NovelToon NovelToon
EMPRESS ELARA (Transmigrasi Kedalam Tubuh Permaisuri Lemah)

EMPRESS ELARA (Transmigrasi Kedalam Tubuh Permaisuri Lemah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno / Masuk ke dalam novel / Mengubah Takdir
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Bulan

Seorang wanita modern Aira Jung, petinju profesional sekaligus pembunuh bayaran terbangun sebagai Permaisuri Lian, tokoh tragis dalam novel yang semalam ia baca hingga tamat. Dalam cerita aslinya, permaisuri itu hidup menderita dan mati tanpa pernah dianggap oleh kaisar. Tapi kini Aira bukan Lian yang lembek. Ia bersumpah akan membuat kaisar itu bertekuk lutut, bahkan jika harus menyalakan api di seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Marquis Elrion

Suara hujan turun perlahan di atas atap batu.

Udara malam lembab dan dingin, menyelimuti lorong bawah tanah istana yang gelap.

Api obor bergetar, memantulkan bayangan panjang di dinding batu yang lembab.

Seorang pria berjalan pelan, jubah hitamnya menyapu lantai.

Wajahnya tersembunyi di balik topeng besi, hanya matanya yang terlihat tajam, penuh perhitungan.

Ia berhenti di depan sel yang kosong.

Sel itu dulunya tempat Selir Valen ditahan, tapi kini hanya tersisa rantai dan bau darah besi yang kering.

“Jadi, akhirnya kau benar-benar dijatuhkan, Valen…”

suaranya pelan, hampir seperti gumaman yang bercampur rasa puas.

Pria itu membuka gulungan kertas kecil peta istana, lengkap dengan jalur rahasia yang hanya diketahui oleh sedikit orang.

Di pojok peta, tertulis satu nama dengan tinta merah gelap: Elara.

“Kau memang berbeda,” ujarnya lagi, pelan.

“Tapi perbedaan itu... bisa menghancurkan seluruh kerajaan.”

Ia melipat peta itu, lalu melangkah menuju pintu rahasia yang terhubung langsung ke taman magnolia.

Saat itu pula, dari balik bayangan, seseorang muncul seorang wanita dengan pakaian pelayan istana, namun auranya jauh dari biasa.

“Lord Renard,” katanya lirih, menunduk.

“Permaisuri mulai mencurigaimu. Ia sudah memerintahkan mata-mata baru untuk mengawasi gerakmu.”

Renard ya, pria bertopeng itu hanya tertawa rendah.

“Biarkan dia curiga. Itu justru membuat permainan ini lebih menarik.”

“Dan tentang Selir Valen…?”

“Dia belum mati,” jawab Renard datar. “Aku memastikan mereka hanya mengira dia sudah dihukum. Dalam tiga hari, dia akan keluar dari istana dengan wajah baru dan nama baru.”

Pelayan itu tertegun.

“Apa yang kau rencanakan?”

Renard menatap langit yang masih diguyur hujan melalui celah batu.

“Aku berutang pada masa lalu... dan hutang itu akan kubayar dengan menumbangkan tahta.”

Sementara itu, di kamar pribadinya, Elara menatap peta yang sama di atas meja.

Peta jalur bawah tanah milik lama keluarga bangsawan selatan.

Ia baru mendapatkannya dari salah satu orang kepercayaannya, Kaen.

“Ini jalur yang sama dengan yang digunakan untuk menyelundupkan senjata ke utara,” kata Kaen sambil menunjuk tanda merah di ujung peta.

“Tapi lihat ini, My Lady jalur ini menuju ke dalam istana, bukan keluar.”

Elara menatap titik itu lama.

“Berarti ada orang dalam,” ujarnya pelan. “Seseorang yang mengenal seluruh sistem istana dengan baik.”

“Lord Renard?” tanya Kaen hati-hati.

Elara mengangguk perlahan.

“Dia terlalu tenang waktu sidang. Aku tahu dia belum menyerah.”

Ia berdiri, menatap jendela di mana hujan terus turun seperti tirai perak.

“Kaen, mulai malam ini, jangan percaya siapa pun kecuali aku. Bahkan jika seseorang mengaku membawa perintah dari Kaisar sekalipun.”

Kaen menunduk.

“Baik, My Lady.”

Elara menatap keluar jendela di kejauhan, kilat menyambar, menerangi istana dalam cahaya putih sesaat.

Dalam pantulan kaca, matanya tampak dingin dan tajam.

“Mereka pikir aku hanya permaisuri yang sibuk dengan kebun bunga dan pesta istana…”

“Tapi aku bukan Elara yang dulu.”

Di sisi lain, Kaisar Kaelith sedang berdiri di balkon ruang kerjanya, memandangi kota yang diliputi hujan.

Ia menatap surat yang baru diterimanya surat rahasia tanpa nama pengirim.

Tulisan di atas kertas itu membuat alisnya mengerut tajam.

