George Elvano Abraham pria berparas tampan dan berkarisma. Namun siapa sangka kalau di balik ketampanannya itu dia adalah seorang pria yang kejam dan tidak mengenal ampun pada musuhnya, karena memang dia adalah ketua Mafia Sisilia Italia.
Seorang wanita cantik yang terus saja menganggu dia karena kerap datang di mimpi-mimpinya yang bahkan Elvano tidak mengenal nama dan tinggal dimana wanita itu.
Karena merasa penasaran dengan wanita yang berada dalam mimpi itu, akhirnya Elvano mencoba untuk mencari tahu keberadaannya karena hatinya sudah benar-benar ingin memiliki wanita itu.
Alisha Purnama Gadis yang sangat manis juga baik hati. Bahkan ia selalu terima dengan ikhlas atas perlakuan buruk kedua orang tuanya. Ingin menghindar pun ia tidak mampu karena memang dia tidak memiliki siapapun di dunia ini kecuali mereka.
Simak ceritanya yuk. Akankah Elvano akan menemukan wanita pengganggu mimpinya itu? dan bagaimana nasib Alisha selanjutnya?
Jangan lupa! vote, komen dan likenya ya🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurmay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tato
Matahari sudah meninggi, ternyata Alisha benar-benar tertidur pulas lagi karena Elvano yang terus mendekapnya.
Dor!
Suara tembakan mengganggu keduanya yang masih terlelap dengan saling memeluk. Entah sejak kapan Alisha berbalik dan membalas pelukan Elvano, dan saat matanya mengerjap ya g pertama kali ia lihat adalah dada bidang Elvano yang tak terbungkus baju. Berbulu dan keras! Mata Alisha terbelalak, tapi ketika merasakan Elvano yang bergumam karena terbangun, ia buru-buru memejamkan matanya lagi.
''Sial! aku lupa menekan tombol kedap suara! sekarang ulah siapa lagi ini!'' gumam Elvano dengan suara serak. Seksi! ya, itulah yang Alisha dengan dan rasakan sehingga dadanya kembali ramai.
Elvano melongok wajah Alisha yang masih tertidur, bibirnya tersenyum manis dan perlahan mengecup singkat kening Alisha yang kemudian dengan hati-hati ia memindahkan kepala Alisha dari lengannya ke bantal.
Menyelimuti Alisha dengan benar, kemudian diapun bangkit dari ranjang, meraih kaus yang ketat sehingga membentuk lekuk tubuh yang sterek. Alisha sedikit tercengang tapi dengan cepat dia memejamkan matanya lagi karena melihat Elvano yang kembali menoleh kearahnya.
''Siapa yang mengganggu waktu tidur ku! tapi syukurlah dia masih pulas. Aku kebawah dulu ya,'' Cup! ucap Elvano yang kemudian mengecup pipi Alisha dengan mesra.
Tanpa Elvano sadari, Alisha tersenyum dengan pipi yang memerah. Merasa derap langkah Elvano yang menjauh dan suara pintu yang tertutup, Alisha pun memutar kepalanya memastikan kalau Elvano sudah keluar dari kamar.
Alisha duduk dan menyenderkan punggungnya di headboard, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, bibirnya terus tersungging senyuman. Pagi yang indah dengan kecupan yang mesra, astaga… membuat Alisha seperti orang tidak waras, ya g tersenyum-senyum sendiri.
'Aarrrggghhhh'
Alisha berteriak di balik bantalnya, hatinya berbunga-bunga, dadanya terus saja berdebar kencang. Dan inilah yang di namakan jatuh cinta.
''Kenapa dia harus seperti ini sih, dada ku sesak rasanya,'' gumam Alisha dengan bibir yang terus tersenyum.
Dibawah sana, Elvano yang harus aja keluar dari lift, dan berjalan menuju pintu utama, matanya menajam melihat anak buahnya yang sudah tergeletak di bawah dengan lumuran darah, dan matanya beralih kepada seseorang yang berdiri di sana dengan senjata ditangannya.
''Kenapa kau membuat keributan!'' ucap Elvano dengan nada dingin pada orang itu yang ternyata adalah Bima.
