NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUKMI

Pagi hari, langit sedikit mendung. Asap kabut masih menggantung di lereng bukit Manoreh.

Di atas anglo yang menyala, tembikar isi sayur sedang dihangatkan. Srikandi sudah menyegarkan dirinya, masakan dari Gusti Ratu kemarin belum sempat ia sentuh. Ketika dibuka dari bungkusan, makanan masih tercium harum hanya sudah dingin saja.

Srikandi menatap tempat busur panah, sudah sejak kedatangan paman Sengko kemarin. Panah yang ia cabut dari pohon waru itu sudah tidak ada di sana. Padahal ia sangat yakin telah menyimpannya dengan rapi.

"Tidak mungkin Paman Sengko ambil. Anak panah itu kusimpan di tempat busur panah dan tergantung di dekat lemari. Paman tak mendatangi lemari itu," gumamnya pelan.

Ketika Sengko bertandang, Prabu Laksa juga ada dengan menggunakan ilmu kasat jiwa. Satu ilmu kanuragan tingkah tinggi, Prabu bisa hadir tanpa ada yang bisa melihat bahkan merasakan energinya.

Padahal Prabu mengitari rumah itu dengan seksama. Ia sedih melihat keadaan rumah Punggawanya yang telah gugur itu begitu sederhana. Tapi itu lah keinginan Ki Abda bahkan sebelum meninggal dunia.

Ketika Sengko menyadari ukiran di dinding kayu, Prabu Laksa bisa melihat bagaimana Srikandi merusak ukiran itu hanya dengan tatapan matanya. Makanya, ia bisa mengambil panah dari tempat tanpa ada yang tau, karena baik Srikandi dan Sengko saling menggunakan tenaga dalam mereka.

"Sepertinya aku anggap remeh Paman Sengko," gumam Srikandi meyakini jika panah itu diambil oleh kerabat ayahnya itu.

"Sudah lah, lagi pula aku sudah hafal bagaimana tulisannya dan ilmu apa yang membungkus anak panah itu!" gumamnya lagi.

Masakan telah hangat sempurna, bau harum tercium dan menggugah selera. Srikandi memakannya dengan lahap. Tanpa sadar ia menghabiskan dua piring nasi karena begitu laparnya.

"Masakan Gusti Ratu ini benar-benar sangat enak. Lain kali akan aku balas masakan sayur lawu untuknya!' gumam Srikandi.

Ketika ia membersihkan meja, tiba-tiba ....

Gubrak! Rukmi dan Doko terpeleset ketika menaiki undakan tebing. Hujan baru saja turun semalam, jadi jalan undakan sedikit licin.

"Wadoww!"

Tubuh Doko meluncur lebih dulu menabrak punggung Rukmi.

Gubrak!

"Aduhhh!" jerit keduanya bersamaan.

Prak!

Keranjang bambu yang mereka bawa terpental. Singkong, pisang dan beberapa buah labu jatuh menggelinding menuruni lereng.

Srikandi berlari dari dalam rumah, ia menatap bibi dan sepupunya yang jatuh dan saling berpegangan di setangkai pohon singkong agar tubuh mereka juga tak ikut menggelinding ke bawah.

Srikandi mau membantu, tapi melihat beberapa ikat daun singkong dan pisang yang masih tersisa di keranjang bambu. Ia urung membantu, Rukmi menatap sang keponakan yang hanya jadi penonton di atas.

"Srikandi ... Apa matamu buta!" teriaknya marah.

Wajah Rukmi dan Doko sudah dipenuhi lumpur tanah, baju mereka pun sama kotornya. Doko menangis melihat penampilannya yang hancur berantakan.

"Ibu ... Huuu ... Hiks ... Hiks ...!'

Akhirnya Srikandi tak tega melihat keduanya kesulitan berdiri. Ia pun membantunya.

"Kamu ini ... sudah tau kami tengah kesulitan!" omel Rukmi kesal.

"Kenapa bisa Bibi di sini? Lalu ada apa sampai harus mencuri hasil perkebunan ayahku?" tanya Srikandi.

"Ayahmu ... Ayahmu!" dumal Rukmi kesal.

"Dia itu kakakku!" serunya keras di wajah Srikandi.

Gadis itu hanya memalingkan wajahnya, ia mengibas hidungnya dengan tangan.

"Kau belum sikat gigi ya Bi?"

"Enak saja!" teriak Rukmi kesal sementara Doko masih menangisi baju indahnya.

"Ibu pulang ... Aku jadi kotor gara-gara Ibu paksa aku ambil hasil kebun paman!" Doko begitu kesal.

Pria kemayu itu pun langsung menuruni lereng gunung sambil menangis kesal. Rukmi tak bisa apa-apa selain mengejar putranya.

"Doko, tunggu Ibu!"

Srikandi menggeleng melihat mereka berdua. Sungguh kehadiran bibi dan sepupunya itu sedikit menghibur hatinya yang baru saja kehilangan.

"Ayah ... Apa benar Bi Rukmi itu adik Ayah?' gumamnya bertanya.