“Bayangan lama akan bangkit. Hati-hati pada orang yang pernah bersumpah setia padamu.”

Kaelith mengepalkan surat itu, lalu memanggil pengawal pribadinya.

“Cari tahu siapa yang menulis ini. Dan perintahkan semua penjaga perbatasan selatan untuk bersiaga penuh.”

Pengawal itu menunduk.

“Apakah ini berkaitan dengan Permaisuri, Yang Mulia?”

Kaelith menatapnya dengan pandangan tajam.

“Tidak. Tapi jika seseorang mencoba menyentuhnya… aku akan memastikan dunia ini terbakar.”

Malam itu, badai semakin kuat.

Di langit, guntur bergemuruh seperti suara perang yang sedang menunggu waktunya.

Dan di bawah tanah, langkah kaki Renard kembali terdengar.

Ia membuka gulungan surat kecil lain, berisi nama-nama bangsawan yang diam-diam membelot.

Di bagian paling atas tertulis satu nama yang membuatnya tersenyum.

Marquis Elrion,Ayah dari Elara.

Renard menatap nama itu lama, lalu berbisik dingin,

“Sepertinya waktunya mempertemukan sang putri dengan masa lalunya…”

Hujan sudah berhenti, tapi udara pagi masih basah dan dingin.

Embun menempel di pagar batu halaman timur, sementara suara burung gagak terdengar di kejauhan, seperti pertanda buruk yang tak ingin pergi.

Elara berdiri di balkon kamarnya, memandangi taman yang hancur sebagian akibat badai semalam.

Bunga magnolia yang biasanya tegak dan indah kini terkulai, kelopaknya jatuh berserakan.

Kaen datang membawa nampan berisi surat-surat pagi.

“Ini laporan terakhir dari pengintai, My Lady. Mereka menemukan sesuatu di perbatasan selatan.”

Elara berbalik, mengambil surat teratas yang masih basah oleh sisa embun.

Begitu ia membuka segelnya, napasnya tertahan.

Tulisan tangan yang dikenalnya halus, tapi tegas.

Nama di bagian bawah membuat jantungnya berhenti sesaat:

Marquis Elrion.

“Tidak mungkin…” bisiknya pelan.

“Dia seharusnya sudah mati lima tahun lalu.”

Kaen menatapnya ragu.

“Apakah itu benar ayah Anda, My Lady?”

Elara tidak langsung menjawab. Ia membaca isinya perlahan, setiap baris terasa seperti luka lama yang kembali terbuka.

‘Anakku, jika surat ini sampai padamu, berarti aku masih hidup.

Aku tidak punya banyak waktu. Orang yang dulu menjadi sekutuku kini mengancam kerajaan ini.

Dia mengenalmu, Elara. Dia tahu rahasiamu.

Hati-hati pada Renard.’

Elara menggenggam surat itu erat.

Tangannya bergetar, bukan karena takut tapi karena marah.

“Dia hidup… tapi mengapa baru sekarang muncul?”

Kaen menunduk dalam.

“Mungkin karena ancaman dari Lord Renard semakin dekat.”

Elara menatap jauh ke luar balkon, matanya dingin dan kosong.

“Atau mungkin karena dia terlibat di dalamnya.”

Sementara itu, di ruang rahasia bawah tanah, Lord Renard duduk di kursi panjang dari batu.

Di hadapannya berdiri seorang pria tua berjubah kelabu, wajahnya tertutup sebagian oleh tudung.

Namun dari sorot matanya, terlihat kelelahan yang menua bersama waktu.

“Sudah lama sekali,” kata pria tua itu pelan.

“Aku kira kau sudah mati, Renard.”

Renard tersenyum samar.

“Dan aku kira kau sudah berhenti mencampuri urusan kerajaan, Marquis Elrion.”

Elrion menghela napas berat.

“Kau tidak akan mengerti. Aku melakukan semua ini untuk melindunginya.”

“Melindungi?” Renard mendengus. “Dengan menyembunyikan asal-usulnya? Dengan membiarkan dia hidup sebagai boneka istana?”

“Aku hanya ingin dia hidup,” kata Elrion tegas. “Setelah apa yang terjadi pada ibunya, aku tak mau kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa.”

Renard berdiri perlahan, langkahnya bergema di ruang batu.

“Dan karena itu, kau menciptakan kebohongan yang akhirnya akan membunuhnya.”

Elrion menatapnya penuh luka.

“Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, Renard? Menggunakan kematian Valen, memanipulasi dewan, dan menumbangkan tahta? Semua itu hanya alasan untuk membalaskan dendam lamamu.”

Renard menatapnya tajam.

“Dendam itu bukan hanya milikku. Kita berdua kehilangan segalanya karena kerajaan ini.”

“Bedanya,” kata Elrion lirih, “aku belajar memaafkan. Kau tidak.”

Renard tersenyum dingin, mendekatkan wajahnya.

