NovelToon NovelToon
Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Diam-Diam Cinta / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:527.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Buna Seta

Dewi rela berpisah dengan kekasihnya di kampung halaman. Lantaran, Dewi tergiur dengan keberhasilan Surti sahabatnya. Namun, Dewi tidak menyangka kepergiannya ke Jakarta akan mengalami nasib sial. Ia diajak Surti sahabatnya sendiri dengan alasan akan dicarikan pekerjaan. Tetapi ternyata Dewi dijual kepada seorang wanita paruh baya dan akan dijadikan kupu-kupu malam.

"Berapa harganya Surti?" Tanya wanita yang bernama Arinta.

"Karena sahabat saya ini wanita yang masih suci, 100 juta tidak mahal Mami."

Tanpa Dewi tahu malam itu juga Mami kedatangan tamu Casanova. Casanova minta wanita yang paling cantik malam ini.

"Karena wanita yang akan melayani Anda masih suci. 100 Juta saya kira tidak mahal, dan tidak akan mengecewakan Anda." Tutur Mami.

Casanova menganggukkan kepala.

"Apakah Dewi bisa lolos dari Casanova? Kita ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Dengan tidak punya perasaan Felicia mengatai Dewi yang tidak baik, tetapi Dewi tidak perduli, memilih turun dari ranjang. Lebih baik menyingkir dari wanita yang tidak tahu malu mengumbar aibnya sendiri membeberkan saat-saat berhubungan badan dengan Bram.

Felicia tidak tahu bahwa Dewi sudah mengetahui semua tentang Bram, kecuali satu. Yaitu tentang masalalu Bram dengan Felicia.

"Heh! Tunggu dulu!" Felicia menghadang langkah Dewi. Rupanya karena Dewi tidak terpancing dengan ucapanya maka Felicia semakin geram.

"Permisi, saya mau pulang, jika Anda hanya akan memamerkan hubungan terlarang Anda dengan Bram, bagi saya itu masa lalu Anda dengan Bram. Anda perlu tahu siapapun Bram dulu saya tidak perduli. Yang jelas, Bram saat ini sudah mencintai saya dan menjadi suami saya,"

"Kurangngajar!" Potong Felicia mendengar ucapan Dewi, Felicia marah besar. Tanganya diangkat hendak menampar Dewi.

"Non Dewi..." Panggil Ami dari luar karena pintu tidak ditutup, Felicia menurunkan tangannya.

"Non Dewi tidak apa-apa..." Ami masih terengah-engah, rupanya ia jalan terburu-buru hawatir terjadi sesuatu dengan nona nya.

************

Tidak seorang pun manusia yang menginginkan sakit. Sakit adalah kondisi yang harus dihindari, seperti yang dipikirkan pria ini. Selama ini Bram selalu santai menjalani hidupnya, karena memang tidak pernah merasakan apa itu sakit. Namun kecurigaan Dewi akan penyakit yang ia derita setelah bangun tidur tadi pagi adalah cambuk baginya.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit perasaannya tidak karuan, jika benar ia menderita penyakit mematikan itu. Sudah pasti ia akan kehilangan Dewi untuk selama-lamanya.

"Tidaaakkk...."

Ciiittt...

"Ada apa Tuan... Tuan bermimpi?" Zaidan mengerem mendadak, menoleh ke belakang dimana Bram duduk. Supir Bram itu hendak turun melihat keadaan Bram. Namun, Bram menggerakan tangan tanda penolakan

"Lanjutkan perjalanan Zay." Titahnya dengan mata terpejam.

"Baik Tuan." Zaidan kembali menyandak stir yang masih dalam keadaan menyala lalu melanjutkan perjalanan.

Bram menumpu dagu, sesal memang selalu di belakang. Jika yang dikatakan Dewi benar-benar terjadi, bayangan hidupnya ke depan sudah tergambar curam.

