NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:958
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Begitu pintu terbuka, Kimi refleks menahan napas.

Di dalam, Ruby duduk dengan dagu disandarkan di tangan, wajahnya temaram disinari nyala lilin.

"Nih, udah gw bawain," kata Juli cepat. "Gw cabut dulu."

"Ha? Loh, Jul-" Kimi belum sempat protes, tapi pintu sudah tertutup lagi.

Sekarang tinggal mereka berdua.

Kimi memandangi ruangan yang setengah gelap dengan satu lilin dan beberapa camilan di atas meja.

Ruby diam saja, cuma menatapnya.

"Uby ngapain di sini? Ini mati lampu ya?" Kimi menengadah. "Bohlamnya harus diganti ih, By."

Ruby geleng-geleng. "Kenapa malah mikirin lampu? kupikir kamu suka yang romantis kayak gini."

"Emang ini romantis?" Kimi mengernyit. "Tapi kamu kok di sini sendirian? Lagi uji nyali ya?"

Kimi celingukan mencari kursi, tapi cuma ada satu. Ruby sempat menahan tawa, ingat rencananya sendiri.

"Kim, pilih. Mau duduk di meja, atau di pangkuanku?" tanya Ruby kalem.

Kimi sempat bengong, lalu buru-buru menjawab. "Aku di-" Kimi terdiam, Otaknya baru menyadari sesuatu yang berbeda. Cara bicara Ruby. Atau hanya perasaannya saja?

Ruby menepuk pahanya. "Sini."

"Enggak ah, aku berat. Nanti kaki kamu patah,"

Kimi langsung menolak. Dipangku? Dia belum siap mental. Nyawanya saja baru terkumpul tujuh puluh persen. Sisanya masih di kasur.

Akhirnya Kimi duduk di meja depan Ruby, tapi suasana malah Jadi canggung.

"Uby, kok posisinya aneh ya? Aku duduk di sana aja deh-"

Tapi Ruby menahan pinggangnya lembut. Ia mendongak, matanya menatap Kimi di bawah pantulan cahaya lilin.

Kimi membuang pandangan. "Uby, aku bisa gagal napas kalau kamu begini. Lagian ini kan tempat mesumnya Juli. Jangan-jangan kamu mau ngajakin aku mesum juga ya?"

Ruby hampir tertawa. "Kecepetan buat nyampe ke situ, Kim. Bukannya kamu bilang bosen ngobrol di kamar mulu?"

"Iya sih," gumam Kimi pelan, matanya melirik kiri kanan. "Terus mau ngapain di sini?"

Ruby tersenyum tipis, tapi tatapannya dalam, "Mau pacaran lah "

" Sama siapa?"

"Kamu,"

Kimi langsung diam.

Satu detik, Dua detik, Lima detik lewat.

Masih diam.

Ruby mengernyit. "kok diem? Gak mau ya?"

"Bentar, By. Aku kayaknya kurang fokus deh. Masa telingaku dengar 'mau pacaran'. Aneh kan kalau bukan halu, "

"Aku emang bilang gitu, Kim. kamu masih mimpi ya?"

Kimi mendelik, setengah panik, setengah berharap. "Seriusan? Kamu gak lagi nge-prank aku kan? Aku bisa baper loh, By."

"Ya ampun, bawel amat." Ruby menghela napas.

Momen romantisnya rusak gara-gara Kimi. "Jadi kamu mau gak?"

"Mau," jawab Kimi secepat kilat. "Terus kita ciuman sekarang?"

Ruby melongo. "Kim, pelan-pelan. Pikirin jantungku juga."

Kimi memutar mata, tapi senyumnya susah disembunyikan. Padahal dalam hati dia sudah degdegan parah.

Waktu itu sih bukan ciuman, batin Kimi. Uby malu-

malu banget-

Kimi langsung menegang saat Ruby berdiri dan mendekat, gerakannya tenang tapi mantap. Jarak di antara mereka makin menipis, sampai Kimi menelan ludah tanpa sadar.

Ketika bibir Ruby menyentuh bibirnya, Kimi malah membelalak. Ruby akhirnya berhenti.

"Kenapa kaku begitu? katanya mau ciuman?"

"I-iya. Tapi pas kamu beneran ngasih, aku gak tau harus ngapain," Kimi gelagapan.

Ruby tertawa kecil dan mencubit pipinya lembut. "Yaudah, ntar aja. Gak harus buru-buru kan?"

Baru Ruby mau mundur, Kimi malah menariknya balik dan mengecup bibirnya cepat. Ruby sempat terdiam sepersekian detik, lalu akhirnya membalas. Kali ini ia serius, bahkan tangannya tanpa sadar meremas pinggang Kimi pelan.

Ciuman itu tidak terlalu dalam untuk membuat Ruby lupa daratan, tapi cukup untuk menunjukkan kalau mereka sudah punya status.

Saat Ruby melepaskan, ia mengusap bibir Kimi dengan ibu jarinya.

