NovelToon NovelToon
Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan

Status: tamat
Genre:Badboy / Perjodohan / Cintamanis / Obsesi / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:43.2k
Nilai: 5
Nama Author: Black_queen

Berebut barang diskon membuat Damar dan Wulan harus saling adu mulut agar barang tersebut menjadi miliknya. Mereka berdua tidak mau kalah sampai-sampai pertemuan pertama mereka membuat ricuh outlet fashion yang ternama mendapatkan sorotan dari orang-orang yang berbelanja.

Pertemuan kedua mereka juga tidak disengaja.
Di suatu acara, Damar dan Wulan dikenalkan oleh keluarga masing-masing. Mereka tidak percaya akan bertemu kembali dengan kondisi yang seperti itu. Ternyata, keduanya sudah dijodohkan sejak kecil. Apakah mereka akan menolak perjodohan tersebut? Atau mengiyakannya karena harus berbakti kepada orang tua masing-masing?


Damar dan Wulan mempunyai karakteristik yang bertolak belakang. Damar, seorang perfeksionis dan suka menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang. Sementara Wulan, seorang yang selalu hidup berhemat selama hidupnya.

Ikuti kisahnya si Mr. Boros dan Mrs. Hemat dalam mengarungi kehidupan sehari-hari yang tak biasa. Akankah Damar benar-benar tercipta untuk Wulan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black_queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecupan Pertama Wulan

Wulan melingkarkan kedua tangannya pada leherku kemudian menariknya hingga tak sengaja bibir kami bersentuhan. Ada desiran aneh yang kurasakan. Entah kenapa aku tidak menolak kecupan yang tidak disengaja ini.

Bibirnya begitu lembut, tapi setelah itu bibirnya terbuka, seperti hendak mengeluarkan sesuatu. Mataku terbelalak melihat ekspresi wajahnya, sontak aku melepaskan belitan tangannya. Menjauh dari wajahnya.

"HUEEEEEKKK!" Dia mengeluarkan cairan muntahan itu di atas bantal.

"Jijik amat nih orang. Untung gue sadar kalau dia hendak muntah. Mana mulutnya bau banget, bau alkohol." Setelah puas mengeluarkan cairan itu, perempuan itu tertidur pulas.

Aku menghela napas panjang, lagi-lagi aku kena getahnya. Aku harus menyingkirkan bantal itu agar baunya tidak tercium olehku. Kubuka sarung bantalnya kemudian membuangnya pada tempat sampah. Sementara bantal itu aku letakkan di dalam lemari yang tersedia.

"Gila juga nih orang. Muntah tapi tidur, tuh perut gak sakit apa gimana?" Kudekati Wulan yang masih terbaring di atas ranjang.

Aku bingung harus tidur di mana. Sebaiknya aku melihat keadaan Selena terlebih dahulu. Kubuka pintu kamar hotel dan melangkah pergi ke kamar Selena. Tak lupa pintu kamar Wulan aku kunci.

Kulihat Selena yang tergeletak di lantai, menggelengkan kepala karena tidurnya begitu berantakan sampai jatuh dari ranjang segala.

"Kelakuannya sama Wulan mirip, sama-sama berantakan kalau tidur." Aku menggendong badan adikku ke atas ranjang, membaringkannya agar dia merasa nyaman dan tidak kedinginan.

Setelah melihat Selena yang baik-baik saja. Aku kembali ke kamar Wulan. Lebih baik aku tidur di sana saja. Aku tidak mau Selena terganggu tidurnya. Bukannya apa, ini menjadi malam yang akan aku ingat seumur hidup, ini juga menjadi malam terakhir untuknya bersenang-senang sebelum besok hukuman dariku dimulai.

Kulihat Wulan memeluk guling dengan erat. Pahanya terekspos karena rok mini yang dia kenakan tersingkap.

"Vangke, apa-apaan ini?" Aku menggeleng cepat. Kuambil selimut untuk menutupi dada ke bawah.

Setelah itu aku mencuci wajah agar rasa panas yang membuncah bisa menghilang. Tapi ternyata, gejolak kelelakianku semakin memuncak. Aku tidak sanggup hanya mencuci wajah saja. Segera aku mandi air dingin sampai berendam di bathtub yang ada di kamar mandi. Rasanya begitu nyaman, walaupun ada yang tersiksa di bawah sana. Melihat Wulan yang seperti itu ternyata membuat kelelakianku semakin mengeras. Untung saja aku bisa mengatasi ini semua.

