Rega Zalzala adalah putra ke empat dari keluarga Duke Zalzala.
Dia satu-satunya anak yang tidak memiliki kekuatan apapun. kelahiran nya di anggap aib oleh keluarga.
Di usia 18 tahun, keluarga nya memilih untuk membuang Rega seperti seekor anjing.
Namun tanpa di sangka, di detik terakhir hidup nya... dia mendapatkan sistem Dewa.
sebuah sistem yang akan mengubah hidup nya dari seorang pecundang menjadi seorang Raja.
ini adalah perjalanan Rega Zalzala membalas dendam dan menjadi Kesatria terkuat di kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
Tapi tiba-tiba....
TAP... TAP...
Langkah ringan terdengar mendekat.
Dari balik kerumunan, muncul seorang gadis muda dengan wajah lembut dan kecantikan luar biasa.
Rambut hitam panjang yang diikat rapi, kacamata bundar di wajahnya memberikan kesan imut dan cerdas.
Dia adalah Jelita... Alkemis Tingkat 4 dan juga salah satu jenius muda paling menonjol di Asosiasi Alkemis.
“Keributan apa ini? Mengapa kalian begitu ribut di sini?” tanyanya pelan namun terdengar tegas.
Saat matanya bertemu dengan Rega, alisnya terangkat. ‘Eh, bukankah dia Pria misterius yang waktu itu?!’ pikirnya dengan bingung.
“Kau lagi? Apa yang kau cari di sini? Resep pil lain? Kenapa mesti harus berantem sih....” tanyanya sambil menyipitkan mata.
“Aku diundang langsung oleh Kakek Chen. Tapi para cucunguk ini menghalangi jalanku, jadi aku… ya, sedikit menghajar mereka,” jawab Rega santai.
“APA?!” kerumunan langsung bergemuruh.
“Master Chen? Dia diundang oleh Master Chen?” bisik beberapa orang tak percaya.
Jelita terdiam sejenak, lalu kembali menatap Rega. “Apa itu benar? Kau diundang langsung oleh beliau?”
“Jika kau tak percaya, tanya langsung padanya,” jawab Rega acuh tak acuh.
Sikap santainya yang tak menunjukkan rasa hormat membuat para alkemis makin geram.
“Tidak sopan! Dia menyebut nama Master Chen seperti sedang berbicara tentang temannya sendiri!” teriak salah satu Alkemis.
“Beraninya dia tidak memberikan hormat sedikit pun!”
‘Kenapa aku harus memberi hormat pada muridku sendiri?’ pikirnya dalam hati.
Namun tentu saja, ia tidak bisa mengatakannya. Belum saatnya.
“Baiklah,” ucap Jelita sambil menarik napas. “Aku akan membawamu bertemu dengan Master Chen secara langsung. Tapi kalau kau hanya berbohong… jangan salahkan aku jika seluruh asosiasi ini mengusirmu.”
“Bagus, ayo segera bertemu dengan nya” jawab Rega, masih dengan nada datar dan tenang.
Ia mulai melangkah masuk ke dalam gedung megah itu, diiringi sorotan mata tajam penuh curiga dari seluruh alkemis yang hadir.
Sementara Jelita berjalan di depannya, tak henti berpikir dalam diam.
‘Siapa sebenarnya Pria ini? Dia terlihat sangat percaya diri ingin bertemu dengan master Chen'
Rega terus melangkah tenang di belakang Jelita, menyusuri lorong utama Asosiasi Alkemis yang megah.
Bisik-bisik terdengar dari berbagai sudut.
"Itu dia... Kstaria ghost bat yang membuat keributan tadi."
"Apa benar dia diundang oleh Master Chen?"
"Dia dari Skuad Ghost Bat... tapi kenapa bisa sedekat itu dengan Jelita?"
"Sial, dia sangat beruntung bisa dekat dengan gadis secantik Jelita..."
Tak ada satu pun yang berani menahan langkah Rega lagi.
Tatapannya yang tajam dan tenang membuat siapa pun gentar, apalagi setelah dia menghajar dua alkemis tingkat 3 tanpa ragu.
Sampai akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu ukiran emas bertuliskan Ruang Rapat Tetua.
Tok. Tok. Tok.
Jelita mengetuk pelan, lalu melirik ke arah Rega. “Dengar baik-baik. Di dalam ini ada empat tetua besar Asosiasi Alkemis. Kau Jangan sembarangan bicara, jangan sombong, dan yang terpenting... jangan membuat masalah.” Nadanya tegas, tapi wajah imutnya membuatnya terlihat lebih seperti adik yang khawatir daripada seorang peringatan keras.
