Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setra Agung (Makam Agung)
Saraswati dan juga Ketut Chandra sudah tiba di depan Setra Agung. Waktu memperlihatkan pukul 23:50.
Keduanya mengedarkan pandangannya ke arah pemakaman yang tampak gelap.
Suasana tampak hening, bahkan jangkrik berhenti bernyanyi.
Setra Agung adalah area pemakaman paling tua di desa. Pohon kepuh tumbuh sangat besar. Aroma tak sedap langsung menguar diudara, disebabkan sedang musim bunga.
Akarnya menonjol seperti ular. Di bawahnya terdapat batu palinggih yang terdapat ukiran patung sosok Ratu Mas Mecaling sebagai bentuk pemujaan.
akan tetapi, patungnya tidak memiliki wajah. Hanya sebuah selendang merah dengan topeng rangda (Leak).
Wayan Ratri sudah menunggu mereka. Kali ini, ia tidak mengambang. Tetapi kakinya menapak.
Di tangannya, terdapat dua boneka berukuran kecil yang terbuat dari kain mori.
Satu boneka dijahit dengan nama “Cempaka”. Satu lagi belum di beri nama.
Dari jemari tangannya mengalir darahnya Dwi masih, akan ia pakai untuk menulis nama.
“Cepat...” desisnya. Langit purnama tertutup awan hitam. Yang tersisa naya lingkaran berwarna merah.
Tap!
Tap!
Tap!
Saraswati datang dengan langkah yang tergesa-gesa, karena di kejar waktu.
Ia mengenakan kebaya putih. Tanpa mengenakan alas kaki. Di sebelahnya Ketut Candra membawa Banten Pejati dan juga membawa Pisau Taksu.
Di belakang, Nyoman Lingga baru saja tiba. Ia menyeret langkah, sembari membawa obor.
Sedangkan Ketut Wira menggendong Kadek Cempaka. Satya memapah Dwi yang sudah setengah sadar. Perutnya dibebat kain Gria, agar darah tak lagi mengalir.
Wayan Ratri tersenyum. Giginya meruncing semua. “Lengkap... tumbal... saksi... calon pengantin...”
Saraswati meletakkan Banten Pejati di depan batu palinggih. Pisau Taksu ditancapkan ke atas tanah.
Jleb!
“Cara memulainya bagaimana, Dadong?” suara Saraswati dingin. Tangannya gemetar, tetapi coba ia tahan.
Wayan Ratri ngakak.
"Kekeke!" gusinya terlihat hitam semua.
“Gampang. Iris tangan kalian. Teteskan darah di Banten Pejati. Bacain mantra untuk menyatu. Terus... kalian... jadi satu. Di depan Ida Ratu Mecaling. Baru sumpah kalian buyar. Dan dua bayi itu selamat.”
Ketut Candra melihat ke arah Saraswati. “Sekali ini aja, Putu. Abis ini kamu akan bebas. Jadi dokter. Jadi apa saja. Nggak usah urus leak lagi.”
Saraswati mengangguk. Air mata jatuh sekali saja. Kemudian dengan cepa ia hapus. Bagaimanapun, ia merasa jika menjadi Bidan Gria memiliki banyak keuntungan.
Dimana ia dapat menyembuhkan banyak pasien yang terkena smit non medis.
Namun malam ini, ia harus melepaskan semua kemampuannya.
Saraswati mengangguk pelan. “Baiklah, aku yang mengirisnya duluan.”
Ia mengambil pisau. Kemudian mengarahkan ke telapak tangannya.
SRAKKK!
Tiba-tiba saja, angin ribut datang dan bertiup kencang. Obor yang dibawa mati semua. Purnama terbuka. Warnanya berubah menjadi merah darah.
Dari batu palinggih, terdengar suara yang cukup berat. Itu bukan suara Wayan Ratri. Suara yang tua dan juga lebih lapar.
“LEMAH... DARAH GRIA LEMAH... AKU MAU DUA... BUKAN JANJI...”
Itu suara Ratu Mas Mecaling.
Wayan Ratri mendadak pucat. “Ratu... tiang sampun ngaturang...”
[Ratu... hamba sudah menyiapkan...]
“DIAM! AKU LAPAR SEJAK 200 TAHUN! DUA BAYI KURANG! BAWA GRIA-NYA JUGA!”
Tanah setra retak dengan tiba-tiba.
Greek!
Greek!
Terlihat tangan-tangan busuk muncul dari tanah.
Tangan busuk dan menyebarkan aroma bangkai itu langsung mengincar kaki.
Saraswati menarik Ketut Candra. “Rencana berubah. Dia nggak mau perjanjian. Dia mau semua!”
Ketut Candra menyalakan Taksu. Gambar trisula di tangan bercahaya menjalar sampai ke siku. “Kalau gitu... kita lawan!”
Wayan Ratri malah tertawa. “Lawan Ratu? Kalian? Taksu kalian belum nyatu!”
Ting... tong...
Lonceng Pura Dalem kembali berbunyi sebanyak dua belas kali. Maka tepat menunjukkan pukul dua belas malam.
DUAAAR!
Petir menyambar pohon kepuh. Ujung daunnya terbakar. Malam yang tadinya gelap mendadak terang. Seolah menggantikan obor.
