Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.
Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.
Bram tak mencintai Habibah!
"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.
Walaupun terus saja terjadi.
"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.
"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.
Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?
Yuk baca>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilih salah satu
"Apakah kau yakin akan tetap bertahan di perusahaan Ayahmu?" tanya Bram ketika mobil mereka sudah melaju.
"Iya Mas. Aku bukanlah anak yang tak punya ayah, aku lahir dari pernikahan yang sah. Hanya, aku tidak diketahui." Habibah tersenyum kecut. "Dan entahlah, apakah aku akan di akui."
Bram menarik nafas, tidak yakin Rudy akan mengakui Habibah, selama ini dia hanya tahu Larisa putri satu-satunya.
"Aku jadi penasaran dengan asisten Hiko." ucap Habibah kemudian.
"Dia ayah dari laki-laki yang suka menguntit-mu, tapi aku tidak pernah melihatnya." jawab Bram sedikit mengetahui tentang siapa saja teman Ayahnya. Jika itu rekan atau teman dekat, sudah pasti pernah datang kerumahnya.
"Lee juga tidak pernah bercerita tentang ayahnya, hanya dia bercerita tentang ibunya yang pergi meninggalkan saat masih kecil." Habibah jadi banyak berpikir.
"Apakah kau tidak curiga dengan laki-laki yang selalu setia mengikuti mu? Dia terlihat baik tapi penuh teka-teki." Bram melirik ke belakang, tapi mobil milik Lee tidak ada.
"Dia sama seperti Ayah, ingin aku selalu baik-baik saja." ucap Habibah tersenyum.
"Lalu aku?" Bram menunjuk wajahnya sendiri.
"Waktu itu kau sangat membenciku Mas, padahal aku sangat berharap kau selalu menemaniku, menjagaku dan menghiburku, seperti Lee."
"Jangan membuatku marah." kesal Bram mendengar Habibah memuji orang lain.
"Tidak Mas." Habibah segera meraih lengan Bram dan memeluknya. Ternyata dia bisa cemburu juga, semakin membuat senang Habibah.
"Kita sudah sampai." ucap Bram, mengisyaratkan agar pelukan Habibah segera dilepaskan.
"Baiklah." Habibah segera melepaskan, beranjak keluar dari mobil itu.
"Kalian sudah pulang." ucap Frans yang sedang duduk tak jauh dari mobil mereka. Suasana sore yang redup membuat sepasang suami istri yang sudah tua itu sangat menikmati senja dan minum teh bersama.
"Assalamualaikum Ayah, Ibu." Habibah meraih tangan keduanya bergantian.
"Duduklah, kau pasti lelah." Ibu mertuanya menuang teh untuk Habibah.
"Terimakasih Ibu." segera menerima teh tersebut dan meminumnya.
"Bagaimana di kantor?" tanya Frans terlihat sedikit khawatir.
"Baik-baik saja Ayah, hanya terasa rumit ketika seorang wanita yang merebut ayahku kini berkuasa di kantor itu. Aku tidak tahu harus seperti apa menghadapinya, aku tidak sebanding dengan dirinya."
"Itu sebabnya aku ingin kau keluar dari Kantor tersebut, menghindari orang-orang yang sudah pasti tidak akan diam saja dengan kehadiranmu." Bram menyahut.
"Tapi di sana adalah Ayahku Mas."
"Aku tahu, dan bisakah kau tidak egois. Tidak semua bisa kau dapatkan Habibah, ada kalanya kita harus merelakan salah satu agar tidak terjadi kerumitan-kerumitan di dalam hidup. Kau bisa tenang, dan Larisa juga bisa hidup tenang."
"Aku memilikimu lalu merelakan Ayahku? Maksudmu adalah jangan membuat Larisa bersedih karena aku sudah mendapatkan dirimu sebagai suamiku?" marah Habibah.
"Habibah bukan itu maksudku."
"Lalu bagaimana ketika ibuku hidup sendiri dengan hati yang merana, dan mereka bersenang-senang dengan kehadiran Larisa? Jangan lupa kalau aku anaknya Mas."
"Aku tahu, tapi alangkah baiknya jika kau mengalah!"
Habibah tercengang dengan ungkapan Bram yang menurutnya lebih membela Larisa.
"Jika terus saling membalas, maka semuanya tak akan pernah berakhir." sambung Bram lagi.
Habibah beranjak dari duduknya, meninggalkan Bram dan semuanya.
"Habibah." Bram memanggilnya.