“Aku mengerti,” jawab Rega ringan.
Namun nada suaranya yang datar membuat Jelita mengepalkan tangan dengan kesal. 'Menyebalkan sekali... pria ini benar-benar tidak tahu sopan santun!'
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Pintu dibuka, dan mereka melangkah masuk.
Ruangan itu luas dan indah. Aroma rempah-rempah dan ramuan langka memenuhi udara. Di dalamnya, duduk empat orang dengan aura luar biasa kuat.
Pertama, Master Chen Yuan, sang legenda hidup, Alkemis Tingkat 7 yang paling senior. Dia di katakan hampir menjadi seorang alkemis Tingkat 8.
Kedua, Master Dong Huang, juga Alkemis Tingkat 7, terkenal dengan ketegasannya.
Ketiga, Nyonya Adelia, guru dari Jelita sendiri. Alkemis Tingkat 6 yang tenang dan bijak.
Keempat, Tuan Albertus, seorang pria paruh baya berkacamata, Alkemis Tingkat 6 yang terkenal dengan penelitian bahan langka.
Di belakang mereka, berdiri para murid terbaik dari masing-masing pihak.
Hanya kursi kosong di belakang Master Chen yang belum pernah diisi dari dulu Sampai hari ini.
“Salam hormat, para tetua. Maaf mengganggu pertemuan penting kalian. Namun ksatria ini bersikeras ingin masuk. Katanya... dia diundang,” ucap Jelita sopan, membungkuk hormat.
“Ksatria?” Master Dong menyipitkan mata. “Siapa yang berani mengundang seorang ksatria masuk ke rapat tertutup alkemis?”
“Aku,” jawab Master Chen dengan tatapan tenang.
Semua mata langsung beralih menatapnya.
“Master Chen... Kau serius?” tanya Albertus, menatap dengan wajah heran.
“Sangat serius. Dialah adalah orang yang akan menjadi murid pertamaku.”
DEG!
Seketika ruangan menjadi sunyi. Bahkan napas para murid pun tertahan.
“Chen... Kau tidak pernah mengangkat murid seumur hidup mu. Tapi sekarang tiba-tiba Kau mengangkat seorang ksatria menjadi murid? Apa maksudmu ini semua?” tanya Dong Huang dengan nada dingin.
"Memang ada apa dengan keputusan ku, Dong? Apa kau keberatan? Ini bukan urusan mu. Mau atau tidak aku mengangkat murid, itu semua hak ku" ucap Master Chen dengan tajam.
Semua orang terdiam, mereka mengetahui itu, tidak ada yang bisa melarang Master Chen.
“Selain itu,” ucap Master Chen tenang. “Aku juga akan memberikan kebebasan penuh padanya untuk belajar di luar Asosiasi.”
“Apa?!” seru Nyonya Adelia.
“Master Chen! Apa Kau bercanda! Itu melanggar tradisi kita! Murid yang di pilih harus melalui bimbingan selama bertahun-tahun sebelum layak dilepas! Mereka di larang meninggalkan asosiasi!” Albertus ikut menyuarakan protesnya.
Tapi Master Chen tak bergeming. “Aku tahu apa yang kulakukan. Dan aku bertanggung jawab penuh soal ini"
“Cih.... Dia bahkan tidak terlihat seperti alkemis,” bisik salah satu murid. “Hanya seorang ksatria... dari Skuad Ghost Bat pula. Dia pasti tidak berguna”
Jelita menoleh ke Rega. Pandangannya dipenuhi tanda tanya. ‘Siapa sebenarnya pria ini? Apa yang dia miliki sampai Master Chen memberinya keistimewaan sebesar ini?’
Rega hanya berdiri tenang, menyunggingkan senyuman tipis.
‘Bagus, muridku. Kau sudah memainkan peranmu dengan sempurna,’ pikir Rega dalam hati, puas.
Kini, seluruh asosiasi tahu akan tahu bahwa dia adalah murid pertama Master Chen.
--------
Kalian dengarkan aku...." Master Chen menghela napas panjang, sorot matanya menyapu seluruh ruangan. “Selain sebagai murid, aku juga ingin dia menjadi perwakilan kerajaan dalam kompetisi Alkemis antar kerajaan yang akan datang. Dia akan menjadi perwakilan kerajaan Helyendra”
‘APA?!’ Rega hampir terbatuk. Wajahnya tetap datar, tapi dalam hati dia ingin menjitak kepala Master Chen. ‘Bajingan... apa yang dia lakukan? Kompetisi Alkemis antara kerajaan? aku bahkan tidak ingin ikut kompetisi itu!’
