Area 21+, harap bijak dalam membaca.
#Tersedia Versi Cetak untuk kelengkapannya.
Kamelia
Seorang gadis zaman modern yang melintasi waktu, ia harus menggantikan tubuh Putri Mahkota yang tak di inginkan oleh Putra Mahkota, namun siapa sangka, disaat ia terbangun menampilkan perubahannya justru Putra Mahkota malah jatuh cinta.
Tapi disisi lain, cinta Kamelia atau Putri Mahkota telah pupus dan digantikan oleh cinta dari Kakak iparnya sendiri, Kakak kandung Putra Mahkota.
Setelah pernyataan cinta yang ditolak oleh Kakak Ipar, lantas kah Kamelia memperjuangkannya atau justru sebaliknya...??
ig:@riiez.kha.37
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 32 : Ciuman
"Kau jangan khawatir aku akan mencari informasi tentang Nona Xio Meng dan sekarang kau perlu menenangkan Putri Ming Yue." Ucap pengawal Feng Lan yang di angguki oleh Pangeran Zhang. Ia merasa ragu mendatangi Ming Yue. Apa lagi dengan sikapnya beberapa hari yang lalu. Sudah pasti Ming Yue tak akan mau memaafkannya. Dengan tekad yang kuat dan meyakinkan dirinya, ia keluar dari kediamannya di ikuti oleh pengawal Feng Lan.
deg
Pangeran Zhang menghentikan langkah kakinya sebelum Putra Mahkota dan Ming Yue tertawa lepas. ia mengepalkan tangannya. Kabut hitam pun mulai menyelimuti tubuhnya, bukan karena ilmu hitam tapi karena amarah. Sesuatu mulai mengiris di dalam tubuhnya, rasa sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia Tanpa sadar, ia melangkah kan kakinya menuju ke arah mereka.
ehem
Ming Yue dan Putra Mahkota langsung menoleh. Mereka saling menatap, tidak ada lagi wajah senang di hati Ming Yue melainkan sebuah kebencian. Pangeran Zhang ingin mengeluarkan suaranya. Namun pita suaranya seakan terputus.
Untuk apa Kakak kesini? apa yang dia rencanakan? batin Putra Mahkota menggeram.
Baru saja aku tenang, kenapa malah muncul
"Hem, ada perlu apa Pangeran Zhang datang kesini?" tanya Putra Mahkota dengan wajah datar. Ia melihat ke arah Ming Yue dan tersenyum, ternyata Ming Yue mengabaikan keberadaan Pangeran Zhang. Tentu saja ia tak akan membuang kesempatan ini, ia akan membuat Pangeran Zhang sadar. Jika dirinya masih ada di hati Ming Yue.
Pangeran Zhang berederhem, beberapa kali ia mengeluarkan suaranya. Namun tenggorokannya terasa kering. Ia tak sanggup melihat wajah itu, hatinya berkeping-keping.
"Maaf jika aku mengganggu, aku hanya ingin," Pangeran Zhang menjeda. "Ingin berbicara berdua dengan Putri Mahkota."
Ingin sekali Ming Yue tertawa lebar, lalu mengatakan ada apakah gerangan yang membawanya datang menemuinya. Ming Yue melirik sejenak, lalu memutar bola matanya. Ia terlalu kecewa. Dengan mudahnya mengeluarkan satu kata yang mampu mematahkan hatinya.
"Bicaralah, aku suami Putri Mahkota," Lama-lama ia tidak tahan dengan kegugupan kakaknya. Benci dengan wajah yang meminta di kasihani oleh Ming Yue.
"Tapi,"
Seketika Ming Yue memotong perkataan Pangeran Zhang, "Jika tidak ada yang dibicarakan, lebih baik kita pergi saja." Ucap Ming Yue langsung pergi tanpa memperdulikan Pangeran Zhang yang tercengang. "Ming'er." Lirih Pangeran Zhang. Matanya kabur karena air mata yang ia tahan. Sementara Putra Mahkota ia memandang remeh Pangeran Zhang. "Lihatlah, dia sudah berpaling. Sudah aku katakan, Ming'er sudah melupakan mu."
Sesampai di kediamannya, Ming Yue berbalik, ia menatap Putra Mahkota. "Putra Mahkota, Putri ini lelah, bisakah beristirahat?" Ijin Ming Yue. Suasana hatinya tak berdamai. Ia takut hilang kendali.
Putra Mahkota mengangguk, ia paham. Ming Yue butuh waktu."Baiklah, Putri harus beristirahat." Jawab Putra Mahkota. Sebenarnya ia ragu meninggalkan Ming Yue, ia takut Pangeran Zhang akan menemuinya.
