Kehidupan Satya Avero Angkasa sangat jauh dari kata baik. Setiap malamnya ia habiskan untuk bersenang-senang dengan para wanita bayaran.
Kehidupan Satya berubah saat seorang murid pindahan dari luar negeri yang kini sudah menetap di negara tercinta.
Rindi Wijaya, adalah perempuan yang menganut tata krama dan tahu bagaimana bersikap kepada orang lain. Setelah puasa sekolah grammar, kini Rindi bisa bernafas lega bisa merasakan sekolah biasa.
Namun semuanya tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan ketika dirinya bertemu dengan seorang pria mesum yang punya berbagai cara untuk mendekatinya..
Ikuti terus kisah mereka!
Fllw ig : @rohmatulkarimah_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohmatul karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lo Bukan Gue
Satya menyesap minumannya dengan menikmati para wanita yang ia sewa menari gemulai tanpa busana apapun pada tubuhnya
"Bi*ch, kemari!" para wanita itu tersenyum menggoda dan menghampiri Satya yang sedang menikmati vodka
"Apa yang terjadi babe? Kamu terlihat begitu kacau?" tanya salah satu wanita malam itu, Satya menggelengkan kepalanya.
"Ahh.." Satya meletakkan botol ke empat dan terakhir yang ia tegak. Hanya butuh lima belas menit saja untuk Satya menghabiskan minuman segar di tangannya. Minuman yang selalu menjadi teman dan penenangnya dikala masalah datang menghampiri
"Gue mau lo bertiga puaskan gue dan buat gue melupakan masalah yang ada saat ini."
"Sesuai dengan apa yang kamu minta babe." jawab mereka serempak dan memulai aksi mereka.
Satya tersenyum menyaksikan para wanita pemuas nafsu itu berebut untuk memuaskan nya, merasakan sensasi yang begitu panas Satya memejamkan matanya. Ia ingin menikmati setiap sentuhan yang dilakukan para pemuas nafsu itu berikan pada kulit bagian atasnya
"Kalian memang begitu ahli dalam hal memuaskan," Satya menyeringai menatap tiga wanita yang sedang tersenyum menggoda dengan tetap menyentuhnya
Satya mengangkat sebelah alisnya ketika sepasang tangan berada diatas juniornya dan dengan senyum menggoda padanya, wanita itu meremas dengan pelan adiknya. Membuat Satya tidak bisa menahan ******* sexy nya
"Eughhh..." keluh Satya
"Bi*ch! Lo bergerak cepat dari teman-teman lo."
"Tentu saja babe, bukankah aku yang paling mengerti kamu?" Satya mengangkat kedua bahunya, ia tidak begitu fokus dengan apa yang wanita itu katakan karena kenikmatan yang sedang melanda dirinya
Brakkk.
Ke empat orang yang berada didalam ruangan itu terperanjat saat pintu ruangan itu terbuka paksa, mata Satya menajam ketika melihat siapa pelaku yang menggangunya
"Bangs*t! Apa maksud lo mengganggu gue El?!.." Satya menyingkirkan para wanita itu dan segera turun dari atas kasur.
Samuel melangkah masuk tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia tidak perduli dengan Satya yang mungkin sudah ingin menelannya hidup-hidup. Dengan langkah lebar Satya menghampiri Samuel, dan dengan hitungan detik Samuel tersungkur ke lantai
Samuel mengusap pipinya yang terkena bogeman Satya, ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Satya yang juga tengah menatapnya tajam. Satya menarik baju Samuel, membuat Satya sedikit mengangkat tubuhnya karena tarikan Satya membuat lehernya tercekik
"Bisa tidak lo jangan mengganggu gue sehari saja?" tanya Satya dengan geraman, Samuel tersenyum. Ia tahu mau semarah apapun Satya padanya tidak akan pernah berani untuk memukul dirinya lebih dari satu kali
"Gue seperti ini karena gue perduli sama lo, gue enggak mau lo semakin hancur Sat. Hidup lo terlalu berharga jika melampiaskan amarah dan masalah dengan seperti ini, kasihan Papah dan Mamah,.."
"Shuttt.. Gue enggak mau mendengar nama itu."
"Kenapa? Ada yang salah dengan nama itu? Bukankah kedua nama itu yang membuat lo ada di bumi ini? Kenapa lo tidak mau menerima mereka berdua di hidup lo?"
"Lo bukan gue El, jadi jangan selalu bertanya dengan pertanyaan yang tidak mungkin bisa gue jawab." jawab Satya dengan nafas yang naik turun, sungguh jika bukan Samuel yang membahas tentang kedua orang tuanya ia akan menghajar habis-habisan orang tersebut
"Tapi apakah tidak ada sedikit rasa di hati lo untuk kedua orang tua lo Sat?" Satya menggelengkan kepalanya
"Sama sekali tidak ada tempat di hati maupun hidup gue untuk mereka, semuanya sudah sirna bersamaan dengan perasaan mereka yang sudah mati sejak gue masih kecil."
