'Uang adalah segalanya'
Begitulah prinsip hidup Resti Belangi. Yang sejak kecil sudah giat mencari uang untuk menghidupi dirinya sendiri karna keluarganya yang miskin. Dia tidak percaya dengan ungkapan yang menyatakan uang bukanlah segalanya.
Resti hanya ingin hidup nyaman tanpa mengkhawatirkan besok bisa makan atau tidak. Dia sudah lelah bekerja keras, yang ternyata tidak mengubah apapun dihidupnya.
Saat ia hampir menyerah, ketidak beruntungan kembali menghampirinya bersama seorang pria dingin bernama Jun. Yang ternyata adalah pewaris tahta kerajaan GD Group, tempatnya bekerja.
*setiap tokoh, tempat, dan kejadian hanya fiksi semata. (cuma ada diotak kriting Mak ya).
*karya ini hanya terbit di NovelToon. Tidak di platform lain.
*cus follow ig➡️ makee949
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep31. Desiran.
‘Sejatinya, setiap orang butuh sesuatu untuk melampiaskan kebenciannya’
*****
Jun dan Resti sudah sampai di rumah orang tua Jun. Si bawel Rifa yang tengah membaca buku di teras langsung menyambut kedatangan mereka dengan sumringah.
“Selamat datang, kakak ipar. Aku sudah menunggu kakak dari tadi.” Seloroh Rifa yang langsung menggandeng lengan Resti dan sedikit menyeretnya untuk masuk kedalam rumah.
Sebenarnya Resti sedikit risih dengan perlakuan Rifa itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia masih segan dengan keluarga Jun.
“Kau tidak ke kampus?” Tanya Jun kepada Rifa.
“Tidak. Hari ini tidak ada jadwal.” Jawab gadis itu santai sambil terus menggandeng Resti untuk masuk kedalam rumah.
Setelah masuk kedalam rumah itu, Resti menyempatkan diri untuk mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh ruangan yang bisa dilihatnya.
Menurut perkiraan Resti, rumah itu jauh lebih luas dari rumah Jun. Entahlah, itu hanya perkirannya saja.
Rifa terus mengarahkan Resti ke ruang makan, dimana sudah ada Gama, Ayyara dan Ana yang sedang menunggu sarapan mereka.
“Kalian sudah datang?” Sambut Ayyara yang langsung berdiri dan menghampiri Resti. “Ayo, duduk. Kalian pasti belum sarapan, kan?” Imbuh Ayyara sambil menunjukkan kursi untuk Resti.
Ayyara, walaupun umurnya sudah separuh baya, tapi tetap terlihat naggun dan cantik ditambah dengan sikap yang bijaksana. Hal itulah yang dikagumi oleh Resti.
“Maaf kami tidak bisa datang semalam, Ma, Pa.” Ujar Jun sambil menarik kursi untuk dirinya sendiri. Ia duduk tepat disamping Resti.
“Tidak apa. Kami tau kalian pasti lelah karna baru pulang dari bekerja.” Sanggah Gama.
“Sudah, jangan mengobrol saja. Aku sudah lapar.” Seloroh Ana. Dan disambut oleh kekehan dari Rifa.
“Memangnya ada yang melarangmu makan?” Dengus Jun.
“Astaga, pangeran tampan Gundala. Apa kau tau kami sengaja menunggumu demi sarapan pagi bersama? Kami ingin menyambut istrimu dengan baik.” Jawab Ana yang mulai kesal.
“Sudah, kalian ini. Ayo, makan. Tidak usah canggung ya, Resti.” Ujar Ayyara kemudian.
Sedangkan Gama hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat duo kembar itu.
Selama sarapan, tidak ada yang bersuara. Hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring. Masing-masing menikmati makanan mereka.
Terlebih Resti. Ini adalah sarapan termewah yang pernah ia makan. Maklum saja, bagi orang miskin sepertinya, makan dengan bayak lauk merupakan suatu kemewahan tersendiri. Dan diatas meja makan, tersedia banyak sekali lauk dan sayur. Yang semuanya nampak begitu lezat.
Tapi demi menjaga rasa malu, Resti tetap makan dengan sewajarnya saja. Walaupun dalam hati ia terus melirik lauk yang belum sempat ia lirik.
“Tidak nambah?” Tanya Jun.
“Ayo Resti, nikmati saja makanannya. Kalau mau tambahlah nasi dan laukmu.” Tawar Ayyara.
“Tidak perlu segan begitu, kami adalah keluargamu, jadi bersikap biasa saja.” Imbuh Ana.
Dalam hati Resti membatin, ternyata Ana jauh lebih supel. Padahal kalau dikantor, Ana adalah termasuk orang yang paling dihormati dan disegani.
“Iya,,,” jawab Resti ragu.
Setelah selesai sarapan, Jun membuka suaranya untuk bertanya.
“Kenapa menyuruh kami kesini, Ma?” Tanya Jun kepada Ayyara.