Kimi tersenyum kecil, matanya berkilat. "Sekarang

aku pacarnya Uby."

Ruby mengangguk. "Jadi kamu jangan mimpi jadian sama temennya abang kamu itu."

Kimi mengerjap. "Dia aja belum nembak aku. Abang cuma kasih bocoran,"

"Tetep aja," Ruby kembali duduk dan menyambar camilan di meja. "Kalau nanti dia kirim bunga lagi, Jangan diterima, "

Kimi terkekeh, menerima keripik kentang yang dibukakan Ruby. "Ternyata Uby cemburuan ya."

"Banget. Kamu ke kamar Juli aja aku kesel."

"Áku cuma ngobrol sama dia."

"Tetep aja," Ruby menatap meja beberapa detik.

"Kim, pelatihan tinggal tiga minggu lagi. kamu gak masalah kan kalau kita kayak biasa aja dulu? Aku gak mau ada drama sebelum kita pulang."

Kimi mengangguk sambil mengunyah, lalu tanpa sadar menyuapkan keripik ke mulut Ruby.

"Terus, kalau misalnya di luar ternyata satu kantor sama mereka, pasti ujung-ujungnya tau juga kan?"

"Di luar kan kamu bebas, gak terkurung kayak di sini. Mau di jauhin juga ya biarin. Teman kamu banyak."

Kimi diam, walau hatinya kurang setuju. Tapi ya sudahlah. Sekarang yang penting Ruby sudah jadi miliknya. Masalahnya kepo Kimi malak kumat lagi. Ia malah penasaran reaksi peserta lain kalau tahu mereka jadian.

"Oh iya, Juli ke mana, By?"

Ruby mengunyah santai. "Paling lagi mesum di kelas."

Kimi melotot, tapi Ruby sudah menarik dress tipis Kimi yang tersingkap.

"Kamu kenapa gak ganti baju dulu sebelum keluar? Ini tipis banget," omel Ruby dengan nada datar tapi mata jelas khawatir.

Kimi manyun, "Juli bilang ini urgent. kupikir ada kebakaran."

"Emang kebakaran," jawab Ruby pelan, lalu menunjuk dadanya. "Di sini,"

Kimi tertawa geli. Tanpa pikir panjang, ia langsung melompat ke pangkuan Ruby dan memeluknya erat.

"Jangan terlalu dekat sama Anela. Aku gak suka." Bisikan Kimi itu membuat Ruby terdiam.

Ia baru sadar, mungkin selama ini memang terlalu dekat dengan Anela. Padahal di matanya, Anela hanya teman dekat. Seseorang yang tetap ada ketika yang lain memilih menjauh. Tapi mendengar nada posesif darí Kimi barusan, jujur saja, ada rasa hangat menjalar aneh di dada Ruby.

Sebenarnya kejadian malam ini bukan terjadi tiba- tiba.

Flashback ~

Sore tadi...

Ruby masih kepikiran ucapan Kimi di kebun bunga, yang bilang dia tetap akan pacaran dengan cewek lain meskipun bukan Ruby.

"Yah, kalau ujung-ujungnya gitu, mending sama gw aja. Ngapain gw tatan-tahan," gumam Ruby ke diri sendiri.

Ada rasa bersalah di dadanya, seolah ia baru saja mendorong seseorang keluar dari jalan lurus. Tapi di sisi lain, ia juga tak rela.

Bagaimana kalau Kimi malah pacaran dengan cewek buaya? Atau cewek gila yang menyeretnya ke hubungan toxic?

Ruby menggeleng pelan, Tidak bisa. Tidak boleh. Ia akhirnya memutuskan untuk memperjelas semuanya malam ini. Dan karena tak mau salah langkah, Ruby mengajak Juli bicara di belakang kampus, tempat yang cukup sepi buat konspirasi cinta.

"Lo mau ketemu Kimi di sini?" tanya Juli sambil melirik ruang rahasia miliknya.

"Iya," jawab Ruby tenang. "Pinjem bentar."

Juli berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke. Lo tenang aja. Biar gw yang urus."

Tapi sebelum pergi, Juli sempat berbalik lagi, kali ini nadanya lebih serius.

"Gw sebenernya gak pengen Kimi ngambil jalan kayak gini, Ru. Tapi kalau lo bisa bikin dia bahagia, gw gak akan larang. Gw udah anggep dia sahabat. Jadi tolong jangan main-main,"

Ruby menatap Juli lurus-lurus. Tak ada janji, tapi dari matanya saja sudah cukup jelas: ia serius.

Ruby memang bukan orang yang gampang buka mulut, tapi kalau sudah mutuskan sesuatu, itu artinya final.

Malam harinya..

Ruby datang lebih dulu ke ruang rahasia. Ia membawa sebuah kotak kecil berisi kalung dengan liontin kodok yang dipesan kilat setelah bicara dengan Juli. Untung kurir ekspres datang sebelum jam delapan malam.

Tapi begitu masuk ruangan, Ruby sempat memutar mata.

Serius?

