Kemungkinan ada narasi adegan nyerempet 21th+
Pembaca mohon lebih bijak dalam memilih bacaan yang sesuai usia! Cerita cuma fiksi jgn terlalu baper
Setelah mengetahui perselingkuhan tunangannya dengan saudara tirinya, Beatrice justru dipertemukan dengan Alexander, seorang CEO ganteng, kaya, dingin yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Awalnya Alex hanya penasaran terhadap Beatrice, pasalnya penyakit alerginya terhadap wanita sama sekali tidak kambuh saat bersentuhan dengan Beatrice. Sahabat sekaligus dokter pribadinya, Harris menyuruhnya terus bersentuhan dengan Beatrice sebagai upaya terapi untuk kesembuhan alergi yang diderita Alex. Namun lama-lama sikap posesif dan cemburuan Alex terhadap Beatrice semakin menjadi, membuatnya sadar bahwa dia telah jatuh hati pada Beatrice. Alex ingin pernikahan kontrak mereka menjadi pernikahan sungguhan. Akankah hati Beatrice terbuka untuk Alex?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Dijemput Hubby
Janice yang sudah kehilangan akal sehatnya karena rasa malu yang memuncak, mulai meluncurkan serangan verbal yang lebih berani. Ia mengira dengan menjatuhkan reputasi Beatrice, Alex akan melihatnya sebagai wanita yang lebih baik daripada Beatrice.
"Tuan Thorne, anda jangan tertipu oleh wajah polos Beatrice. Beatrice tidak sepolos kelihatannya. Pasti dia sering menjelek-jelekan kami, kan?," ucap Janice dengan nada mendesak. "Selain itu, dia juga wanita murahan, anda tahu kan dia baru saja putus dari tunangannya, tapi lihat sekarang! Dia langsung merangkak ke pelukan Anda. Apa Anda tidak merasa hanya dijadikan pelarian atau mungkin... hanya mesin uangnya?"
Meilin, yang berdiri di samping Janice, awalnya memiliki ambisi yang sama. Namun, saat ia menatap wajah Alex dari jarak dekat, jantungnya berhenti berdegup karena alasan yang berbeda, dia ketakutan. Ia melihat rahang Alex mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Mata di balik kacamata hitam itu pasti memancarkan kilat membunuh yang sanggup melubangi siapa pun.
"Janice... Hentikan...," bisik Meilin sambil menarik-narik lengan baju sahabatnya. Ia akhirnya baru teringat nasib tragis Monica dan Hannah yang hancur dalam semalam. Sama seperti Monica dan Hannah, Janice dan Meilin juga mahasiswa tingkat akhir, Meilin tidak mau bernasib sama seperti mereka.
"Lepaskan, Meilin! Tuan Thorne harus tahu kebenarannya!" Janice menghempas tangan Meilin dengan kasar, benar-benar buta oleh kecemburuannya.
Tak jauh dari sana, di balik pilar koridor besar, Beatrice dan Keira berdiri menyaksikan adegan tersebut. Keira sudah mengepalkan tangannya, siap untuk melabrak, namun Beatrice menahannya dengan memegang pundaknya.
"Tunggu, Kei. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukan Alex," bisik Beatrice tenang. Matanya menatap lurus ke arah pria yang berdiri di samping Ferrari merah itu. Ada sedikit rasa penasaran di hatinya; bagaimana cara Alex menghadapi wanita-wanita yang mencoba merayunya dengan cara kotor seperti itu?
Akhirnya, Alex bergerak. Ia menurunkan kacamata hitamnya perlahan, menampakkan sepasang mata elang yang sangat dingin dan tajam. Ia menatap Janice bukan sebagai seorang wanita, melainkan sebagai serangga pengganggu yang menjijikkan.
"Sudah selesai?" suara Alex terdengar sangat rendah, namun sanggup membungkam seluruh keriuhan di gerbang kampus.
Janice kembali melihat ke arah Alex, kali ini dengan tatapan memuja,"Tuan Thorne, Beatrice bukan wanita baik-baik. Masih banyak wanita yang lebih baik di luar sana. Pria seperti anda pasti bisa mendapatkan yang lebih...."
Alex tiba-tiba memotong, "Oh.. Seperti siapa? Sepertimu?"
Janice langsung tersipu, "Itu... Jika anda tidak keberatan, saya bisa..."
Alex tiba-tiba tertawa dingin, "Haha... Kau bilang Beatrice hanya sekedar cantik luarnya, tapi minimal dia cantik, menyenangkan untuk dilihat.... Tapi lihat dirimu sendiri... Sebelum menjelekkan orang lain, minimal bercermin dulu. Kau itu tidak hanya jelek luarnya tapi juga dalamnya"
Janice mematung. Keberaniannya menguap seketika digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tulang belakangnya.
Alex menyentuh layar ponselnya dan menelpon seseorang.
Rupanya Alex menghubungi rektor memintanya untuk menendang Janice dan Meilin.
Meilin langsung lemas, kakinya terasa seperti jeli. Ia ingin lari tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ia merasa ini tidak adil karena Janice lah yang memprovokasi Alex. Meskipun Meilin juga punya niatan tapi dia belum sempat mengucapkan kata apapun pada Alex. Sementara Janice, wajahnya berubah pucat pasi seputih kertas. Ia baru menyadari bahwa ia baru saja membangunkan naga yang tertidur.
Suasana di gerbang kampus yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap.
Janice berdiri mematung, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia baru saja kehilangan masa depannya hanya karena beberapa menit ocehan penuh dengki.
Sementara itu, Meilin yang tidak berani mengucapkan sepatah kata apapun pada Alex akhirnya hanya bisa memarahi Janice.
"KAU PUAS SEKARANG?!" teriak Meilin sambil mendorong bahu Janice dengan keras hingga gadis itu tersungkur ke aspal.
Meilin menangis histeris, wajahnya yang tadi penuh ambisi kini hancur oleh ketakutan yang nyata. "Aku sudah menyuruhmu diam! Aku sudah menarik tanganmu berkali-kali! Tapi kau tetap saja bicara seperti orang gila!"
"Meilin, aku....", Janice sangat terkejut melihat amarah Meilin yang meledak-ledak ditujukan padanya.
"Gara-gara kau, aku juga dikeluarkan!!" Meilin menjerit, tidak peduli lagi pada martabatnya di depan banyak orang. "Keluargaku sudah susah payah membiayaiku kuliah di sini agar aku bisa mengubah nasib, dan sekarang kau menghancurkannya dalam sekejap! Aku benci kau, Janice! Aku benar-benar benci kau!"
Meilin menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu berlari menjauh. Janice hanya bisa ikut berlari mengejar Meilin, dia tidak mau terus menjadi tontonan di sini.
Alex sama sekali tidak peduli, baginya mereka sama saja, Alex sudah sering menerima laporan dari Keira soal mereka yang mengganggu Beatrice.
Beatrice perlahan melangkah keluar dari balik pilar, diikuti oleh Keira yang menatap Janice dan Meilin dengan pandangan puas.
Alex, yang melihat Beatrice mendekat, langsung membukakan pintu Ferrarinya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Beatrice, seolah mendeklarasikan kepada seluruh dunia siapa pemilik hatinya yang sebenarnya.
"Apa kamu sudah lama menunggu?", ucap Beatrice.
"Tidak masalah, aku yang datang terlalu cepat dari waktu janjian kita. Ayo pergi, Baby. Aku sudah mereservasi tempat makan hotpot yang waktu itu kamu tunjuk," ucap Alex.
jgn lupa subscribe, like, komen, kasih rating dan gift, gift yg free jg gpp nonton iklan aja bentar 🤣