kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
karma instan dan pengakuan berdarah
Bab 16 - Karma Instan dan Pengakuan Berdarah
Akibat hantaman bertubi-tubi yang menyerang dari dalam tubuhnya, fisik Indra kini kian melemah drastis. Jangankan untuk bangkit, bahkan untuk sekadar berteriak meminta tolong pun ia sudah tidak mampu lagi.
Nahas bagi Indra, ia hidup sebatang kara di rumah itu semenjak kedua orang tuanya lama meninggal dunia. Tak ada satu orang pun yang mendengar rintihannya. Kondisi mengerikan ini membuat Indra kehilangan terlalu banyak darah. Hingga akhirnya, dalam kesunyian yang mencekam, ia harus mengembuskan napas terakhirnya.
Sementara itu, di ruang tamu kediaman Mira, suasana berangsur-angsur tenang.
Setelah memastikan makhluk halus itu benar-benar pergi, Kiai dibantu kedua muridnya mulai membimbing keluarga untuk memberikan air putih yang sudah didoakan kepada Mira. Perlahan, kesadaran gadis itu kembali sepenuhnya. Sepasang matanya yang tadi memutih dan memancarkan kilatan merah mengerikan, kini kembali sayu dan jernih—menampilkan sosok Mira yang sebenarnya.
"Kita tidak boleh lengah dan merasa senang dulu," ucap Kiai, memecah keheningan dengan nada suara yang kembali serius. Beliau menatap satu per satu orang di ruangan itu. "Makhluk itu memang pergi untuk saat ini. Tapi, kemungkinan besar ia akan kembali lagi, sebelum kita menuntaskan masalah ini sampai ke akar-akarnya."
"Maaf sebelumnya, Kiai. Lalu, apa yang harus kita perbuat untuk menyelamatkan Mira... dan Indra?" ujar Agus dengan sopan, namun tak mampu menyembunyikan nada cemas dari suaranya.
Mendengar nama asing itu disebut, sang Kiai langsung menoleh dan menatap Agus dengan dahi berkerut.
"Indra? Siapa dia?" sahut Kiai, nadanya terdengar heran sekaligus penuh selidik.
"Halah! Ngapain kamu masih saja membela anak Dajjal itu? Biarkan saja dia mati karena ulahnya sendiri!" sergah paman Mira dengan suara serak menahan amarah.
Situasi di ruangan itu kini kembali menegang. Ego dan rasa dendam yang mendalam membuat atmosfer ruang tamu terasa begitu pekat dan tidak nyaman.
Agus menelan ludah dengan susah payah. Hatinya bergetar hebat; ia menyadari bahwa nasib sahabatnya yang lain kini benar-benar tergantung pada jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Ia menunduk sejenak, meremas jemarinya sendiri, sebelum akhirnya kembali berani menatap wajah sang Kiai dengan mata yang menyiratkan kekhawatiran mendalam.
"Sudah, sudah. Tidak usah ribut. Beri kesempatan anak muda ini untuk menjelaskan terlebih dahulu," potong Kiai dengan cepat, menenangkan keadaan sebelum amarah sang paman kembali meledak.
Tindakan tegas yang dilakukan Kiai itu membuat Agus sedikit merasa lega. Setidaknya untuk sementara waktu, ia aman dari amukan paman Mira yang arogan itu.
"Ma-maaf sebelumnya, Kiai. Indra... dia sahabat kami juga. Saat ini, dia juga sedang sakit sakral, gejalanya persis sama dengan apa yang dialami oleh Mira," ujar Agus dengan nada bicara yang sedikit bergetar karena gugup.
Sang Kiai hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Agus. Sorot matanya yang bijaksana seakan menyiratkan bahwa beliau sudah tahu segalanya—tahu bahwa ilmu hitam yang dikirimkan Indra untuk mencelakai Mira, pada akhirnya berbalik arah menyerang dan menghancurkan dirinya sendiri.
Dengan berat hati dan tubuh yang gemetar, akhirnya Agus menceritakan seluruh kebenaran kepada Kiai dan keluarga Mira. Walau ia sadar betul bahwa tindakan yang ia dan Indra lakukan adalah kesalahan besar yang melanggar syariat agama, Agus tidak ingin lagi menutupi bangkai. Ia mengakui dengan jujur bahwa mereka telah khilaf mendatangi paranormal, demi memikat dan mendapatkan hati Mira melalui jalan pintas yang terlarang.
Mendengar pengakuan jujur dari mulut Agus, suasana di dalam ruang tamu itu seketika pecah dan memanas hebat. Amarah sang paman yang sejak awal sudah membeludak, kini menular kepada ayah Mira yang ikut terpancing emosi. Seisi ruangan mendadak kacau tak terkendali.
Bugh! Bugh!
Pukulan demi pukulan mentah akhirnya mendarat telak di wajah dan tubuh Agus. Pemuda itu hanya bisa pasrah tanpa sempat membela diri. Rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan penyesalannya, terlebih karena posisi Agus saat itu sebenarnya hanyalah korban yang terjebak oleh tipu daya dan kelicikan Indra. Namun nasi telah menjadi bubur; di mata keluarga Mira, Agus adalah bagian dari pelaku utama.
"Sudah! Cukup!" bentak sang Kiai, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan kepalan tinju ayah dan paman Mira di udara.
Suasana mendadak hening. Kiai menatap mereka dengan tatapan mata yang tajam namun menyejukkan.
"Saya tahu kalian marah dan kecewa terhadap anak muda ini. Tapi kalian harus tahu, ada hal yang jauh lebih penting daripada melampiaskan amarah. Lihat Adik Mira! Apa kalian sudah tidak sayang lagi sama dia?" Kiai menunjuk ke arah Mira yang masih terkulai lemas.
Beliau menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. "Jangan karena ego dan amarah, kita kehilangan akal sehat lalu kehilangan fokus untuk menjaga Adik Mira. Ingat, emosi yang membeludak seperti ini justru akan menjadi energi dan kekuatan terbesar bagi makhluk itu untuk datang kembali. Ini adalah tipu daya setan agar kita semua lengah, dan saat kita lengah... ia akan dengan sangat mudah masuk kembali ke dalam tubuh Adik Mira."
Bersambung
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