Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Mereka berdua kini sudah berada dalam perjalanan pulang, sama-sama diam dan tidak tahu harus bicara apa.
"Jangan marah, lain kali kita kesana lagi." ujar Devan mengusap lembut pucuk kepala Luna.
Berbeda dengan gadis itu, ia masih menatap keluar jendela tanpa mau menoleh ke arah Devan,
"Sayang....''
Luna reflek menoleh. Apa dia bilang tadi sayang? Atau telinganya yang salah?
"Sayang kamu bilang?" Devan mengangguk, sedangkan Luna malah merinding mendengarnya.
"Ini nggak lucu, Kak!"
"Siapa bilang lucu? Bukankah seharusnya aku memanggilmu begitu, kenapa? Kamu tidak terima, hum?!" Devan menepikan monilnya ke pinggir lalu mendekat ke arah Luna.
"Ka-kakak mau apa?"
Devan menangkup kedua pipi Luna dan menarik tengkuk lehernya mendekat.
Cup!
Sebuah ciuman lembut namun berubah menuntut mendarat di bibir Luna. Devan memjamkan matanya menikmati, sedangkan Luna masih bingung kenapa tiba-tiba pria itu menciumnya.
Karena tidak tahan, akhirnya Luna terbuai dan membalasnya meski tidak selihai Devan.
Tangan Devan turun mengusap punggung Luna, hingga kini sudah menyusup menyentuh salah satu benda kenyal yang tertutup kain. Di remasnya dengan sangat lembut.
"Ahh..." desah Luna saat Devan mulai bermain nakal di sana.
"Kamu menyukainya, hum?"
Luna mengangguk, tapi kemudian tersadar dan menggeleng. "Dasar gadis nakal." gumam Devan membenarkan posisinya.
"Kita lanjutkan dirumah." imbuhnya merapikan kemeja Luna, karena memang gadis itu masih memakai seragam sekolah.
Tidak di pungkiri, Devan semakin hari terlihat semakin tampan di matanya. Ya, meski terkadang sikapnya yang suka seenaknya sendiri membuat Luna selalu memakinya dalam hati.
.
.
.
Sampai di rumah, merek berdua terkejud saat melihat seorang pria duduk bersandar di sisi kanan mobil.
"Kak Lucas, kamu di sini?"
Lucas tersenyum ke arah Luna dan berniat memeluk gadis yang beberapa jam ini sangat ia rindukan.
"Jangan menyentuh istri orang sembarangan, Lucas!" ucap Devan menatap tajam kakak ipar gadungan nya tersebut.
"Cih! Posesif sekali."
Lucas mengurungkan niatnya lalu menarik tangan Luna. "Aku ingin bicara denganmu, sebentar."
Luna mengangguk dan meminta ijin pada Devan, bagaimanapun guru killer itu sekarang adalah suaminya.
"Kenapa tidak bicara disini saja?! Apa kamu takut rahasiamu terbongkar?" Ketusnya.
"Ya, kami memang memiliki rahasia besar dan takut jika kamu mendengarnya lalu terkena serangan jantung." sela Lucas seraya tersenyum menatap Luna.
Luna menyeret Lucas dan mengajaknya pergi. Sedangkan Devan, ia lebih memilih untuk masuk ke dalam untuk segera membersihkan diri.
"Kakak mau bicara apa?" tanya Luna yang sedang berada di sebuah taman dan duduk di ayunan.
"Aku hanya sedang merindukanmu." Lucas menggenggam tangan Luna, lalu meletakkannya di pipi kananya. "Pulanglah, ayah ingin bertemu denganmu."
"Ayah?''
Mendengar ucapan Lucas jika sang ayah sangat merindukannya membuat gadis itu sangat bahagia. Sejujurnya, ia tidak bisa marah meski ayahnya selalu berbuat tidak adil padanya selama ini.
Pulanglah!
Kalimat itu selalu saja terngiang dalam pikiran Luna, sampai-sampai ia tidak sadar jika sudah masuk ke dalam rumah dan melihat Devan yang sedang tertidur di atas sofa.
"Kenapa tidur di sini? Kamu bisa masuk angin nanti." ujarnya duduk di samping wajah Devan dan menatap suainya yang sedang terlelap.
Cukup lama Luna berada di posisi itu. Hingga suara serak khas bangun tidur menganggeetkannya.
"Sudah puas memandangi wajah tampanku, hum?"
"Kakak, kamu pura-pura tidur, hah!"
"Pura-pura apa? Aku menunggumu sejak tadi, bodoh!"
Devan menyentil dahi Luna, ingin sekali ia mencium bibirnya yang sejak tadi terlihat menggoda.
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu