"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 13
Satu minggu ini Mila tak melihat sosok Hasbi, ia mendengar kabar kalau pria itu sedang menjalankan tugas ke luar kota. Mila sedikit lega sebab tak perlu berbasa-basi.
Mila berangkat kerja seperti biasanya menaiki angkutan umum. Sesampainya di sana, ada sebuah motor yang tak dikenalnya telah terparkir. Ternyata, Pak Bagas sedang kedatangan tamu. Keponakannya laki-laki dari luar kota mengunjunginya.
"Mila, sini sebentar!" panggil Pak Bagas.
Mila mendekat dan bertanya, "Ya, ada apa, Pak?"
"Perkenalkan ini keponakan saya namanya Alan!" Pak Bagas mengenalkan pemuda yang ditaksir berusia 30 tahun.
Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya, Mila tak mau mengecewakan atasannya menyambutnya dan menyebut namanya.
"Cuma kamu yang belum mengenalnya, lainnya sudah pada kenal!" Pak Bagas memberikan alasan mengenalkannya kepada keponakannya.
Mila tersenyum tipis dan menggerakkan dagunya pelan.
"Pergilah ke dapur, buatkan dia mihun goreng dan es jeruk!" titah Pak Bagas.
"Baiklah, Pak!" Mila kemudian melangkah ke dapur melaksanakan perintah.
Sementara itu Mila yang sedang memasak pesanan keponakannya Pak Bagas, 2 orang pria beda usia itu kembali mengobrol.
"Bagaimana? Cantik 'kan? Janda tanpa anak. Kalau kamu mau sama dia, Paman dan Bibimu setuju aja," bisik Pak Bagas.
"Dia memang cantik, tapi ibu payah, Paman. Aku gak tau selera ibu, setiap perempuan yang dekat padaku gak lama kemudian pasti kami putus," ungkap Alan menceritakan sikap ibunya.
"Paman juga bingung dengan ibumu itu. Kamu yang menjalani hubungan tapi dia selalu ikut campur, Paman takutnya kamu gak nikah-nikah," Pak Bagas merasa prihatin dengan nasib keponakannya itu.
"Bicaralah dengan ibu, Paman. Aku juga lelah terus menerus begini. Aku juga ingin menikah seperti teman-temanku yang lainnya," pinta Alan agar Pak Bagas dapat membujuk dan menasehati ibunya.
"Bagaimana, ya? Hubungan kami cuma ipar, jika aja ayahmu masih ada mungkin ibumu gak seperti ini," kata Pak Bagas yang bingung memberikan penjelasan kepada kakak iparnya itu.
"Coba aja dulu, Paman. Siapa tau ibu mau berubah," Alan berharap lebih kepada Pak Bagas yang dapat membantunya meluluhkan hati ibunya.
"Kalau kami bertemu, Paman coba bicara dengannya," janji Pak Bagas.
Mihun goreng pesanan Alan sudah siap dimasak, Mila pun menyajikan diatas meja tepat dihadapan Alan.
"Terima kasih!" Alan tersenyum tipis.
Mila hanya mengangguk pelan kemudian berlalu.
"Asal dia bukan dari kota ini!" kata Pak Bagas kembali menjelaskan mengenai sosok Mila. Pak Bagas juga memberitahu provinsi tanah kelahirannya Mila.
"Oh, jauh juga dari sini, ya!" ucap Alan.
"Pernikahan sebelumnya cuma gak sampai satu tahun," jelas Pak Bagas lagi.
"Kenapa secepat itu? Siapa yang salah?" tanya Alan penasaran.
"Kata dia, sih, mantan suaminya suka melakukan KDRT makanya dia pilih pisah," jawab Pak Bagas.
"Kasihan juga, ya!" Alan lantas memperhatikan Mila dari kejauhan.
"Lalu kenapa dia jauh-jauh ke sini?" tanya Alan lagi.
"Dia ingin melupakan semua kenangan pahit bersama mantan suaminya," jawab Pak Bagas.
Mendengar semua penjelasan Pak Bagas tentang Mila membuat Alan menjadi iba. Apalagi pamannya itu menceritakan bahwa Mila sangat rajin bekerja, rajin ibadah dan jujur. Semua menjadi nilai tambah di mata Alan. Didukung wajah dan bentuk tubuh yang sangat menarik.
-
Sore harinya sebelum Mila pulang bekerja, Alan sengaja datang kembali hanya untuk mendekati wanita itu.
"Mau pulang, ya, Mil?" Alan mencoba berbasa-basi.
"Eh, iya, Mas Alan," kata Mila tersenyum singkat.
"Mau aku antar pulang biar sekalian jalan?" Alan menawarkan diri.
