NovelToon NovelToon
Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cerai / Balas Dendam / CEO / Romantis / Office Romance / Kehidupan di Kantor / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi wu

Kehadiran seorang anak adalah kebahagiaan bagi sepasang suami istri, dan hal itu pula-lah yang paling dinanti oleh Haura dan Theo. Tapi sayangnya setelah tiga tahun pernikahan mereka, tangisan bayi tak juga hadir di dalam rumah tangga keduanyanya.

Theo menyalahkan Haura karena wanita itu tidak bisa memberinya seorang anak. Hingga dia tega meninggalkan Haura, dan memilih menikahi wanita yang jauh lebih muda, yang ia anggap bisa memberinya keturunan.

Saat Haura terpuruk, dan ingin mengakhiri hidup dari atas jembatan pusat Kota Tadpole, sebuah tangan hangat seorang pria menyelamatkan dirinya dari ambang kematian.

Setelah perceraian itu, Haura bangkit dan bersumpah akan menuntut balas, pada Theo suaminya. Kemudian ia melamar pekerjaan sebagai Marketing di salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Negara ini. Saat Haura tahu siapa bosnya—wanita dua puluh enam tahun itu sangat terkejut.


"Apakah kau lupa, siapa aku?" tanya lelaki itu dengan ekspresi dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 32 • Tidak Peka

Haura terkejut melihat kehadiran Angeline yang tiba-tiba muncul di depan matanya, wanita itu menatap Haura dengan tatapan menyelidik.

"Anda ada di sini, Nona?"

"Ya... lumayan bisa mendengar semua perbincangan mesra kalian." Angeline menyondongkan tubuh ke depan untuk memprovokasi Haura. "Pasti Alden akan sangat kecewa setelah jika sang tunangan palsunya telah berselingkuh dengan pria lain," ledeknya. "Atau mungkin akan marah?"

Mesra? Dari mana ada kalimat mesra yang keluar dari kalimat Theo dan Haura?

Haura tidak peduli dengan ucapan sahabat Alden itu, dia pikir dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun yang akan merugikan hubungannya dengan Alden, karena keduanya memang hanya sebatas kekasih kontrak dan itu tidak lebih. Haura hanya menganggap biasa saja semua

yang dikatakan Angeline tidak akan menjadi apa-apa, bahkan untuk sekadar sebuah ancaman.

"Silakan saja Nona, Anda bisa melakukan apa pun sesuai kehendak Anda." Setelah Haura berkomentar, kemudian Haura berjalan menjauh dari wanita itu, karena jika Haura mengikuti apa yang dikatakan oleh Angeline akan sangat tidak berguna untuk hidupnya, dan tentunya membuang waktunya saja.

~•~

Setelah selesai bekerja, sore itu dia menyempatkan diri naik ke atas rooftop gedung De beauty hanya untuk menyaksikan pemandangan sore, dan menikmati momen di mana matahari kembali ke tempat peraduannya, sembari menyesap kopi yang dia bawa dari kedai kopi tadi.

Haura benar-benar ingin sendiri, dan tidak ingin diganggu oleh siapapun, karena sejak kemarin pikirannya telah penuh dengan banyak hal, terlebih Angeline yang selalu ingin mengganggu dirinya.

Ponsel Haura berdering--dari layar terllihat nama bosnya yang bisa terbaca oleh Haura. Jujur saja Haura terlalu malas untuk menjawab panggilan Alden, tapi pasti ada yang penting hingga lelaki itu meneleponnya. Lagipula ia seharian ini tidak melihat bosnya yang biasanya mondar-mandir di divisi marketing, seperti yang biasa ia lakukan, semenjak Haura bekerja di sana.

"halo." Haura nampak menghela napas menjawab panggilan Alden.

"Kau di mana? Kulihat mobilmu masih terparkir di basemen, apakah kau masih berada di dalam gedung?" tanya Alden dari balik teleponnya.