Karena baik Abda dan Rukmi sangat bertolak belakang sikap bahkan tabiatnya. Abda yang begitu sederhana dan memilih tinggal di lereng, harta peninggalan ibunya. Sementara Rukmi tinggal di pusat desa, dengan rumah besar dan tanah luas. Rukmi juga punya kebun dan dua petak sawah untuk kehidupannya.

Menikah dengan Sakta seorang pedagang kain di pasar. Rukmi memiliki seorang putra bernama Doko Prajara Sakta.

Kehidupan Rukmi jauh lebih sejahtera dibanding Srikandi sekarang.

Sampai rumah besar, Doko langsung masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Rukmi berjalan sedikit pincang akibat jatuh tergelincir di tebing tadi.

"Aduh ... Pinggangku!" keluhnya sambil mengelus pinggang.

Satra keluar dari kamarnya, ia seperti baru bangun. Rukmi menghela nafasnya ketika melihat wajah bantal suaminya.

"Mana sarapan!" Sakta duduk dengan malas di kursi makan.

"Sebentar, aku siapkan," ujar Rukmi lalu menuangkan teh dari teko di gelas kaleng, juga ubi rebus yang masih hangat.

Sebelum ke rumah Srikandi, tadi Rukmi sudah selesai mengkukus ubi.

Melihat jalan istrinya pincang dan pakaiannya kotor. Sakta mengernyit.

"Kau kenapa?" tanyanya.

"Terpeleset, Mas," jawab Rukmi lalu mengambil nasi dan lauk ikan asap dari lemari.

Ia menyerahkan makanan itu pada suaminya. Sakta menggeleng melihat penampilan istrinya.

"Sampai kapan kau mengganggu Srikandi, Jeng?" tanyanya.

"Apa sih ... Jangan sok tau, Mas!" seru Rukmi membantah.

"Memangnya apa lagi yang kau lakukan selain mengganggu anak piatu itu? Nanti Kakanda Abda pulang. Kau kena marah!' peringat Sakta lalu menyuap makanan ke mulutnya.

"Kanda Abda sudah tiada, Mas," ujar Rukmi memberitahu.

Brufff!!! Makanan dari mulut Sakta menyembur, beberapanya mengenai wajah Rukmi.

"Mas!" protesnya kesal.

"Maaf ... tapi apa katamu tadi?" tanya Sakta sekali lagi.

"Kanda Abda sudah tiada. Beliau gugur di medan perang," jawab Rukmi lagi.

"Kau yakin?" tanya Sakta menatap istrinya.

"Semua prajurit sudah pulang bahkan aku sempat lihat Kangmas Sengko yang ribut dengan istrinya gara-gara Kangmas menghantar makanan dari istana untuk Srikandi!" jawab Rukmi lagi.

"Lalu apa ada pengumuman dari kerajaan jika Kanda Abda sudah tiada itu sudah disiarkan?" tanyanya.

Rukmi menggeleng pelan, Sakta terdiam cukup lama, ia merenung sejenak. Tidak biasanya kerajaan tidak memberitahu keluarga prajurit jika prajurit itu gugur. Terlebih, Abda adalah punggawa terbaik kerajaan itu.

"Diajeng ...."

"Hmmm?" sahut Rukmi sesekali menggaruk lengannya yang gatal akibat lumpur tanah yang masih menempel.

"Jika memang Kanda Abda gugur. Kenapa kerajaan tidak memberitahu kita?" tanya Sakta. Rukmi terdiam.

"Yang aku tau, keluarga inti dari prajurit itu saja yang diberitakan Mas. Kita kan sudah bukan keluarga inti," jawab Rukmi.

"Itu kalau Srikandi masih punya ibu, Diajeng ...," sahut Sakta.

Rukmi mengerutkan keningnya.

"Maksud Mas apa?" tanyanya belum mengerti.

"Kanda Abda gugur. Apa Srikandi sudah dapat upeti?" tanya Sakta dan Rukmi menggeleng untuk menjawabnya.

"Sepertinya ada penyalahgunaan, Diajeng ...," ujar Sakta menerka.

"Hah ... Salah guna apa?" tanya Rukmi.

"Ada yang mengambil upeti itu tapi bilang ke Sri Baginda Raja jika Srikandi sudah menerimanya ...," jawab Sakta dan membuat mata Rukmi membesar.

Sakta menghabiskan sarapannya, setelah membersihkan diri ia pun pamit.

"Loh bukannya kain-kain masih banyak Mas?" tanya Rukmi.

"Tidak ... aku mau ke istana!' jawab Sakta.

"Untuk apa?" tanya Rukmi.

"Untuk merebut hak kita!" jawab Sakta jumawa.

Rukmi seketika menegang, ia menatap suaminya.

"Doakan Mas mu ini Diajeng. Aku akan mengambil apa yang sudah jadi hak kita!" ujar Sakta lalu melangkahkan kakinya.

Rukmi menatap haru suaminya yang layaknya seorang ksatria. Sementara di otak Sakta, ia akan bersenang-senang sedikit dengan upeti yang mestinya bukan hak mereka.

Bersambung.

Oh Ki Abda ... Kau memiliki adik yang serakah!

Next?

1
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!