"Bram! Duduklah." Frans menahan Bram untuk mengejar Habibah.
"Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu. Yang terbaik menurutmu, belum tentu terbaik menurut istrimu." ibunya langsung menasehati.
"Tujuan dia datang ke sini, adalah mengambil apa yang menjadi haknya, miliknya. Dan alasan dia di besarkan oleh orang lain, adalah karena keluarga Larisa bukan orang baik. Kau harus tahu itu." ucap Frans kepada Bram.
"Tapi tidak akan mudah Ayah." sahutnya.
"Justru itulah kau dan juga Ayah, beserta orang-orang kepercayaan kakeknya yang masih tersisa akan membantu Habibah. Harusnya kau mendukung istrimu."
Bram menunduk. "Mengapa tidak di katakan saja dari sekarang agar tidak berlarut-larut dan semakin membingungkan."
"Kau yakin Habibah akan mendapatkan haknya jika kita mengatakannya sekarang? Ayah rasa tidak."
Bram menatap ayahnya, benar sekali jika Habibah tak akan mendapatkan apa-apa, terlebih lagi posisi Marisa yang mendominan.
Belum juga terungkap, malah fakta yang di sebutkan adalah Habibah anak Hiko.
"Ayah, boleh aku tahu dimana asisten Hiko itu berada?" tanya Bram tiba-tiba, dia ingat jika Marisa mengatakan istrinya adalah anak dari Hiko.
"Ayah tidak tahu." jawab Frans menyandar, dia hanya memandangi Bram dengan banyak berpikir. Antara percaya dan tidak percaya jika putranya sudah memilih Habibah.
"Baiklah, aku harus berbicara dengan Habibah.
Bram beranjak, segera menyusul Habibah yang sudah pasti sedang marah.
Pria itu membuka pintu kamar mereka, tentu keberadaan istrinya tak akan jauh jika sedang bersedih, antara ranjang dan balkon.
Benar saja, dia sedang duduk di balkon kamar mereka. Memandangi jalanan yang ramai orang berlalu lalang, meskipun jarak antara rumah ke rumah yang lain tak begitu padat, tapi di sore hari ada banyak orang yang keluar dan bergabung di jalanan, hanya sekedar jalan-jalan.
"Maaf." ucap Bram berdiri dekat sekali dengan istrinya, dada bidangnya nyaris menempel di punggung Habibah.
Terdengar tarikan nafas berat dari wanita yang berdiri itu. Dia tak berbalik, juga enggan bergerak.
"Aku tahu kau marah. Tapi sungguh aku tidak sedang membela Larisa. Bukankah sekarang kita sedang menjalani rumah tangga yang baru, suasana dan perasaan yang baru?" Bram mencoba membuat wanita itu berbalik menatapnya.
"Tidak ada yang baru Mas, hatimu masih saja terjerat dengan kisah lama." jawabnya tanpa berbalik juga.
"Tentu saja tidak. Buktinya aku di sini, sedang membujuk istriku yang sedang merajuk." ucapnya lagi seperti sedang merayu.
"Jika aku istrimu, harusnya kau menjaga perasaanku." akhirnya dia berbalik, menatap Bram yang berdiri sangat dekat.
"Lalu aku harus apa? Apakah pulang bersamamu dan meninggalkan Larisa masih belum menjaga perasaan mu?" dia mendekatkan wajahnya, hampir berciuman.
"Mas, aku butuh dukungan secara utuh, tak hanya pembuatan tapi juga ucapan. Kata-katamu yang baik akan membuat aku lebih tenang, dan tidak takut menghadapi semuanya ini."
"Habibah, Aku hanya ingin kita hidup tenang, dan merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Bukankah jika Tuhan menghendaki, maka akhirnya Ayahmu akan menemukanmu sendiri?"
Habibah memandangi wajah Bram yang mendadak menenangkan.
Sejujurnya, itu sangat benar sekali. Tapi di hatinya sendiri masih tidak rela jika harus pasrah dengan Marisa yang terlihat sangat licik.
Jika dipikir lagi, tentu menghindari mereka adalah pilihan yang tepat. Membiarkan Rudy dengan mereka, dan Habibah bisa menjalani kehidupan baru tanpa ada yang mengganggu.
Bram meraihnya dalam pelukan hangat di sore itu. Dia sendiri tak mau terlibat hubungan rumit mereka. Walau entah, dengan menghindari akan membuat mereka benar-benar bahagia?