Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Kael membuka jas yang dikenakannya. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan kain itu lalu mengikatkannya secara longgar di sekitar wajah Aurora, menutupi hidung dan sebagian kepalanya.
“Pakai ini. Asapnya semakin tebal, dan aku tidak ingin wajahmu mudah dikenali.” ujar Kael dengan suara rendah.
Aurora menatapnya dari balik kain yang menutupi sebagian wajahnya.
“Menjadi istri dari seorang pria sepertiku bukan perkara sederhana.” lanjut Kael. “Kau harus terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Kau harus cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri dan cukup waspada untuk tidak membiarkan identitasmu diketahui sembarang orang. Aku punya banyak musuh di luar sana. Selama kau berada di sisiku, bahaya bisa datang kapan saja.”
Nada bicaranya terdengar dingin, tetapi ada ketegasan yang membuat Aurora sadar bahwa peringatan itu bukan sekadar gertakan.
Kael kemudian bergerak sedikit ke depan, menempatkan tubuhnya di antara Aurora dan keadaan di luar. Ia seolah menjadikan dirinya penghalang pertama jika sesuatu tiba-tiba terjadi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurora benar-benar merasakan ketakutan yang berbeda.
Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini berubah menjadi bangunan yang nyaris tak dikenali. Sebagian dinding telah runtuh, debu memenuhi udara, dan pecahan benda berserakan di mana-mana.
Mereka berjalan menuju tangga.
Sebagian anak tangga sudah rusak dan tidak lagi kokoh. Kael berada beberapa langkah di depan Aurora, memastikan pijakan yang mereka lewati masih cukup aman sebelum melanjutkan perjalanan ke bawah.
“Uhuk... uhuk...”
Suara batuk terdengar dari sekitar mereka.
Kael langsung berhenti.
Pendengarannya yang tajam menangkap berbagai suara samar dari balik kepulan asap—suara langkah kaki, benda yang bergeser, dan keributan dari kejauhan.
Ia menoleh sedikit ke arah Aurora.
“Jangan jauh-jauh dariku.”
Aurora mengangguk pelan.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati, sementara Kael terus memasang kewaspadaan penuh. Di tengah rumah yang hampir porak-poranda itu, ia tahu satu hal: bahaya belum berakhir.
Kael sama sekali tidak menghiraukan teriakan orang-orang yang meminta pertolongan. Dalam keadaan seperti ini, berhenti terlalu lama hanya akan membuat mereka semakin rentan. Ia terus bergerak menuju tempat kendaraan yang telah disiapkan, sementara Aurora tetap berada dekat di belakangnya.
Di tengah perjalanan, pandangan Kael menangkap beberapa tabung gas yang telah rusak akibat ledakan. Ia berhenti sejenak untuk memperhatikan keadaan sekitar.
Dari situ, sebuah dugaan mulai terbentuk dalam pikirannya. Ledakan yang terjadi kemungkinan berkaitan dengan benda-benda tersebut. Namun Kael tidak ingin mengambil kesimpulan terlalu cepat. Jika kejadian ini benar-benar direncanakan oleh kelompok kriminal, mereka bisa saja sengaja meninggalkan petunjuk yang menyesatkan.
Malam semakin gelap. Asap dan debu membuat jarak pandang semakin terbatas.
Kael merendahkan tubuhnya dan memberi isyarat agar Aurora tetap berada di belakangnya. Ia mengangkat senjatanya dalam posisi siaga, matanya terus menyapu keadaan di sekitar mereka.
Tiba-tiba—
Dor! Dor!
Suara tembakan memecah kesunyian.
Aurora refleks membeku. Napasnya tertahan dan matanya terpejam rapat. Ia hanya mampu mengikuti pergerakan Kael, melangkah ke mana pun pria itu membawanya.
“Aurora, tunduk!” perintah Kael tegas.
Aurora segera merendahkan tubuhnya.
Dor!
Suara tembakan kembali terdengar dari kejauhan.
Kael bergerak cepat mencari tempat yang lebih terlindung, memastikan Aurora tetap berada di belakangnya. Wajahnya tetap tenang, tetapi tatapannya menunjukkan kewaspadaan penuh.
“Jangan menjauh dariku.” katanya singkat.
Aurora mengangguk tanpa suara.
Tangannya mencengkeram ujung pakaian Kael, sementara suara keributan masih terdengar di sekitar mereka.
Untuk sesaat, semuanya terasa begitu sunyi setelah suara tembakan terakhir.
Namun Kael tahu, keheningan itu bukan berarti keadaan telah aman.
Bisa jadi, justru sesuatu yang lebih besar sedang menunggu mereka di depan.
Aurora menunduk mengikuti perintah Kael.
Sesaat kemudian—
Dor!
Suara tembakan kembali memecah udara. Peluru melintas sangat dekat dari posisi mereka, membuat Aurora tersentak dan semakin menundukkan tubuhnya.
“Buka matamu dan perhatikan keadaan!” tegur Kael tegas. “Jangan hanya memejamkan mata. Kau harus tahu apa yang terjadi di sekitarmu.”
Aurora perlahan mengangkat wajahnya. Napasnya masih memburu, sementara pandangannya bergerak gelisah mengikuti situasi.