Bima menoleh, memasang wajah datar dan kembali menatap orang yang sudah terkapar itu.
''Dia terlihat sangat mencurigakan, dan lihat itu!'' ucapnya dengan kakinya yang menyibak kaus hitam milik mayat itu yang menampilkan sebuah tato, tato kalajengking, simbol geng mafia yang memang musuh geng mereka.
''Ck! kalian selama ini kemana saja! penyusup ada diantara kalian, kalian pun tidak menyadarinya!!'' emosi Elvano kembali meledak, para anak buah yang berada disana hanya tertunduk dengan takut.
''Sudahlah, yang penting dia sudah dibereskan.'' Bima menyela dan Elvano mengangguk.
Elvano berlalu ke ruang dimana tempat biasa mereka berkumpul, dengan Bima yang mengekor di belakangnya.
Duduk di kursi tunggal, dengan berkarisma dia menggedikan kepalanya pada kursi untuk Bima segera duduk.
''El, aku kesini hanya mampir, tapi melihat anak buah ku itu yang menelpon seseorang secara diam-diam. Maaf sudah mengganggu tidurmu,'' tutur Bima dan di angguki Elvano.
''Bukankah seharusnya kau masih di Meksiko?'' tanya Bima lagi.
Elvano mengangkat pandangannya dari gelas yang sedang ia menyesap kopi didalamnya.
''Aku kembali tadi malam.''
Jawab Elvano setelah meletakkan gelas kopinya dan berdehem sebentar.
''Apa tugas yang kuberikan sudah kau laksanakan?'' tanya Elvano dengan tiba-tiba sehingga Bima pun tercengang mendengarnya.
''Tugas?''
''Ya, bukankah aku sudah menugaskan mu untuk mencari tahu keluarga istriku?''
''Oh, itu.'' Bima menyesap kopi miliknya terlebih dahulu sebelum menjawabnya.
''Desa itu sudah digusur, saat aku kesana semua sudah rata dengan tanah. Entahlah pindah kemana penduduk desa itu.'' Bima memainkan jarinya di gelasnya. ''Memangnya kau mau apa El, apa kau ingin memboyong keluarga Alisha untuk tinggal disini?''
''Bukan, hanya saja aku sangat ingin bermain-main dengan orang yang telah membuat gambaran abstrak pada tubuh putih mulus istriku.'' Ucapan yang biasa memang, tiada nada yang tegas ataupun meninggi, tapi terkesan sangat angker dan menyeramkan.
Bima terdiam, dan terdengar suara dengusan kesal setelah mendengar penuturan Elvano.
''Kalau begitu aku pamit, kau lanjutkan waktu istirahatmu!''
Bima pun berlalu pergi sebelum mendengar sahutan dari Elvano.
Elvano tidak sam sekali mengambil pusing sikap Bima yang memang terkadang aneh. Dia sangat mengenal sifat masing-masing teman-temannya. Dan memang sikap Bima lah yang terkadang membuat dia sulit menerka.
Alisha yang baru saja keluar dari ruang memasak, berpapasan dengan Bima yang baru saja keluar dari ruangan pribadi para ketua.
Dengan bersikap biasa, Alisha berjalan begitu saja melewati tubuh Bima yang matanya terus memperhatikan langkah Alisha yang berjalan menaiki anak tangga.
Bima menatap dengan teduh pada Alisha yang menghilang di tikungan yang menuju kamar mereka.
Membayangkan Alisha yang satu kamar dengan Elvano membuat Bima mengepalkan tangannya dan kembali melangkah dengan langkah yang lebar.
''Hallo, Rik! awasi Bima!''
Elvano memutuskan sambungan telepon setelah memberikan titah pada Erik.
Ya ternyata Elvano melihat Bima yang menatap Alisha dengan tatapan yang tidak biasa, dan entah kenapa Elvano merasa ada yang aneh dengan tingkah Bima yang memang seharusnya ia sudah terbiasa dengan sikap Bima, namun kali ini sangatlah berbeda dari biasanya.
Elvano menatap tajam pada Bima yang sudah keluar melewati pintu utama. Dan diapun kembali ke kamar untuk menemui Alisha yang dia lihat tadi keluar dari dapur.