Follow IG @rr_maesa
Dilamar pria tampan super tajir, dengan rumah mewah dan perhiasan satu koper, mau? Mau dong! Tapi bagaimana kalau prianya ternyata memiliki gangguan kejiwaan? Masih mau?
Jack Delmar adalah pria tampan kaya raya keturunan bangsawan Perancis, yang mengalami hal buruk di masa kecil yang membuatnya depresi dan terpaksa dirawat di RSJ.
Arasi Mayang, seorang gadis yang menerima lamarannya Jack karena dikejar target menikah tanpa tahu kalau Jack dalam masa pengobatan. Apa yang terjadi ketika Ara baru mengetahui kondisi Jack setelah menikah?
Yuk ikutin kisah cintanya Jack dan Ara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-31 Kedatangan Ibunya Ara
Suasana ruangan itu semakin terasa begitu tegang.
Ara menatap Tuan Ferdi dengan tajam. Meskipun dia merasa ketar ketir dalam hati, dia memaksakan diri untuk berani.
“Memang benar, aku hanya anak ingusan, aku matiran dalam berbisnis. Tapi asal kau tahu aku punya dasar menagerial yang cukup karena aku bekerja di perusahaanku sebagai supervisor,” kata Ara.
Tn.Ferdipun tertawa.
“Hanya seorang supervisor, bisa apa?” cemoohnya.
“Kau tanyakan saja apa mereka percaya dangan kemampuanmu?” tanya Tuan Ferdi kepada semua orang.
“Benar kata Tuan Ferdi, kami lebih yakin kalau Tn.Ferdi yang memimpin, daripada dengan penggantian pemimpin yang tidak jelas,” kata salah seorang diangguki yang lainnya.
Tn.Ferdi tersenyum puas mendengarnya.
“Baik kalian benar, Tn.Ferdi sangat berpengalaman, jadi aku selaku pemilik perusahaan ini menunjuknya menjadi kepala operasional perusahaan ini!” kata Ara, membuat Tn.Ferdi dan Ny.Inez terkejut.
“Jadi artinya, Tn. Ferdi akan bekerja dibawah pengawasanku! Dan itu artinya lagi, aku bisa menggantinya dengan siapapun jika pekerjaannya menurutku tidak bagus,” kata Ara sambil menatap Tn.Ferdi.
Tentu saja Tn.Ferdi semakin marah mendengarnya. Enak saja dia jadi bawahannya wanita ini dan wanita ini dengan seenaknya mengawasinya, sama saja dia menjadi kacung wanita ini.
“Bagaimana Tn.Ferdi? Setuju kan? Kau masih bisa bekerja disini tapi kau wajib melaporkan semuanya padaku selaku pemilik perusahaan ini! Kau hanya kepala operasional saja. Jika kau keberatan maka aku akan mencarikan orang lain yang sanggup menggantikanmu! Dan jika perkejaanmu tidak bagus, aku bisa mencopot jabatanmu kapan saja!” kata Ara.
“Benar-benar wanita ular!” gumam Tn.Ferdi, giginya kembali menggeretuk.
“Tuan Ferdi aku tanya sekali lagi apa kau sanggup? Jika kau tidak sanggup aku akan mencarikan penggantimu sekarang juga!” kata Ara dengan tegas.
Dalam hatinya dia ingin menyingkirkan Tn.Ferdi, tapi dia butuh pendapat Jack kalau soal itu, biar Jack sendiri yang mengambil keputusan untuk keluarganya.
“Iya aku setuju!” tiba-tiba Ny.Inez menjawab, dia memegang tangan suaminya.
“Baiklah aku setuju!” kata Tn.Ferdi dengan terpaksa.
“Bagus!” ucap Ara, lalu menoleh lagi pada semua orang.
“Semuanya sudah jelas, kan Tuan Tuan! Tn.Ferdi yang akan manjabat kepala operasional perusahaan ini. Dan dia wajib memberikan laporan padaku secara berkala. Jadi kalian tidak perlu khawatir dengan kondisi perusahaan karena kalian masih berurusan dengan Tn.Ferdi,” kata Ara.
Para radirinpun mengangguk-angguk setuju.
“Bagi yang tidak setuju, jika kalian ingin menarik saham kalian, aku persilahkan! Tapi yang jelas perusahaan ini adalah milik Tuan Jack Delmar, suamiku. Jika kalian masih keberatan dengan keputusanku, silahkan menarik saham kalian,” kata Ara.
Para hadirin saling berbicara dengan teman-temannya.
“Baiklah Nyonya Delmar, kami setuju!” jawab mereka yang hadir.
“Bagus. Jadi perusahaan akan berjalan seperti biasa,” kata Ara lagi.
“Aku rasa rapat ini sudah cukup. Jika kalian masih ingin berdiskusi dengan Tuan Ferdi, silahkan!” lanjut Ara lalu menoleh pada Tn.Ferdi.
“Tn. Ferdi aku tunggu laporannya setelah rapat kalian selesai,!” kata Ara.
Sudah tidak tertahankan rasa kesal dan marah juga malunya Tn.Ferdi. Dia yang tadinya ingin mempermalukan Jack malah sendirinya yang dipermalukan oleh istrinya Jack.
“Sepertinya aku terlalu menganggap remeh wanita itu,” batinnya.
Ara menoleh pada Pak Beni mengajak keluar. Diapun memeluk tangannya Jack.
“Jack, kita pulang!” ajak Ara.
Pak Benipun membantu memegang tangan Jack untuk bangunkannya dari kursinya. Jack masih menutup kedua telinganya tapi dia sudah mau bangun dari kursinya.
Dengan dibantu Ara dan Pak Beni, Jack keluar dari ruangan itu.
**********
Di tempat praktek Dokter Mia..
“Tuan Delmar terlalu banyak tekanan,” kata Dokter Mia, setelah memeriksa Jack.
Ara dan Pak Beni tidak langsung pulang tapi membawa Jack menemui Dokter Mia.
“Apa kondisinya akan membaik?” tanya Ara, sambil menoleh pada Jack yang hanya duduk saja tanpa bicara apa-apa, tatapannya kosong ke depan. Dia memeluk kedua lututnya seakan takut sesuatu.
Hati Ara begitu sedih melihatnya.
“Kita tunggu beberapa hari bagaimana kondisinya,” ucap Dokter Mia.
“Tuan Delmar tidak pernah seperti ini, kira-kira penyebabnya apa?” tanya Pak Beni.
“Itu tadi terlalu banyak tekanan. Tn.Delmar harus merasa senang dan jangan diberi beban,” jawab Dokter Mia.
“Aku ingin Jack sembuh total, Dokter,” ucap Ara.
“Tidak ada yang tidak mungkin, hanya saja pasti butuh waktu,” kata Dokter Mia.
“Bagaimana kalau kondisi Jack memburuk?” tanya Ara.
“Kemungkinan terpaksa harus dirawat lagi di RSJ,” jawab Dokter Mia, membuat Ara terkejut.
“Aku tidak mau!” ucap Ara.
“Semoga itu tidak akan terjadi,” kata Dokter Mia
Ara menghela nafas panjang, lalu menoleh pada Pak Beni yang juga diam.
Setelah dari Dokter Mia, barulah Ara mengajak Jack pulang. Pria itu sama sekali tidak bicara, tatapannya selalu kosong, spertinya dia berada di dunianya sendiri. Ara mengajak bicarapun tidak dijawabnya.
Sampailah mereka di rumah, hari sudah sore. Sikap Jack masih seperti itu. Ara membawa Jack langsung ke kamarnya, sembil memegang tangannya Jack.
Pak Beni menatapnya masuk kekamar dengan Jack. Tidak ada yang dikatakan Pak Beni, Arapun menutup pintu kamarnya.
“Jack duduklah,” ucap Ara, lalu pergi ke pintu balkon kamar dan membukanya, supaya udara masuk ke kamar.
Tiba-tiba ponsel Ara berdering, Jack langsung menutup kedua telinganya dan beringsut menjauhi Ara.
“Jack, ini hanya suara ponsel!” kata Ara, sambil mengeluarkan ponselnya yang terus berdering.
Jack menatapnya seperti ketakuan dan kembali beringsut mundur.
“Oke, oke, aku menjauh,” kata Ara, melangkah jauh sambil menerima panggilan itu dan ponselnya tidak berdering lagi.
“Sudah berhenti,” kata Ara pada Jack.
Jack menatapnya barulah dia menurunkan kedua tangannya. Ara menatap Jack sepertinya Jack sensitif terhadap suara nyaring, apa ada yang tidak mau di dengar Jack?
“Halo! Halo! Ara!” terdengar suara ibunya Ara di ponsel.
“Ya Bu,” jawab Ara, membelakangi Jack.
“Apa kau sedang bulan madu? Kenapa kau tidak ada menelpon ibu?” tanya Ibunya Ara.
“Tidak Bu, aku banyak pekerjaan,” jawab Ara.
“Pekerjaan? Pengantin banyak pekerjaan? Ya ya Ibu lupa kau pasti tidak mau diganggu kan? Kenapa kau tidak pergi bulan madu saja?” kata Ibunya Ara.
“Tidak apa-apa Bu, Jack hanya sedang tidak sehat saja,” ucap Ara. Dia tidak mau banyak cerita tentang apa yang terjadi dirumah ini apalagi soal kondisinya Jack.
“Apa? Menantu kesayangan ibu sakit? Baiklah sebutkan dimana alamat rumahmu. Ibu harus menengok menantu Ibu! Cepat katakan kalian tingal di rumah nomor berapa?” tanya Ibunya memberondong.
Mendengarnya membuat Ara terkejut.
“Tidak Bu, Jack baik-baik saja, dia hanya flu! Ibu jangan kesini!” larang Ara.
“Kenapa? Kau tidak mau ibumu datang kerumah suamimu? Kau sudah tidak mengakui ibu lagi? Padahal ibu sangat merindukanmu!” kata ibunya Ara marah-marah.
“Tidak Bu, bukan begitu, aku…”
“Apa lagi? Sebutkan alamat rumahmu! Ibu akan kesana! Ibu akan membawakan buah buahan buat menantu kesayangan Ibu, tapi disana pasti banyak buah-buahan atua ibu membawa apa ya?” Ibunya Ara malah pusing memikirkan bawaannya.
“Tidak usah Bu, tidak usah bawa apa-apa,” ucap Ara.
“Ya sudah kirimkan alamatnya, ibu akan kerumahmu,” kata ibunya Ara, lalu tanpa menunggu Ara bicara lagi telponpun ditutup.
Arapun terdiam menatap telponnya yang mati. Bagaimana kalau ibunya tahu kalau Jack mengalami Depresi? Tapi dikirimkannya alamat rumah itu karena tidak mau ibunya marah.
Kenapa dia sampai keceplosan bilang Jack sakit segala, ibunya malah ingin menegok. Ara mengeluh, lalu menoleh ke tempat tidur dia terkejut karena Jack tidak ada.
“Jack! Jack!” panggail Ara, dilihatnya pintu ke balkon yang di bukanya tadi.
Ara buru-buru keluar lewat pintu itu, ternyata Jack sedang duduk di kursi dengan tatapan kosongnya. Saat terdengar suara mobil memasuki pekarangan, mungkin Ny.Inez pulang atau Bastian pulang, Jack langsung menutup telinganya.
Ara menatap suaminya dengan sedih.
“Jack, aku tidak mau kau dirawat dirumah sakit jiwa lagi, aku ingin kau sembuh,” gumamnya, sambil menghampiri Jack lalu duduk disamping Jack.
Tangan Ara menyentuh rambutnya Jack.
“Jack, apa kau mendengarku?” tanya Ara.
“Aku ingin kau sembuh Jack,” ucap Ara, tangannya menyentuh pipinya Jack.
“Katakan aku harus melakukan apa asal kau bisa sembuh, aku mau melakukannya!” kata Ara.
Tidak terluskiskan bagaimana perasaannya yang sakit tersayat-sayat melihat suaminya seperti ini.
“Kau jangan takut, aku tidak akan meninggalkanmu,” ucap Ara. Diapun merubah posisi duduknya jadi menempel disisi Jack.
“Kau sembuh saja kau jarang bicara apalagi sekarang? Aku merasa sepi Jack, bicaralah padaku,” ucap Ara, sambil menempelkan kepalanya kebahunya Jack.
“Jack aku tidak tahu kira-kira apa yang bisa membuatmu sembuh. Seharusnya kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, semua sudah takdir, itu yang harus kau ingat,” ucap Ara lagi.
“Kau tidak melakukan kesalahan, Jack. Dengan usia anak-anak, kadang mereka memang melakukan hal-hal yang berbahaya karena mereka tidak mengerti apa itu bahaya,” ucap Ara.
Tapi Jack hanya diam saja. Mata Ara melirik ke tangan Jack lalu memeluknya.
“Aku ingin kau sembuh Jack. Kau bilang kau mencintaiku. Kalau kau mencintaiku, sembuhlah untukku Jack,” pinta Ara, menyentuh jari-jarinya Jack.
“Tanganmu sangat kekar, sepertinya kau memang sudah terbiasa berolah raga,” gumam Ara, mengusap-usap lengannya Jack.
Suaminya itu hanya diam saja. Lambat laun Ara merasakan kantuk, kenapa dia suka merasa kantuk jika menempel ditubuhnya Jack? Arapun lama kelamaan tertidur bersandar kebahunya Jack sambil memeluk tangannya.
Satu jam kemudian…
Ibunya Ara menempelkan kepalanya ke kaca jendela mobil.
“Nah ini benar rumahnya!” serunya pada supir taxi itu yang segera melambatkan mobilnya.
“Ini Nyonya?” tanya Pak Supir.
“Iya benar, nomornya sama seperti yang Ara kirim,” jawab ibunya Ara.
“Wah rumahnya besar sekali…”gumamnya.
Pak supir taxi membunyikan klakson mobilnya.
Soerang satpam sudah berdiri di gerbang.
“Ada perlu dengan siapa?” tanya Pak satpam.
Ibunya Ara membukakan kaca jendelanya.
“Apa benar ini rumahnya Tuan Jack Delmar?” tanya Ibunya Ara, padahal jelas-jelas di tembok bertuliskan nama Mr. Delmar.
“Benar, anda siapa?” tanya Pak satpam.
“Aku mertuanya! Aku sudah ada janji dengan putriku, Arasi!” jawab ibunya Ara.
“Masuklah!” ujar Pak satpam langsung membuka gerbang rumah itu.
Taxipun masuk ke pekarangan rumah itu.
”Rumahnnya benar-benar mewah, tenyata menantuku benar-benar kaya,” gumam Ibunya Ara sambil turun dari taxi setelah membayar uang taxi. Taxi itupun meninggalkan halaman rumahnya Jack.
Sedang mematung melihat ke sekeliling, pintu besar itupun terbuka. Seseerang sudah berdiri disana.
Ibunya Ara menatap pria yang berdiri menatapnya.
“Aku ibunya Ara, mertuanya Jack,” kata Ibunya Ara meskipun belum ditanya.
“Silahkan masuk Nyonya!” kata Pak Atam mempersilahkan masuk. Ibunya Ara mengangguk lalu melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu.
Kaki ibunya Ara langsung berhenti saat melihat isi rumah itu. Sangat luas, sepertinya kalau diadakan pesta dirumah ini masih cukup menampung orang banyak.
Lantainya juga terlihat sangat bening, perabotan juga sangat mewah, lampu hias tergantung dengan indah, benar-benar rumah yang seperri istana. Ara pasti bahagia tinggal disini, batinnya.
“Nyonya tunggu sebentar, saya akan memanggil Nyonya Delmar,” kata Pak Satpam membungkukkan badannya lalu beranjak. Baru juga beberapa langkah terdengar suara ketukan sepatu wanita menuju ruangan itu.
“Ada tamu siapa?” tanya suara dibalik ruangan yang akan dilewati Pak Atam.
“Ada ibunya Nyonya Delmar,” jawab Pak Atam.
“Apa? Ibunya Ara? Mau apa dia?” kata Ny.Inez terkejut.
Baru juga dia pulang dengan lelah atas kejadian tadi di kantornya, sekarang malah datang besannya ke rumah.
“Saya Nyonya! Besanmu!” teriak Ibunya Ara, saat mendengar suara yang di kenalnya pasti itu ibunya Jack.
Ibunya Ara menoleh kearah pintu dengan senyum lebar dibibirnya.
Ny.Inezpun memasuki ruang tamu itu. Ibunya Ara menatapnya dengan sumringah.
“Nyonya Besan! Maaf aku datang tidak mengabari dulu!” kata Ibunya Ara.