“Dan itulah mengapa kau lemah.”

Ia mengeluarkan belati tipis dari lengan bajunya dan dalam sekejap, darah merah mengalir di antara mereka.

Elrion terhuyung, menatap dada yang kini berlumur darah.

“Kau…” bisiknya, sebelum jatuh berlutut.

Renard menatap tubuh tua itu tanpa ekspresi.

“Kau seharusnya tahu… bahwa aku tidak membiarkan masa lalu tetap hidup.”

Ia mengambil kembali peta kecil dari tangan Elrion, lalu membisikkan sesuatu sebelum pergi

“Istirahatlah, Marquis. Putrimu akan menyusul segera.”

Sore harinya, Kaelith menemukan Elara masih di ruang kerja, menatap peta yang sama tapi kali ini, ada setetes darah di sudut kertas itu.

Kaelith langsung mengenalinya.

“Darah Marquis Elrion…” gumamnya pelan. “Dia sudah mati.”

Elara menatapnya tajam.

“Bagaimana kau tahu?”

Kaelith meletakkan cincin di meja cincin dengan lambang phoenix berapi.

“Ini dikirimkan padaku siang tadi. Tanpa nama pengirim. Tapi aku tahu siapa pelakunya.”

“Renard,” kata Elara, suaranya serak.

“Ya,” jawab Kaelith. “Dan ini baru permulaan.”

Elara berdiri, matanya berubah dingin dan tegas.

“Kalau begitu… kita tidak punya waktu lagi untuk menunggu.”

“Apa yang kau rencanakan?” tanya Kaelith.

Elara menatapnya dengan sorot mata yang tak lagi lembut, tapi berapi-api.

“Aku akan menjadi permaisuri yang mereka takuti. Jika Renard ingin menumbangkan tahta, maka aku akan menjadi bayangan yang menelan semuanya.”

Kaelith terdiam sejenak, lalu perlahan tersenyum.

“Baik. Maka mulai malam ini… aku berdiri di sisimu.”

Elara menatapnya dalam diam.

Di matanya, untuk sesaat, ada sesuatu yang lembut sebelum semuanya kembali membeku oleh tekad.

“Kalau begitu, kita mulai dari darah.”

Reader's mohon doanya ya agar daerah ku hujan berhenti dan banjirnya redah, untuk beberapa hari kedepannya aku tidak update dulu karena di sini lagi banjir tinggi 🙏🙏🙏🙏

1
saniamycloe
kerennn gt cerita nya❤️❤️❤️
Senja Bulan: arigato 😍😍
total 1 replies
Tya Yulianti
the best
Tya Yulianti
novel favorit, alur cerita yg aku suka bgt,, love author 😍
Senja Bulan: makasih kk😍🤭
total 1 replies
mummy_aling
puas hatii..silkan terus berkarya author 👍
Senja Bulan: makasih dukungannya 😍
total 1 replies
Karo Karo
jangan lama upnya
Senja Bulan: oke kk 😍🤭
makasih ya udh komen
total 1 replies
Karo Karo
🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
Karo Karo
nah kan
Karo Karo
maksud nya apa tuh
Senja Bulan: maksudnya Elara ini terlalu 'hidup' dan terlalu kuat untuk dunia yang penuh dengan sandiwara dan kebusukan. Bisa dibilang si kaelith mulai mengangumi si Elara karena dia tidak seperti dia yang lalu.
total 1 replies
Karo Karo
mampir
Dede Mila
agak gimana gitu 😐😐😐😐
Senja Bulan: maksudnya
total 1 replies
Dede Mila
jadi gak nyaman mau komen ini.🤔
Senja Bulan: knp kk🙏
total 1 replies
Dede Mila
apa itu yg komen kasar sekali 🫵🤣🤣
Qiqi Maryam
waw gila gila permaisuri hebattt sekaliii
Qiqi Maryam
Apa cerita ini bakal sad ending kah??!!!!
Qiqi Maryam: masih panjang kah baiklah
total 2 replies
Awkarin
ORANG HIDUP MINIMAL BISA BILANG MAKASIH TOLONG DAN MAAF!!! Loo gak punya semua nyaaa
Awkarin: Maaf ke siapa ? Kenapa gk bisa bilang maaf di grup ? Kmu kan bikin salah nya disana ?
total 4 replies
Awkarin
MINIMAL JANGAN KEK ANJING LUU ABIS COMOT KOTAK GAK BILANG MAKASIH MAIN PERGI AJA DR GC . ADAB LUUU DIMANEEE ?
Qiqi Maryam
up lg thor
Senja Bulan: setiap hari aku up kok😍
total 1 replies
Qiqi Maryam
Keren banget ceritanya , Tokoh utama tidak mudah ditindas
Senja Bulan: iya dong aku paling benci wanita lemah
total 1 replies
Qiqi Maryam
cerita nya keren thor aku suka
Senja Bulan: makasih 😍🙏
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!