NovelToon NovelToon
Buku Merah Maroon : Pembunuhan Di Perkemahan

Buku Merah Maroon : Pembunuhan Di Perkemahan

Status: tamat
Genre:Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dendam Kesumat / Balas Dendam / Misteri / Tamat
Popularitas:91.2k
Nilai: 5
Nama Author: bung Kus

Buku Merah Maroon seolah menebar kutukan kebencian bagi siapapun yang membacanya. Kali ini buku itu menginspirasi kasus kejahatan yang terjadi di sebuah kegiatan perkemahan yang dilakukan oleh komunitas pecinta alam.

Kisah lanjutan dari Rumah Tepi Sungai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baik atau Jahat?

Palu kecil digenggam erat dengan tangan kanan. Kobaran api yang membakar mobil beserta guru BK yang duduk di belakang kemudi, tinggal menyisakan percikan yang berpendar lemah. Aroma sangit masih menguar di udara. Kulit yang hangus, entah bagaimana menciptakan sensasi gurih seperti bebek bakar.

Jakun naik turun menelan ludah. Anggoro berdiri termangu menatap dua mayat yang tidak jelas lagi bentukannya. Dari pakaian yang dikenakan, mayat yang meringkuk di atas rerumputan Anggoro kenali sebagai Yuzi. Rambutnya yang indah dan biasanya wangi sampo kini lenyap tak bersisa. Hanya meninggalkan kulit kepala kemerahan yang terkelupas. Membayangkannya saja, hati Anggoro ikut merasakan nyeri. Sementara mayat di belakang kemudi, Anggoro tidak bisa menebak pasti siapa gerangan, karena nyaris hanya menyisakan tulang.

"Apa mungkin Pak Nafi'?" gumamnya sendirian. Anggoro teringat sosok guru BK yang jatuh terjungkal terkena hantaman palu.

Setelah seharian berada di dalam hutan, dengan beberapa kejadian mengerikan di depan mata, entah bagaimana Anggoro tidak terlalu terkejut melihat dua mayat yang terpanggang. Seolah simpati dan empati di lubuk hatinya menjadi tumpul. Bahkan Anggoro sedikit merasa tertarik dengan benda berkilauan di telinga mayat Yuzi.

Rupanya ada perhiasan yang masih terlihat utuh dan indah meski terbakar. Kecantikan manusia terlalu rapuh. Di akhir hidup kecantikan itu memudar, bahkan lenyap. Namun perhiasan berbahan logam malah tampak berkilau. Sebuah ironi, manusia dikalahkan oleh benda yang dipolesnya sendiri.

Anggoro meninggalkan dua jasat hangus. Dia berjalan menuju ke tenda. Memperhatikan kondisi dalam tenda yang acak-acakan. Tas ransel miliknya pun tak luput dari pengrusakan. Pakaian ganti yang berserakan, juga penuh dengan bekas sepatu yang menginjak-injak.

"Padahal aku berharap ada baju kering. Sekujur tubuhku basah dan dingin," keluh Anggoro pasrah.

Selepas memukul Pak Nafi' hingga tersungkur tadi, Anggoro pergi ke sebelah selatan area perkemahan. Dia memeriksa tempat bow gun disimpan. Sebenarnya Anggoro telah menyiapkan jebakan bow gun dengan anak panah tumpul yang bertujuan untuk menakut-nakuti gerombolan Aldo. Namun benda yang dia dapatkan di toko online itu sudah lenyap. Jika anak panah diganti dengan logam runcing dan ditembakkan dalam jarak dekat tentu akan sangat berbahaya. Meskipun bow gun yang Anggoro beli tergolong benda mainan, tetapi saat ini sudah beralih menjadi senjata pembunuh.

Anggoro mendengus kesal. Niatnya untuk membalas perlakuan dari gerombolan Aldo, malah dimanfaatkan oleh orang lain. Bahkan saat Anggoro memikirkan ulang semua yang telah terjadi, dimulai dari idenya untuk menemukan pohon-pohon yang dia tandai stiker.

Kini Anggoro penasaran, apakah semua gerombolan Aldo sudah dihabisi? Tidak adakah yang tersisa? Dimaafkan atau diampuni. Jika Anggoro pikirkan seksama, bukankah satu-satunya anak nakal dan jahat hanya Aldo? Yang lainnya hanya mengekor di belakang Aldo. Apakah gadis seperti Yuzi layak mati sedemikian mengenaskan?

"Tetapi hutan akan menumpulkan empati dan mengasah naluri. Kebuasan, liar, semua itu terasa nyata di hadapan rimbunnya pepohonan berwarna hitam malam," gumam Anggoro. Ia berdiri. Tak lagi berniat untuk berganti baju. Hawa dingin membuat bibirnya membiru. Namun tubuh yang awalnya menggigil itu mulai terbiasa.

Hanya satu tujuan Anggoro sekarang. Berteduh, menghangatkan tubuh di rumah Bu Anggun. Sekaligus melihat apakah ada yang tersisa dari teman-temannya? Anggoro mengayun langkah. Dia sama sekali tidak menoleh pada mayat Yuzi yang seolah melotot ke arahnya. Mungkin saja gadis itu berharap untuk ditolong. Minimal jasadnya diurus dengan layak. Namun Anggoro mengabaikannya.

Dengan langkah terseok Anggoro menuju ke rumah Bu Anggun. Dari kejauhan cahaya berpendar terlihat. Anggoro bagaikan laron yang bergerak ke sumber cahaya. Pikiran Anggoro kembali mengawang jauh. Jika benar apa yang dikatakan para tetangga, jika Anggoro dulu ditemukan kakek Min di tempat sampah maka seandainya mati di tengah belantara pun tidak akan ada yang peduli.

Apakah jalan kematian pilihan terbaik saat ini? Pertanyaan itu muncul di benak Anggoro. Manusia hidup dengan mengejar tujuannya. Apa tujuan Anggoro hidup saat ini? Olimpiade MIPA? Bukan, Anggoro menampik pemikirannya sendiri.

Yang Anggoro inginkan nyatanya adalah hal sederhana. Hidup tenang tanpa gangguan. Dia hanya ingin menjadi manusia bebas. Tanpa perlu berpikir membalas budi pada Kakek Min. Tanpa harus diadu dengan manusia lain dalam sebuah perlombaan. Anggoro menemukan jawaban. Tempat tinggal di tengah hutan seperti rumah Bu Anggun pasti cocok untuknya.

"Ahh, pikiranku ngelantur. Sepertinya aku akan pingsan," gumam Anggoro lirih. Langkah kakinya semakin dekat dengan bangunan megah di tengah hutan.

Lampu bagian taman depan tampak temaram. Pagar besi sedikit terbuka. Di depan kolam tampak seorang perempuan tua berjongkok. Pandangan Anggoro sedikit buram berkunang-kunang. Dia merasa melihat perempuan itu mengangkat potongan kepala dari dalam kolam.

Anggoro terhuyung. Kakinya gemetar, semakin sulit mempertahankan keseimbangan. Kepalanya benar-benar terasa berat. Dan akhirnya tubuh kurus itu jatuh terjerembab mencium tanah. Aroma tanah basah menusuk hidung Anggoro.

Mak Ijah yang mendengar bunyi sesuatu yang jatuh di luar pagar menghentikan aktivitasnya. Kepala Putra diletakkan begitu saja di bibir kolam. Seolah hanya manekin yang tidak berharga. Dengan langkah kakinya yang sedikit pincang, Mak Ijah melongok keluar.

"Tambah satu pupuk lagi sepertinya," gumam Mak Ijah, mengira Anggoro sudah menjadi mayat.

Mak Ijah berjongkok di depan Anggoro. Meletakkan ujung telunjuknya di depan lubang hidung pemuda itu. Kemudian Sang Pembantu tersenyum masam.

"Rupanya masih hidup, taksih orep."

