"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32 - Gema di Seberang Telepon
Drrt... drrt... drrt...
Tepat setelah Maura meletakkan cangkirnya di atas meja kecil, ponsel di dalam tasnya tiba-tiba bergetar hebat. Segera Maura merogohnya dan tertera nama ‘Pak Dekan Hamdani’ tertera di layar, berkedip-kedip.
Maura melirik Setya seolah meminta izin secara tidak sadar. Setya hanya menunjuk ponsel itu dengan dagunya.
“Angkat. Dan dengarkan apa yang dikatakan dunia profesional yang kamu agung-agungkan itu setelah saya mengambil tindakan,” ucap Setya.
Dengan helaan napas berat, Maura menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
“Halo, selamat siang, Pak Hamdani,” sapa Maura mencoba tetap tenang.
“Bu Maura! Akhirnya tersambung juga!”Suara Dekan Fakultasnya itu terdengar sangat kontras dari biasanya. Tidak ada lagi nada wibawa yang tenang, yang ada hanyalah kepanikan dan nada memohon yang sangat kaku. “Bu Maura... Anda di mana sekarang? Apakah Anda sedang bersama Pak Setya?”
“Benar, Pak. Saya sedang menyelesaikan urusan... beberapa hal kecil terkait acara tadi dengan Pak Setya,” jawab Maura hati-hati, sengaja menyembunyikan lokasi pastinya.
“Begini, Bu Maura...”Pak Hamdani terdengar berdeham beberapa kali, mencoba mengatur napasnya yang buru-buru. “Saya atas nama pribadi dan institusi ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terjadi di ruang dosen tadi siang. Masalah isu tidak bertanggung jawab di grup chat itu... kami sudah menindaknya.”
Maura terdiam, menunggu kelanjutan kalimat sang Dekan.
“Bu Rora dan Bu Sarah saat ini sedang berada di Biro Hukum Rektorat. Mereka... ah, mereka sangat menyesali perbuatannya dan menangis di sini. Tim hukum Pak Setya membawa bukti digital yang sangat kuat dan mengancam akan menarik seluruh dana hibah laboratorium sekaligus menuntut mereka secara pidana dan perdata,”lanjut Pak Hamdani dengan suara yang semakin merendah, nyaris berbisik memohon. “Bu Maura, tolong... bisakah Anda bicara dengan Pak Setya? Mohon sampaikan agar beliau bersedia menerima surat permohonan maaf tertulis bermeterai dari mereka dan tidak melanjutkan kasus ini ke jalur hukum? Pihak kampus berjanji akan memberikan sanksi internal yang sangat tegas berupa skorsing kepada mereka berdua. Tolong bantu kami, Bu Maura. Karir mereka dan nama baik universitas taruhannya.”
Maura terpaku, lalu menatap Setya yang kini justru kembali sibuk dengan tabletnya, seolah pembicaraan hidup dan mati dua dosen senior di seberang telepon tidak lebih menarik daripada grafik saham perusahaannya.
Hanya dalam hitungan jam, pria berbadan besar di hadapannya ini telah membalikkan dunia Maura, membuat orang-orang yang tadinya menginjak harga dirinya kini berlutut memohon belas kasihan melalui perantara dirinya.
Kekuasaan Setya benar-benar nyata, dan kini... kekuasaan itu sedang melindunginya.
“Saya...” Maura menelan ludah, dadanya bergemuruh oleh rasa yang campur aduk. “Saya akan bicarakan hal ini dengan Pak Setya terlebih dahulu, Pak Dekan. Tapi saya tidak bisa menjanjikan apa pun.”
“Terima kasih, Bu Maura. Terima kasih banyak. Kami menunggu kabar baiknya. Selamat sore.”
Sambungan telepon terputus. Maura menurunkan ponselnya perlahan, menatap benda mati itu dengan pandangan kosong sebelum akhirnya beralih pada Setya yang kini telah meletakkan tabletnya kembali.
“Sudah selesai?” tanya Setya dengan sarkasme halusnya.
“Mereka memohon maaf, Pak. Mereka ketakutan. Bapak benar-benar menghancurkan mereka dalam sekejap,” lirih Maura.
“Saya tidak menghancurkan mereka, Maura. Mereka menghancurkan diri mereka sendiri saat memilih orang yang salah untuk dijadikan bahan gunjingan,” sahut Setya datar.