Ming Yue masuk kedalam, ia tidak memperdulikan Putra Mahkota yang ragu untuk meninggalkannya. Dalam hatinya ia penasaran apa yang ingin di bicarakan oleh Pangeran Zhang, walaupun ia tau jika Pangeran Zhang telah di jodohkan. Ia berharap dirinya akan bahagia walaupun tidak bersama orang yang dicintainya dan cepat melupakannya.
Ming Yue berjalan gontai ke arah kasurnya dan menghembuskan nafas lelah, ia memejamkan matanya. Berharap hari esok ia menemukan cahaya terang di hidupnya.
Pada malam harinya, Ming Yue tertidur pulas seperti orang mati, bahkan seorang laki-laki tampan yang mendekati ranjang nya, ia tidak tau. Laki-laki itu tersenyum dan mengelus pipi Ming Yue. Rasa hangat menjalar dari tubuhnya melewati jari-jari yang ia rasakan saat tangan kanannya menyentuh kulitnya.
Ming Yue yang merasakan ada yang mengelusnya, ia membuka mata indahnya dan membulatkan matanya melihat seorang laki-laki di depannya.
"Kau,"
Laki-laki itu pun membekap Ming Yue menggunakan tangannya, agar tidak menimbulkan suara.
Ming Yue mengangguk, sebagai tanda mengerti.
"Untuk apa Pangeran datang kesini?" tanya Ming Yue ketus.
Pangeran Zhang tersenyum, melihat orang yang dicintainya begitu menggemaskan ketika sedang marah.
"Maaf aku mengganggumu, setelah tadi pagi aku tidak bisa berbicara dengan mu, aku bertekad akan menemui mu malam ini," ucap Pangeran Zhang. Jika tidak melakukan ini, ia takut jika Ming Yue akan menghilang darinya.
"Bagaimana jika ada yang melihat, sebaiknya Pangeran pergi," Ming Yue menarik selimutnya, membelakangi Pangeran Zhang. Ia merindukan sosok laki-laki di belakangnya, tapi ia takut. Air bening pun keluar dari matanya.
"Ming'er aku hanya ingin menjelaskan, sebenarnya aku tidak mau dengan perjodohan itu,"
"Kenapa kau menjelaskan hal itu pada ku?"
"Karna kau adalah wanita yang aku cintai seumur hidupku," ucap Pangeran Zhang.
Ia mengelus kepala Ming Yue dengan penuh kasih sayang. "Aku mohon jangan menangis Ming'er," Hatinya seakan mati melihat tubuh itu bergetar karena menangis.
deg
Jantung Ming Yue berdetak begitu hebat, hatinya bagikan kupu-kupu yang sedang menari. Akan tetapi, ia langsung menyadarkan dirinya. Semuanya tidak mungkin terjadi. Mulai sekarang, mereka harus menjalani kehidupan masing-masing.
Pangeran Zhang mencium kepala Ming Yue. "Maaf," Ming Yue yang mendapatkan perlakuan seperti itu, ia menggeser tubuhnya, jantung seakan berlomba-lomba meminta keluar dari tempatnya. Wajahnya memerah dan memanas.
Sedangkan Pangeran Zhang tersenyum, ia membaringkan tubuhnya di samping Ming Yue dan memeluknya dari belakang.
"Ming'er aku mencintai mu, mulai hari ini aku akan memperjuangkan cinta kita."
Ming Yue yang mendengarkan perkataan Pangeran Zhang, lantas ia membalikkan badannya dan menatap bola mata hitam itu.
"Sungguh, bagaimana dengan Putri Xio Meng?"
"Aku akan melepaskan gelar ku, Putri Xio Meng tidak akan mau menikah dengan ku, jika aku bukan lagi seorang Pangeran. Mari kita hidup bersama dan menua bersama. Menjadi ibu untuk anak-anak ku." ucap Pangeran Zhang langsung mencium bibir Ming Yue dengan lembut.
blus
Pipi Ming Yue bertambah memanas, ia malu, tapi jujur ia ingin meminta lebih dan lebih antara bahagia dan sedih, tapi kata bahagia lah yang ia dapatkan sekarang. Sejenak ia melupakan perjodohan Pangeran Zhang. Ciuman itu mampu membuatnya melupakan semua kesedihannya dalam kedipan mata. Ia terharu, ia membuka mulutnya, membiarkan Pangeran Zhang memperdalam ciumannya. Lidahnya menari-nari di dalam mulut Ming Yue.
5 menit
10 menit
25 menit
Pangeran Zhang melepaskan ciuman nya dan tersenyum bahagia, hatinya bersyukur tidak mendapatkan penolakan dari Ming Yue.
"Aku sangat mencintai mu, Ming'er."
dua beradek tak perlu saling berebut
arus saling merelakan demi orang yang dicintai,,,,,,,😘😘👍👍💪💪🌷🌷❤️❤️