NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Kael membuka jas yang dikenakannya. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan kain itu lalu mengikatkannya secara longgar di sekitar wajah Aurora, menutupi hidung dan sebagian kepalanya.

“Pakai ini. Asapnya semakin tebal, dan aku tidak ingin wajahmu mudah dikenali.” ujar Kael dengan suara rendah.

Aurora menatapnya dari balik kain yang menutupi sebagian wajahnya.

“Menjadi istri dari seorang pria sepertiku bukan perkara sederhana.” lanjut Kael. “Kau harus terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Kau harus cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri dan cukup waspada untuk tidak membiarkan identitasmu diketahui sembarang orang. Aku punya banyak musuh di luar sana. Selama kau berada di sisiku, bahaya bisa datang kapan saja.”

Nada bicaranya terdengar dingin, tetapi ada ketegasan yang membuat Aurora sadar bahwa peringatan itu bukan sekadar gertakan.

Kael kemudian bergerak sedikit ke depan, menempatkan tubuhnya di antara Aurora dan keadaan di luar. Ia seolah menjadikan dirinya penghalang pertama jika sesuatu tiba-tiba terjadi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurora benar-benar merasakan ketakutan yang berbeda.

Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini berubah menjadi bangunan yang nyaris tak dikenali. Sebagian dinding telah runtuh, debu memenuhi udara, dan pecahan benda berserakan di mana-mana.

Mereka berjalan menuju tangga.

Sebagian anak tangga sudah rusak dan tidak lagi kokoh. Kael berada beberapa langkah di depan Aurora, memastikan pijakan yang mereka lewati masih cukup aman sebelum melanjutkan perjalanan ke bawah.

“Uhuk... uhuk...”

Suara batuk terdengar dari sekitar mereka.

Kael langsung berhenti.

Pendengarannya yang tajam menangkap berbagai suara samar dari balik kepulan asap—suara langkah kaki, benda yang bergeser, dan keributan dari kejauhan.

Ia menoleh sedikit ke arah Aurora.

“Jangan jauh-jauh dariku.”

Aurora mengangguk pelan.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati, sementara Kael terus memasang kewaspadaan penuh. Di tengah rumah yang hampir porak-poranda itu, ia tahu satu hal: bahaya belum berakhir.

Kael sama sekali tidak menghiraukan teriakan orang-orang yang meminta pertolongan. Dalam keadaan seperti ini, berhenti terlalu lama hanya akan membuat mereka semakin rentan. Ia terus bergerak menuju tempat kendaraan yang telah disiapkan, sementara Aurora tetap berada dekat di belakangnya.

Di tengah perjalanan, pandangan Kael menangkap beberapa tabung gas yang telah rusak akibat ledakan. Ia berhenti sejenak untuk memperhatikan keadaan sekitar.

Dari situ, sebuah dugaan mulai terbentuk dalam pikirannya. Ledakan yang terjadi kemungkinan berkaitan dengan benda-benda tersebut. Namun Kael tidak ingin mengambil kesimpulan terlalu cepat. Jika kejadian ini benar-benar direncanakan oleh kelompok kriminal, mereka bisa saja sengaja meninggalkan petunjuk yang menyesatkan.

Malam semakin gelap. Asap dan debu membuat jarak pandang semakin terbatas.

Kael merendahkan tubuhnya dan memberi isyarat agar Aurora tetap berada di belakangnya. Ia mengangkat senjatanya dalam posisi siaga, matanya terus menyapu keadaan di sekitar mereka.

Tiba-tiba—

Dor! Dor!

Suara tembakan memecah kesunyian.

Aurora refleks membeku. Napasnya tertahan dan matanya terpejam rapat. Ia hanya mampu mengikuti pergerakan Kael, melangkah ke mana pun pria itu membawanya.

“Aurora, tunduk!” perintah Kael tegas.

Aurora segera merendahkan tubuhnya.

Dor!

Suara tembakan kembali terdengar dari kejauhan.