Ny.Inez menghampiri dengan raut muka yang masam.
“Ada apa kemari?” tanya Ny.Inez menatapnya tidak suka.
“Aku dengar menantuku sakit, jadi aku kemari ingin menjenguknya, tapi ayahnya Ara sedang bekerja lembur pulangnya malam, jadi aku datang sendiri saja, “ jawab Ibunya Ara dengan ramah.
Ny. Inez melangkahkan kakinya beerapa langkah sambil melipat kedua tangan di dadanya.
“Kau kesini mau menjenguk Jack?” tanya Ny.Inez.
“Iya katanya menantuku sakit, jadi belum berangkat bulan madu, sebelum berangkat bulan madu, aku kemari, aku membawakan ramuan tradisional dan madu supaya Jack cepat sembuh dan Vit! Jangan sampai bulan madu mereka terganggu,” ucap ibunya Ara.
Mendengarnya Ny.Inez tertawa.
“Bulan madu? Hahha..” ucap Ny. Inez.
“Iya bulan madu, sudah biasa kan pengantin bulan madu,” kata Ibunya Ara, mulai merasa bingung dan heran dengan sikapnya ibunya Jack itu.
“Mereka tidak akan pernah bulan madu, dengan kondisi Jack seperti itu!” kata Ny.Inez.
“Kondisi Jack seperti itu? Apa maksudmu seperti itu?” tanya Ibunya Ara terkejut.
Ny.Inez menatap ibunya Ara dengan tajam.
“Jadi Ara tidak mengatakan apapun soal kondisi Jack?” tanya Ny.Inez.
“Tidak besan,” jawab ibunya Ara.
“Kau berharap putrimu menikah dengan putraku karena ingin bersenang-senang kan?” kata Ny. Inez.
“Kau ini bicara apa?” tanya ibunya Ara.
“Kalau kau fikir putrimu akan senang, kau salah! Putrimu akan menangis disini!” jawab Ny. Inez, semakin membuat ibunya Ara terkejut.
“Nyonya, kau ini bicara apa? Kenapa putriku akan menangis? Jangan kau katakan kau akan menyakiti putriku, kau tidak tahu akan berhadapan dengan siapa!” kata ibunya Ara, dia langsung melintingkan kedua lengan bajunya.
“Hei-hei kau mau apa?” tanya Ny.Inez terkejut.
Ibunya Ara langsung melepas sepatunya juga.
“Kalau kau menyakiti putriku, kau akan berhadapan denganku! Jangan kau fikir aku tidak bisa bela diri! Aku akan mengalahkanmu dengan mudah!” ancam ibunya Ara menatap Ny. Inez, sambil kembali menarik lengan bajunya.
Ny. Inezpun tersenyum sinis melihat sikap ibunya Ara itu.
“Pantas saja Jack memilih putrimu, kerena kalian keluarga yang tidak waras!” ucapnya.
“Eh Nyonya! Apa maksudmu bicara begitu? Kau mengatai aku gila?” maki ibunya Ara, dia benar-benar melepas sepatunya.
“Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa! Jangan coba-coba menghina keluargaku!” maki ibunya Ara.
Ibunya Ara itu akan melangkah maju tiba-tiba terdengar suara Ara memanggilnya.
“Ibu!” teriak Ara, membuat ibunya Ara menghentikan gerakannya.
************
Readers, seminggu ini aku akan telat-telat upnya soalnya sedang ngejar target banner rekomendasi nulisnya banyak jadi lama.
Jangan lupa likenya.
*********
mana ada cowo gila romantis.. ada d tempat yang sama, sempet sempetnya kirim bunga
ibarat kalau pilih kiri (dikejar pria beristri)
pilih kanan dikejar pria autis (gangguan jiwa)
tp setidaknya jack itu ganteng, kaya raa.. pilih dia aja.. minus ny cuma atu, dia gila raa.. gapapa lah.. ketutup ama ketajiran ny.. anak semata golek kolongmerat..
dr pada pilih laki beristri..
mending setia.. bisa bisa nambah pasukan.. belum lagi anaknya banyak.. di unyeng2 istri tua.. haih...ibarat udah jatoh nyusruk ke selokan comberan itu mah.. dibahagiain kaga.. sengsara udah pasti
seneng bgt 🥰