BRAAAAK!
Suara meja digebrak keras menggetarkan ruangan.
“Apa yang kau katakan?!” teriak Master Dong dengan wajah memerah karena amarah. “Kau ingin MENJADIKAN dia sebagai perwakilan?! Apa kau sudah tidak waras, Chen?!”
Albertus ikut berdiri dari kursinya. “Benar! Aku menolak keras usulan itu! Dia bahkan tak terlihat seperti Alkemis yang handal!”
Nyonya Adelia masih duduk, tapi ekspresinya serius. “Aku tidak ingin terburu-buru menilai. Tapi... kami bahkan belum melihat seberapa hebat dia membuat pil.”
“Perwakilan kerajaan adalah simbol kehormatan Helyendra!” seru Master Dong lagi, nadanya penuh penolakan. “Bagaimana kau bisa menyerahkannya begitu saja kepada seseorang yang bahkan belum kita uji?!”
Sementara keributan itu memuncak, Rega justru menyeringai kecil. ‘Bagus. Tolak saja usulan itu. Aku tidak tertarik jadi wajah kerajaan... Aku hanya ingin tenang membuat pil di sudut ruangan tanpa diganggu siapa pun.’
Tapi Master Chen menatap tajam ke arah Master Dong. “Dong, apa kau meragukan penilaianku? Kau pikir aku sudah terlalu tua untuk mengenali bakat sejati?”
“Tentu tidak,” balas Dong cepat, tapi dengan nada keras. “Tapi ini bukan soal usiamu. Ini soal logika! Bahkan murid kami yang sudah belajar bertahun-tahun pun harus bersaing mati-matian untuk mendapatkan kehormatan itu.”
“Benar,” sambung Albertus. “Jika dia ingin jadi perwakilan, dia harus membuktikan kelayakannya. Ikut kompetisi antar murid!”
Murid-murid yang berdiri di belakang tetua pun mulai bersuara.
“Aku akan menghadapinya,” ucap Julianto, murid terbaik Master Dong, matanya tajam memandang Rega. “Aku sudah berlatih selama lima tahun untuk menjadi perwakilan. Aku tidak akan menyerah pada orang baru.”
“Aku juga,” sahut Kirana, murid Nyonya Adelia. “Aku ingin membuktikan bahwa aku lebih layak.”
Risman, murid Albertus, mengepalkan tangan. “Dia harus tahu tempatnya. Kami tidak akan membiarkan wajah kerajaan direbut orang baru.”
Suasana rapat jadi tegang, hawa persaingan mulai mengisi udara. Tapi Rega masih santai, bahkan sempat mengorek kupingnya dengan malas.
Master Chen hanya tersenyum tipis. “Baiklah. Kalau begitu, mari kita adakan kompetisi antar murid. Jika kalian ingin dikalahkan oleh muridku... aku akan mengabulkan keinginan kalian.”
Semua tetua akhirnya mengangguk setuju.
‘Bajingan sialan!’ Julianto menatap tajam ke arah Rega. ‘Siapa kau, berani nya kau datang dan ingin merebut tempat kami?!’
‘Dia terlalu tenang... apa mungkin dia memang hebat?’ Kirana mulai merasa waspada.
‘Aku akan membuat dia menyesal datang ke sini!’ Risman menggertakkan gigi, tatapannya penuh dendam.
Sementara itu, Jelita berdiri di samping Rega, menatapnya dari sudut mata. ‘Apa dia benar-benar sehebat itu? Master Chen bahkan rela mengabaikan semua peraturan untuknya... siapa sebenarnya pria ini?’
Di tengah semua tatapan dan tekanan itu, Rega berdiri santai.
‘Sial... kenapa jadi begini? Aku hanya ingin hidup damai, membuat pil, dan meningkatkan kekuatan ku. Tapi sekarang malah terseret ke dalam urusan bodoh ini. Chen sialan'
Namun dia tahu, dia tidak punya pilihan.
‘Baiklah. Jika pertarungan ini bisa membuat mereka diam dan berhenti menggangguku, maka akan kuhadapi semuanya. Untuk kali ini saja'
Rega melirik ke arah Chen. 'Dan aku harus berbicara pada nya setelah semua ini selesai'
Rega akhirnya resmi terlibat dalam konflik internal para alkemis yang akan mengantarkannya bukan hanya sebagai murid, tapi mungkin... sebagai legenda pembuat pil.
suka dg ide briliannya
seratusss....semangat thor👍