"Sudah sampai Tuan." Zaidan menyadarkan lamunan Bram. Tiba-tiba pintu mobil sudah terbuka, lalu kaki jenjangnya memijak pelataran rumah sakit ternama di kota Amsterdam. Dengan perasaan kacau Bram menuju ruang periksa yang sudah dikirimkan anak buahnya lewat internet.

Bram memangku satu kaki di ruang tunggu, menunggu dipanggil, karena orang suruhannya sudah mengurus semua.

"Raxel Andro Bramanstya." Panggil petugas setelah Bram menunggu hingga beberapa menit kemudian. Kini ia bangkit masuk ruangan, netranya menangkap dokter Albert sudah menunggu.

"Selamat pagi..." Sapa dokter Albert, dokter spesialis penyakit mematikan tersebut.

"Selamat pagi Dok." Bram menyambut uluran tangan Albert kemudian melungguhkan bokongnya.

Albert menanyakan permasalahan yang dihadapi Bram. Tanpa malu dan ragu, Bram menuturkan dengan lugas bagaimana kehidupannya di masa lalu. Albert mengangguk tanpa memotong ucapan Bram. Dokter itu tidak heran jika ada masalah seperti ini sudah tidak jarang ia hadapi. Mengingat maraknya pros ti tusi di negara ini. Bukan seperti di Indonesia.

Bram pun menjalankan rangkaian pemeriksaan, namun masih menahan perasaan ketar ketir, lantaran masih menunggu hasilnya sore nanti.

"Permisi Dok." Bram pun meninggalkan tempat itu.

"Hai Bram." Sapa pria ketika Bram tiba di lobby.

"Hai Mal' Jawab Bram, ternyata orang itu adalah dokter Jamal, yang menangani kehamilan Dewi. Jamal menatap raut wajah sahabatnya tampaknya sedang tidak baik-baik saja.

"Kenapa istrimu?" Jamal pikir Dewi mengalami sesuatu dengan kandungannya.

"Alhanduliah, istri saya sehat tetapi bukan Dewi yang periksa, melainkan aku sendiri." Bram tampak tidak bersemangat.

"Kita ngobrol yok." Jamal bermaksud menghibur sahabatnya. Sekedar minum kopi dan ingin menanyakan ada apa.

"Memang kamu nggak lagi piket?" Bram tentu tidak mau mengganggu tugas sahabatnya, sebagai dokter tentu Jamal mempunyai segudang aktivitas.

"Nggak kok, aku piket malam." Jawab Jamal. Dua mobil mewah menuju salah satu Cafe setelah mereka sepakat nongkrong pagi.

"Bram, aku heran, istri kamu kok mau sih sama pria yang sudah meninggalkan botolnya kemana-mana seperti kamu? Haha." Kelakar Jamal, kerena Bram sudah bukan rahasia lagi bagi Jamal. Begitu melihat Dewi ketika periksa kemarin, Jamal tahu bahwa istri Bram bukan wanita sembarang wanita.

Bram tersenyum kecut, lalu menyeruput latte yang baru saja tiba.

"Apa sudah berakhir petualangan botolmu dan akan menjadikan istrimu sebagai pelabuhan terakhir?" Kali ini Jamal sungguh-sungguh.

"InsyaAllah Mal, doakan saja istriku mau memaafkan aku." Lirih Bram.

"Memaafkan? Jadi... istrimu itu masih membenci kamu?" Cecar Jamal.

Tanpa ada yang ditutup-tutupi Bram menceritakan awal pertemuannya dengan Dewi. Dewi ternyata mampu mengistirahatkan petualangan botolnya yang selalu mencari kepuasan sedetik.

"Hebat istri kamu itu Bram, kalau ada stok wanita sepertinya lagi, aku mau." Jamal terkekeh.

"Lalu tujuan kamu ke rumah sakit tadi apa Bram?" Jamal melanjutkan obrolan yang tertunda ketika di rumah sakit.

Bram meneguk kopi latte sedikit lalu meletakan kembali. "Aku bingung Mal, kamu kan tahu seperti apa aku dulu. Istri aku minta agar aku memeriksakan diri." Bram bercerita panjang lebar mengenai permintaan Dewi. Selama ini ia tidak pernah curhat kepada siapa pun kecuali dengan Jamal.

