Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Tamu dari Kedalaman
Lobi Talandra Group yang biasanya bising oleh spekulasi saham kini sesunyi katedral. Di luar, hujan deras mulai mengguyur Jakarta, menyamarkan iring-iringan mobil hitam yang berhenti tepat di depan pintu putar.
Zerya berdiri di balik kaca jendela ruang CEO lantai atas, memperhatikan tiga pria keluar dari mobil tersebut. Mereka tidak memakai seragam militer atau membawa senjata api yang terlihat. Mereka memakai setelan charcoal grey yang dipotong sangat sempurna, payung hitam yang senada, dan tas kerja kulit yang tampak membosankan.
"Nona, mereka sudah di lobi," suara resepsionis bergetar lewat interkom. "Mereka... mereka tidak punya janji, tapi mereka membawa dokumen pemblokiran aset dari Pengadilan Internasional Den Haag."
Zerya menarik napas dalam, membetulkan letak kerah blazernya. "Bawa mereka ke ruang rapat mawar. Jangan lewatkan satu pun protokol keamanan."
Ruang Rapat Mawar.
Zerya masuk ke ruangan itu dengan dagu terangkat. Di sana, tiga pria tersebut duduk dengan postur yang sangat santai, hampir seperti sedang berlibur. Di tengah mereka duduk seorang pria berusia sekitar 40-an dengan wajah yang sangat simetris, rambut pirang pucat, dan mata abu-abu yang seolah tidak memiliki pupil.
Dia sedang menyesap teh melati yang disuguhkan, seolah-olah dia sedang berada di ruang tamunya sendiri.
"Nona Omerly," pria itu berdiri, membungkuk kecil dengan sangat sopan. "Nama saya Silas Vane. Bukan kerabat Julian Vane yang malang itu, saya pastikan. Nama 'Vane' cukup umum di kalangan kami, seperti debu di atas emas."
Zerya duduk di hadapannya, dipisahkan oleh meja kaca yang dingin. "Silas. Siapa yang mengirimmu?"
Silas tersenyum. Senyumnya tidak sampai ke mata. "Saya tidak dikirim oleh siapa-siapa. Saya adalah perpanjangan tangan dari mereka yang menganggap angka di layar komputer sebagai doa pagi. Kami adalah Vanguard yang sebenarnya. Apa yang dilakukan Hendrick Vance dan ayahmu... itu hanya 'praktik magang' yang gagal."
Silas meletakkan sebuah tablet di atas meja, menggesernya perlahan ke arah Zerya.
"Penyitaan aset yang Anda lakukan pagi tadi bersama Tuan Javian... itu sangat mengesankan secara domestik," Silas berbicara dengan nada memuji, seperti seorang guru pada muridnya. "Tapi secara global, Anda baru saja membekukan dana milik tujuh keluarga yang menguasai jalur logistik energi di Asia Tenggara. Dana itu bukan milik Vanguard. Vanguard hanyalah kantong belanja. Anda baru saja mencuri dompet pemilik toko."
Zerya menatap layar tablet itu. Di sana terpampang peta digital pelabuhan, kilang minyak, dan jalur pipa gas yang semuanya memiliki logo Talandra—dan di atasnya ada tanda silang merah.
"Mulai jam lima sore ini," lanjut Silas, melirik jam tangannya yang tipis. "Seluruh pengiriman bahan baku untuk anak perusahaan Talandra di Singapura, Vietnam, dan Filipina akan dihentikan atas perintah 'keamanan maritim'. Bukan karena kami jahat, Nona. Tapi karena asuransi mereka ditarik oleh konsorsium kami."
Darah Zerya mendesir dingin. Ini bukan hostile takeover. Ini adalah cekikan ekonomi total.
"Apa maumu?" desis Zerya.
"Sederhana," Silas menyandarkan tubuhnya, melipat tangan di depan dada. "Kembalikan dana itu ke rekening asalnya di Swiss dalam dua puluh empat jam. Tambahkan bunga sepuluh persen sebagai biaya 'ketidaknyamanan'. Dan sebagai jaminan bahwa Talandra tidak akan menjadi nakal lagi... Anda akan menyerahkan lima puluh satu persen saham pengendali kepada kami."
"Itu namanya perampokan," balas Zerya tajam.
"Bukan," Silas mengoreksi dengan lembut. "Itu namanya restrukturisasi keamanan. Jika Anda menolak, Talandra akan bangkrut dalam tujuh hari karena gagal memenuhi kontrak pengiriman global. Dan Javian? Dia akan membusuk di sel perlindungan saksi karena kami akan memastikan kesaksiannya dianggap sebagai konspirasi untuk menjatuhkan stabilitas pasar internasional."
Silas berdiri, merapikan jasnya yang bahkan tidak kusut sedikit pun. "Anda punya waktu hingga matahari terbit besok untuk memutuskan apakah Anda ingin menjadi pahlawan yang bangkrut, atau mitra kami yang sangat kaya."
Saat Silas berjalan menuju pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Zerya.
"Oh, satu hal lagi," ucapnya hampir seperti bisikan. "Ayahmu, Aldric... dia menitipkan salam. Dia bilang, dia merindukan masakan rumah. Mungkin setelah ini, Anda bisa makan malam bersama di tempat yang jauh lebih... privat."
Pintu tertutup. Silas pergi meninggalkan keheningan yang jauh lebih menyesakkan daripada ledakan.
Zerya duduk sendirian di ruangan besar itu. Ia merasa seperti sedang berada di dasar sumur yang gelap. Javian tidak bisa dihubungi, Talandra sedang dicekik, dan musuhnya sekarang adalah hantu yang menguasai lautan.
Ia meraih ponselnya, mencari satu nomor yang ia harap tidak perlu ia hubungi lagi. Nomor dari file rahasia Javian yang berlabel: "THE LAST RESORT".