"Aku sedang berada di rooftop menghabiskan kopi yang aku beli tadi," tukas wanita itu, sembari menyesap kopinya kembali.

"Aku akan ke sana. Aku akan membicarakan sesuatu padamu."

"Aku saja yang menemuimu, lagipula di sini kantor, tidak enak jika para karyawan melihatmu bersamaku."

"Aku tidak peduli dengan omongan orang." Pria itu menutup teleponnya.

Haura menyendikan kedua bahu, menatap layar ponselnya—kemudian memasukan ke dalam saku blazernya.

Wanita itu kembali menyaksikan langit yang sudah berubah menjingga. Pemandangan langit kota Tadpole di musim panas nampak begitu indah. Haura sangat menyukai musim panas, di mana udaranya memang panas, tapi memang sejak dulu Haura tidak suka dengan musim dingin dengan hawa yang menusuk tulang belulangnya.

Alden membuka pintu rooftop gedung, di sini memang sangat indah, karena terdapat sebuah taman kecil yang sering dipakai menghabiskan waktu selama istirahat oleh para karyawan yang bekerja di gedung ini.

Pria itu melihat Haura tengah menghadap ke langit, Haura tengah menghirup udara kuat-kuat dan menikmati kesendiriannya.

"Hai...." sapanya, berdiri di samping Haura.

"Ada apa?"

"Tidak... aku hanya merindukanmu," jawab Alden, tentunya setelah menyatakan cintanya pada sang pujaan membuat Alden tidak lagi menutup-nutupi perasaannya pada Haura.

Pipi Haura seketika padam mendapat pengakuan seperti itu, dan semakin memerah saat Alden mulai mendekat ke arahnya. Secara impulsif Haura melangkah mundur pelan, menghindari Alden.

"Apakah kau tadi bertemu dengan Nona Angeline?" Cepat-cepat Haura mengalihkan pembicaraan untuk menghentikan Alden.

"Ya, kau tahu?"

"Pasti dia berbicara macam-macam tentang pertemuanku dengan Theo."

"Kau bertemu Theo?" Mata Alden menyambar wajah Haura, tatapannya yang tadi penuh cinta kini berubah tajam, bahkan suaranya sedikit meninggi.

"Dia tidak bercerita padamu?"

Alden menggelengkan kepala, tapi ekspresinya benar-benar tidak sukanya, mendengar mantan suami Haura itu menemui wanita ini, akan tetapi Haura tidak bercerita kepadanya.

"Pasti dia lupa."

"Untuk apa lelaki itu menemuimu, Haura?"

"Dia ingin aku bicara padamu, hanya untuk membujuk dirimu agar kau mau mencabut laporanmu terhadap mantan mertuaku."

Ada guratan senyum ironi di bibir Alden, seolah tercipta untuk menanggapi kalimat terakhir Haura.

"Apakah itu tujuannya dia menemuimu?"

Haura mengangguk. "Untuk apa lagi?"

"Apakah dia tidak akan mengemis cintamu lagi?"

"Kurasa tidak." Haura menggeleng ragu.

Haura berjalan menuju ke sebuah kursi taman, kakinya benar-benar pegal—berdiri cukup lama dengan menggunakan heels yang sangat menyiksa baginya, meski sepatu dengan hak lima centimeter itu menjadi syarat wajibnya sebagai karyawan di perusahaan kosmetik ini.

"Kenapa Nona Angeline seperti tidak suka padaku, Al?" Sebenarnya Haura tidak ingin bertanya seperti ini, akan tetapi setiap menatap cara Angeline memandang dirinya sungguh sangat mengganggu pikiran Haura.

"Dia menyukaiku," jawab pria itu singkat.

"Kau tahu, jika dia memiliki perasaan untukmu?"

"Ya... meski tidak ada pengakuan darinya, tapi aku bisa merasakan jika dia mencintaiku."

Haura terdiam beberapa detik.

