NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Pakaian pelayan wanita

Setelah membersihkan kamar dan melayani Guan Yu di meja makan, aku pergi ke binatu untuk mencuci pakaian. Karena di kediaman ini tidak ada satu pun pelayan wanita, maka terpaksa aku mencuci bajuku sendiri dan meminjam baju tidur Xin untuk ku kenakan hari ini, karena tidak adanya pelayan wanita yang bisa ku pinjami pakaian.

Walau sedikit kesulitan mencuci pakaian karena luka di perutku masih berdenyut, namun aku harus membersihkan pakaian ini karena hanya pakaian ini saja yang aku miliki untuk ku kenakan.

Selain mencuci pakaian kotor yang ku kenakan kemarin, aku juga harus mencuci pakaian kotor milik Guan Yu, dan mencuci semua sprei serta selimut yang berserakan dilantai kamarnya.

Aku menghela nafas kasar karena kesal, walau aku telah terbiasa mencuci pakaianku sendiri saat di rumah. Namun aku keberatan setelah melihat selimut tebal yang harus ku cuci juga.

Hanya karena aku tidur selama beberapa jam saja di atas kasurnya, dan selimut jatuh tergeletak dilantai bersih akibat perkelahian kecil tadi. Guan Yu bersikukuh ingin mengganti sprei dan selimutnya dengan yang baru.

"Selimut dan sprei ini masih bersih, apa harus dicuci juga? Padahal dia sendiri tahu kalau aku ini sedang sakit, tapi malah memberiku pekerjaan yang berat." gerutuku heran.

Semenjijikkan itukah diriku ini? Tapi kalau dia merasa jijik padaku, lalu kenapa dia mau menyentuhku bahkan tidur disampingku?

Aku menggelengkan kepala dan tidak habis pikir dengan si pemilik kediaman ini, hingga pada akhirnya aku membanting tongkat pencuci baju ditanganku, lalu menginjak-injak selimutnya yang berada di dalam ember kayu.

"Rasakan ini! Rasakan kakiku ini!"

"Sedang apa? Kenapa meloncat-loncat seperti monyet?" tegur Guan Yu dan Xin mendatangiku.

Aku bergegas turun dari ember dan segera menyapa tuanku, sedangkan Xin hanya tertawa geli dibelakang Guan Yu melihatku kelabakan menghadapi tuannya.

"Sedang apa lagi, seperti yang Tuan lihat. Hamba sedang mencuci selimut," jawabku kesal.

"Mencuci? Ku pikir kau sedang mengeluh karena mencuci selimutku yang kau lempar tadi pagi."

"Hamba tidak melemparnya, tuan sendiri yang menarik selimut dari tubuh hamba dan melemparnya begitu saja ke lantai," balasku sesuai dengan kenyataan didalam kamar tadi pagi.

"Oh jadi kau menyalahkanku sekarang? Andai saja kau lebih menurut tadi pagi, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi," balas Guan Yu kembali mengungkit.

"Baiklah, hamba mengaku salah." Aku lebih memilih mengalah. "Tuan sendiri sedang apa disini?" tanyaku mencoba membuka obrolan baru.

"Sungguh pertanyaan yang aneh, ini adalah kediamananku. Dikediaman milikku ini tempat mana yang tidak boleh ku kunjungi?" jawabnya santai. Lalu bergi bersama Xin menuju ruang baca diatas.

Aku terperangah mendengar jawabannya itu, benar yang dikatakan oleh koki Xuan sebelumnya. Jika pemilik kediaman ini bukan hanya ahli dalam bela diri, namun juga ahli bersilat lidah.

Maka dari itu, diam dan meminta maaf adalah cara terbaik untuk mengindari kata-kata dinginnya, walau kau tidak melakukan kesalahan apapun kepadanya.

...***...

Xin tersenyum dan tidak henti-hentinya melihat wajah Guan Yu yang berbeda, seakan ia melihat ada semu cahaya memancar dari wajah tampannya.

Dan setibanya mereka di ruang baca lantai atas, Xin kembali melihat Guan Yu yang sedang menatap Qiuye dikejauhan.

"Xin, ku lihat Qiuye memakai bajumu. Nanti siang belikan dia beberapa pakaian pelayan wanita," ucap Guan Yu.

"Baik Tuan ... Tapi Tuan, anda telah mengetahui identitas asli nona Qiuye yang sebenarnya. Dia adalah putri kandung kaisar Song, tapi kenapa anda malah menjadikannya seorang pelayan di kediaman ini?" tanya Xin ingin tahu alasannya.

Guan Yu menoleh dan menatap Xin, lalu duduk terlebih dahulu sebelum menjawabnya. "Memangnya kenapa? Apa kau berpikir aku semena-mena padanya karena menjadikannya seorang pelayan di kediamanku ini?"

"Bukan begitu Tuan, hamba hanya bertanya saja."

"Xin, walau Qiuye adalah putri kaisar yang asli, namun dia tetaplah putri yang tidak diinginkan oleh kaisar Song sendiri. Alasannya kenapa, kau juga sudah tahu jawabannya. Dan kenapa aku menjadikannya sebagai pelayan di kediamanku ini? Itu adalah untuk menjaganya agar tetap aman sesuai permintaan jenderal besar dan juga tabib Jiang," jawab Guan Yu.