Kael bergerak cepat mencari tempat yang lebih terlindung, memastikan Aurora tetap berada di belakangnya. Wajahnya tetap tenang, tetapi tatapannya menunjukkan kewaspadaan penuh.

“Jangan menjauh dariku.” katanya singkat.

Aurora mengangguk tanpa suara.

Tangannya mencengkeram ujung pakaian Kael, sementara suara keributan masih terdengar di sekitar mereka.

Untuk sesaat, semuanya terasa begitu sunyi setelah suara tembakan terakhir.

Namun Kael tahu, keheningan itu bukan berarti keadaan telah aman.

Bisa jadi, justru sesuatu yang lebih besar sedang menunggu mereka di depan.

Aurora menunduk mengikuti perintah Kael.

Sesaat kemudian—

Dor!

Suara tembakan kembali memecah udara. Peluru melintas sangat dekat dari posisi mereka, membuat Aurora tersentak dan semakin menundukkan tubuhnya.

“Buka matamu dan perhatikan keadaan!” tegur Kael tegas. “Jangan hanya memejamkan mata. Kau harus tahu apa yang terjadi di sekitarmu.”

Aurora perlahan mengangkat wajahnya. Napasnya masih memburu, sementara pandangannya bergerak gelisah mengikuti situasi.

Kael mengamati arah datangnya tembakan.

“Dari mana mereka menembak?” gumamnya.

Belum sempat Aurora menjawab—

Dor! Dor!

Beberapa suara tembakan terdengar berturut-turut dari arah berbeda.

Kael segera mengambil posisi untuk melindungi Aurora sambil memperhatikan celah di antara bangunan yang dipenuhi asap. Ia bergerak cepat dan terukur, berusaha menjauh dari area terbuka.

Aurora hanya mampu mengikuti langkahnya.

“Ya Tuhan...” bisiknya dengan suara bergetar. “Ini benar-benar mengerikan.”

Kael tidak menjawab. Fokusnya tertuju pada keadaan di sekitar mereka.

Tiba-tiba terdengar satu letusan lagi.

Dor!

Kael mengumpat pelan. Persediaan amunisi yang dibawanya sudah habis. Senjata itu kini tidak lebih dari perlengkapan cadangan untuk berjaga-jaga.

Ia tetap menggenggamnya erat, bukan untuk mencari pertarungan, melainkan sebagai pengingat bahwa ia harus tetap waspada.

“El...” Suara Aurora terdengar lirih.

Kael menoleh dan tertegun sejenak, sebab ini adalah pertama kalinya ada yang memanggilnya seperti itu.

Apakah ini yang namanya panggilan sayang?

Hm... Entahlah.

“K-Kak Adrian di mana?” suara Aurora bergetar.

Pertanyaan itu membuat ekspresi Kael sedikit berubah.

Di tengah kekacauan yang semakin luas, Aurora masih memikirkan kakaknya.

Kael menatapnya sekilas. “Jangan pikirkan kakakmu sekarang. Utamakan keselamatanmu sendiri. Kita bahkan belum keluar dari tempat ini.”

Nada tegas Kael justru membuat Aurora semakin gugup. Namun ia tahu pria itu sedang berusaha membuatnya tetap sadar terhadap keadaan.

Gaun pengantin yang dikenakannya sudah tidak lagi rapi. Bagian bawahnya telah dipotong agar tidak menghambat langkah, sementara debu dan asap membuat penampilannya jauh dari kesan seorang pengantin.

Situasi yang mereka hadapi terasa begitu tidak nyata—seolah sebuah adegan film aksi berubah menjadi kenyataan di depan mata.

“Aurora, merunduk!”

Kael melihat sesuatu bergerak dari arah depan dan segera memberi peringatan. Ia sendiri kesulitan menghindari setiap ancaman yang datang dari berbagai penjuru.

“Agh...” desis Kael pelan ketika salah satu serangan membuat bahunya kembali terasa nyeri.

Tanpa membuang waktu, Kael menarik Aurora ke hadapannya dan menempatkan tubuhnya sebagai pelindung. Aurora berlindung di balik tubuhnya, sementara Kael tetap berusaha mengawasi keadaan.

Bahunya telah terluka, tetapi ia tidak membiarkan rasa sakit itu mengalihkan perhatiannya.

Bertahun-tahun berada di dunia yang keras membuat Kael terbiasa menghadapi situasi berbahaya. Namun malam itu terasa berbeda. Ia tidak mengenakan perlindungan apa pun dan hanya mengandalkan kewaspadaan serta pengalaman yang dimilikinya.

Sial.

Hari buruk rupanya tidak pernah membutuhkan tanggal khusus untuk datang.

Kael menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menatap ke depan.

“Pegang aku dan jangan bergerak sendiri.” katanya tegas.

Aurora menurutinya. Di tengah asap, suara kekacauan, dan ketegangan yang belum mereda, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah memercayai Kael untuk membawanya keluar dari sana.

Setelah melewati berbagai rintangan, Kael akhirnya berhasil membawa Aurora sampai ke mobil yang telah menunggu di ujung jalan. Ia segera membuka pintu dan memastikan Aurora masuk terlebih dahulu.

Namun, baru saja Kael hendak menyusul, sesuatu yang dingin menyentuh bagian belakang tubuhnya.

Sebuah senjata telah diarahkan tepat kepadanya.

“Aku tahu amunisi milikmu sudah tidak tersisa,” ujar pria bertubuh tinggi di belakangnya dengan nada penuh kemenangan. “Jadi, berhentilah melawan. Menyerahlah, Tuan. Malam ini akan menjadi akhir dari perjalananmu.”

Kael perlahan mengangkat kedua tangannya. Napasnya terdengar berat setelah melewati kekacauan sebelumnya.

Ia tertawa pendek, seolah ancaman itu sama sekali tidak membuatnya gentar.

Pria tersebut justru semakin percaya diri.

“Lihatlah! Bahkan seorang King Mafia sepertimu akhirnya berada di bawah kendaliku!” serunya dengan tawa puas.

Kael menatapnya dari balik bahu. Tatapannya tetap dingin, nyaris tanpa rasa takut.

“Kalau begitu...” suara Kael rendah. “Kita lihat siapa yang sebenarnya terlalu cepat merayakan kemenangan.”

Pria itu mengangkat senjatanya sedikit lebih tinggi.

“Matilah kau!”

Sreeekk!

“Aaakkhhhh...!”

...****************...

1
Nur Halida
oh jadi brema kek gitu ...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
Yudi Chandra: Hahaha....betul juga ya😅
total 1 replies
Nur Halida
pernikahan itu terjadi karena kamu menggagalkan pernikahan aurora dg brema kael kalo kamu lupa ..
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
Yudi Chandra: hihihi....kamu tuh yaaaa🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
aku baru ngeh kalo sekarang aurora gak manggil om lagi😁
Nur Halida
loh kok ayahnya ??bukannya aurora dan adrian udah gak punya ortu??🤔
Yudi Chandra: Hehehe...😅 maaf ya, aku khilaf 🙏
skarang udah aku koreksi.😊
total 1 replies
Visitor7755
uhui..
Yudi Chandra: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
baru aja nikah udah mau gelut aja😁
Yudi Chandra: Hehehe....abis istrinya cantik🤭
total 1 replies
Nur Halida
nah .. gitu dong kael .. tangging jawab sama aurora ... kirain kamu gak bakal dateng .. ku susul kau ke rumahmu kalo berani gak dateng..😁
Yudi Chandra: helleh...emang tau alamatnya🤭
total 1 replies
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Yudi Chandra: it's okey.😊 but thanks for stopping by.🙏🤗
total 1 replies
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Yudi Chandra: 😘😘😘💞💞💞💞
total 3 replies
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Yudi Chandra: sabar buuu🤗🤭
total 1 replies
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!