“Hari peresmian pernikahan kalian sudah ditetapkan. Tanggal 1 agustus nanti. Dan press release tetang pernikahan kalian akan diadakan satu minggu sebelumnya.” Jelas Ayyara memberitahu.
1 gustus? Berarti itu dua minggu lagi? Batin Resti sambil menghitung dalam fikirannya.
Semakin dekat saja waktunya. Waktu yang menandakan masa depannya yang berakhir. Selamanya akan terikat dengan pria yang sangat tidak dia sukai. Pria yang menjadi lambang ketidak beruntungannya. Itulah yang membuat ia tidak menyukai Jun.
Sejak bertemu dengan Jun, seolah semua yang terjadi padanya semakin buruk saja. Sebenarnya Resti hanya butuh orang untuk melampiaskan kebenciannya saja. Dan Jun sangat memenuhi kriteria untuk dia benci.
Jalan takdir yang tidak masuk akal telah melingkarkan tali pengikat yang disebut pernikahan di leher Resti. Bagaimana bisa dia tidak marah kepada Jun? Walaupun sebenarnya itu semua bukanlah salah Jun.
Resti hanya butuh seseorang untuk dibenci.
“Semuanya sudah selesai diurus. Termasuk dengan undangan dan lain sebagainya. Karna ini dimasa pandemi, jadi kita tidak mengundang banyak tamu. Cukup keluarga dekat dan beberapa kolega penting papa saja.” Jelas Ayyara lagi. “Jadi yang harus kalian lakukan sekarang adalah, pergi ke butik tante Widya untuk fitting baju.” Imbuh Ayyara.
“Kami sudah kemarin, tinggal kalian saja.” Jelas Ana kemudian.
“Iya, Ma.” Jawab Jun.
Resti hanya meng-iya lirih sambil mengangguk pelan.
“Bagaimana dengan nenek? Apa kondisinya sudah cukup sehat untuk keacara itu?” Jun tetap mengkhawatirkan kondisi nyonya Gundala.
“Kami sudah bertanya kepada tante Dewi. Dia bilang tidak apa-apa. Karna kondisi nenek sudah semakin membaik.” Jelas Gama.
“Baiklah Pa. Kalau begitu kami bernagkat dulu.” Pamit Jun.
Seperti perintah Ayyara, Jun dan Resti lantas pamit untuk kemudian pergi menuju ke butik langganan keluarga Gundala. Jaraknya lumayan jauh, hampir satu jam-an.
“Apa harus diadakan pesta?” Tanya Resti memecah keheningan didalam mobil.
“Aku tau kau tidak suka dengan hal ini. Aku minta maaf untuk itu. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan. Akan lebih buruk lagi kalau media tau diam-diam. Pesta itu hanya untuk memberitahu keluarga besar kita saja. Tidak perlu diambil pusing.”
Tidak perlu diambil pusing? Enak saja dia bicara. Dengus Resti dalam hati.
“Tidak semudah itu. Karna kau tidak kehilangan apapun karna pernikahan ini.” Ujar Resti kemudian.
“Memangnya apa yang hilang darimu karna pernikahan ini?” Jun balik bertanya.
Karna menurut Jun, pernikahan ini jelas menguntungkan Resti. Kehidupan Jun yang mapan dan bergelimang harta, ditambah wajah yang sudah tidak diragukan lagi ketampannannya, wanita manapun pasti menganggap kalau pernikahan ini merupakan sebuah jackpot yang sangat besar. Tapi ternyata Resti berfikir sebaliknya.
“Masa depanku. Masih banyak hal yang ingin kulakukan dalam hidupku.” Jelas Resti.
“Apa aku pernah melarangmu melakukan apapun yang kau mau? Aku tidak akan menghalangimu, Res.”
“Aku tau. Tapi tetap saja, status pernikahan kita akan menjadi kendala besar nantinya. Saat aku melakukan sesuatu, semua mata pasti akan tertuju padaku. Saat aku ingin melakukan ini dan itu, ada banyak pertimbangan demi menjaga nama baikmu dan keluargamu. Kalau aku, tidak punya nama baik, jadi aku tidak menghawatirkan itu. Selama ini aku hidup sesuka hati. Tidak ada yang namanya ‘nama baik’ yang harus kujaga. Mungkin orang-orang akan berkata kalau aku adalah gadis yang sangat beruntung karna bisa diperistri oleh seorang tuan muda sepertimu. Tapi aku khawatir kalau aku hanya akan mempermalukan kelaurgamu saja.”
Resti meluapkan segala yang ada difikirannya. Dan Jun tidak bisa membantahya. Karna begitulah yang selama ini ia fikir. Bahwa siapapun gadis yang menjadi istrinya, pastilah seperti memenangkan sebuah hadiah yang sangat besar. Karna itu Jun sangat selektif dalam berteman, terlebih dengan perempuan.
Tapi,
Ada yang berdesir dihati Jun. Dan desiran itu, terasa lebih kuat jika dibandingkan dengan sebelumnya.