"Tapi Tuan, bagaimana kalau sewaktu-waktu nona Qiuye tiba-tiba bertanya. Seperti kenapa anda menyelamatkannya waktu itu dan bagaimana anda bisa kenal dengannya?" tanya Xin.

"Maka jawab saja ayahku dan ayahnya berteman baik saat di istana dulu, mengenai kenapa aku menyelamatkannya adalah itu karena hutang budi ayahku pada tabib Jiang karena pernah menyelamatkan nyawanya saat di medan perang dan sering merawat lukanya di kamp militer," jawab Guan Yu.

"Baik Tuan, hamba mengerti. Tapi Tuan, bagaimana kalau tanpa sengaja nona Qiuye mengetahui identitas aslinya, bukankah itu sama saja anda telah membohonginya selama ini?"

Guan Yu tak menjawab dan hanya terdiam, seperti sudah tahu jawabannya. Yaitu kebencian Qiuye padanya.

"Tuan, mungkin Qiuye akan membenci kita. Lalu bagaimana dengan kaisar Song? Bagaimana reaksinya kalau dia tahu jika putrinya masih hidup?" tanya Xin lagi.

"Maka kita harus siap menyelamatkannya dari kejaran istana," jawab Guan Yu.

"Suatu saat apabila itu terjadi dan kita memilih untuk menyelamatkan Nona Qiuye dan menolak titah Kaisar yang ingin memburunya. Bukankah itu sama saja dengan sebuah pengkhianatan?"

"Maka dari itu, sebelum semua itu terjadi, kita harus menemukan dalang dibalik semua ini secepat mungkin dan menyadarkan Kaisar Song bahwa semua kekhawatirannya adalah tidak benar. Maka dengan begitu Qiuye bisa diterima olehnya," balas Guan Yu.

"Lalu bagaimana kalau kita gagal mencari dalang semua ini atau terlambat menemukannya dan Kaisar Song lebih dulu mengetahui keberadaan nona Qiuye?" tanya Xin kemudian.

Guan Yu menghela nafas panjang menghadapi pertanyaan Xin kali ini. "Apa yang perlu ditakutkan? Kita punya kekuatan militer yang dikendalikan oleh jenderal besar, ditambah orang-orang kita, maka itu sudah lebih dari cukup untuk melindungi Qiuye," jawab Guan Yu.

"Baiklah Tuan," balas Xin mengerti dan berharap kejadian tersebut tidak pernah terjadi.

"Xin, apa ada kabar dari tabib Min mengenai kota bawah tanah?" tanya Guan Yu.

"Belum ada Tuan," jawab Xin apa adanya.

Setelah kasus Wu San terjebak dilabirin, Guan Yu kembali mengirim beberapa anak buahnya untuk memeriksa labirin tersebut.

Sedangkan Tabib Min, mengunjungi pasar gelap di kota bawah tanah untuk mempelajari obat-obatan ilegal langka disana untuk membuat penawar racun asing dari barat.

Sedangkan ia sendiri harus pergi ke istana dan memeriksa orang-orang mencurigakan disana.

...***...

"Nona Qiuye," panggil Xin saat aku sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk Guan Yu bersama koki Xuan.

"Ya Xin ada apa?"

"Ini untukmu, tuan muda memintamu untuk memakai pakaian ini." Xin menyerahkan beberapa set pakaian pelayan wanita berwarna biru muda lengkap dengan tusuk rambut berlonceng tembaga sebagi tanda untuk seorang pelayan wanita di setiap kediaman.

Aku mengambil pakaian tersebut dengan suka cita. "Terima kasih Xin, setidaknya aku tidak perlu meminjam pakaianmu ataupun meminjam pakaian siapapun lagi," balasku senang karena mulai sekarang ia tidak perlu meminjam pakaian pria yang kelonggaran dan tidak nyaman.

Aku bergegas memakai pakaian pelayan wanita kediaman Guan Yu itu, lalu memamerkannya pada Xin dan juga Paman Xuan. "Bagaimana penampilanku?" tanyaku sedikit berlenggok.

"Wah Nona, anda begitu cantik." Puji Paman Xuan memberikanku dua ibu jarinya.

Sedangkan Xin hanya terpaku menatapku yang terlihat berbeda dari sebelumnya, lebih cerah dan lebih terlihat seperti gadis cantik pada umumnya.

"Xin," panggilku melambaikan tanganku di depan wajah Xin.

Xin seketika menggeleng. "Ya, Nona. Anda terlihat cantik," jawabnya dan tidak sabar menunggu reaksi tuan Guan Yu ketika melihat Qiuye berpakaian demikian.

...Bersambung....

1
Joan
guan yu meriang itu, 🤣
Joan
makin seru kk
Joan
waduh percaya diri bener anak gundik satu ini
Joan
ya pelakunya si qiuye itu🤣
Joan
guan yu cuma milik Qiuye seorang. titik gk pake koma
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!