Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Tekanan
Pagi di lokasi proyek renovasi gedung bekas Pratama Group—yang kini dinamai The Phoenix Center oleh pemilik barunya—terasa lebih mencekam dari biasanya. Tania berdiri di lantai lima belas, meninjau pemasangan partisi kaca temper yang seharusnya sudah selesai kemarin, tapi, area itu tampak sepi. Hanya ada dua pekerja yang tampak malas-malasan memindahkan material.
"Di mana tim vendor kaca dari PT. Megah Abadi?" tanya Tania tajam kepada pengawas lapangannya.
Si pengawas menunduk, tampak ragu. "Maaf, Bu Tania. Pihak vendor tiba-tiba membatalkan kontrak sepihak tadi pagi. Mereka bilang ... ada instruksi dari pihak atas bahwa material mereka tidak boleh digunakan di proyek yang dipimpin oleh Anda."
Tania mengepalkan tangan di samping paha. Ia tahu betul siapa pihak atas yang dimaksud. Siapa lagi kalau bukan keluarga Clarissa yang memiliki saham di hampir semua perusahaan manufaktur material bangunan terbesar di negeri ini. Clarissa tidak menyerang lewat media, ia menyerang langsung ke nadi profesional Tania: Pasokan Material.
"Jadi dia ingin bermain kotor di lapangan?" bisik Tania dingin.
"Baiklah."
Tania segera menelepon Adrian, tapi ponselnya tidak aktif. Adrian sedang berada di rapat dewan komisaris keluarganya, kemungkinan besar sedang disidang oleh orang tuanya terkait skandal foto Paris yang disebarkan Aris kemarin. Tania berdiri sendirian di tengah kerangka gedung yang belum jadi, merasa seperti dikepung oleh tembok-tembok tak kasat mata.
Sementara itu ...
Di sebuah kedai kopi remang-remang di pinggiran Jakarta, Aris sedang memberikan sebuah benda kecil kepada Rey. Benda itu adalah sebuah keycard duplikat dan kode akses digital.
"Dari mana kamu mendapatkan ini, Aris?" tanya Rey dengan wajah pucat.
"Clarissa," jawab Aris singkat sambil tersenyum licik.
"Dia punya akses ke gedung pusat kebugaran di samping studio Tania. Dari sana, ada pintu penghubung staf yang bisa ditembus. Malam ini, saat Tania sedang keluar untuk pertemuan vendor, kamu harus masuk ke ruang kerja pribadinya. Cari dokumen hibah asli itu. Tanpa kertas asli itu di tangan Tania, gugatan kita di pengadilan akan menang telak."
Rey menelan ludah. "Mencuri? Kamu memintaku menjadi maling di kantor mantan istriku sendiri?"
"Jangan sok suci, Rey!" bentak Aris, suaranya merendah, tapi, penuh ancaman.
"Ibumu butuh operasi jantung lusa. Biayanya dua ratus juta. Jika kamu tidak mendapatkan dokumen itu, rumah sakit akan menghentikan perawatan ibumu malam ini juga. Pilih: harga dirimu yang sudah sampah itu, atau nyawa ibumu?"
Rey menutup matanya rapat-rapat. Pikirannya kacau. Ia teringat wajah Tania yang menatapnya dengan kekosongan di lobi gedung kemarin. Ia merasa sangat kecil, tapi, keputusasaan adalah bahan bakar yang paling berbahaya.
"Baik. Aku akan melakukannya."
"Bagus." Aris menepuk bahu Rey.
"Setelah kamu dapat dokumennya, bakar di depan mataku. Dan besok pagi, Bianca akan memberikan testimoni tambahan di televisi bahwa dokumen itu memang hanya rekayasa digital Tania."
Sore harinya, Clarissa mengundang Tania untuk bertemu di sebuah restoran mewah yang sangat privat. Tania datang bukan karena takut, tapi karena ia ingin melihat seberapa jauh wanita itu akan melangkah.
Clarissa duduk dengan anggun, memegang segelas wine mahal. "Tania, kudengar proyekmu terhenti karena kekurangan material? Kasihan sekali. Padahal tenggat waktu peresmiannya tinggal dua bulan lagi, kan?"
Tania duduk di hadapannya tanpa memesan apa pun. "Anda sangat berdedikasi untuk menghancurkan saya, Nona Clarissa. Sampai harus mengancam vendor-vendor kecil. Apakah posisi Anda di samping Adrian sebegitu rapuhnya sehingga Anda harus melakukan cara serendah ini?"
Wajah Clarissa sedikit menegang, tapi, ia segera tertawa meremehkan. "Ini bukan soal kerapuhan, ini soal kasta. Kamu adalah noda dalam karier Adrian. Orang tuanya sudah setuju untuk mempercepat pertunangan kami minggu depan, dengan syarat ... kamu harus menghilang dari Jakarta. Secara profesional, dan secara fisik."
"Menghilang?" Tania menaikkan alisnya.
"Ya. Batalkan proyek The Phoenix Center, tutup studiomu, dan pergilah kembali ke Paris atau mana pun. Jika kamu setuju, aku akan memerintahkan semua vendor untuk memasok material terbaik mereka untukmu besok pagi. Kamu bisa keluar dengan terhormat sebagai desainer sukses yang ingin menetap di luar negeri. Jika tidak ...." Clarissa mendekatkan wajahnya, "Skandal moral yang disiapkan Aris dan Bianca akan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya. Kamu akan dikenal sebagai wanita penipu, bukan desainer."
Tania menatap Clarissa dengan tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat Clarissa merasa tidak nyaman.