Mak Ijah terkekeh melihat tangan Anggoro masih menggenggam erat palu kecil meski sedang pingsan. Naluri bertahan hidup yang dipuji oleh Mak Ijah dalam hati. Tubuh Anggoro akhirnya diseret masuk oleh Mak Ijah.

Bekas tanah berlumpur mengotori lantai teras depan rumah Bu Anggun. Tubuh lemas Anggoro terus diseret oleh Mak Ijah. Saat masuk ke ruang depan, Pak Dolah langsung menghambur mendekat.

"Dia sudah mati?" tanya Pak Dolah penasaran. Mak Ijah menggeleng cepat.

"Masih bernapas," jawab perempuan itu singkat.

"Jangan menyeretnya seperti benda tak berharga begini. Biar aku yang menggendongnya," pinta Pak Dolah. Dia merasa tidak tega. Mak Ijah menjatuhkan lengan Anggoro dengan kasar. Pak Dolah segera merangkul tubuh Anggoro dan membopongnya.

"Bawa ke dapur. Kita perlu membasuhnya dengan air panas, balsem kemudian mengganti pakaian. Setelah itu, masukkan ke dalam sleeping bag. Kurasa dia akan selamat," perintah Mak Ijah sambil berlalu. Pak Dolah tidak menyahut. Dia sedikit merasa kesal. Bagaimanapun Pak Dolah sudah cukup lama menjadi konten kreator survival di hutan. Tentu hal-hal dasar untuk bertahan saat terkena hipotermia sudah hafal di luar kepala.

Mak Ijah bersikap seolah Pak Dolah seorang amatir yang tidak tahu apa-apa. Namun, di sisi lain Pak Dolah juga kagum dengan pengetahuan pembantu ber ekspresi dingin itu. Dalam hati Pak Dolah selalu muncul pertanyaan, sebenarnya para penghuni rumah di tengah hutan orang yang baik atau jahat? Mereka kejam, seolah tak punya empati, tetapi terkadang bersedia menolong orang lain.

1
tiara officiall
Bastian bgmn nasibnya..kok GK di ceritakan sama sekali
Tia Supriyanto
Teror Author kok tiba2 menghilang?
estycatwoman
ceritanya bkin ngelus dada ,anak sekloah dah tau balas dendam se ngeri ni serem yakkk 😓
estycatwoman
nice
Alexander
aku merasa novel ini ditamatkan dengan agak tergesa gesa sehingga ada beberapa detail yang lepas.

terima kasih banyak atas karyanya.
Alexander
walaupun sudah diskenario sedemikian rupa, polisi seharusnya menangkap banyak kejanggalan. dari jenis mobil nya saja sudah berbeda.
Alexander
bagaimana dengan bastian ?
Alexander
tetap saja akan meninggalkan jejak rumput yang terbakar.
Alexander
tapi harus diingat bahwa rombongan itu berangkat dengan menggunakan minibis berwarna hitam, bukan mobil bak terbuka.
Alexander
kalau IIk nya memilih bungkam, mau seperhatian apapun seorang kakak, tetap tidak akan tahu isi hati adiknya.
Alexander
kenapa tidak kabur saja ? menjauh dari keluarga. cari uang sendiri, masak sendiri , makan sendiri, tidurpun sendiri.
Alexander
mereka pembunuh yang pintar memainkan kata kata 🤣
Alexander
mungkin sebenarnya ada yang mencari, tapi si Anggun menutupi fakta
Alexander
jika dimakamkan dengan layak, juga akan menjadi pupuk.
Alexander
tentu saja orang normal tidak akan pernah mengerti jalan pikiran orang gila. 🤣
Alexander
orang berpikiran sempit bernama anggun.
Alexander
di bab awal narasinya rambut mereka memiliki potongan yang sama.
Alexander
itu bukan cinta. itu obsesi.
Alexander
posisi mereka kan ada di halaman belakang ? pak dolah berdiri di bawah tiang pemancar wifi. kok bisa ada meja makan ?
Alexander
geng bocah ini tidak ada sopan santunnya sama sekali kepada orang yang lebih tua.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!