"Damar, jadi cowok gak boleh lemah! Ingat, dia itu gak pantas untukmu." Kucoba untuk meyakinkan diri sendiri. Selesai berendam, aku memakai handuk kimono, duduk di sofa tunggal yang tersedia. Entah karena letih atau mengantuk, mata ini terpejam begitu saja.

Keesokan paginya, ada dering telpon yang membuatku terbangun dari tidur panjang. Mata ini menyipit, melihat sekeliling dan mencari sumber suara. Kuraih hape yang ada di atas nakas, mata ini mengerjap beberapa kali.

"Mami." Mampus, Mami menelponku. Aku harus siap menjawab pertanyaan yang dilontarkan beliau. Deringan telepon berhenti. Kulihat jam digital yang tertera di layar hape. Sudah jam sembilan lebih. Aku meninggalkan sholat shubuh karena terlambat bangun. Dering hape berbunyi lagi. Aku menghela napas sebelum menjawab telepon itu.

"Damarrrrr!! Di mana kamu? Kenapa semalam gak pulang? Selena juga gak pulang, di mana adikmu itu?" pekikan Mami begitu memekakkan telinga, sampai-sampai aku menjauhkan benda pipih ini dari daun telinga.

"Damar ada di rumah Dimas, Mam. Kalau Selena sih, dia nginep di hotel sama Wulan. Semalam tuh Damar sendiri yang nganterin." Semoga saja jawabanku ini membuat Mami puas.

"Yakin? Kamu enggak boong, kan? Nginep di hotel mana mereka? Biar Mami ke sana."

"Jangan, Mam! Biar Damar jemput mereka dan nganterin mereka pulang ke rumah."

"Memangnya kenapa mereka sampai menginap di hotel segala? Kenapa gak langsung pulang ajah?"

"Ceritanya panjang, Mam. Selena pergi ke pesta ulangtahun temannya, di sana, ternyata pestanya sampai tengah malam. Dia baru tahu ketika sampai di rumah temannya, dia gak enak mau ninggalin rumah temannya yang sedang berpesta." Apakah alasanku ini masuk akal? Ah, sudahlah, semoga Mami percaya.

"Kenapa Wulan bersamanya? Dia mengajak Wulan?"

"Ya, begitulah Mam ... dia bilang biar ada temannya. Damar yang nganterin mereka ke rumah temannya itu."

"Oh begitu, syukurlah kalau mereka baik-baik saja. Mami tuh khawatir banget karena Selena gak pulang. Dia kan anak gadis, kalau diapa-apain cowok yang gak bener di luar sana, Mami pasti mati berdiri." Beliau mengeluarkan uneg-uneg.

"Alhamdulillah mereka baik-baik saja, Mam. Mami tenang saja! Oh iya, Damar mau mandi nih, sekalian sarapan abis itu baru pulang."

"Oke, Nak. Mami tunggu di rumah ya! Jangan lupa jemput adikmu juga!'

"Iya, Mam." Panggilan telepon Terputus.

"Syukurlah Mami percaya. Awas aja Elu, Sel. lihat saja hukuman gue Nanti." Aku harus ke kamar mandi dan membersihkan diri. Sebaiknya aku berganti pakaian dengan pakaian yang kukenakan semalam, tidak ada baju ganti lainnya. Tapi, sebelum itu aku harus memesan bubur ayam untuk mengganjal perut. Kupesan bubur itu melalui aplikasi online, sengaja memesan dua porsi untukku dan Wulan. Urusan dengan Selena, biar nanti saja.

Setelah mandi dan berganti pakaian, aku mendengar suara pekikan. Kubuka pintu, suara itu semakin jelas terdengar. Wulan sudah bangun, dia terbelalak melihat keberadaanku.

Kami berbincang—lebih tepatnya dia banyak tanya tentang kejadian semalam. Aku malah membalikkan pertanyaan itu padanya. Syukurlah dia tidak mengingat kejadian semalam. Kalau ingat, bisa-bisa aku dihantam olehnya. Tapi, walaupun begitu aku bisa mengelak karena dia sendiri yang memeluk dan mengecup bibirku dengan mata terpejam.

Semoga kamu tidak ingat lagi kejadian semalam di kamar ini sampai kapan pun, Wulan.