"Sebagai desainer interior, saya belajar satu hal penting, Nona Clarissa," ucap Tania dengan nada bicara yang rendah namun berwibawa.
"Sebuah bangunan yang terlihat mewah dari luar, jika fondasinya dibangun di atas pasir dan kotoran, dia akan runtuh pada guncangan pertama. Anda pikir Anda adalah fondasi bagi Adrian? Tidak. Anda hanyalah wallpaper mahal yang bisa saya kelupas kapan saja."
Tania berdiri, ia meletakkan sebuah kartu nama di meja. "Silakan lanjutkan sabotase Anda. Saya tidak butuh vendor Anda. Saya memiliki koneksi di Paris dan Italia yang bisa mengirimkan material terbaik dalam waktu empat puluh delapan jam. Dan soal Adrian ... percayalah, pria sehebat dia tidak akan pernah bisa mencintai wanita yang hatinya dipenuhi racun."
Tania melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Clarissa yang membanting gelasnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
Malam harinya, Jakarta diguyur hujan deras. Rey berdiri di depan pintu darurat gedung studio Tania. Dengan tangan gemetar, ia menempelkan keycard duplikat itu.
Pip.
Lampu indikator berubah hijau. Pintu terbuka.
Rey masuk ke dalam kegelapan studio. Bau harum aroma terapi cendana langsung menyeruak—aroma favorit Tania yang dulu selalu ada di rumah mereka. Hati Rey bergetar. Ia melangkah perlahan melewati deretan meja maket dan sampel kain. Setiap sudut studio ini begitu indah, begitu mencerminkan kecerdasan Tania.
Ia sampai di depan pintu ruang kerja pribadi Tania yang bertuliskan: TANIA PUTRI - PRINCIPAL DESIGNER.
Dengan napas tersengal, Rey mencoba membuka pintu digitalnya. Ia memasukkan tanggal lahir mereka dulu—gagal. Ia memasukkan tanggal pernikahan mereka—gagal. Air mata Rey menetes. Ia mencoba satu kombinasi terakhir: Tanggal keberangkatan Tania ke Paris, saat hidupnya hancur.
Klik.
Pintu terbuka. Rey masuk dan langsung menggeledah laci meja kerja Tania. Ia menemukan sebuah map kulit hitam yang tampak sangat penting. Di dalamnya, ada surat hibah asli dari ayahnya.
"Maafkan aku, Tania ... maafkan aku," isak Rey sambil menggenggam dokumen itu. Ia sudah akan berbalik pergi ketika lampu ruangan tiba-tiba menyala terang benderang.
"Jadi, serendah ini kamu sekarang, Rey?"
Rey membeku. Menoleh perlahan dan melihat Tania berdiri di ambang pintu, bersedekap dengan wajah yang sangat dingin. Di sampingnya, ada dua petugas keamanan gedung dan ... Adrian.
"Tania ... aku." Rey menjatuhkan map itu ke lantai.
"Aku sudah tahu dari awal," ucap Tania, langkahnya mendekat ke arah Rey. "Aku tahu Aris akan memintamu melakukan ini. Dan aku sengaja membiarkanmu masuk agar aku punya bukti nyata untuk menjebloskanmu ke penjara menyusul Bianca."
"Ibuku sakit, Tania! Aku butuh uang itu untuk operasinya!" teriak Rey dalam keputusasaan yang gila.
"Ibumu sakit karena ulahmu sendiri, Rey! Bukan karena aku!" Tania menunjuk wajah Rey. "Kamu pikir dengan mencuri dokumen ini, kamu bisa menang? Dokumen ini sudah aku fotokopi dan dilegalisir oleh lima notaris berbeda pagi ini. Yang kamu pegang itu hanya umpan."
Adrian melangkah maju, menghalangi Rey agar tidak mendekati Tania. "Polisi sudah di jalan, Reynald. Dan untuk Aris ... tim hukumku baru saja melaporkan penggelapan dana kantor yang dia lakukan lima tahun lalu. Dia tidak akan bisa menolongmu lagi."
Rey jatuh bersimpuh di lantai, meratapi nasibnya yang kini benar-benar tamat. Akan tetapi, kejutan malam itu belum berakhir. Ponsel Rey bergetar di lantai. Sebuah pesan masuk dari Aris:
"Clarissa sudah mengkhianati kita. Dia menyerahkan semua bukti percakapan kita kepada Adrian agar namanya tetap bersih. Lari, Rey! Lari!"
Tania mengambil ponsel itu dan membacanya. Ia menatap Rey dengan rasa jijik yang murni.
"Lihat? Bahkan sekutumu pun membuangmu seperti sampah saat kau tidak berguna lagi. Clarissa mengorbankanmu agar dia tidak terseret skandal."
Tiba-tiba, dari luar gedung, terdengar suara sirine polisi yang semakin mendekat. Rey menatap Tania dengan mata yang kosong, seolah jiwanya sudah pergi meninggalkan raganya.
"Ternyata aku benar-benar paling miskin di sini, Tan," gumam Rey, mengulangi kata-kata yang pernah ia ucapkan pada foto Tania dulu. "Bukan miskin harta ... tapi, miskin segalanya."
Malam itu, Reynald Pratama ditangkap atas tuduhan pencurian dengan pemberatan dan percobaan pemerasan. Dan di balik bayang-bayang, Clarissa sedang mencoba menghapus semua jejaknya, tidak menyadari bahwa Tania sudah merekam percakapan mereka di restoran sore tadi melalui mikrofon tersembunyi di bros bajunya.
km hina hrga diri istrimu demi gundik murahanmu..🙄🙄
selamt mnikmati kbodohnmu rey😄😄