"Permintaan istrimu itu suatu pertanda bahwa Dia akan memulai hidup serius bersama kamu Bram. Menurut pemikiran aku dengan suatu sarat kamu benar-benar sehat," Tutur Jamal.

"Itu yang aku pikirkan saat ini Mal, masalahnya jika hasilnya nanti positif, aku akan kehilangan semuanya." Bram nenarik napas berat.

"Sudah... berpikir positif saja Bram, semoga kamu sehat dan kamu benar-benar bertaubat. Semoga kamu bisa hidup rukun dengan Dewi,"

Derrttt... deeerrrtt...

Saat sedang serius bicara, handphone Bram ada panggilan masuk. Bram segera meneliti layar bertuliskan 'Honey' Wajah Bram berseri lalu mengangkat telepon dengan antusias. Karena Dewi sudah mau menghubungi dirinya.

Namun wajah Bram kembali muram karena yang telepon adalah Ami, mengatakan bahwa saat ini Dewi sedang ada masalah dengan Felicia.

"Kenapa kamu mengajak Dewi kesana Bi?!" Seru Bram, seketika mematikan sambungan telepon.

"Aku duluan Mal." Ujarnya sambil berlalu.

...~Bersambung~...

1
echa purin
👍🏻
putrie_07
kok bisa Sampek ke kentut sih Thor imajinasi nya 😂😂
ampun dah, ngakak🤣🤣
Zieya🖤
jangan pula nanti casanova ini akan jadi jodoh Dewi.... kasian sekali Dewi😔
Bahari Sandra Puspita
Alhamdulillah, akhirnya happy ending for all characters..
kakak othor baik banget deh, semua pemeran diberi akhir yg bahagia..
yg awalnya tertindas ataupun tersakiti berakhir bahagia..
yg awalnya peran antagonis juga pada insyaf semua..
yah, memang semua sudah ditakdirkan oleh Allah, kita hanya tinggal menjalani saja dg penuh keikhlasan, kesabaran dan rasa syukur..
jangan lupa senantiasa terus memperbaiki diri dan mendekat pada Allah..
InsyaAllah, seperti apapun awalnya, akan berakhir indah pada waktunya..

makasih kakak, udah bikin cerita sebagus ini..
udah gak ada lg spin off nya ya, ini yg terakhir..
mulai dari cerita Gendis, Mak Ningrum dan Gayatri, trus terakhir kisah Dewi..
semuanya bagus kakak..
semoga selalu diberikan kesehatan..
tetap semangat berkarya dan berjuang dalam hidup ini..
semoga sukses selalu kakak..
🙏🏻💪🏻😘🥰😍🤩💕💕💕
Buna Seta: Terima kasih Kakak...
total 1 replies
komalia komalia
sukur
komalia komalia
telat kamu bram
komalia komalia
susah kalau engga ada yang ngejelasin mlaah makin parah makin melebar
komalia komalia
jelasin lah wii
komalia komalia
waah surti sekarat
komalia komalia
dewi sama bram belum nikah resmi kan
komalia komalia
waah si bram buka puasa
komalia komalia
ooh iha si bram apa engga takut nnti ada Yang ngaku anak nya,secara sama dewi aja dia engga pake pengaman Langsung tekdung apa engga ada seperti dewi
komalia komalia
kena hiv kah si surti suriti
komalia komalia
opa di panggil mas pula ngegajlig
komalia komalia
waah beruntung tuh supir mobil nya di jadikan tempat melahir kan
komalia komalia
sukur lah mati kamu felicia
komalia komalia
waah minho jadi si bram kaya nya kalau wajah belanda kurang srek dengan wajah ayang minho
komalia komalia
bukan nya si surti udah di penjara,waktu bawa motor gayatri
komalia komalia
mau di jodoh kan sama si surti yang llebih bobrok dasar Orang tua engga ada hati
komalia komalia
biar lumpuh sekakian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!