Ada lilin di atas meja, dua gelas minuman hangat dengan uap tipis, dan camilan manis yang tampak terlalu manis untuk suasana rahasia begini.

Ia duduk di kursi, mencoba menenangkan diri.

Benarkah langkahnya ini? Apa salah kalau ia berhenti pura-pura kuat dan mulai jujur soal perasaannya?

Ruby mengembuskan napas pelan. Ia tak tahu jawabannya. Tapi kalau tidak dicoba, ia juga tak akan pernah tahu.

Sekitar sepuluh menit kemudian, seseorang yang ia tunggu muncul di pintu. Rambutnya acak-acakan, mata setengah terpejam, jaket kodok kebanggaannya masih menempel, dan dress tipis yang-untungnya-tidak menerawang. Kimi berdiri di ambang pintu dengan wajah polos dan ekspresi aku-dipaksa-bangun-tengah malam, tapi bagi Ruby, inilah versi paling cantik dari Kimi yang pernah ia lihat.

Flashback off~

**

Paginya Kimi bangun dengan perasaan yang... aneh.

Kesiangan, jelas. Ia baru tidur jam dua dini hari, itu pun setelah dibujuk dan 'ditungguin' Ruby sampai benar- benar tertidur. Satu hal langsung terlintas di kepalanya: kenapa gak ada yang bangunin?

Pukul setengah sembilan, Kimi akhirnya turun, niatnya mau langsung ke kelas. Tapi baru setengah tangga, matanya menangkap pemandangan tak biasa, Ruby duduk sendirian di ruang tengah.

Kimi refleks celingukan, memastikan tak ada peserta lain di sekitar. Aman, Seketika, dia largsung meluncur seperti roket ke arah pacarnya.

"Uby" panggilnya manja, langsung nemplok memeluk Ruby. "Kenapa gak bangunin aku?"

Ruby mengusap kepala Kimi lembut. "Takut kamu kurang tidur. Sarapan dulu ya."

"Loh, kelas keburu mulai loh,"

"Tenang. Tadi Juli bilang dia yang urus, soalnya kelas pertama sama Bu Salma... kata Anela."

Begitu nama itu keluar, ekspresi Kimi langsung berubah drastis.

Ruby terkekeh pelan, "Udah, jangan cemberut gitu, masih pagi. Dia cuma temenku, sayang."

Begitu dengar kata sayang, semua mood jelek Kimi langsung terbang entah ke mana. Ia menurut saja ikut Ruby ke ruang makan. Jadilah mereka baru masuk kelas sekitar jam setengah sepuluh.

Awalnya hari berjalan normal. Kelas santai, makan siang seru, semua biasa saja. Sampai akhirnya kelas siang dibatalkan karena Pak Mahmud sakit. Mereka memilih kembali ke asrama, tapi sebelum keluar, Anela tiba-tiba datang dan menaruh secarik kertas di meja Kimi tanpa sepatah kata.

Kimi sempat bengong, tapi buru-baru menyembunyikan kertas itu di bawah tas.

Begitu sampai di kamar, ia langsung membuka danbbaca cepat. Isinya singkat tapi bikin penasaran:

Datang ke perpustakaan jam setengah dua. Aku mau ngobrol.

Kimi mengernyit. "Setengah dua? Mau ngapain ya? gumamnya. Tapi begitu melihat jam keroppinya, ternyata tinggal sepuluh menit lagi.

Sejujurnya, selama di sini Kimi belum pernah sekalipun masuk perpustakaan. Bukan karena tidak suka baca, cuma... ya, mending tidur. Tapi entah kenapa kali ini dia jalan juga ke sana sendirian.

Dalam hati, Kimi sudah bisa menebak apa yang ingin Anela bicarakan. Paling tak jauh soal Ruby. Dan lucunya, baru sekarang dia sadar: kenapa aku gak pernah kepikiran ngajak Ruby ke sini ya? Tempatnya kan sepi banget, aman buat pacaran, Dasar Kimi bego.

Ia mendorong pintu pelan. Ruangan luas itu dipenuhi rak buku besar, aroma kertas tua langsung menyerang hidung.

Di salah satu meja panjang, Anela sudah duduk tenang. Rambutnya terurai rapi, kacamata di hidung, buku tebal terbuka di depannya. Pemandangan yang terlalu 'tenang' untuk seseorang yang katanya mau ngomong penting.

Kimi mendekat dan duduk di depcannya, wajahnya datar tapi matanya awas.

"Makasih udah datang," sapa Anela, dengan senyum hangat khasnya.

"Gak masalah," balas Kimi santai. "Kebetulan aku lagi rajin jalan."

Anela menutup bukunya. "Aku gak mau basa-basi. Aku cuma mau bilang... jauhi Ruby."

Kimi belum sempat mencerna kalimat itu, tapi Anela melanjutkan, "Aku suka Ruby. Dari pertama kali ketemu."

Kimi berkedip, lalu tersenyum tipis. "kupikir kamu mau nembak aku, "

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!