Wuuuussh!
Mendadak api dari pohon kepuh menjilat langit. Asap hitam menggulung tinggi, menutupi bulan darah.
Topeng Rangda pecah di tanah. Wajah di balik palinggih itu... wajah Saraswati. Kulit yang pucat dan .ata melotot. Bibirnya sobek dan memiliki gigi taring yang runcing.
Saraswati asli mundur selangkah. Lututnya merasa lemas. “Itu... wajah aku...” ucapnya dengan gemetar.
BRAK!
Tanah retak semakin lebar. Tangan-tangan busuk terus menyembul, dan menyakar udara.
Kuku panjang yang hitam, daging mengelupas, bau bangkai menyengat sampai ke ubun-ubun.
Satu tangan berhasil mencekal mata kaki Nyoman Lingga.
“AAARGH!”
Nyoman Lingga jatuh. Obornya mental ke kuburan.
“LINGGA!” Ketut Wira mau menolong, tapi tangannya masih menggendong bayinya.
Bayi itu menangis kencang. Suaranya bikin retakan tanah berhenti sedetik.
Wayan Ratri yang tadinya ngakak sekarang menyungsep. Lututnya menyentuh tanah.
“Ratu Agung... ampun... tiyang cuma nurut...”
[Ratu Agung... ampun... hamba cuma nurut...]
BUG!
Angin menabrak Wayan Ratri. Tubuhnya terpental, punggungnya menghantam pohon kepuh.
Krek!
Tulang iganya patah. Darah hitam memercik dari mulut. Boneka dari kain mori yang dipegangnya terjatuh, kepalanya putus.
Suara dari batu palinggih semakin berat. Dan kali ini keluar dari dasar sumur.
“WAYAN RATRI... KAU PENIPU... KAU JANJI DUA BAYI DAN DARAH GRIA... SEKARANG GRIA-NYA MASIH BERNAFAS... AKU AKAN AMBIL SENDIRI!”
Bayangan yang cukup besar terbentuk dari asap yang muncul di balik Batu Palinggih.
Tingginya mencapai empat meter. Rambutnya gimbal dan terbuat dari api. Sedangkan lidah menjulur sepanjang dua meter, ujungnya bercabang.
Payudara kering menggelayut sampai ke pusar. Tangan hanya memiliki tiga jari, kukunya panjang melengkung membentuk bulan sabit.
Ratu Mas Mecaling muncul, Bukan sekedar patung yang di pajang di batu palinggih.
Ketut Satya mendorong tubuh Dwi ke Ketut Candra. “Gendong! Saya akan coba tahan!”
Ketut Satya mencabut keris kecil dari sabuk. Keris itu warisan pemangku. Sekali tebas leak kelas teri, langsung jadi abu.
Dia lari ke arah Ratu Mas Mecaling.
Tetapi ia lupa, yang ia hadapi adalah Ratu Mas Mecaling.
SYUUUT!
Lidah Ratu Mas Mecaling menyambar, dan menjerat pinggang Satya.
“Eeergh!”
Satya diangkat ke udara. Kerisnya terjatuh. Lidah itu mengangkatnya sampai ke depan wajah Ratu.
Ratu tersenyum seringai. Bau bangkai yang bercampur bunga kamboja busuk menguar di udara dengan cukup menyengat.
“PEJABAT DESA... DARAHMU SANGAT PANAS...”
Lidahnya hendak menarik Satya ke dalam mulutnya. Yang menganga lebar.
Saraswati tak lagi dapat menunda. Ia mengeluarkan trisulanya. cahaya kebiruan langsung berpendar.
"Kalandra. Tolong bantu aku!" ucapnya dengan suara yang lantang.
Ia berlari dengan mengejar ke arah Sang Ratu Mas Mecaling.
CRAAAKK!
Ia menebas lidah panjang tersebut, dan berhasil terputus.
Darahnya memercik ke banten pejati. Banten langsung hitam, dan terbakar sendiri. Apinya berwarna hijau.
Braaak!
Tubuh Satya terpental jatuh ke kubangan yang dalam, dan ia masih beruntung selamat.
Ratu Mas Mecaling murka.
"Haaaah!
Lidahnya yang terputus kembali menyatu.
Sedangkan Satya sudah merangkak naik. "Satya, bawa Dwi dan Ketut Wira beserta bayinya pergi dari sini. Cepat!
Satya tak menjawab. Tubuhnya yang basah menuju Dwi, dan Ketut Wira serta bayi tersebut ke mobil miliknya.
"Candra. Tolong pamanmu!" teriak Saraswati.
Tangannya menunjuk ketelapak tangan yang bertato trisula pada Ketut Candra. Cahayanya semakin terang. Trisula tampak seperti terbakar, tapi tidak panas.
Ketut Candra mengangguk, dan bergegas menuju setra.
Ia mencengkram tangan busuk tersebut. Cahaya tato trisula itu membakar tangan busuk tersebut, dan melepaskan cengkramannya.
"Paman, segera ke mobil. Cepat" ia mendorong tubuh pria paruh baya itu, dan tanpa mengatakan apapun, ia menurut.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh