Kisah percintaan yang sangat menyakitkan!
Dimana dia selalu dipermainkan oleh takdir, dihianati oleh kepercayaan dan dijatuhkan oleh pengharapan.
Dialah Dika Feryaldi, laki-laki yang hidup dengan mengandalkan parasnya. Dia bagai parasit, yang hidup tanpa tujuan.
Hidup baginya bagaikan neraka. Dan kebahagiaan baginya adalah hal yang mustahil. Dia selalu bersikap sinis, kasar, dan tidak ingin tersenyum atau tertawa.
Surga baru dia rasakan setelah bertemu dengan wanita cantik bernama Hana Angela. Perempuan dengan kelas sosial yang tinggi, yang mana dia merupakan putri dari keluarga terpandang.
Dika baru mengerti, kalau dia masih bisa bahagia.
Tapi ternyata, lika-liku perjalanan menyakitkan untuk mendapatkan wanita itu harus dia terjang. Saat itulah, seorang Dika berani berkorban untuk seseorang yang dia cintai.
Setelah lama berjuang untuk mengimbangi kelas wanita itu, Dika kembali diruntuhkan oleh penghianatan. Setelah dia mengabulkan semua keinginan orangtua Hana, dia dihianati sebegitu kejam. Ternyata Hana telah dinikahkan dengan laki-laki yang jauh lebih terhormat darinya. Tidak sampai disana saja, dia makin merasa sakit ketika mengetahui kalau semua orang yang dia percayai ikut menghiantinya.
Sampai akhirnya, Dika ingin menyudahi hidupnya. Dia tidak pernah mengerti akan rencana yang Kuasa untuknya.
"Adakah Bahagia Untukku?? Sekali saja, kumohon biarkan aku merasakan yang namanya bahagia."_Dika Feryaldi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hana Ketahuan
"Jawab pak Aris!!!! Hana pergi kemana selama ini?" teriak Satria Nugroho dengan kemarahan yang meledak-ledak.
"Anu pak..." jawab pak Aris.
"Pak Aris!! Beritahu saya, anda mengantar nya kemana selama ini?" Satria sudah di puncak kemarahannya. Sepertinya dia akan memukul orang tua di hadapannya itu.
Pak Aris sangat ketakutan, apalagi dia tahu benar sikap majikannya ini seperti apa. Akan sangat baik jika perintahnya dilakukan dengan benar. Tapi dia juga bisa berubah menjadi orang yang sangat kejam jika perkejaan yang dia suruh tidak sesuai dengan keinginannya.
"Bapak mau saya pecat?" teriak Satria sekali lagi.
"Ti...tidak tuan." Jawabnya spontan.
"Lalu katakan, kemana dia?"
Pak Aris mengepalkan tangannya kuat. Tapi dia melakukan itu karena takut, bukan karena dendam.
"Dia selalu pergi kerumah seorang pria tuan. Aku tidak tahu nama pria itu siapa." Jawab Pak Aris akhirnya.
"Apa yang dia lakukan disana?" tanya Satria lagi.
"Saya kurang tahu tuan, soalnya saya gak pernah lihat non Hana melakukan apapun disana. Setelah saya mengantar nya, non Hana selalu menyuruh saya pergi." Pak Aris menundukkan kepalanya.
Satria mengepalkan tangannya, rahangnya menegang dan urat-urat nya sudah timbul keluar.
"Sudah berapa hari dia pergi ke sana?"
"hampir dua Minggu tuan." jawab pak Aris.
"Pantas saja, kerjaan kantornya tidak ada yang siap, rupanya dia menghabiskan waktu dengan laki-laki ya," Satria tampak sangat marah. "Sialan! Siapa sebenarnya laki-laki itu, apa sebenarnya yang dia lakukan pada Hana?" gumam Satria.
Melihat itu, pak Aris ketar-ketir ketakutan. Satria orang yang terbilang sangat jarang marah, tapi kalo udah begini, siapapun takut padanya, termasuk orangtuanya sendiri.
"Pak Aris, besok pas pak Aris sudah mengantar nya, jemput saya. Dan, antar saya ke tempat laki-laki itu. Bapak mengerti kan?"
"Baik Tuan." Jawab orang tua itu lemah.
Satria berbalik dan hendak keluar, "Dan satu lagi, jangan beritahu Hana, kalau saya datang kesini hari ini." ucap nya lalu pergi meninggalkan rumah itu.
*******
"Pak, kak Satria kemana? udah hampir satu bulan, kok dia gak ada kabar sih?" tanya Hana ketika perjalanan kerumah Dika.
"Gak tahu non," jawab pak Aris.
"Pak Aris jangan bilang-bilang ya sama kak Satria. Entar aku di marahin sama dia," ucap Hana.
"Baik non," jawab pak Aris singkat.
Akhirnya sampai juga di rumah Dika. Hana langsung turun dan melambaikan tangan pada pak Aris.
Sepeninggalan pak Aris...
"Hai Dika," Hana tersenyum lebar.
"Masuk Han," ucap Dika membalas senyuman Hana dengan tatapan dinginnya.
Dika memang sudah berubah, terkhusus untuk Hana. Dia tidak terlalu kasar lagi sama perempuan ini. Bahkan bisa di bilang sudah terbiasa.
"Om dimana?" tanya Hana.
"Kerja."
"Ohk." Hana mendekat ke arah Dika.
"Kita kekamar yuk!" ajak Dika.
"Hah? kamar?" Hana langsung terkaget-kaget mendengar ajakan Dika barusan. Jantungnya berdegup kencang. Pikirannya langsung aneh-aneh.
Dika terkekeh. "Iya. Gue mau nunjukin sesuatu ke elo," ungkap Dika.
"Tapi kamu tidak akan apa-apain aku kan?" tanya Hana masih curiga.
"Enggak lah, emang gue cowok apaan? gue masih punya hati nurani kali," ucap Dika sambil melangkah menuju kamarnya.
Hana mengikuti Dika dari belakang. Dan masuk ke sebuah ruangan yang minimalis.
"Ini kamar gue. Sorry, tak pernah mengijinkan mu masuk ke dalam." ucap Dika.
Hana terbengong-bengong. Kamar Dika terlihat nyaman. Semua barang-barang tersusun rapi dan sesuai. Dikamar itu juga terdapat jendela kaca yang tembus pandang ke halaman rumah.
Sebenarnya Hana tidak terlalu kaget sih. Dia tahu, kalau Dika memang anak yang rapi, dan disiplin, hanya saja dia tidak terlalu terbuka.
"Kamu mau nunjukin apa?" tanya Hana.
"Elo duduk aja dulu. Tunggu ya," Dika berjongkok didepan sebuah lemari kecil, kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Dan beberapa saat kemudian, Dika membawa sebuah kotak kearah Hana, lalu menyerahkannya.
Hana menerima dan langsung membuka isi kotak itu. Ternyata isinya hanya polaroid.
"Ini apa?" tanya Hana heran.
"Foto ibu gua," jawab Dika.
"Lihat ini, kalian sedikit mirip." Ucap Dika lagi sambil menunjuk sebuah foto sang Ibu ketika muda dulu.
"Beliau cantik." Hana memandang sebuah foto, ketika Ibu Dika menggendongnya waktu bayi.
"Iya kan." balas Dika.
Setelah mereka bercerita banyak hal, Dika kembali menyimpan semua kedalam lemari. Lega sekali rasanya, dia bisa menceritakan banyak hal yang dia simpan selama ini.
Tapi Hana agak tidak peduli dengan cerita Dika di akhir-akhir, soalnya tali bra nya lepas.
Aduh, gimana ini.
Hana berusaha memasang kembali tapi tidak bisa karena dia tidak melihatnya.
"Elo kenapa Han?" tanya Dika melihat Hana yang sedang kesulitan.
"Gak kok." Jawabnya. Memalukan sekali kalo saya Dika tahu.
"Tali bra nya, ya?" tanya Dika ketus. Baginya itu udah hal yang biasa.
Aduh, ini memalukan sekali.
"Hehehe iya," jawab Hana malu. Dia sampai menundukkan kepalanya dalam-dalam saking malunya dia sekarang
"Sini gua bantuin." tawar Dika yang tanpa ba-bi-bu langsung menarik kaos Hana keatas.
"Gak usah...ini terlalu memalukan." Ucapnya menutup mata ketika dia merasakan tangan Dika bersentuhan dengan kulitnya.
"Gua dah biasa melakukan itu. Dulu ketika aku masih playboy, ada banyak cewek yang pura-pura memutuskan tali bra-nya. Terus mereka minta tolong sama gua," cerita Dika tanpa merasa malu.