Kael mengamati arah datangnya tembakan.
“Dari mana mereka menembak?” gumamnya.
Belum sempat Aurora menjawab—
Dor! Dor!
Beberapa suara tembakan terdengar berturut-turut dari arah berbeda.
Kael segera mengambil posisi untuk melindungi Aurora sambil memperhatikan celah di antara bangunan yang dipenuhi asap. Ia bergerak cepat dan terukur, berusaha menjauh dari area terbuka.
Aurora hanya mampu mengikuti langkahnya.
“Ya Tuhan...” bisiknya dengan suara bergetar. “Ini benar-benar mengerikan.”
Kael tidak menjawab. Fokusnya tertuju pada keadaan di sekitar mereka.
Tiba-tiba terdengar satu letusan lagi.
Dor!
Kael mengumpat pelan. Persediaan amunisi yang dibawanya sudah habis. Senjata itu kini tidak lebih dari perlengkapan cadangan untuk berjaga-jaga.
Ia tetap menggenggamnya erat, bukan untuk mencari pertarungan, melainkan sebagai pengingat bahwa ia harus tetap waspada.
“El...” Suara Aurora terdengar lirih.
Kael menoleh dan tertegun sejenak, sebab ini adalah pertama kalinya ada yang memanggilnya seperti itu.
Apakah ini yang namanya panggilan sayang?
Hm... Entahlah.
“K-Kak Adrian di mana?” suara Aurora bergetar.
Pertanyaan itu membuat ekspresi Kael sedikit berubah.
Di tengah kekacauan yang semakin luas, Aurora masih memikirkan kakaknya.
Kael menatapnya sekilas. “Jangan pikirkan kakakmu sekarang. Utamakan keselamatanmu sendiri. Kita bahkan belum keluar dari tempat ini.”
Nada tegas Kael justru membuat Aurora semakin gugup. Namun ia tahu pria itu sedang berusaha membuatnya tetap sadar terhadap keadaan.
Gaun pengantin yang dikenakannya sudah tidak lagi rapi. Bagian bawahnya telah dipotong agar tidak menghambat langkah, sementara debu dan asap membuat penampilannya jauh dari kesan seorang pengantin.
Situasi yang mereka hadapi terasa begitu tidak nyata—seolah sebuah adegan film aksi berubah menjadi kenyataan di depan mata.
“Aurora, merunduk!”
Kael melihat sesuatu bergerak dari arah depan dan segera memberi peringatan. Ia sendiri kesulitan menghindari setiap ancaman yang datang dari berbagai penjuru.
“Agh...” desis Kael pelan ketika salah satu serangan membuat bahunya kembali terasa nyeri.
Tanpa membuang waktu, Kael menarik Aurora ke hadapannya dan menempatkan tubuhnya sebagai pelindung. Aurora berlindung di balik tubuhnya, sementara Kael tetap berusaha mengawasi keadaan.
Bahunya telah terluka, tetapi ia tidak membiarkan rasa sakit itu mengalihkan perhatiannya.
Bertahun-tahun berada di dunia yang keras membuat Kael terbiasa menghadapi situasi berbahaya. Namun malam itu terasa berbeda. Ia tidak mengenakan perlindungan apa pun dan hanya mengandalkan kewaspadaan serta pengalaman yang dimilikinya.
Sial.
Hari buruk rupanya tidak pernah membutuhkan tanggal khusus untuk datang.
Kael menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menatap ke depan.
“Pegang aku dan jangan bergerak sendiri.” katanya tegas.
Aurora menurutinya. Di tengah asap, suara kekacauan, dan ketegangan yang belum mereda, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah memercayai Kael untuk membawanya keluar dari sana.
Setelah melewati berbagai rintangan, Kael akhirnya berhasil membawa Aurora sampai ke mobil yang telah menunggu di ujung jalan. Ia segera membuka pintu dan memastikan Aurora masuk terlebih dahulu.
Namun, baru saja Kael hendak menyusul, sesuatu yang dingin menyentuh bagian belakang tubuhnya.
Sebuah senjata telah diarahkan tepat kepadanya.
“Aku tahu amunisi milikmu sudah tidak tersisa,” ujar pria bertubuh tinggi di belakangnya dengan nada penuh kemenangan. “Jadi, berhentilah melawan. Menyerahlah, Tuan. Malam ini akan menjadi akhir dari perjalananmu.”
Kael perlahan mengangkat kedua tangannya. Napasnya terdengar berat setelah melewati kekacauan sebelumnya.
Ia tertawa pendek, seolah ancaman itu sama sekali tidak membuatnya gentar.
Pria tersebut justru semakin percaya diri.
“Lihatlah! Bahkan seorang King Mafia sepertimu akhirnya berada di bawah kendaliku!” serunya dengan tawa puas.
Kael menatapnya dari balik bahu. Tatapannya tetap dingin, nyaris tanpa rasa takut.
“Kalau begitu...” suara Kael rendah. “Kita lihat siapa yang sebenarnya terlalu cepat merayakan kemenangan.”
Pria itu mengangkat senjatanya sedikit lebih tinggi.
“Matilah kau!”
Sreeekk!
“Aaakkhhhh...!”
...****************...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
maap,unfollow dan unsubscribe