Dia mandi, makan bubur ayam dan segera pulang, enak saja aku harus mengantarnya ke kost-an. Tentu saja aku menolak. Dia kan seorang perempuan mandiri, jadi, dia pasti bisa pulang ke kost-annya tanpa bantuanku.

Wulan telah pergi dari kamar ini, aku beristirahat sejenak sambil menikmati bubur ayam yang sudah kupesan. Sayang sekali bubur itu sudah dingin, tapi, daripada mubazir, aku habiskan saja.

Aku selesai dengan sarapan yang sudah terlambat. Ada ketukan pintu—lebih tepatnya gedoran yang berulang-ulang.

"Apa lagi sih ini? ck," decihku malas. Terpaksa aku membuka pintu itu.

"Ada apa? Santai saja kalau masalah uang sewa, nanti gue turun dan bayar untuk penambahan jam." Aku berdecak pada seorang karyawan hotel ini.

"Maaf, Pak. Bukan itu yang ingin kami sampaikan." Raut wajahnya terlihat begitu tegang.

"Memangnya ada apa? Ada yang salah dengan gue?"

"Eum, itu Pak ... masalahnya ada pada ...," karyawan hotel ini tidak melanjutkan ucapannya.

1
Sulaiman Efendy
ENDINGNYA GANTUNG, TU SI DIMAS & LAURA GK ADA KPUTUSANNYA
Baya Azka
yg semangat thor sukses selalu ya thor💪💪💪🌷🌷🌷☕
✨ĐⱤ₳₥₳: 🆀🆄🅴🅴🅽 🅱 👑
Maafkan Author karena sudah 3 hari gak update 🥺 jari jemari Author tremor karena harus update tiga judul di tiga platform yang berbeda. Author usahakan untuk tamat bulan ini juga. Terima kasih banyak atas waktunya untuk membaca karya tulis Author di Noveltoon ☺️☺️🤩🥰
Baya Azka
lanjut thor💪💪💪💪🌷🌷🌷🌷🌷☕
Surya Hasiholan
aku tau pasti kedua orang itu Dimas sama Laura.
Baya Azka
lanjut thor moga Wulan masih utuh ya💪💪💪💪🌷🌷🌷🌷🌷
Baya Azka
lanjut thor semoga Wulan secepatx ditemukan💪💪💪💪🌷🌷🌷🌷🌷☕
Surya Hasiholan
wah pasti kerjaan Dimas sama loura nih..
Baya Azka
lanjut thor' mungkin itu suruhan dimas dan sepupunya' damar dimana kamu cepat tolongin wulan💪💪💪🌷🌷🌷🌷
✨ĐⱤ₳₥₳: 🆀🆄🅴🅴🅽 🅱 👑
Mohon ditunggu ya kak, dari semalam bab baru masih direview sistem Noveltoon. Entah kenapa sangat lama, biasanya hanya memakan waktu dua-tiga jam.
Baya Azka
apa yg terjadi lanjut thor🌷🌷🌷🌷🌷
Baya Azka
lanjut thor menuju akad❤❤❤❤❤🌷🌷🌷🌷🌷☕
Baya Azka
lanjut thor moga lancar acara nikahannya❤❤❤👍👍🌷🌷🌷🌷🌷
Baya Azka
lanjut thor akhirnya sedikit demi sedikiy masalah sdh teratasi👍👍👍👍❤❤❤👍🌷🌷🌷🌷🌷
Baya Azka
semangat thor💪💪💪💪🌷🌷🌷🌷🌷☕
Baya Azka
apa sebenarnya yg terjadi pada keluarga Wulan ya thor 'lanjut donk upnya💪💪💪💪🌷🌷🌷🌷🌷
Baya Azka
lanjut thor' semoga berhasil ketemu kakek nenekx ya wulan❤❤❤❤🌷🌷🌷🌷🌷💪💪💪
Baya Azka
lanjut thor 👍👍👍👍☕🌷🌷🌷🌷
Baya Azka
lanjut thor aq jg penasaran kerjaan damar apa saja selain usaha kafe dan dosen❤❤❤❤❤👍👍👍👍
Surya Hasiholan
paling akad nikah duluan.. hehehe...
✨ĐⱤ₳₥₳: 🆀🆄🅴🅴🅽 🅱 👑: Damarnya gak sabaran ya, Kak 😂
Terima kasih banyak Kak sayang karena telah meluangkan waktunya untuk membaca, like dan komen 😍🥰 sehat selalu ya, Kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!