Selama Satya dan Samuel sibuk dengan urusan mereka, ketiga wanita itu diam-diam pergi dari sana tanpa mengatakan apapun. Samuel tersenyum saat mengetahui para wanita malam itu meninggalkan ruangan yang Satya tempati untuk bersenang-senang
"Lo belum mengerti kalau lo belum menjadi orang tua Sat, apa lo pikir mudah menjadi orang tua?" Satya menatap Samuel serius, namun setelah itu ia tertawa keras membuat Samuel menjadi bingung
"Apa dia kerasukan?" batin Samuel
"Hahha... Hahha... Hahhhaa..." Satya langsung terdiam dan menghempaskan baju Samuel yang ia tarik
"Lo tahu bukan apa tugas dari kedua orang tua?" tanya Satya kepada Samuel
"Tentu saja gue tahu." jawab Samuel
"Jika lo tahu untuk apa lo bertanya seperti itu sama gue?" Satya mengeratkan rahangnya sambil menatap tajam Samuel
"Mereka melupakan tanggung jawab mereka sebagai orang tua, mereka terlalu mementingkan uang daripada gue anaknya." lirih Satya
"Itu juga untuk lo Satya," Satya menggelengkan kepalanya, lalu ia berbalik dan terdiam saat melihat diatas kasur tidak ada lagi para wanita bayarannya. Satya melirik menggunakan ekor matanya ke belakang, ia menghela nafas kasar saat lagi-lagi kesenangan nya terganggu oleh Samuel
"Pulang lah El, biarkan gue sendiri dulu. Gue butuh waktu untuk menghilangkan semua ini dari kepala gue." ucap Satya meminta Samuel untuk pulang dan berhenti mengikuti dirinya. Satya merasa seperti burung dalam sangkar jika Samuel di sampingnya
"Enggak. Gue akan pulang jika lo juga ikut pulang bersama gue, gue enggak akan biarin lo sendiri dengan keadaan seperti ini Satya." Samuel menekankan kalimatnya dengan menyebut nama Satya di ujungnya
"Huhh... Lo mau dikasih apa sama dua orang itu?"
"Satya!" teriak Samuel
"Apa?" tanya Satya tak kalah sengit
"Mereka orang tua lo! Tolong hargai sedikit perasaan mereka Satya, lo anak satu-satunya mereka. Tapi kenapa lo seperti ini? Coba lihat wajah Mamah Sahira, lihat! Apa lo enggak kasihan melihat Mamah lo yang mengemis cinta dari Putra nya? Apa enggak ada sedikit saja rasa sayang di hati lo untuk Papah dan Mamah? Harapan mereka ada di lo Sat, tapi kenapa lo seperti ini? Kenapa lo harus memusuhi mereka hanya karena kesalahan kecil."
"Itu bukan kesalahan kecil Samuel." Satya kembali melengkah mendekati Samuel
"Lo bukan gue, jadi lo enggak tahu apa-apa sama yang gue rasain."
"Apa? Selalu di tinggal oleh kedua orang tua saat masih kecil? Atau tidak diperhatikan dan kurang kasih sayang? Ya?" Samuel mengangkat dagunya, membuat Satya tersenyum kecut. Satya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Samuel, sahabatnya ini selalu menjadikan apa-apa dengan bahan candaan
"Enggak lucu! Kalau lo mau ngelucu nanti, saat gue sudah tidak dalam keadaan seperti ini. Untuk sekarang gue males ngeladenin kekonyolan lo." Satya mengatakan itu dengan menatap Samuel, setelah itu ia berbalik dan melangkah mendekati kasur mengambil baju yang ia kenakan tadi
Samuel memperhatikan Satya dari tempatnya, tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk membuat seorang Satya sadar dari pikiran salah yang sudah bertahun-tahun ia tanam di hidupnya.
"Gue hanya berharap lo sadar sebelum lo menyesal nantinya." Satya menghentikan tangannya yang sedang mengancing baju, ia melihat lurus ke depan, setelah itu ia melanjutkan mengancingkan bajunya
Samuel yang sudah malas pun memilih pergi dari sana, lebih baik ia mengintai Satya menggunakan anak buahnya. Itu lebih aman dan tidak menguras emosi pikir Samuel
_
_
_
_
Bersambung...
kak buat rindi tau kelakuan Satya di luar dong yang berhubungan dengan cewek lain, biar jera satya
semoga Satya dapat pelajar dari kelakuannya, di tinggal rindi,biar gak gitu lagi kelakuannya