NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Kabut laut bergerak pelan di antara tumpukan kontainer-kontainer tua. Han tetap diam di posisinya, setengah jongkok di balik peti besi berkarat sambil memperhatikan gudang nomer tujuh belas tanpa berkedip.

Sementara itu di belakangnya Arga mulai gemetar, “… huh…dingin”

“…atau mungkin gue takut,” gumamnya sendiri.

Nara melirik sekilas.

“Kamu ngomong sendiri lagi.”

“Gue lagi ngumpulin nyali nih.”

Han masih fokus memandang ke area gudang. Lampu sorot terus bergerak perlahan. Penjaga bersenjata tampak disiplin. Tidak ada yang merokok dan tidak ada yang mengobrol. Semua sangat rapi dan itu pertanda buruk.

Arga mengintip sedikit dari sela container, lalu langsung mundur cepat.

“Nope.”

“Apa?” bisik Nara.

“Itu bukan satpam gudang.”

Han menjawab pelan,“…memang bukan.”

Arga menunjuk ke arah menara kecil.

“Yang di atas tadi pegang senapan laras panjang kan?”

“Ya.”

“Dan kalian santai aja?”

“Kau mau aku ikut panik juga?” tanya Han datar.

“Iya, itu pastinya akan membantu hubungan emosional kita.” Ucap Arga sambil merunduk lebih dalam

Han mengabaikannya, tatapannya kini tertuju pada pintu gudang yang masih terbuka sebagian. Beberapa pria berpakaian hitam terlihat memindahkan peti logam besar dari truk ke dalam bangunan. Tidak lama kemudian ada dua anak kecil yang diturunkan. Tangan mereka diikat kabel plastik dan mulut yang ditutup kain hitam.

Nara refleks menahan napas. Salah satu anak itu bahkan terlihat nyaris tidak bisa berjalan. Tubuh Han langsung menegang. Jari-jarinya mengepal perlahan. Arga yang melihat itu langsung berhenti bercanda.

“…bangsat.”

Suasana berubah jauh lebih berat. Han memperhatikan pola penjagaan di gudang itu. Dua di depan. Dua patroli bergerak. Penembak di menara. Kemungkinan ada lebih banyak di dalam. Lalu matanya bergerak ke sisi kanan gudang. Pintu besi kecil yang sedikit terbuka, jalur servis.

Han mengingat tempat itu. Dulu, anak-anak ORISON juga dibawa lewat pintu seperti itu. Tidak pernah lewat depan, karena Helios tidak ingin mendengar tangisan yang bisa menimbulkan kekacauan .

Napas Han sedikit berubah. Potongan suara masa lalu kembali terdengar di kepalanya.

“Jangan lihat belakang.”

“Yang menangis biasanya tidak bertahan.”

“Han!.”

Suara Nara menariknya kesadarannya kembali. Han berkedip pelan.

“Aku oke.”

Padahal jelas tidak. Nara bisa melihat rahangnya menegang. Namun sebelum ia sempat bicara, Arga mendadak menarik baju Han panik.

“Eh eh eh!”

Han langsung menoleh tajam.

“Apa?”

Arga menunjuk ke arah kiri dengan wajah pucat, “…ada orang yang jalan ke sini!” bisiknya.

Semua langsung terdiam. Suara langkah kaki terdengar mendekat di sela-sela kontainer. Pelan dan santai. Cahaya senter bergerak perlahan menyapu area sekitar. Penjaga patroli pelabuhan.

Han langsung memberi isyarat untuk diam. Mereka bertiga merunduk lebih rendah. Langkah kaki semakin dekat. Arga terlihat hampir berhenti bernapas.

“Gue ngga mau mati muda,” bisiknya gemetar.

“Kau sudah dua puluh tujuh tahun,” balas Han pelan.

“Itu masih muda buat ditembak sniper.”

Senter bergerak semakin dekat. Kini cahaya putih itu hanya berjarak beberapa meter dari posisi mereka. Nara menahan napas, sementara Han pelan pelan memegang pistolnya di balik jaket. Tidak ada ruang untuk kesalahan, kalau penjaga itu melihat mereka, seluruh pelabuhan bisa langsung berubah jadi zona perang.

Langkah kaki penjaga berhenti di dekat tupukan peti dekat mereka bersembunyi. Sunyi tanpa ada suara sedikitpun. Arga perlahan menutup matanya seperti sedang berdoa.

Lalu, terdengar suara dering ponsel terdengar. Penjaga itu mendesah kesal dan menjawab teleponnya.

“Ya?”

Ia berbalik sambil menjauh beberapa langkah. Han langsung bergerak dengan sangat cepat. Nyaris seperti bayangan. Tangannya membekap mulut pria itu dari belakang sementara lengan lainnya mengunci lehernya. Gerakan pendek dan terlatih. Tubuh penjaga itu pun langsung jatuh lemas.

Arga membelalakan matanya, “Ya Tuhan…”

Han menyeret tubuh pria itu ke balik kontainer. Pistolnya diambil dan Radio komunikasinya dimatikan. Semua dilakukannya tanpa suara.  Nara menatap Han yang sedang memerika tubuh penjaga itu. Ia masih belum terbiasa melihat seberapa efisien pria itu bergerak. Tidak ada keraguan, tidak ada emosi. Hanya… diselesaikan.

Han memeriksa seragam penjaga itu, matanya sedikit menyipit.

“Aneh.”

“Apa?” tanya Nara.

Han menunjukkan emblem kecil di lengan pria itu. Bukan simbol Helios, melainkan lambang perusahaan keamanan swasta. Arga mendekat sedikit.

“Bentar… mereka pakai outsourcing?”

Han menggeleng.“Ini bukan sembarang perusahaan.”

Ia membaca tulisan kecil di emblem itu.

BLACK VEIL SECURITY

Tatapannya langsung berubah lebih serius. Nara mengernyit.

“Kamu tahu ini?”

Han mengangguk kecil, “Mereka jasa pengamanan khusus.”

“Mereka biasanya dipakai oleh politisi atau perusahaan besar.”

“Kalau mereka sampai ada di sini…” Han menatap gudang perlahan, “…berarti Helios mulai melibatkan orang luar.”

Arga mendadak makin pucat.

“Artinya?”

“Artinya ini lebih besar dari yang kita kira.”

Kalimat itu belum sempat benar-benar dicerna ketika suara mesin lain terdengar dari kejauhan. Han langsung mengintip lagi dari sela kontainer. Dan kali ini, wajahnya benar-benar berubah. Sebuah SUV hitam panjang memasuki area gudang. Berbeda dari kendaraan sebelumnya. Lebih mewah dan lebih bersih.

Pagar langsung dibuka tanpa pemeriksaan. Semua penjaga berdiri lebih tegak. Seseorang yang sepertinya cukup penting datang ke gudang.

Pintu mobil terbuka, sepatu hitam mengkilat menginjak aspal basah. Lalu seorang pria berperawakan tinggi besar keluar dari kendaraan dengan setelan abu gelap dan sarung tangan hitam. Dan di sisi lehernya, terlihat samar bekas tato angka.

Han membeku sesaat dan napasnya menurun dengan pelan. Arga memperhatikan perubahan wajahnya.

“…Han?”

Tatapan Han tetap tertuju pada pria itu. Dingin dan tegang, seperti melihat hantu dari masa lalu. Lalu akhirnya ia berkata sangat pelan,

“…angkatan ORISON.”

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!