Pria itu bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Maura dan berhenti tepat satu langkah di depan Maura yang membuat wanita itu mendongak untuk menatap wajah tegasnya.
“Sekarang pilihan ada di tanganmu,” bisik Setya, suaranya terdengar begitu berbahaya. “Kamu mau saya melepaskan mereka karena rasa ibamu yang tidak berguna itu, atau biarkan saya menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, agar tidak ada lagi yang berani meragukan posisi apa yang kamu miliki di sisi saya?”
Pertanyaan Setya yang sarat akan arogansi itu menjadi pemantik yang menghancurkan sisa-sisa kesabaran Maura. Dengan begitu, Maura melangkah maju, menantang balik tatapan intens Setya.
“Memang posisi apa yang saya miliki di sisi Bapak? “Aset? Pion catur? Atau sekadar alat pembuktian ego kekuasaan Bapak?” tanya Maura dengan nada suara yang bergetar menahan amarah, namun terdengar begitu dingin dan tajam.
Setya tidak menjawab, rahangnya mengetat mendengar rentetan pertanyaan itu.
“Urusan kita sudah selesai, Pak Setya,” lanjut Maura, setiap katanya ditekan dengan tirakat yang bulat. “Secara profesional, tugas saya mendampingi Bapak hari ini sudah selesai. Secara personal, kita bahkan tidak pernah memiliki urusan apa-apa. Jadi berhenti bersikap seolah-olah Bapak berhak mengatur atau memiliki hidup saya!”
Maura membalikkan badan, meraih tasnya di atas meja kopi dengan sentakan kasar. Wanita itu tidak peduli lagi dengan kemewahan ruangan ini, tidak peduli dengan ancaman dana hibah, bahkan tidak peduli jika besok ia harus kehilangan pekerjaannya di kampus.
Berada di dekat Setya membuatnya merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap pergerakannya diatur oleh remot kontrol di tangan pria itu.
“Saya akan pulang sendiri,” ucap Maura tegas tanpa menoleh lagi, melangkah lebar menuju pintu ganda ruangan kerja Setya.
“Maura.”
Panggilan itu berat tapi sayangnya Maura memilih tidak peduli dan berjalan ke luar ruangan begitu saja. sepanjang perjalanan Maura merutuki dirinya yang mau-mau saja dibawa pria gila itu ke kantornya.
“Sialan, Setya Pradana,” gumam Maura kesal di dalam taxi.
Tiga hari telah berlalu, Bu Rora dan Bu Sarah telah menandatangani surat permohonan maaf resmi bermeterai, wajah mereka yang biasanya angkuh kini menekuk dalam setiap kali berpapasan dengan Maura di koridor kampus. Bahkan, kabarnya pihak Rektorat memberikan sanksi skorsing akademis kepada keduanya selama satu semester penuh.
Suasana ruang dosen kini berubah drastis. Tidak ada lagi kasak-kusuk sinis. Setiap kali Maura melangkah masuk, rekan-rekan kerjanya mendadak menjadi sangat sopan, ramah, bahkan cenderung berhati-hati dalam memilih kata.
“Bu Maura?” Pak Dimas berdiri di depan mejanya.
“Eh, iya, Pak Dimas. Ada apa ya?” ujar Maura, mencoba tersenyum sealami mungkin.
Pak Dimas menatap Maura dengan pandangan cemas yang tidak bisa disembunyikan. “Bu Maura, Anda baik-baik saja? Sejak tiga hari lalu, Anda kelihatan banyak melamun. Saya pikir, setelah masalah dengan Bu Rora selesai, Anda bisa bernapas lega.”
Maura menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kerja.
“Ya seharusnya begitu, Pak. Tapi hati saya malah tidak bisa tenang karena situasinya,” Maura menambahkan tawa canggung.
“Saya mengerti. Atmosfer ruang dosen memang jadi agak kaku belakangan ini. Tapi menurut saya, apa yang dilakukan pihak Pak Setya kemarin memang diperlukan untuk memberi pelajaran. Hanya saja...” Pak Dimas menggantung kalimatnya, tampak ragu.
“Hanya saja apa, Pak?” pancing Maura.
“Hanya saja, semua orang sekarang tahu seberapa jauh Pak Setya akan bertindak demi melindungi Anda, Bu,” jawab Pak Dimas hati-hati.
kapan ini ceritanyaaa berlanjut ???