Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"Jangan buang-buang waktu, Mas Haryo! Ratakan saja rumahnya sekarang! Biar dia tahu rasa akibat melawanku!" desak Siska tidak sabar, jarinya menunjuk wajah Mahardika.
"Bos Jarot, perintahkan operator ekskavator untuk maju! Hancurkan rumah itu sekarang!" perintah Haryo tajam.
"Siap, Bos!" Bos Jarot mengangkat tangannya.
"Maju! Ratakan bangunan tua itu!" kata Jarot memberi aba-aba pada dua pengemudi alat berat di belakangnya.
Ngoeanggg!
Mesin ekskavator raksasa menderu nyaring. Keruk besi besarnya terangkat tinggi, siap dihantamkan ke atap rumah Mahardika.
Melihat hal itu, Mahardika menyipitkan matanya. Energi murni keemasan di dalam tubuhnya mulai bergejolak hebat, siap meledak untuk meremukkan seluruh preman dan alat berat tersebut dalam sekejap.
Namun tepat sebelum keruk besi ekskavator bergerak turun, dari ujung jalan desa, sirine mobil polisi dan belasan mobil sedan mewah berbunyi dengan melaju cepat.
Ckiiiiiithhh!
Mobil sedan hitam serta tiga mobil patroli polisi langsung menerobos masuk dan mengepung balik rombongan preman Haryo.
Puluhan pria bersetelan jas hitam dengan mengarahkan senjata dan mengepung anak buah Bos Jarot.
Siska dan Haryo melotot kaget. "A-apa-apaan ini?! Siapa mereka?!"
Pintu sedan Maybach hitam yang berada di paling depan terbuka.
Seorang pria paruh baya membawa tongkat kayu melangkah turun.
Di belakangnya, Kapolres Kota berjalan tergesa-gesa dengan wajah tegang.
Pria paruh baya itu adalah Tuan Baskoro Utama.
Melihat kehadiran bos tertingginya secara mendadak, tubuh Haryo gemetar hebat.
Rokok cerutu langsung ia buang.
Ia cepat-cepat berlari mendekat sambil membungkuk-bungkuk penuh penghormatan.
"T-tuan Besar Baskoro?! Kenapa Tuan Besar bisa ada di desa terpencil ini?! Jangan khawatir, Tuan! Saya sedang membereskan lahan untuk proyek baru Perusahaan Perkasa! Bocah miskin penyerobot tanah ini akan segera saya ratakan!" kata Haryo gagap.
Namun, Tuan Baskoro sama sekali tidak memandang Haryo.
Ia menatap melihat pekarangan, lalu tertuju tepat pada Mahardika yang berdiri tenang.
Tanpa memedulikan Haryo yang masih membungkuk di sampingnya, Tuan Baskoro melangkah cepat mendekati Mahardika.
Haryo, Siska, Bos Jarot, puluhan preman, hingga warga desa melihat Tuan Baskoro membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat di hadapan Mahardika.
"Dokter Mahardika... maafkan saya karena terlambat datang!" ucap Tuan Baskoro dengan penuh penyesalan.
Haryo berdiri kaku, mulutnya menganga lebar. Siska terperanjat, di balik kacamata hitamnya.
Bos Jarot dan puluhan premannya mendadak kebingungan.
"T-Tuan Besar Baskoro...? A-apa yang Tuan Besar lakukan?! Dia ini cuma pengemis miskin penyerobot tanah! Dia bukan dokter..." panggil Haryo dengan suara gemetar hebat.
PLAKKK!
Sebuah tamparan keras di wajah Haryo.
Kapolres Kota yang berdiri di samping Tuan Baskoro sendiri yang melayangkan pukulan itu hingga Haryo tersungkur ke tanah.
Ia memegangi pipinya yang bengkak dan kemerahan.
"Tutup mulut busukmu, Haryo! Berani sekali kamu menghina penyelamat nyawa Tuan Baskoro?!" bentak Kapolres dengan nada tegas dan penuh amarah.
"P-penyelamat nyawa...?" cicit Siska dengan suara ketakutan, langkah kakinya mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh.
Tuan Baskoro menatap tajam ke arah Haryo dan Siska dengan kemurkaan.
"Haryo... Siska... Kalian menggunakan nama besar Perusahaan Properti Perkasa untuk memalsukan dokumen, menindas rakyat kecil, dan mencoba meratakan rumah dari pria yang kemarin malam menyelamatkan nyawaku dari kematian?!" ucap Tuan Baskoro sangat rendah, tapi penuh penekanan.
⛹️♂️