"Lalu mengapa kau tidak menikah saja dengan dia—kalian berasal dari keluarga yang sederajat. Nona Angeline juga wanita cerdas dan prestasinya bisa dibilang bukan main-main."

"Apakah aku harus mengakui perasaanku padamu sekali lagi?" erang Alden tidak suka.

"Bukan begitu... kupikir kalian sangat cocok, dan pasti kakek dan nenekmu akan menyetujui kalian bersatu."

Alden terkekeh. "Seperti itu, ya?" Alden berdiri, berbalik badan menghadap ke arah Haura yang duduk. "Apakah sebuah perasaan bisa dipaksakan?"

Haura enggan berkomentar lebih jauh, ia memilih diam untuk menghentikan amarah Alden yang mungkin saja mulai tersulut karena provokasi-nya.

"Baiklah Haura, sesuai apa yang kau inginkan. Aku akan menyambut cinta Angeline!" Alden berbalik badan dan pergi begitu saja, membawa rasa kecewa dalam dadanya.

Haura yang melihat Alden pergi setelah mengatakan jika dia akan menerima cinta Angeline, merasa dadanya sesak. Hingga dia tidak bisa berkata apa pun lagi. Wanita itu terus menyaksikan punggung Alden yang mulai menjauh, hingga menghilang dari balik pintu.

Apakah pria itu akan benar-benar menerima Angeline? Dan meninggalkan Haura, sekelebat rasa tidak ikhlas dalam hati Haura muncul, seolah ia ingin berlari ke pelukan Alden dan berkata—jangan lakukan itu!

To be continue~

Bestie... jujur aku kalau up siang, takut buat puasa kalian agak mengganjal 😄 bukan masalah adegan aneh-aneh, tapi aku takut menyulut emosi kalian.

Semoga saja tidak, ya. Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah untuk kita semua.

1
Ira Widiyastuti
Terima kasih sudah membuat cerita yang bagus
IG __NoviWu: sama2 kakak cantik... Terima kasih.
total 1 replies
falea sezi
Josep bawahan terlalu ikut campur
desi
jangan terlalu baik haura karena kita baik belum tentu orang baik pada kita
Jade Meamoure
ya Tauhan akhir yg buruk buat Theo, jika ada kesempatan kedua jangan lagi kyk Theo yg dulu
Jade Meamoure
hayyah dah unboxing aja duh calon anak ng mga sulat
Jade Meamoure
aih Apok kapok deh
Patri Behel
luar biasa
Patri Behel
Buruk
Vien Habib
Luar biasa
Ahsin
dasar bangke sok TDK mau ujung2 mewek
Emy Chumii
Luar biasa
Emy Chumii
mampir kesini karena recommend dari mommy Ar 🙏😊
IG __NoviWu: Terima kasih, Kakak 😘
total 1 replies
Ran Aulia
terimakasih author👍👍👍👍😍😍
Suherni Erni
Sayangnya perempuan binalnya tetep hidup enak ya...ngga ikut mati secara tragis jg.
Surati Surati: iyaya thor kok alila nya ngk ikutan mati aj kaya theo sih ntar jadi penggu rmh tgga haura dan alvin lagi dan jngn sampai itu trjadi ya thorr
total 1 replies
Noor Laila Khairul Isma
Terbaik
.
💕febhy ajah💕
begitulah hasilnya kalau orang tua selalu ingin mencampuri urusan rumah tangga anaknya
💕febhy ajah💕
aku suka gayamu alden
I miss you so much ❤❤❤
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Surati Surati: sq jg suka gayau alden sok jutek, tapi perhatiyan banget /Heart/dan jg bertggung jwb,biarlah haura menyadari akan cintamu alden dan kau trudlah berusaha untk membahagiayakan hauraa lanjut thoorrrr
total 1 replies
💕febhy ajah💕
mampir setelah sekian purnama difavoritkan
IG __NoviWu: terima kasih, Sayangku.
total 1 replies
UTIEE
⭐⭐⭐⭐⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!