Kehidupan kali ini sangat buruk, Fen Hui ingin mengubah nasib nya. Tidak seperti kehidupan sebelumnya, dia hidup serba kecukupan. Tapi kali ini hidupnya tidak mudah, makan hanya dengan kentang dan ubi. Gandum yang ditanam di ladang tidak bisa dimakan! ayah yang selalu mengutamakan belajar dan bersenang-senang. Datang kerumah hanya untuk mengeruk uang ibunya, tidak bisa dibiarkan! kali ini Fen Hui ingin makan enak dan hidup nyaman sama seperti dikehidupan sebelum nya.
Jadwal update;Selasa,Rabu,Kamis,Sabtu dan, Minggu.
Libur Reguler;Senin dan Jum'at.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carrot_Line, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gong nya telah ditabuh
Suara tumbukan lesung terdengar di halaman belakang rumah Fen Hui, gadis itu tengah menumbuk kunyit yang sudah dia jemur sampai benar-benar kering. Menumbuknya memakan waktu sedikit lama karena memastikan kunyit telah menjadi bubuk halus. Apa lagi jumlahnya lumayan banyak, Fen Lang datang membuka pintu gerbang.
Mendengar suara tumbukan di belakang rumah, dia berjalan kesamping rumah dan mengintip. Senyumannya terangkat saat melihat Fen Hui,"Fu Qin pulang."
Fen Hui menghentikan kegiatan nya dan menoleh."selamat datang, ada keperluan apa kemari?"
"Aku bukan tamu kalau kau menyambut seperti itu, lihat. Fu Qin membawakan barang yang kau mau."
Sebuah busur dan 10 anak panah lengkap dengan tabung nya, membuat mata Fen Hui berbinar.
"Harganya sangat mahal, sekitar 2 Yuan untuk satu set hemat lah menggunakan anak panahnya."Fen Lang mengingatkan, agar Fen Hui tidak menyia-nyiakan anak panah.
"Terimakasih,"Fen Hui menerima satu set peralatan memanah dengan senang hati.
Fen Lang mengeluarkan belati kembar yang di balut dengan kain tebal."ini belatinya, Fu Qin memilih yang paling tajam berhati-hatilah menggunakan nya."
"Fu Qin memang bisa diandalkan."angguk Fen Hui.
Rasa bangga merambat di hati Fen Lang, ini pertama kalinya Fen Hui memuji."malam ini Fu Qin tidak bisa dirumah, harus mengantar Lao Ye ke desa sebelah untuk mengurus sesuatu."
"Baik, aku akan menjaga diri."
"Itu bagus, jangan bukakan pintu pada siapapun kecuali pada Paman ataupun Lao Lao."Fen Lang merasa khawatir, sebenarnya tidak mau meninggalkan Fen Hui.
Tapi Pak tua Fen Jiao menyuruhnya untuk ikut ke desa sebelah, sebelum pergi Fen Lang mengingatkan sesuatu.
"Akan Fu Qin ingatkan, jika terdengar suara gong yang ditabuh di aula leluhur oleh kepala desa. Kunci lah rumah rapat-rapat dan bersembunyi didalam rumah dengan baik"
"Mengapa? Apa alasannya untuk melakukan itu?"tanya Fen Hui penasaran.
Fen Lang diam sejenak memikirkan jawaban yang tepat."hanya berjaga-jaga, kalau desa sedang darurat maka gong akan ditabuh untuk memberitahu orang-orang di desa."
Ah, sekarang Fen Hui paham. Gong akan ditabuh saat situasi darurat. Fen Lang meremas bahu Fen Hui pelan, rasa khawatirnya benar-benar sulit ditepis.
"Pergilah, aku bisa menjaga diri dengan baik."
"Ya."angguk Fen Lang, lelaki itu pergi meninggalkan Fen Hui dengan langkah berat.
Fen Hui merasa cemas dengan ucapan Fen Lang tadi, mengingat cerita tentang bandit kemarin. Wajah Fen Hui semakin memucat, dia menatap tabung bambu berisi anak panah. Memikirkan sesuatu untuk mengatasi perlindungan diri ketika hal itu benar-benar terjadi. Apa lagi saat pergi kerumah tua, ada banyak orang menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Suasana desa sangat sepi tidak ada yang berani keluar satupun dari rumah.
"Aku baru mengingat sesuatu."senyum licik Fen Hui mengembang.
Gadis itu mengeruk semua kunyit bubuk dari dalam lesung, di masukkan kedalam kendi kecil dan di tutup rapat dengan kain. Sesuatu terlintas dibenaknya saat melihat kendi kecil yang rapuh mudah pecah. Fen Hui berlari kedalam dapur, mencari kendi kecil tak terpakai. Mengumpulkan minyak tanah, kain dari baju bekas yang tidak terpakai, dan sumbu yang biasa digunakan untuk lampu minyak.
Masukkan sumbu kedalam leher kendi, isi dengan minyak tanah tidak harus penuh. Cukup dengan 1/3 dari kendi, menutup kendi dengan kain bekas, melilit di leher kendi dan pastikan panjang sumbu diluar botol tidak lebih dari 5cm. Setelah selesai membuat lima buah, Fen Hui menaruh kendi-kendi itu di luar rumah. Menempatkan nya di sudut pagar, dan menaruh tangga kayu di tembok pagar.
"Hanya persiapan kecil saja."
