Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Uring-uringan.
"Capek ya, Kak?" tanya Ayuna pada Aurin yang sibuk membantu meracik kopi di balik meja bar.
Sudah sejak pagi gadis yang bosan berada di rumah itu memilih ikut Ayuna ke kafe. Dan di sini, Aurin seperti menemukan dunia barunya sendiri. Suara mesin kopi, aroma manis karamel, gelas-gelas yang berdenting, sampai ramainya pengunjung justru membuat gadis itu merasa jauh lebih hidup.
"Tidak sama sekali, seru juga bekerja di sini," jawab Aurin dengan wajah yang masih tampak semangat. Tangannya sibuk menata gelas di atas nampan. "Kafenya ramai banget, setiap hari begini ya?" tanyanya penasaran.
"Sepertinya nggak pernah sepi deh, Kakak Ipar. Banyak mahasiswa yang nongkrong di sini," jawab Ayuna sambil menuang susu ke dalam gelas plastik.
Aurin mengangguk pelan, kemudian membawa pesanan pengunjung yang sudah selesai dibuat. Sedangkan Ayuna memperhatikannya dari balik meja kasir.
"Kak, itu kakak ipar atau adik sih? Kok kayak masih kecil banget?" bisik salah satu waiter pada Ayuna.
Ayuna terkekeh pelan. "Kakak ipar, tapi umurnya jauh di bawah aku," jawab gadis itu santai.
Waiter tersebut langsung melongo sebelum akhirnya ikut cekikikan tidak percaya.
"Americano dua, caramel latte dua, dan espresso tiga tadi ya?" tanya Aurin memastikan pesanan beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas di sana.
"Iya, makasih," jawab salah satu dari mereka sopan.
Aurin membalas dengan senyum kecil, lalu mulai meletakkan satu per satu gelas kopi di atas meja mereka.
"Eh, pekerja baru ya?" tanya seorang cowok yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Aurin.
"Em... iya, Kak. Silakan dinikmati kopinya," jawab Aurin menunduk sopan.
"Boleh kenalan nggak, Dek?" ujar cowok itu dengan senyum menggoda, membuat teman-temannya langsung menatap malas.
"Kita ke sini buat ngerjain tugas ya, bangsat. Bukan buat menggoda waiter!" ujar salah satu temannya sambil menepuk pundaknya keras.
"Sayang banget kalau nggak digoda. Itu cewek cakep banget, mungil, imut, cantik lagi." Cowok itu masih tidak menyerah. "Dek, aku Bian. Nama Adek siapa?" tanyanya kemudian, bahkan sampai berdiri dan mendekati Aurin tanpa memedulikan protes teman-temannya.
Aurin yang tidak terbiasa diperlakukan seperti itu hanya tersenyum canggung. Tangannya makin erat menggenggam nampan di dadanya.
Namun belum sempat ia menjawab, sebuah suara perempuan tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Oh gitu ya? Aku baru tinggal sebentar ke toilet, kamu sudah mulai menggoda pelayan, Abian?!"
"Mampus!" Teman-temannya langsung pecah tertawa.
Seorang gadis berambut panjang berjalan mendekat dengan wajah kesal, lalu tanpa ampun menjewer telinga cowok bernama Bian itu sampai meringis kesakitan.
"Iya maaf, baby! Aku cuma mau kenalan, sumpah!" ujar Bian buru-buru membela diri.
"Buaya darat!" ketus pacarnya masih kesal.
Sedangkan Aurin sudah buru-buru berlalu dari sana sambil menahan tawanya sendiri. Sudut bibir gadis itu terangkat pelan, merasa suasana ramai seperti ini ternyata jauh lebih menyenangkan daripada terus berdiam di rumah besar yang sunyi.
.
.
.
Gallelio baru tiba di tempat penginapannya, sebuah vila pribadi miliknya, setelah seharian berada di luar bertemu rekan bisnis. Pria itu merebahkan tubuh sebentar di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang gelap dan sunyi itu. Rasanya luar biasa melelahkan. Bahunya pegal, kepalanya juga terasa berat setelah seharian penuh berkutat dengan pekerjaan dan pembicaraan yang tidak ada habisnya.
