Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Dalam Perangkap
Apartemen mewah yang disediakan Hendra Wijaya menjadi tempat baru bagi Galang dan Dita. Tempat itu jauh dari kesan hangat, dindingnya yang berlapis marmer dingin seolah mencerminkan hati penghuninya yang kini hanya berisi rencana balas dendam. Di ruang tengah yang luas, Galang duduk di depan deretan layar monitor, sementara tumpukan berkas dari masa lalunya bersama Arini berserakan di atas meja.
Dita datang membawakan segelas minuman, meletakkannya di samping tangan Galang yang sibuk mencoret-coret denah distribusi logistik.
"Minumlah dulu, Mas. Kamu sudah tidak tidur sejak kemarin," ucap Dita sambil mengusap bahu Galang. "Bagaimana progresnya? Apa Hendra puas dengan data yang kamu berikan?"
Galang menyesap minumannya, matanya tidak beralih dari layar. "Hendra lebih dari puas. Dia tidak menyangka Arini seberani itu menggunakan sistem just-in-time untuk proyek pelabuhan. Arini terlalu percaya pada vendor tunggal dari Surabaya. Jika vendor itu bermasalah, seluruh rantai pasokannya akan lumpuh dalam tiga hari."
Dita tersenyum puas, ia menarik kursi dan duduk di samping suaminya. "Dan kamu sudah mengatur agar vendor itu bermasalah?"
"Hendra punya pengaruh besar di Jawa Timur. Dia sudah mulai menekan pemilik perusahaan vendor itu agar menahan pengiriman dengan alasan kendala teknis. Tapi itu belum cukup, Dita. Aku butuh serangan dari dua arah."
"Maksudmu?" tanya Dita penasaran.
"Ini tentang Kevin, aku akan menjatuhkan Arini dengan isu perselingkuhannya dengan Kevin sebelum kami bercerai. " Galang tersenyum licik.
"Hmmm, itu ide yang bagus. Dengan begitu mungkin banyak orang yang tidak percaya pada Arini lagi." Dita setuju dengan rencana suaminya.
"Aku tidak akan membiarkan wanita itu hidup nyaman setelah menghancurkanku. "
Keesokan harinya, Galang bertemu kembali dengan Hendra Wijaya di sebuah klub golf privat yang sangat tertutup. Hendra memukul bola dengan santai, sementara Galang berdiri di belakangnya seperti bayangan.
"Strategimu cukup berisiko, Galang," ujar Hendra tanpa menoleh. "Jika kita gagal membuktikannya, Samudera Group bisa menuntut balik kita dengan pasal pencemaran nama baik."
"Itulah sebabnya kita tidak akan muncul di depan, Tuan Hendra," sahut Galang dengan nada dingin. "Kita gunakan pihak ketiga. Saya akan mengirim pesan anonim kepada mantan kekasih Kevin selama dia di luar negeri. Kita hanya akan menyalakan api dan biarkan angin yang melahap semuanya. "
Hendra berhenti mengayunkan stiknya, ia berbalik dan menatap Galang dengan senyum licik. "Anda benar-benar pria yang berbahaya. Saya mulai berpikir, apa Anda akan melakukan hal yang sama pada saya suatu hari nanti?"
Galang menatap mata Hendra tanpa ragu. "Saya hanya ingin Arini hancur. Setelah itu, saya tidak peduli lagi pada dunia bisnis. Saya hanya ingin dia tahu bahwa dia tidak pernah bisa menang melawan orang yang paling mengenalnya."
"Baiklah. Aku akan mengerahkan tim rahasia kita. Besok, isu perselingkuhan itu harus sudah meledak di media sosial," perintah Hendra.
Galang tersenyum puas, saat semua rencananya di setujui oleh Hendra.
Di apartemen, Galang merasa energinya pulih. Ia merasa seperti pengatur serangan yang sedang memindahkan bidak-bidak catur menuju skakmat. Namun, Dita mulai merasa tidak tenang. Ia melihat Galang terlalu terobsesi, bukan sekadar ingin kaya kembali, tapi seolah-olah Galang sedang berusaha membuktikan keberadaannya di mata Arini.
"Mas," panggil Dita pelan saat Galang sedang sibuk menelepon informannya.
"Apa lagi, Dita? Aku sedang sibuk," sahut Galang ketus.
"Setelah semua ini selesai... setelah Arini jatuh, kita benar-benar akan pergi, kan? Kita akan mulai hidup baru dengan uang dari Hendra?" tanya Dita dengan nada ragu. "Aku tidak mau terus-menerus hidup dalam persembunyian seperti ini."