Sebelum masuk kembali kerumah langkah Fen Hui terhenti."tapi bagaimana jika aku menggunakan nya dan secara tidak sengaja, api yang di hasilkan malah merambat kemana-mana?"
Sebuah pertanyaan besar itu menciutkan nyali Fen Hui untuk menggunakan nya. Dia menepis pikiran itu dan menutup rapat-rapat pintu serta jendela. Langit-langit berubah menjadi jingga, harum masakan merebak di dapur rumah. Fen Hui membuat menu spesial malam ini, di rumah ada kentang dan telur. Tebak apa yang Fen Hui buat?
Perkedel kentang, gadis itu sangat menyukainya selagi rasanya asin dan gurih, tekstur lembut tumbukan kentang sangat enak saat di campur dengan nasi.
"Hanya memotong dadu kentang dan menggorengnya, lalu apa?"Fen Hui berpikir keras.
Langkah selanjutnya yang dia harus lakukan, gadis itu melupakan resepnya. Lupakan, Fen Hui tidak berbakat untuk memasak banyak hidangan. Ingat perlahan-lahan, gadis itu memotong bawang merah tipis-tipis dan menggorengnya hingga kecokelatan. Menghaluskan bawang goreng dengan bawang putih, masukkan kentang goreng dan tumbuk hingga halus serta bumbu nya tercampur rata.
"Haruskah membuat nya dalam jumlah banyak? Tapi Fu Qin tidak ada, Lao Lao mungkin menginginkan nya."gumam Fen Hui.
Tangannya menambahkan garam, lada, dan dua kuning telur. Mengadukannya rata, sayang sekali tidak ada seledri pasti akan enak kalau dicampur dengan potongan halus daun seledri. Ambil sedikit adonan dan membentuk bulat pipih, digoreng dengan minyak panas.
Saat perkedel diangkat dan ditiriskan, suara Gong di tabuh terdengar sayup-sayup. Gerakan Fen Hui terhenti, tubuhnya menjadi kaku. Apa dia salah dengar? Gong nya baru ditabuh barusan. Gadis itu segera mematikan api, menyalakan lampu minyak dan menaruhnya di ruang tamu. Berjalan keluar rumah berhubungan rumahnya jauh dari perumahan orang-orang. Dia tidak bisa mendengar apapun kecuali suara Gong ditabuh, itu pun samar-samar ditelinga nya.
Langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu buruk terjadi, perkataan Fu Qin nya seakan menjadi kenyataan. Gadis itu berbalik masuk dan mengunci gerbangnya rapat, degup jantungnya terasa lebih cepat. Semoga saja sesuatu yang buruk tidak terjadi sama sekali.
Dirumah tua, pintu gerbang telah rusak. Jeritan histeris dari dalam rumah lain terdengar sangat jelas. Liu Meng Yi memeluk Fen Li gemetar ketakutan, saat seorang pria dengan tubuh besar dan parang masuk kedalam rumah mereka.
"Berikan hasil panennya, kalau ingin nyawa kalian tetap aman."
Wajahnya terlihat sangat menyeramkan, suara berat itu membuat Fen Li merinding, dia tidak bisa melawan. Seumur-umur dirinya tidak pernah berlatih beladiri.
"Y-ya, tentu kau bisa mengambil nya di gudang."jawab Fen Li.
Liu Meng Yi terkejut mendengarnya."apa yang kau katakan! Kalau musim dingin nanti kita tidak memiliki makanan, kau akan ku tendang dari rumah."
"Ambil padinya di gudang."
"Baik."
Pria itu tersenyum puas, dia merasa rumah kali ini mudah dirampas dan tidak melakukan perlawanan. Kapak nya pura-pura diayunkan membuat Liu Meng Yi menjerit takut.
"Sudah."
"Ambil uang dan barang berharga lainnya."
"Ambil saja padinya jangan ambil uang kami."jerit Liu Meng Yi, disaat kritis seperti ini nenek Fen Hui memikirkan uang.
"Diam, apa kau mau nyawa mu ku renggut?"
Liu Meng Yi menggeleng takut, dia diam berdiri disudut ruangan dengan tubuh gemetar. Karung-karung berisi padi dikeluarkan beberapa perhiasan dan 1 Yuan berada ditangan bawahan pria itu.
Mereka berjalan pergi tanpa meninggalkan satupun barang berharga, rumah tua benar-benar menjadi miskin.
Tidak seperti rumah tua yang beruntung tidak ada luka-luka dan hanya gerbang yang rusak. Rumah lain tidak hanya properti yang rusak tapi tubuh mereka terluka karena perlawanan. Orang gil* mana yang mau mati kelaparan di musim dingin.
Kepala desa terlihat tak berdaya saat sebilah pedang menempel dilehernya, tangannya gemetaran memegang pukulan Gong. Dia lah yang menabuh Gong nya saat salah satu pemuda melaporkan, sekelompok Bandit masuk ke desa dengan kuda mereka.
"Berapa banyak penghasilan panen sekarang?"
Kepala desa menggeleng."tidak tahu!"
"Keras kepala, cepat dobrak setiap pintu rumah di desa tanpa terkecuali sedikitpun."
"Baik Ketua."
Pria itu memerintahkan bawahannya, mereka berpencar dan bergerak cepat bersama kuda mereka.
⭐⭐⭐⭐⭐🙏🏼