Hanya beberapa menit, pria itu kembali bangkit lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian, dia keluar dengan handuk yang sudah melilit di pinggangnya. Rambut hitamnya masih basah, beberapa tetes air jatuh melewati leher hingga dadanya. Wajah pria itu tampak jauh lebih segar dibanding sebelumnya.
Sebelum benar-benar berganti pakaian, Gallelio mengambil ponsel pribadinya yang sejak tadi mati seharian, lalu menghidupkannya kembali.
Ting!
Suara notifikasi bertubi-tubi langsung memenuhi layar ponselnya, membuat perhatian pria itu tertahan sejenak. Dengan rasa malas, dia membuka aplikasi hijau yang dipenuhi pesan dari Ayuna.
Kakak, lihatlah. Kakak ipar digoda mahasiswa, wkwkwk.
Sudah aku bilang, cuma kakak yang nolak pesona kakak ipar. Emang nggak cocok sih, kakak ipar cocoknya sama cowok-cowok muda kayak mereka.
Kakak tahu nggak, hari ini kakak ipar seharian kerja di kafe, dan dia kelihatannya happy.
Isi pesan-pesan Ayuna disertai beberapa foto dan video yang menampilkan Aurin dengan seragam kafe. Gadis itu terlihat membawa nampan, tersenyum kepada pengunjung, membantu di balik meja bar, sampai beberapa foto saat dirinya didekati mahasiswa laki-laki di sana.
Gallelio mengerutkan keningnya samar.
"Bodoh amat!" ujarnya dingin sebelum melempar ponselnya ke atas kasur. Setelah itu, pria tersebut kembali melanjutkan kegiatannya berganti pakaian.
"Dia benaran mau kerja di kafe atau cuma mau menggoda para mahasiswa yang datang ke sana?"
Baru saja dia berniat untuk tidak terlalu peduli, sekarang Gallelio malah duduk di tepi ranjang dengan perasaan gelisah yang mengganggu. Perasaan yang bertolak belakang dengan logikanya sendiri yang sejak tadi berusaha bersikap biasa saja.
Namun buktinya sekarang pria itu kembali membuka pesan-pesan Ayuna. Jemarinya memperbesar foto Aurin di layar ponsel, memperhatikan wajah gadis itu lama dengan raut yang tampak kesal.
"Dia pikir cantik begitu?" gumam Gallelio sinis.
Tatapannya kembali jatuh pada salah satu foto saat Aurin sedang tersenyum sambil membawa nampan kopi. Rambut panjang gadis itu diikat asal, beberapa helainya jatuh di sisi wajah. Seragam kafe yang sederhana justru membuat Aurin terlihat jauh lebih cantik dan manis.
"Sial... kenapa selama seminggu ditinggal dia malah kelihatan lebih manis?" lanjutnya tanpa sadar.
Pria itu mendesah kasar, lalu meletakkan ponselnya sebentar di paha. Namun baru beberapa detik, benda itu kembali dia ambil.
"Sudah punya ponsel, apa dia masih belum tahu cara menelepon seseorang?" umpatnya lagi dengan wajah uring-uringan.
Gallelio membuka room chat dengan Aurin. Kosong. Tidak ada percakapan sama sekali di sana. Tangannya bergerak mengetik sesuatu.
Sudah makan? Beberapa detik dia menatap tulisan itu sebelum akhirnya menghapusnya kembali.
Seharian ini ke mana saja? di hapus lagi.
Kening pria itu mengerut. Tangannya mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya melempar tubuh ke atas ranjang.
"Sial, saya sudah gila!" umpatnya pada diri sendiri.
Dia tidak percaya dengan apa yang barusan hampir dia lakukan. Menghubungi lebih dulu, menanyakan hal-hal kecil seperti itu, bahkan sampai menunggu kabar dari seorang gadis. Mempertaruhkan harga dirinya hanya karena Aurin tidak meneleponnya selama seminggu. Sungguh bukan seorang Gallelio, pikirnya kesal.
Dan pada akhirnya, setelah berkali-kali menahan diri, Gallelio menekan tombol panggilan video, menghubungi gadis itu, yang beberapa kali baru di angkat.
"Halo, Tu—"
"Kenapa baru di angkat?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...