Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Susun Rencana.
...~•Happy Reading•~...
Ke esokan hari ; Seperti yang dikatakan Mathias, keluarga Rulof kembali lagi setelah kemaren tidak melihat mobil di garasi. Pagi-pagi mereka sudah datang, padahal Ambar dan anaknya belum sempat sarapan.
Ketika mereka memanggil namanya dan mulai menggedor pagar, Ambar keluar menemui mereka. Karena ini adalah akhir pekan, banyak tetangga sedang berada di rumah. Ambar merasa tidak enak terhadap tetangga, setiap hari ribut dan apalagi masih pagi.
Melihat Inge, suaminya dan 2 orang lelaki bersama mereka, Ambar jadi emosi. Seakan-akan dia sedang berhutang dan mereka datang menagi hutang. Ambar jadi malu atas kelakuan saudara Rulof.
"Ada apa Kak Inge? Apa kalian tidak punya kerjaan, sampai pagi-pagi datang ribut di rumah orang?" Tanya Ambar mulai emosi, apalagi melihat Bu Tony keluar di halaman rumahnya.
'Pasti mereka telah mendengar suara berisik dan sangat terganggu dengan perbuatan orang-orang ini.' Ambar membatin, dengan hati yang tidak enak.
"Kami datang pagi-pagi supaya kau tidak kabur." Richo yang menjawab, sedangkan Inge hanya diam. Dia masih mengantuk, tetapi dibangunkan suaminya untuk ikut bersamanya.
"Kak Richo, saya sedang bertanya kepada kakak Alm. suami saya. Dan juga untuk apa saya kabur dari rumah saya sendiri?" Ambar jadi berani, sebab mulai emosi melihat Richo menyenggol Inge untuk berbicara.
"Biarkan kami masuk untuk berbicara di dalam rumah." Inge ingin minum sesuatu di dalam rumah Ambar, seban dia belum sempat sarapan, saat disuruh ikut.
"Sudah saya katakan, kalau kalian sudah tahu tanah-tanah itu baru datang menjemput saya dan kita bisa berbicara di dalam rumah." Ambar tidak mau lunak. Inge jadi emosi mendengar apa yang dikatakan Ambar. Karena dia belum tahu kejelasan tanah-tanah Rulof.
"Soal tanah nanti baru dibicarakan. Sebelum itu, kami mau minta bagian dari yang kau dapat dari kantor Rulof. Kami tahu kau sudah pergi ambil di kantornya." Ucapan Inge membuat Ambar terkejut, sebab mereka tahu dia telah ke kantor Rulof. 'Jadi selama ini, mereka memata-mataiku.' Ambar berkata dalam hati dan emosinya naik level lagi.
"Bagian apa dari kantor Mas Rulof, hutang? Kenapa kalian tidak datang sendiri ke kantornya, supaya tahu berapa banyak hutang di kantornya?" Ambar jadi marah, mengingat Rulof bisa berhutang.
"Jangan menipu kami, dan di mana mobil Rulof yang kamarin ada di sini? Kami mau bawa untuk jual." Akhirnya Inge menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Mobilnya sudah saya jual untuk bayar hutang pada tetangga. Anakku juga masih butuh makanan dan dia berhak hidup dari hasil pekerjaan Papanya. Jadi sekarang jangan datang lagi ke sini dan mengganggu kami. Karena tidak ada sesuatu yang akan kalian dapatkan di sini." Ambar berbalik meninggalkan mereka berdiri bengong di luar pagar.
Ambar masuk ke rumah, lalu membanting pintu dengan keras. Hatinya sangat kesal, karena Inge dan suaminya terus minta bagian uang. Padahal dia sendiri belum melunasi hutang kepada keluarga Pak Tony, tetangganya.
Mendengar Ambar membanting pintu, Richo menendang pagar rumah Ambar dengan marah. Kemudian mereka pergi meninggalkan depan rumah Ambar. Richo yang emosi, menyuruh Inge pulang ke rumah karena dia akan pergi dengan kedua temannya.
Melihat perkembangan yang tidak menguntungkan, Richo panik dan mulai menyusun rencana baru bersama teman-temannya. Dia sedang membutuhkan uang, yang selama ini selalu dia dapatkan dari Rulof.
~*
Sepeninggal keluarga Rulof, Bu Tony yang mendengar pembicaraan mereka dari halaman dan bunyi pagar yang keras, datang mengetuk pagar rumah Ambar untuk mengetahui keadaannya.
Ketika mengetahui yang mengetuk Bu Tony, Seni membuka pagar dan mempersilahkan beliau masuk. Kemudian kembali mengunci pagar, karena khawatir.