"Tapi..." belum sempat Hana menyelesaikan kalimatnya, Dika langsung bertindak.
"Ini mah mudah, cuman mengaitkan doang." ucap Dika kemudian yang sambil menutup kembali kaos Hana setelah dia selesai membantu.
Sementara itu, dari balik jendela, seseorang tengah memperhatikan mereka sedari tadi. Seorang cowok tampan dengan tinggi yang hampir sama dengan Dika, serta setelan jas dibadannya, tengah mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia sudah cukup melihat adegan berbahaya yang tidak layak ditonton mata.
Sebenarnya dia memang sudah salah paham tentang keduanya. Dia pikir, Hana dan Dika melakukan tindakan tidak terpuji.
Tanpa berfikir lagi, cowok itu menendang pintu dengan kuat. Lalu masuk ke kamar Dika. Tentu saja Dika dan Hana sangat kaget.
Hana menelan ludah melihat siapa yang datang. "Kak Satria?" ucapnya terkejut.
"Sialan! Dasar bajingan!" seluruh tubuh cowok yang ternyata Satria itu terasa berdenyut. Satria menarik tubuh Dika keluar dari kamar sempit itu menuju ruang tamu. Kemudian kakaknya Hana itu mendorong tubuh besar Dika membentur dinding.
"Hana perempuan baik-baik bajingan!" teriak Satria memukuli Dika.
Dika langsung bangkit dan melawan.
"Ohk... jadi elo sudah sadar sekarang." Dika balik menyerang.
Hana tidak tahu harus melakukan apapun. Ini tentang Dika dan kakaknya. Mengapa kakaknya bisa tiba-tiba muncul. Dari mana dia tahu rumah Dika?
"Kala kamu mau balas dendam, bukan begini caranya. Kamu salah sasaran bodoh!" Satria mencoba meninju wajah Dika tapi berhasil dihindari pria itu.
"Nyatanya gua berhasil kan?"
Terjadilah perkelahian yang tidak bisa di hindarkan. Mereka saling memukul, berguling dan saling mencengkeram.
"Cukup!!!!!!" teriak Hana pada akhirnya.
"Cukup kak Satria! Dika tidak salah," teriak Hana lagi.
Satria menghentikan perkelahian itu. Dia berdiri dan menatap adiknya tajam. Baju mahal milik Satria sudah berantakan, wajahnya penuh lebam dan dari sudut bibirnya mengalir darah.
"Hana, kamu mau belain dia? Jelas-jelas dia salah, dan kau bilang tidak?" tanya Satria gusar.
"Dika memang tidak salah kak!"
"Dia itu bukan cowok baik-baik Hana. Dia hanya mau balas dendam sama aku." Satria berusaha menahan emosinya pada adik manjanya itu. Hana tidak berkutik. Dia hanya memandang kakaknya marah.
"Sekarang kita pulang!" Satria menarik tangan adiknya.
"Aku gak mau pulang! Aku masih mau sama Dika!" Hana langsung melepaskan tangan kakaknya dan berlari kearah Dika yang kemudian membantunya berdiri.
Satria mengacak rambutnya frustasi.
"HANA PULANG!" suara Satria penuh dengan tekanan.
"Aku gak mau!" balas Hana.
"Kalau kamu tidak mau, aku akan memberi tahu kelakuan kamu sama Papa Mama!" ancam Satria.
"Beritahu aja! aku gak peduli!" jawab Hana sambil memapah Dika menuju kamarnya.
Satria sungguh marah sekali. Bagaimana adiknya yang dulunya polos dan tidak pernah melawan kini mendadak berubah.
Dia tidak apa-apa jika cowok yang disukai adiknya adalah orang lain, tapi ini Dika..... laki-laki yang membencinya dengan sepenuh hidupnya.
Sebelum pergi, Satria memecahkan sebuah guci yang ada di atas meja.
"Dasar bangsat!!!!!" kemudian dia pergi meninggalkan rumah itu ...
mampir juga yuk dinovelku
padahal masih ada surat dari hana yg dibawah bi sumi. belum sampai ketangan dika dari situ bisa dijadikan bahan thor .
maaf bukan maksud apa apa, hanya saja kok endingnya jadi gantung gitu gk enak aja jadinya 🙏