Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — Jam 6 Sore
Hari-hari pertama Naresha di SMA Arkana mulai terasa semakin aneh.
Setelah percakapannya dengan Arven di belakang sekolah kemarin, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
“Ada yang meninggal di sana.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Naresha sebenarnya ingin menganggap semua itu omong kosong.
Tapi terlalu banyak hal aneh yang sudah ia lihat sendiri.
Suara tangisan di lorong.
Sosok perempuan di ujung koridor.
Bekas tangan di jendela kamarnya.
Dan cara Arven bicara seolah semua itu normal.
Pagi itu suasana sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa siswa sibuk mempersiapkan tugas kelompok, sementara yang lain bercanda di koridor.
Namun anehnya…
Tidak ada satu pun siswa yang mendekati area tangga menuju lantai tiga.
Seolah tempat itu memang sengaja dihindari semua orang.
Naresha duduk di bangkunya sambil menopang dagu.
Tatapannya mengarah ke jendela.
Mendung lagi.
“Sekolah ini cocok banget jadi lokasi film horror,” gumamnya pelan.
Keinan yang sedang makan roti langsung tertawa.
“Lo baru sadar?”
Naresha melirik sahabat barunya itu.
“Sebenernya apa sih yang bikin semua orang takut sama lantai tiga?”
Keinan langsung berhenti mengunyah.
Ekspresinya berubah sedikit tegang.
“Lo masih mikirin itu?”
“Ya iyalah.”
Keinan menghela napas panjang.
“Katanya dulu ada siswa yang hilang setelah denger suara perempuan nangis.”
“Terus?”
“Ga pernah ketemu lagi.”
Naresha mengangkat alis.
“Dan sekolah diem aja?”
“Ya karena sekolah ini suka nutupin semuanya.”
Suasana mendadak hening beberapa detik.
Keinan mendekat lalu menurunkan suaranya.
“Lo tahu ga kenapa semua orang buru-buru pulang tiap sore?”
“Karena takut ketemu setan?”
“Bukan cuma itu.”
Keinan melirik sekitar sebelum melanjutkan.
“Di sini ada aturan ga tertulis.”
“Apa?”
“Jangan pernah ada di sekolah lewat jam enam sore.”
Deg.
Entah kenapa bulu kuduk Naresha langsung meremang.
“Kenapa?”
Keinan menggigit bibir bawahnya pelan.
“Karena katanya… setelah jam enam, sekolah ini berubah.”
Naresha tertawa kecil.
“Berubah jadi apa? Hogwarts?”
“Gue serius.”
Melihat wajah Keinan yang mendadak pucat, Naresha perlahan berhenti tertawa.
“Dulu pernah ada anak ekskul basket latihan sampai malam,” lanjut Keinan pelan. “Besoknya dia ditemukan di toilet lantai tiga sambil nangis histeris.”
“Karena?”
“Katanya dia lihat perempuan berdiri di ujung koridor.”
Sunyi.
Naresha mencoba tetap santai walau dadanya mulai terasa tidak nyaman.
“Terus sekarang anak itu di mana?”
Keinan diam sebentar.
“Pindah sekolah.”
Jawaban itu justru membuat suasana makin tidak enak.
Bel masuk berbunyi sebelum Naresha sempat bertanya lagi.
Namun sepanjang pelajaran, ucapan Keinan terus terngiang di kepalanya.
Jangan pernah ada di sekolah lewat jam enam sore.
•
Sore harinya hujan turun deras.
Langit berubah gelap lebih cepat.
Sebagian besar siswa sudah pulang sejak setengah jam lalu, tetapi Naresha masih berada di perpustakaan karena harus menyelesaikan tugas biologi.
Ia menatap jam dinding.
17.45
“Dikit lagi selesai,” gumamnya.
Perpustakaan sudah sangat sepi.
Hanya terdengar suara hujan dan lembaran buku yang dibalik.
Beberapa menit kemudian…
Ctek.
Lampu perpustakaan berkedip pelan.
Naresha mengangkat kepala.
“Jangan mati sekarang deh.”
Ctek.
Lampu berkedip lagi.
Dan hawa dingin perlahan memenuhi ruangan.
Naresha mulai merasa tidak nyaman.
Ia buru-buru memasukkan buku ke tas lalu berdiri.
Namun saat hendak keluar…
Suara langkah kaki terdengar dari lorong luar perpustakaan.
Tok.
Tok.
Tok.
Pelan.
Seperti seseorang berjalan sambil menyeret kaki.
Naresha menahan napas.
“Satpam?”
Tidak ada jawaban.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu perpustakaan.
Sunyi.
Beberapa detik berlalu.
Lalu…
Krekkk…
Pegangan pintu perlahan bergerak sendiri.
Mata Naresha langsung melebar.
Pintu terbuka pelan.
Namun tidak ada siapa-siapa di luar.
Koridor terlihat kosong dan gelap.
Jantung Naresha mulai berdetak lebih cepat.
Ia langsung mengambil tasnya.
“Nah. Ga lucu.”
Saat Naresha berjalan cepat keluar perpustakaan, suara lonceng tua tiba-tiba terdengar keras.
TONGGGGG…
Tubuh Naresha refleks membeku.
Suara itu sama persis seperti hari pertamanya di sekolah.
Namun kali ini terasa jauh lebih menyeramkan.
Koridor mendadak terasa dingin.
Sangat dingin.
Dan saat itulah…
Naresha melihat seseorang berdiri di ujung lorong.
Perempuan.
Rambut panjang.
Seragam putih kusam.
Diam sambil menundukkan kepala.
Napas Naresha tercekat.
“Lo lagi…”
Sosok itu perlahan mengangkat wajahnya.
Gelap.
Matanya hitam seluruhnya.
Dan bibirnya tersenyum pelan.
Brak!
Seseorang tiba-tiba menarik tangan Naresha.
“Lari!”
Arven.
Cowok itu menarik Naresha melewati koridor dengan langkah cepat.
“Astaga— apaan sih?!”
“Jangan nengok belakang!”
Suara Arven terdengar tegang.
Naresha yang masih syok akhirnya ikut berlari menuruni tangga.
Suara langkah kaki terdengar mengikuti mereka dari lantai atas.
Tok.
Tok.
Tok.
Cepat.
Semakin cepat.
Naresha mulai panik.
“Arven—”
“Cepet!”
Mereka akhirnya sampai di lantai bawah.
Arven langsung mendorong pintu keluar sekolah.
Brak!
Begitu mereka keluar, suara langkah kaki itu mendadak hilang.
Sunyi.
Hanya suara hujan deras yang tersisa.
Naresha terengah-engah sambil memegang dadanya.
“Apa… itu tadi…”
Arven berdiri di depannya sambil mengatur napas.
Wajah cowok itu terlihat pucat.
“Gue udah bilang,” ucapnya pelan.
“Jangan pernah ada di sekolah lewat jam enam sore.”