"Bu Ambar ngga pa'pa?" Tanya Bu Tony, setelah duduk bersama Ambar di ruang tamu. Dan memberikan isyarat kepada Seni untuk tidak usah membuat minum.
"Ngga pa'pa Bu, saya mohon maaf karna sudah sering bikin ribut." Ambar merasa malu dengan tindakan keluarga suaminya.
"Ngga pa'pa Bu Ambar, kami malah khawatir dengan kondisi Ibu. Hati-hati! Juha masih kecil, jangan sampai sakit." Bu Tony coba menenangkan Ambar.
"T'rima kasih, Bu. Saya minta maaf juga, belum bisa lunasin semua hutang, karena ada masalah sedikit. Ibu lihat sendiri, mobil sedang dalam proses dijual. Nanti kalau sudah laku, saya akan melunasi semuanya." Ambar berkata pelan.
"Iya, Bu Ambar. Ngga pa'pa, kami mengerti. Apakah sudah ada orang yang mau beli mobilnya? Kalau belum, biar dibantu sama Mas Tony." Bu Tony menawarkan bantuan.
"Sudah ada yang bantu jual, Bu. Kemarin mobilnya sudah dibawa, makanya tadi mereka datang dan marah, melihat mobil sudah tidak ada." Ambar menjelaskan.
"Kalau begitu, sekarang Bu Ambar bisa tenang. Jangan pikir keluarga Pak Rulof lagi. Biarkan mereka saja. Ibu konsentrasi untuk merawat Juha." Ucap Bu Tony lagi.
"Iyaa, Bu. T'rima kasih untuk semuanya." Ambar jadi terharu. Setelah berbicara beberapa saat, Bu Tony pamit dengan hati lega, mengetahui Ambar baik-baik saja.
Setelah ditinggal Bu Tony, Ambar mendekati Seni di dapur. "Seni, tolong siapkan sarapan untuk kita, ya. Ibu mau naik lihat Juha, mungkin sudah bangun." Ucap Ambar cepat. "Iya, Bu." Seni mengerti.
Kemudian Ambar naik ke kamar Juha. "Ternyata anak Mama sudah bangun. Ayoo mandi, biar bisa sarapan." Ambar berusaha tenang lalu mencium pipi Juha.
"Ma, Juha sudah lapar. Juha mau makan dulu."
"Baiklah, kalau begitu mari kita turun." Ambar berusaha riang, karna khawatir Juha sudah bangun sejak tadi dan mendengar keributan di pagar.
~**
Di sisi lain ; Richo pulang ke rumah setelah hari menjelang malam. Dia merencanakan sesuatu untuk Ambar, karena masih kesal terhadapnya.
"Kau belum tahu tentang tanah-tanah Rulof?" Tanya Richo kepada Inge, saat mereka berdua di kamar.
"Belum, Mas." Jawab Inge pelan, dia khawatir suaminya marah.
"Aku curiga, jangan-jangan sudah dijual oleh Rulof. Mengingat yang dikatakan Ambar, Rulof memiliki banyak hutang di kantornya. Mungkin saja telah dijual, karna Rulof membutuhkan uang." Richo mulai berpikir.
Richo makin khawatir, sebab bulan depan kontrak rumah mereka akan berakhir. Selama ini, Rulof yang membayar kontrakan mereka setiap tahun. Sedangkan sekarang dia tidak memegang banyak uang.
"Apakah kau ada uang untuk membayar kontrak rumah ini? Tanya Richo kepada Inge.
"Ya, ngga ada Mas. Kemarenan Rulof hanya kasih untuk makanan kita saja. Aku juga belum minta uang untuk membayar kontrakan, karna kupikir masih bulan depan." Inge makin khawatir melihat suaminya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Apakah kau tahu Rulof mengidap penyakit apa?" Tanya Ricko.
"Setahuku, Rulof sehat-sehat saja. Dan juga di kantor ada check up kesehatan rutin, berapa bulan sekali atau setahun sekali." Inge mengingat-ingat.
"Kemarenan waktu di Rumah Sakit, dokter bilang Rulof sakit apa sampai bisa meninggal?" Tanya Richo lagi, sambil berpikir.
"Katanya ada pembuluh darah yang pecah, karna jatuh." Inge berkata ragu. Richo langsung mendapat ide, ketika mendengar yang dikatakan Inge.
"Nanti kau hubungi wanita itu, untuk janji bertemu dengannya. Kita akan mengajak dia untuk bekerja sama, dan perlu dibicarakan dulu supaya jangan sampai dia ragu-ragu." Richo semangat, karena yakin dengan idenya.
...~●○♡○●~...