Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Makam Kuno (bagian ketiga)
Su Ying tersentak, nafasnya tertahan di kerongkongan. Wajah pemuda itu begitu dekat dengan wajahnya sehingga Su Ying bisa merasakan hawa dingin yang terpancar dari wajahnya.
"Apakah kau membawanya?" tanya pemuda itu dengan tatapan tajam.
Suaranya yang berat, terdengar seperti bisikan maut, bergetar rendah tepat di depan bibir Su Ying. Aroma melati yang tadi terasa istimewa, kini berubah menjadi aroma yang mengintimidasi, seolah-olah bunga-bunga itu sedang melilit lehernya.
"Mem-membawa apa?" tanya Su Ying terbata-bata, mencoba memalingkan wajahnya dari tatapan yang terlalu intens itu. "aku tidak membawa apa-apa, aku tidak mengerti apa yang kau maksud."
Pemuda itu mundur beberapa langkah sambil tetap menatap Su Ying dengan menyelidik. Ekspresi dinginnya kini berubah menjadi semacam pemujaan yang gila sekaligus tidak sabar.
Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, dan seketika itu juga kilatan-kilatan kecil petir keluar dari telapak tangannya. Ekspresinya terlihat seolah ingin membakar tubuh Su Ying dalam sekali gerakan tangannya.
"Kau adalah keturunan Mahadewi Xuan Nu...pasti barang itu ada padamu!" seru pemuda itu. suaranya tidak lagi sekedar berat, melainkan bergetar dengan kekuatan yang sanggup meretakkan udara.
Su Ying jatuh terduduk, matanya terbelalak menatap pemandangan yang mustahil di hadapannya. Tangannya yang gemetar menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya ambruk di lantai batu yang dingin.
"Mahadewi Xuan Nu?, apa yang kau bicarakan? Aku hanyalah seorang gadis miskin yang hampir tidak punya apa-apa. Ke-kenapa kau ingin membunuhku?" tangis Su Ying, suaranya parau karena rasa takut yang memuncak.
Kilatan petir di tangan pemuda itu semakin liar, menerangi setiap sudut aula dengan cahaya kebiruan yang menyakitkan mata. Namun, tepat saat ia melangkah lebih dekat, sebuah suara tawa yang dingin dan meremehkan membelah kesunyian aula.
"Hahahahaha...ternyata seorang Dewa perang dari langit kesembilan hanya bisa melawan seorang wanita lemah."
Pemuda itu mengurungkan niatnya untuk membunuh gadis di hadapannya dan melirik tajam ke arah suara. Cahaya biru di tangannya perlahan mulai memudar.
Tampak di ambang pintu aula telah berdiri seorang pemuda di temani sosok pendek yang sebelumnya pernah bertemu Su Ying. pemuda itu sangat tenang, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada pemuda di hadapannya. Ia adalah Zhao Yun.
Su Ying menatap Zhao Yun dengan penuh pengharapan. Di tengah nyawanya yg terancam, ia menggantungkan harapannya kepada pemuda yang baru saja datang.
"Zhao Yun..." desis pemuda itu, Perhatiannya teralihkan dengan kedatangan Zhao Yun. "beraninya kau menampakkan wajahmu setelah ulahmu di masa lalu."
Zhao Yun melangkah maju, sangat santai seolah-olah ia sedang berjalan di taman pribadinya sendiri. Ia sama sekali tidak memandang Sang Dewa perang, melainkan mengarahkan tatapannya langsung kepada Su Ying yang masih terduduk di lantai.
"Berdirilah nona Su," ucap Zhao Yun dengan suaranya yang jauh lebih lembut namun berwibawa. "aula ini adalah milik leluhurmu, sekaligus penjara bagi Dewa-Dewa nakal seperti dia."
Pemuda yang berjuluk Dewa perang itu geram mendengar kalimat Zhao Yun. matanya memancarkan kilatan amarah yang menyala, seiring dengan tangannya yang terangkat ke udara, bersiap membuat perhitungan dengan Zhao Yun. Petir di sela-sela jarinya meronta, menyambar pilar-pilar batu hingga menimbulkan retakan kecil.
"Zhao Yun...apa kau pikir dengan kekuatanku saat ini aku tidak bisa membunuhmu?!" geram sang Dewa perang. "kau tidak lagi memegang kendali di khayangan, kau hanyalah budak iblis yang hina !"
"hehehehe...Jiu Xiao, karena temperamen kamu ini sehingga kau terpenjara di aula ini, sampai kapan pun kamu tidak bisa keluar dari segel yang di buat Mahadewi Xuan Nu." ucap Zhao Yun. Sikapnya masih menunjukkan ketenangan yang luar biasa, seolah lawan di hadapannya bukanlah ancaman sama sekali.
"Tapi...aku bisa memberitahumu sebuah rahasia yang selama ini kau inginkan."
Tanpa peringatan, Zhao Yun melesat terbang, jubah hitamnya berkibar seperti sayap burung pemangsa yang sunyi. Ia mendarat dengan anggun di atas kursi lebar yang terukir dari kayu Cendana kuno di ujung aula. Sebuah kursi yang tampak seperti singgasana yang terlupakan.
Ia duduk dengan satu kaki terangkat santai, menatap Jiu Xiao yang di Landa rasa penasaran yang hebat.
"Tidak usah bertele-tele, cepat katakan rahasia yang kau punya !" ujar Jiu Xiao geram.
"Hehehe... sabar, sabar, aku mengerti apa yang kau rasakan. terkurung selama ratusan tahun di sini akan membuat orang menjadi tidak sabaran dan gila, bahkan kaisar langit pun akan menjadi sepertimu jika berada di posisimu." sahut Zhao Yun dengan nada mengejek kental.
Zhao Yun melesat terbang lagi. gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan kelabu di udara, dan kali ini dia mendarat tepat di hadapan Jiu Xiao. Jarak mereka hanya terpaut beberapa inci, namun Zhao Yun tampak sama sekali tidak gentar dengan hawa panas petir yang memancar dari tubuh lawannya.
"Jika kamu menginginkan pisau surgawi milik Mahadewi Xuan Nu untuk memotong sutra pengikat roh, maka gadis itu adalah kuncinya."
...****************...