Latizia adalah wanita yang bersuami. Parasnya yang cantik dan nyaris sempurna melekat tapi tak bisa merubah kenyataan rumah tangganya.
Ia harus menerima kepahitan saat melihat suaminya bercinta dengan wanita lain di kamarnya sendiri.
Tibalah suatu malam Latizia tak sengaja menyaksikan hubungan panas kakak iparnya bersama istri pria itu.
"Kau pasti juga ingin merasakannya, bukan?!" Desis sesosok pria bertubuh kekar tinggi yang tengah membekapnya dalam kegelapan.
Sejak saat itu Latizia terlibat hubungan terlarang dengan kakak iparnya yang bahkan lebih bengis dari sang suami. Pria itu menekankan jika hubungan mereka hanya sekedar saling memuaskan dan terlepas dari masalah apapun, pria itu tak ingin ikut campur.
Bagaimana nasib Latizia selanjutnya?! Mampukah ia terus bertahan dengan hubungan terlarang dirinya dengan pria bangsawan itu?!
......
Tinggalin like, komen and subscribe-nya ya say..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku ingin hamil!
Karena kebakaran di aula tadi ternyata melukai Ratu Artefea. Terpaksa wanita itu harus di rawat di istana utama Madison dan para dokter khusus yang biasa menangani keluarga kerajaan sudah menanganinya sedari siang.
Karena hal itu, Raja Barack akhirnya menemui Ximus yang menerima permintaan maaf dari pria itu.
"Karena kebakaran itu ibumu jadi terluka. Maaf atas semua yang terjadi, pangeran!"
"Aku mengerti Yang Mulia! Kejadian seperti itu memang tak bisa di duga," Jawab Ximus yang bicara di depan kamar Ratu Artefea.
Ximus diam sejenak. Ia melihat Raja Barack yang sedari tadi cukup cemas akan para petinggi kerajaan yang protes padanya.
"Yang Mulia! Ini sedikit aneh tapi, tak mungkin kebakaran itu terjadi tanpa sengaja karna aku lihat keamanan disini sangat tinggi!"
"Jadi, menurutmu ada orang lain di balik ini?" Tanya Raja Barack hingga Ximus tersenyum kecil.
"Aku hanya berpikir begitu. Tapi, tergantung bagaimana pendapat Yang Mulia!"
"Aku juga sependapat denganmu," Gumam Raja Barack menatap lurus ke depan.
Ximus mengambil nafas dalam. Ia mulai tahu sedikit demi sedikit tentang keluarga Madison Altariz. Anak pertama dan anak kedua Raja Barack tak akur bahkan mereka tak pernah berunding soal masalah kerajaan.
"Pangeran! Semoga kau nyaman disini."
"Tentu. Boleh aku berkeliling?" Tanya Ximus dan tentu saja Raja Barack langsung setuju.
"Tentu saja. Aku akan minta mentri Human untuk.."
"Tidak perlu, Yang Mulia! Aku akan menemui Delvin!"
Raja Barack mengangguk dan segera pergi. Ximus akhirnya bisa berkeliaran. Ia berjalan melewati beberapa kamar di lantai ini.
Ximus kagum dengan semua dekorasi dan banyak pilar megah yang berdiri. Memang tak jauh beda dengan kerajaanya tapi masing-masing wilayah punya keunikan sendiri sesuai apa yang melimpah disini.
Di tengah perjalananya, Ximus tak sengaja melihat pintu kamar seseorang terbuka. Ntah kenapa aroma mawar ini mengundangnya untuk berhenti dan agak canggung melihat kanan kiri.
Ximus seperti di tarik akan hawa yang ada di dalam. Ia mengintip di sela pintu dan melihat Latizia yang tengah memakai lotion seraya duduk di atas kursi meja riasnya.
Mata Ximus terpaku tak berkedip. Kebetulan Latizia memakai gaun tidur tapi masih memakai blazer yang menutupi bagian atasnya.
Hanya kaki jenjang putih pulen itulah yang di lihat Ximus bahkan ia sampai tak sadar dunia lagi.
Latizia masih asik mengusap betisnya sampai ia merasakan pandangan seseorang dan segera menatap pintu.
Tapi, tak ada orang sama sekali. Latizia berdiri merapikan bando di atas kepalanya lalu berjalan ke arah pintu.
"Serasa ada yang melihat," Gumam Latizia segera menutup pintu kamar.
Ximus yang tadi sempat bersembunyi di balik pilar di depan kamar Latizia langsung memejamkan mata.
Jantungnya berdebar tak karuan dan memang sejak tadi siang mendekati Latizia ia sudah merasa canggung tak seperti biasanya.
"Seharusnya aku punya peluang," Gumam Ximus membuka matanya. Ia ingin pergi tapi terhenti saat melihat seseorang yang berdiri di depan pintu kamar Latizia.
Sosok pria yang cukup membuatnya gentar tapi berusaha baik-baik saja.
"Hay!"
Sapa Ximus dengan canggung mendekati Milano yang sama sekali tak tersenyum padanya. Seperti biasa wajah datar dingin yang membuat siapapun enggan mendekat.
"Aku berkeliling. Kau.."
