Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Percobaan ke-43
Mentari mulai masuk ke dalam kamarku, sementara aku masih tidur karena kelelahan yang hebat setelah latihan kemarin. Latihan yang sangat sulit, dan juga sangat menantang bagiku.
"Ivan, bangun!!" teriak ibu dari dapur, yang mencoba membangunkan ku.
"Ivan!!" teriak ibu.
"Iya," sahutku yang baru bangun.
Aku bangun, mataku masih terasa berat untuk dibuka, kakiku masih sangat pegal karena latihan kemarin. Hari ini adalah hari Rabu, aku menjalani hariku sama seperti kemarin. Bangun, makan, mandi, sekolah, latihan, lalu tidur. Aku menjalani hari ini dengan semangat, saat sore hari. Aku berlatih memasukkan tong ke dalam bola kembali, kali ini aku sudah melakukan 42 percobaan, tapi terus gagal. Walaupun terus gagal, aku tidak akan pernah menyerah dalam berlatih. Seusai latihan, aku lalu makan, mandi, dan langsung tidur.
Keesokannya, mentari belum masuk ke dalam kamarku. Badanku masih sangat lelah karena latihan kemarin, fisik dan mentalku lelah karena latihan. mataku masih berat, tubuhku lelah.
"Ivan, bangun!!" teriak ibu mencoba membangunkanku.
"Udah!!" sahutku yang sudah bangun.
"Makan!!" teriak ibu, menyuruhku untuk segara sarapan sebelum mandi lalu berangkat ke sekolah.
Aku langsung bergegas menuju dapur untuk sarapan, setibanya di dapur. Aku lalu duduk, dan mulai makan dengan lauk yang seadanya.
"Hari Kamis, sore ini aku melanjutkan latihanku. Besok hari Jumat, dan besoknya lagi hari Sabtu. Hari pertandingan yang kami tunggu-tunggu, pertandingan semi-final di turnamen!!" batinku sembari makan.
"Ivan, makan dulu. Jangan melamun, itu nggak baik loh," seru ibu.
"Ha, iya bu!!" sahutku.
Aku langsung menghabiskan makananku dan langsung mandi. Seusai mandi, aku lalu segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
"Ibu, aku berangkat!!" seruku sebelum berangkat ke sekolah.
"Iya, hati-hati di jalan!!" sahut ibu dari dapur.
Aku berangkat. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Di tengah-tengah perjalanan, aku bertemu dengan Azzam. Kami lalu mengobrol soal sepak bola sembari berjalan ke sekolah.
"Van, laga amal nanti kira-kira akan di selenggarakan dimana ya?!" tanya Azzam yang memulai obrolan.
Aku diam sejenak sebelum menjawab "Hmm... Kalau di stadion Gelora Bung Tomo, kayaknya nggak mungkin. Paling-paling, di pusat latihan mereka. Apalagi yang kita lawan itu Persebaya Surabaya B, bukan tim utama!!" ujarku yang agak bimbang.
"Bener sih," sahut Azzam.
Kami terus berbincang-bincang sembari berjalan menuju sekolah. Setibanya di sekolah, kami lalu berjalan ke kelas masing-masing "Aku ke kelas dulu, Zam!!" seruku sebelum pergi ke kelasku.
"Iya," sahut Azzam.
Setibanya di kelas, aku lalu meletakkan tasku kemudian duduk. Aku lalu mengikuti jam pelajaran sampai waktu pulang sekolah.
"Pengumuman, untuk para pemain tim sepak bola Medika Jaya silakan berkumpul di depan ruang olahraga!!" suara Pak Slamet yang memberikan Informasi lewat speaker sekolah.
"Pelajaran hari ini telah usai, silakan pulang ke rumah masing-masing!!" suara dari speaker sekolah.
Saat mendengar suara Pak Slamet tadi, aku langsung bergegas menuju ke ruang olahraga. Entah informasi apa yang akan disampaikan Pak Slamet kali ini, tapi yang pasti informasi ini akan berhubungan dengan turnamen.
Aku berjalan ke ruang olahraga sendirian. Setibanya di sana, aku lalu duduk dan berbincang sejenak dengan Kak Reno. Di tengah-tengah obrolan kami, tiba-tiba Pak Slamet datang.
"Selamat siang, Anak-anak!!" seru Pak Slamet.
"Siang, Pak!!" jawab kami semua.
"Kali ini bapak mau memberikan informasi mengenai semi-final kalian. Semi-final nanti akan diadakan hari Sabtu, kita berkumpul di sekolah jam 8.00 pagi. Hari ini latihan terakhir kalian, besok hari Jumat kita akan briefing!!" seru Pak Slamet yang menjelaskan di depan kami semua.
"Paham, Pak!!" jawab kami dengan kompak.
"Kalian segera pulang, lalu kembali lagi untuk latihan. Cepat!!" seru Pak Slamet yang menyuruh kami.
Kami lalu pulang untuk mengganti baju. Aku berjalan pulang ke rumah, suasana siang hari yang panas, udara yang dingin, dan semangatku yang terus berkobar untuk melakukan latihan terakhir ini. Setibanya di rumah, aku langsung masuk ke kamarku untuk mengganti pakaian dan langsung pergi lagi ke sekolah atau lebih tepatnya ke lapangan sekolah untuk berlatih.
Aku berjalan sambil merenung tentang latihanku kali ini "Huh... Apa latihannya akan sama, memasukkan bola ke dalam tong. Udah 42 percobaan, tapi terus gagal!!" batinku mengenai latihan kali ini.
Aku mengesampingkan pikiranku, dan tetap bersemangat untuk latihan kali ini. Setibanya di sana, aku sudah melihat teman-temanku yang lain sudah mulai berlatih. Aku berdiri di pinggir lapangan, memandangi mereka semua yang sedang menggiring bola.
"Van!!" panggil Pak Slamet.
"Uh, iya Pak?!" sahutku.
Aku lalu mendekat ke Pak Slamet, beliau sedang memegangi bola dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya ia letakkan di sakunya.
"Sudah siap untuk latihan yang sama seperti kemarin lagi?!" tanya Pak Slamet sembari memainkan bola yang ia pegang.
Aku mengepalkan tangan kananku, lalu tersenyum tipis. Kemudian menganggukkan kepalaku "Pasti!!" jawab singkatku.
"Bagus, kamu baru melakukan 42 percobaan. Ayo, sekarang kamu selesaikan latihanmu ini, Ivan!!" seru Pak Slamet.
Aku lalu mengikuti Pak Slamet. Pak Slamet kemudian meletakkan bola yang ia bawa tepat di hadapanku, kemudian Pak Slamet menyiapkan tongnya.
"Ayo!!" teriak Putra yang memberikan semangat.
"Wah, striker andalan mau berlatih nih!!" seru Kak Egy dengan nada sinisnya.
"Iya, striker paling hebat di sekolah kita... Katanya!!" celetuk Kak Alfian.
"Oke, Ivan. Percobaan ke 43, ayo!!" teriak Pak Slamet.
Aku menghela napas dalam-dalam, menatap bola yang akan ku tendang, lalu menatap tong yang akan menjadi sasaranku. Jantungku berdegup lebih cepat, tong yang ku lihat seakan-akan menjauh perlahan-lahan dari posisi awal. Lalu aku mundur beberapa langkah untuk menendang, lalu aku berlari ke bola. Waktu seolah-olah melambat saat aku mengayunkan kaki kananku, dengan sempurna. Bola ku tendang keras, cepat, dan terarah tepat ke tongnya.
Bersambung...