Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Keesokan harinya.
Pagi hari setelah matahari terbit, Su Wanwan menarik Huo Beichen yang sudah PW berkultivasi di ruang dimensi nya untuk keluar.
"Sayang, sebentar lagi aku hampir merasakan terobosan. Kenapa tarik aku keluar? Bukankah kamu bilang aku harus berkultivasi agar cepat sampai tingkat menengah Qi?"
"Hari ini berhenti kultivasi selama beberapa jam, temani aku keluar."
Meskipun tidak tahu akan keluar kemana, akhirnya Huo Beichen pasrah di tarik istrinya. Su Wanwan membawa Huo Beichen keluar menuju perumahan warga desa, karena jarak rumah nya yang cukup terpencil maka butuh beberapa waktu untuk mereka berjalan sampai ke perumahan warga.
"Berjalan santai saja, istriku, apa yang kamu kejar?" Bingung Huo Beichen.
Su Wanwan tidak mendengar jelas perkataan suaminya, ia hanya menatap sekeliling hingga akhirnya langkah kakinya terhenti.
"Lihat, di depan sana ada bibi-bibi desa yang sedang berkumpul. Kita berjalan saja dengan natural dan bercakap-cakap sebentar dengan mereka, setelah itu kita pergi. Oke!"
"O-okee..." Jawab Huo Beichen dengan sedikit ragu dengan rencana istrinya, namun ia tidak sempat bertanya karena istrinya sudah lebih dulu melangkah menuju kerumunan bibi itu.
Di sirkel bibi-bibi desa, begitu visual Su Wanwan dan Huo Beichen mulai terlihat dari jarak mata memandang. Seketika perhatian mereka mulai tertuju pada mereka berdua, namun sampai mereka berdua-- jalan mendekat pun bibi-bibi itu hanya berani melihat dan mencuri-curi pandang tanpa sedikitpun menyapa dan bertanya.
Su Wanwan mengerutkan keningnya, mengapa mereka diam saja? Apakah mereka tidak penasaran?
Akhirnya setelah di pikir-pikir Su Wanwan pun menyapa duluan. "Nenek Bao, selamat pagi, bagaimana kabarmu?"
Nenek Bao adalah perempuan tua yang hampir jatuh saat menatap nya di kereta sapi Labao terakhir kali.
"Ehh?"
Kumpulan bibi-bibi itu seketika menjadi penasaran, apakah nenek Bao dan perempuan itu berkenalan? Namun nenek Bao tampak bingung dan kesulitan menatap Su Wanwan.
"Nona, apakah anda tidak salah orang? Nenek tua ini sama sekali tidak mengenal mu..."
"Nenek Bao, ini aku, terakhir bertemu kita berada di gerobak sapi Labao. Aku Su Wanwan."
"HAH?!"
Baik nenek Bao maupun bibi-bibi yang lain seketika terbelalak, mata mereka terbuka lebar. Menatap nona muda cantik yang mengaku sebagai Su Wanwan yang jelek.
"K-kau Su Wanwan?!" Bibi-bibi dan nenek-nenek itu mengucek mata menatap Su Wanwan dengan seksama.
"Tentu saja" Su Wanwan tersenyum cantik menatap mereka semua.
"Astaga, Su Wanwan?! Cantik sekali, bagaimana... Bagaimana bisa jadi secantik dan kurus seperti ini?"
"Bibi, nenek tenanglah. Ini suamiku, kami menikah saat muda dan baru bertemu kembali beberapa waktu lalu. Setelah bertemu suamiku aku sadar ternyata selama ini aku sakit hingga tubuh ku membengkak dan kulit ku rusak. Jadi suamiku membiayai pengobatan ku dan merawat ku hingga bisa menjadi seperti ini." Cerita Su Wanwan tanpa celah sama sekali.
Para bibi dan nenek itu terpukau dan terlihat sangat percaya, mereka lalu menatap laki-laki yang menjadi objek perkenalan Su Wanwan.
"Ini suami mu, astaga tampan nya. Terlihat berwibawa dan mulai, pasti tuan muda kaya ya!"
"Astaga, gagah sekali!"
"Halo, salam nenek-bibi, saya suami Wanwan terimakasih sudah menjaga Wanwan selama ini. Ini sedikit hadiah dariku semoga nenek-bibi menyukai nya."
Huo Beichen memberi salam dengan sopan dan melemparkan perak ke masing-masing tangan bibi dan nenek itu. Membuat mereka semua sangat terkejut sekaligus dan tak menyangka, namun dengan semangat memasukan perak nya ke pakaian mereka.
"Tidak-tidak, tidak merepotkan sama sekali."
"Tuan muda sangat dermawan, semoga pernikahan kalian selalu sejahtera."
Satu persatu dari mereka berebut memberikan pujian, Su Wanwan diam-diam memberikan lirikan berbahaya pada suaminya. Tidak dulu maupun sekarang ternyata kebiasaan boros ini tidak berubah, namun beruntung nya suaminya saat ini seorang tuan muda Huo yang kaya. Sehingga beberapa pecahan perak itu tidak perlu di permasalahkan.