"Apa tak ada kamar di kerajaanmu?!" Tanya Milano tapi maksudnya sangat menohok.
Ximus diam merasa jika Milano juga menyukai Latizia. Respon pria ini cukup ambigu jika hanya sebatas kakak ipar.
"Ada. Tapi, kamar disini lebih menarik!"
"Hm, cukup untuk melenyapkan seseorang," Ucap Milano tapi intonasinya sangat serius.
Ximus berdehem. Berhadapan dengan Milano sangat berbeda rasanya saat bersama Delvin. Pria ini sangat mengintimidasi dan tak bisa salah bicara.
"Tadi aku melihat istrimu di bawah. Sepertinya dia mencari-mu, prince!" Ucap Ximus tapi niatnya bisa di pahami Milano.
"Ibumu juga tengah mencarimu," Jawab Milano hingga Ximus terdiam.
Keduanya saling pandang intens bahkan bisa di rasakan hawa panas yang mendominasi disini.
Tak ada yang mau beranjak sampai pintu kamar Latizia terbuka. Sontak wanita itu langsung mengernyit melihat Milano dan Ximus ada di depan kamarnya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Ximus langsung merubah raut wajahnya menjadi ramah.
"Aku ingin bertemu denganmu!"
"Aku juga," Jawab Milano menatap Latizia yang keheranan.
Ia diam sejenak merasa ada yang janggal disini tapi ia berusaha memahami interaksi aneh Milano dan Ximus.
"Kenapa?"
"Latizia! Aku ingin bicara soal bunga. Kerajaanmu menjual bunga terbaik diantara wilayah kami, bukan?" Tanya Ximus beralasan.
"Dan kau?" Tanya Latizia pada Milano yang ingin bicara tapi Latizia sudah tahu jika pria ini bicara akan bahaya.
"Baiklah, pangeran Ximus kita bicara di luar!"
"Baiklah," Jawab Ximus menatap penuh kemenangan pada Milano yang membiarkan Ximus berjalan duluan tapi saat Latizia melewatinya ada kalimat yang menyeramkan.
"Ingin bermain dengan rekaman panas kita?"
Deg..
Latizia terkejut. Ia menatap tajam Milano yang menunjukan sesuatu di layar ponselnya.
"Kauu..."
Latizia ingin merampas ponsel Milano yang memperlihatkan foto-fotonya yang tak memakai pakaian tapi pria itu langsung menahan tangan Latizia.
"Milano! Ini bukan mainan yang lucu."
"Lucu dimataku," Jawab Milano menyeringai. Latizia langsung menggeram marah tapi Milano tak peduli. Asal hatinya puas maka akan ia halalkan segala cara.
"Jika kau berani macam-macam. Akan-ku pastikan kedokmu akan terbongkar."
"Benarkah? Tunjukan padaku caranya!" Desis Milano segera mendorong pintu kamar lalu menarik Latizia ke dalam sampai pintu itu tertutup rapat.
Ada seseorang yang tadi menyaksikan semua itu sampai wajahnya kelap dan mendidih.
"Latizia!" Geramnya mengepal erat. Ada emosi dan rasa cemburu yang memenuhi wajahnya sampai rasa ingin menghabisi wanita itu mendominasi.
"Lihat saja. Akan-ku buat kau menyesal, aku bersumpah!" Geram putri Veronica segera menelpon seseorang.
"Putri!"
"Aku ingin racun yang bisa membuat tubuh seseorang menjadi busuk dan sangat mengerikan. Pagi ini kau harus memberikan racun itu padaku!" Titah putri Veronica menggebu-gebu seperti tak akan bisa menunggu hari esok untuk melenyapkan Latizia.
"Baik, putri!"
Putri Veronica mematikan sambungan. Ia mengambil nafas dalam untuk meredakan emosinya. Jika melabraknya sekarang pasti ia akan mati mendadak oleh Milano.
"Tunggu saja, kau tak akan memiliki wajah seperti itu lagi!" Gumam putri Veronica menatap benci pintu kamar Latizia lalu ia segera melangkah pergi untuk menyusun rencana esok hari.
Putri Veronica pergi menemui Ratu Clorris untuk mengadukan semua ini. Ia tak akan membuat Latizia hidup tenang jika masih berani mengusik Milano.
"Ibuuu!!" Panggilnya saat tiba di depan kamar Ratu Clorris yang tadi baru saja kembali dari ruangan Ratu Artefea.
"Veronica?"
"Bu! Aku tak tahan lagi dengan ja**lang satu itu!" Ucap putri Veronica dengan air mata buaya yang mengalir.
"Ada apa? Kenapa lagi dengan dia?"
"Bu! Aku ingin segera hamil. Aku ingin Milano tak bisa jauh dariku!" Desak putri Veronica membuat Ratu Clorris diam sejenak.
"Hamil?"
"Iya! Aku ingin memberi keturunan untuk kerajaan Madison," Jawab putri Veronica serius.
Ratu Clorris terdiam sejenak. Jika menolak-pun pasti tak akan bisa di hadapan wanita angkuh ini.
"Baiklah, ibu akan mengaturnya."
......
Vote and like sayang..