"Gak usah, Mas. Saya naik angkot aja!" Mila menolak tawarannya.
"Gak apa-apa, gak usah takut. Aku gak gigit kamu, kok!" kata Alan diiringi tawa kecil.
Mila juga tertawa tipis.
"Anggap aja kita sekarang teman!" Alan tak henti membujuk Mila agar sudi diantar pulang.
"Mohon maaf, Mas Alan. Saya benar-benar gak bisa terima tawaran Mas Alan!" Mila menolaknya dengan cara halus dan sopan.
"Kenapa? Apa takut kalau pacarmu melihat kamu dibonceng aku?" Alan coba menerka.
"Bukan begitu, cuma kos-kosan saya jauh. Pasti Mas Alan kelelahan, belum lagi macet!" Mila terus mencari alasan biar Alan mengurungkan niatnya.
"Memangnya jarak tempuhnya sampai dua jam?" Alan tak hentinya mencoba.
"Gak sampai segitu, sih. Tapi, lain waktu aja kalau mau antar saya pulang. Saya buru-buru dan mau singgah menemui teman. Saya duluan, permisi!" Mila bergegas melangkah meninggalkan Alan yang terus membujuknya.
Mila menghentikan angkutan umum secara asal meskipun tujuan kendaraan itu tidak menuju kos-kosannya. Ia tak mau Alan mengejarnya dan kembali merayunya.
Jarak 1 kilometer dari kedai nasi Mila turun dan berpindah angkutan umum. Di dalam kendaraan yang kedua, ia cukup lega sebab berhasil lepas dari Alan.
Selang 30 menit kemudian...
"Uh, ada aja cobaannya kalau mau mengejar impian!" gumam Mila saat sudah berada di dalam kamarnya. Niatnya ingin mencari uang yang banyak, melupakan masalah sejenak dengan kedua orang tuanya dan menunjukkan kepada mantan suaminya bahwa dirinya bisa bahagia tanpa pria itu.
***
Pagi harinya selepas salat Subuh di rumah, Mila keluar dan melakukan olahraga jalan kaki. Meskipun matahari belum terbit, tetapi sebagian orang-orang telah melaksanakan kegiatannya. Mila berjalan kaki memutari jalanan tempat kos-kosannya. Tujuannya biar tubuhnya bugar, sehat dan langsing. Cukup mantan suaminya yang menghinanya buruk.
Sepulang dari berolahraga jalan kaki, Mila kembali ke rumah dengan menenteng 2 kantong berisi telur ayam dan satu botol susu rendah lemak ukuran 1 liter.
Setelah mandi dan sarapan, Mila bersiap-siap berangkat kerja. Begitu membuka pintu kamarnya, Hasbi sudah berdiri dihadapannya.
"Hai!" sapa Hasbi tersenyum.
"Eh, Mas Hasbi!" Mila membalas dengan senyuman kaku.
"Mau berangkat kerja, ya?" tanya Hasbi sembari memperhatikan Mila dari atas hingga bawah.
"Iya. Mas Hasbi hari ini gak kerja?" Mila balik bertanya.
"Enggak. Saya baru sampai tadi subuh," jawab Hasbi.
"Oh."
"Ini ada oleh-oleh buat Mbak Mila!" Hasbi menyodorkan kantong plastik berwarna putih.
Mila tak segera menerimanya, ia memandangi kantongan itu cukup lama.
"Semua penghuni kos-kosan ini saya berikan, pemilik kos juga!" kata Hasbi biar Mila tak salah paham dengan pemberiannya.
Mila pun berani menerima oleh-oleh dari Hasbi dan berucap, "Terima kasih."
"Sama-sama," Hasbi kembali tersenyum.
Hening sesaat...
"Hmm...apa boleh saya mengantarkan Mbak Mila kerja?" Hasbi menghilangkan rasa kecanggungan diantara keduanya.
"Gak usah, Mas. Terima kasih banyak sudah mau direpotkan. Tapi, biarkan saya berangkat kerja sendirian," kata Mila dengan sopan.
"Saya gak merasa direpotkan, kok!"
"Mas Hasbi 'kan baru pulang dari perjalanan jauh. Lebih baik beristirahat!" nasihat Mila.
Hasbi diam dan berpikir.
"Terima kasih, ya, oleh-olehnya!" kata Mila mencairkan suasana.
Hasbi membalasnya dengan senyuman tipis.
Mila meletakkan kantong plastik itu di dalam kamarnya lalu kembali ke luar lagi, Hasbi masih berdiri di depan kamar meskipun tubuhnya telah berpindah posisi 2 langkah ke belakang. Mila mengunci pintu kamarnya dan berkata kepada Hasbi, "Saya mau pergi kerja, permisi!"
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