Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 32
Ellena kembali menginjakkan kaki di rumah sang mertua yang pernah meninggalkan kesan “mengerikan” padanya. Wanita itu sedikit takut-takut saat sang suami menggandeng tangannya untuk berjalan menuju rumah sederhana yang menjadi kediaman kedua mertuanya.
“Kak Marco, apa nggak apa-apa?” Wanita itu begitu takut berhadapan dengan mertuanya kembali meskipun beberapa saat lalu mereka juga sudah menunjukkan tanda-tanda akan menerimanya.
Marco menggenggam erat tangan istrinya dan menyalurkan energi baik, bahwa semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“El, aku ada di sini. Kita ke sini untuk tujuan baik, dan aku yakin Ayah dan Ibu tidak akan memperlakukan kita dengan buruk,” cakap suami Ellena itu demi menenangkan hati sang istri.
Mendengar ucapan sang suami, hati Ellena perlahan tenang. Dia mengulas senyum dan mengangguk dengan yakin. “Iya, Kak. Aku percaya sama kamu.”
Ayah dan ibu Marco keluar rumah untuk menyambut kedatangan rombongan Marco. Terlihat sekali senyum ramah yang tersungging di wajah keduanya. Tentu, mereka sudah mendapat kabar kedatangan Marco dan mertuanya.
“Ini orang tua kamu, Marco?” tanya Ayah Ellena saat mereka telah berhadapan dengan orang tua Marco.
Marco mengangguk membenarkan apa yang ayah mertuanya itu katakan.
“Ayah, ini mertuaku, Tuan Aland,” ucap Marco pada orang tuanya. “Pa, ini orang Ayah sama Ibu aku.”
Kedua orang tua Marco pun bersalaman dan saling berkenalan dengan Ayah Ellena. Disusul Ellena yang juga mengucapkan salam pada mertuanya.
Hingga akhirnya, mereka semua masuk ke rumah itu dan duduk bersama di ruang tamu yang sudah disiapkan banyak jamuan makan.
Ellena menatap bingung adanya banyak makanan yang tersaji di meja tamu. Semuanya seolah sudah disiapkan secara matang.
“Papa yang merencanakan semua ini ya?” tanya Ellena dengan berbisik pada sang ayah yang duduk persis di sebelahnya.
Tuan Aland melirik sang putri yang sedang menatapnya dengan bingung. Lelaki itu hanya tersenyum simpul tanpa mau menjawab.
Memang, Tuan Aland lah yang telah berusaha menghubungi keluarga Marco untuk membicarakan pernikahan Elena dan Marco. Namun, baru sekarang Tuan Aland memiliki kesempatan untuk bertemu mereka secara langsung.
“Ya, seperti yang Bapak dan Ibu ketahui, Marco sekarang sudah menikahi putri saya. saya sebagai orang tua, meminta maaf karena pernikahan mereka harus dilaksanakan tanpa kehadiran dan persetujuan orang tuanya. Saya benar-benar meminta maaf,” ungkap Tuan Aland dengan tulus.
Laki-laki itu merasa egois karena telah menikahkan putrinya dengan putra keluarga lain tanpa persetujuan orang tuanya.
“Awalnya, kami mungkin tidak terima dan terlalu kaget, apalagi Marco sudah dijodohkan. Tapi, sepertinya jodoh yang sudah ditakdirkan untuk Marco memang putri Anda, Tuan,” balas Ayah Marco berlapang dada.
Ellena akhirnya bisa mengukir senyum bahagia mendengar pernyataan ayah mertuanya. Tentu saja ini adalah kabar baik yang sangat dinanti, yaitu restu orang tua.
Kedua ayah itu akhirnya saling membahas kebahagiaan dan resepsi pernikahan Marco dan Ellena. Sampai tanpa terasa hari mulai sore. Mereka harus kembali ke ibu kota untuk melanjutkan pekerjaan.
*
*
Marco dan Ellena kini sudah sampai di rumah kost yang beberapa minggu lalu mereka tinggali bersama. Ellena sangat merindukan tempat ini dan suasana tempat kost yang lumayan ramai juga menciptakan kesan tersendiri.
“Kita akan mulai hidup baru setelah ini,” kata Marco sembari memeluk tubuh Ellena usai mengunci pintu kamar.
Ellena menoleh ke belakang, menatap wajah tampan suaminya yang berbinar menatapnya. “Benarkah? Apa itu artinya aku akan menjadi ibu rumah tangga?”
“Em, untuk sekarang belum, tapi setelah kita punya anak nanti, kamu akan menjadi ibu rumah tangga. Untuk sekarang, cukup menjadi istriku, dan menjadi ratuku!”
***
sana sama Otor aja... pasti mau dia...