Galang meletakkan ponselnya dan menatap Dita dengan tajam. "Kamu yang memintaku melakukan ini, Dita! Kamu yang bilang jangan jadi pecundang! Sekarang setelah roda mulai berputar, kenapa kamu malah ragu?"
"Aku tidak ragu, Mas! Aku cuma takut. Arini sekarang punya Samudra grup dan Kevin Mahendra. Kamu tahu sendiri Kevin itu seperti hiu di pengadilan. Jika dia tahu kita di balik semua ini—"
"Dia tidak akan tahu!" potong Galang dengan suara meninggi. "Hendra sudah mengatur semuanya. Semua jejak digital dan aliran dana diputus di perusahaan cangkang. Kevin mungkin hebat, tapi dia tidak bisa melawan hantu."
Galang bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. "Arini harus merasakan apa yang aku rasakan. Rasa malu saat kantor disita, rasa takut saat semua orang menjauh... aku akan memastikan dia melihatku berdiri di atas reruntuhan perusahaannya."
Hari yang direncanakan pun tiba. Galang dan Dita duduk di depan televisi, menunggu berita pagi. Benar saja, sebuah stasiun televisi berita mulai menyiarkan berita perselingkuhan antara Kevin dan Arini sebelum Arini bercerai dengan Galang
"Lihat itu, Dita! Itu baru permulaan!" seru Galang dengan tawa kemenangan yang terdengar parau.
"Mas, lihat ini!" Dita menunjuk layar ponselnya. Di media sosial, tagar #SkandalSamudera mulai menjadi trending topic. Foto-foto dokumen lama yang sudah dimanipulasi oleh tim Hendra tersebar dengan cepat.
"Hebat... benar-benar hebat," gumam Galang. "Sekarang tinggal menunggu reaksi pasar. Saham mereka akan gonjang-ganjing pagi ini."
Namun, di tengah kegembiraan itu, Galang melihat sebuah cuplikan singkat. Kamera wartawan menangkap sosok Arini yang baru saja keluar dari mobilnya di lobi kantor. Arini tidak tampak panik. Ia mengenakan kacamata hitam, berjalan dengan tenang didampingi Kevin Mahendra. Tidak ada raut ketakutan di wajahnya, hanya ketenangan yang justru membuat Galang merasa sedikit merinding.
"Kenapa dia tidak panik?" gumam Galang, senyumnya perlahan memudar.
"Mungkin dia hanya pura-pura kuat, Mas. Seperti biasanya," sahut Dita mencoba menghibur diri sendiri.
"Tidak, Dita. Aku tahu Arini. Jika dia setenang itu, berarti dia sudah menyiapkan sesuatu. Atau..." Galang terdiam, pikirannya mulai berputar mencari kemungkinan terburuk. "Atau ada seseorang di dalam Wijaya Group yang membocorkan rencana kita?"
"Jangan berpikir macam-macam, Mas. Hendra Wijaya sangat membenci keluarga Samudera. Dia tidak mungkin berkhianat," tegas Dita.
Galang kembali menatap layar televisi. Ia melihat Kevin Mahendra memberikan pernyataan singkat kepada wartawan sebelum masuk ke gedung. Kevin hanya mengatakan satu kalimat sambil tersenyum tipis, "Kami sudah menunggu momen ini. Dan kamu tidak akan membiarkan siapapun mencemarkan nama baik keluarga Samudra maupun Mahendra."
Kata-kata itu membuat Galang terhenyak di kursinya. Rasa dingin mulai merayap di punggungnya. Apakah ini sebuah jebakan? Apakah Arini dan Kevin sengaja membiarkan Galang dan Hendra melakukan serangan ini agar mereka bisa menghancurkan Wijaya Group sekaligus?
"Mas? Kamu kenapa?" tanya Dita cemas melihat wajah suaminya mendadak pucat.
"Dita... hubungi Hendra sekarang. Tanya padanya, apakah tim logistik kita di Surabaya sudah benar-benar aman," perintah Galang dengan suara gemetar. "Aku punya firasat buruk. Arini bukan lagi wanita yang bisa ku dikte. Dia adalah Samudera, dan Samudera tidak pernah goyah hanya karena ombak kecil."
Dendam yang tadinya terasa manis kini mulai menyisakan rasa getir di lidah Galang. Peperangan baru saja dimulai, tapi ia mulai merasa bahwa dirinya mungkin hanya kembali menjadi figuran dalam skenario yang jauh lebih besar dan mematikan yang telah disusun oleh Arini. Di dalam apartemen mewah itu, keheningan kembali mencekam, menyisakan pertanyaan besar. Siapa sebenarnya yang sedang menjebak siapa?