan Yu.

"Tabib Min, aku ingin meminta bantuanmu."

"Apa itu?" tanya Tabib Min.

"Aku dan beberapa pasukan terlatih berencana masuk ke dalam kota bawah tanah malam ini untuk mengunjungi pasar gelap disana," balas Guan Yu.

"T-tuan, kenapa anda ingin kesana? Tempat itu sangatlah berbahaya, banyak sekali jebakan yang tidak terduga. Selain itu, penduduk kota bawah tanah sangat sensitif terhadap orang luar," jawab Tabib Min tidak setuju.

"Untuk itulah aku memanggilmu kesini tabib Min. Sebagai orang yang pernah memasuki kota bawah tanah, aku ingin kau menjelaskan padaku bagaimana kondisi tempat itu secara rinci dan tempat mana saja yang harus diwaspadai," balas Guan Yu.

"Baiklah Tuan," balas Tabib Min kemudian menjelaskan apa yang ia ketahui mengenai pasar gelap dan juga kota bawah tanah sebagai bekal penyergapan nanti.

...Bersambung....

1
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!