NovelToon NovelToon
DIA DARI MASA LALUKU

DIA DARI MASA LALUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Selingkuh / Obsesi
Popularitas:571
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.

Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.

Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan salah Kakak

...•••...

“Sial!”

Sedari sore tadi Sian hanya berdiam diri di kamar Jay tanpa melakukan apapun. Sahabatnya itu meninggalkannya begitu saja, seolah-olah keberadaannya di rumah ini bukan tanggung jawabnya.

Tau kayak gini mending gue nggak ikut! Gerutunya dalam hati.

Tak habis-habisnya Sian menyumpahi Jay. Tenggorokannya benar-benar kering, sementara perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Terakhir kali makan, ya, saat di restoran dalam perjalanan.

Nyesel banget gue nggak langsung makan pas di prasmanan tadi!

Padahal, makanan yang disajikan di sana keliatan enak-enak. Sialnya, Sian malah cuma makan es krim. Sekarang, setelah berjam-jam ditinggal sendirian, barulah dia menyesali keputusannya sendiri.

“Lapar banget, cok!”

Sian bangkit dari rebahannya lalu berjalan menuju pintu kamar. Dibukanya pintu itu sedikit sebelum kepalanya menyembul keluar, mengamati keadaan rumah yang tampak sepi.

Orang kaya emang beda, ya. Rumah Segede gaban, tapi penghuninya cuma 2 orang. Sekarang nambah 1 lagi gara-gara bokap Jay nikah lagi.

Pikirannya kemudian beralih pada rumah-rumah di kampungnya. Rumah yang ukurannya jauh lebih kecil, tetapi dihuni banyak anggota keluarga. Sebagian orang di lingkungannya masih berpegang pada prinsip banyak anak banyak rezeki tanpa benar-benar mempertimbangkan apakah mereka sanggup memenuhi kebutuhan semua anaknya.

Menurut Sian, memiliki anak bukan cuma soal berharap rezeki datang. Ada tanggung jawab besar yang harus dipikul orang tua. Kalau kebutuhan anak-anak saja tidak terpenuhi, bagaimana mereka bisa mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik? Jangan sampai keadaan itu terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Beruntungnya, Sian memiliki orang tua yang mau mendengarkan pendapat anak-anaknya. Ia sendiri cukup sering bercerita kepada mereka tentang berbagai hal, dan meskipun tidak semua pendapatnya harus disetujui, kedua orang tuanya selalu bersedia mendengarkan.

Sebagai anak pertama, Sian ingin memanfaatkan kecerdasannya untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Beasiswa yang berhasil diperolehnya di perguruan tinggi menjadi salah satu langkah awal untuk mewujudkan keinginannya keluar dari jerat kemiskinan dan memberikan kehidupan yang lebih baik kepada orang tuanya dan kedua adiknya.

Namun, memikirkan semua itu tidak akan membuat perutnya kenyang.

Sian kembali melirik lorong rumah yang sepi. Ia sudah tidak peduli lagi kalau harus bertemu dengan penghuni rumah lainnya. Yang jelas, dia harus menemukan sesuatu untuk dimakan dan diminum sebelum benar-benar kehabisan tenaga.

Perlahan Sian menuruni anak tangga. Ia bahkan belum tahu di mana letak dapur rumah ini, tetapi yang terpenting, ia harus menemukannya! Bukannya tidak sopan atau berniat mengacak-acak rumah orang, hanya saja ia sudah tidak sanggup menahan rasa lapar dan haus yang sejak tadi menyiksanya.

“Di mana sih dapurnya?”

Begitu sampai di lantai bawah, pandangan Sian berkelana ke segala arah. Rumah itu begitu luas sampai-sampai ia tidak tahu harus melangkah ke mana.

“Cari siapa dek?”

Seketika tubuh Sian menegang. Rasanya benar-benar seperti pencuri yang baru saja tertangkap basah.

Perlahan, ia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan seorang perempuan dewasa yang berdiri tak jauh darinya. Wajah perempuan itu tampak polos tanpa riasan, tetapi justru itulah yang membuat Sian terdiam selama beberapa detik.

“Cantik, cok,” lirihnya tanpa sadar.

Begitu menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya, Sian buru-buru menggeleng, lalu menampar pipinya sendiri.

“Hei, kenapa?” Perempuan itu sontak mengernyit heran.

“Eng-enggak, Kak.” Wajah Sian memerah. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, berharap perempuan di hadapannya tidak menyadari betapa malunya dirinya saat ini.

Sial! Malu banget gue.

“Kamu mau makan?”

“Iya, Kak. Gue… maksudnya, aku lapar. Iya lapar. Haus juga.”

Perempuan itu terkekeh melihat tingkah anak muda di hadapannya. Entah apa yang membuatnya sampai salah tingkah seperti itu, tetapi reaksinya cukup menggemaskan untuk disaksikan.

“Ya sudah, kita ke dapur,” katanya sebelum berbalik dan berjalan lebih dulu.

Sian segera menyusul dari belakang.

Pantesan si jay tergila-gila, bentukannya aja kaya dewi.

Pakaiannya sederhana, hanya celana panjang putih dan kaus putih berlengan pendek tapi entah kenapa auranya benar aur-auran!

Bisa aja si Jay nyari yang cakep, pikir Sian sambil senyam-senyum sendiri.

"Nggak usah masak yang aneh-aneh, Kak. Mie juga gapapa, kok,” kata Sian begitu mereka sudah sampai di dapur.

“Iya, nih. Kayaknya belum belanja, jadi enggak ada apa-apa,” sahut perempuan itu.

“Maaf, ya, Kak, jadi ngerepotin.”

“Enggak ngerepotin, kok. Duduk dulu aja.” katanya sebelum mulai menyiapkan pasta dengan bahan-bahan yang tersedia.

“Kak, aku minta minum, ya.”

“Iya, ambil aja.”

Sian meraih botol air mineral yang terletak di atas meja bar, lalu meneguknya sampai habis dalam sekali minum.

“Hah… segarnya~”

Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan sebelum kembali meletakkan botol kosong itu.

Melihat perempuan itu dari dekat membuat Sian kembali teringat pada cerita-cerita Jay. Begitu banyak hal yang pernah diceritakan sahabatnya itu sampai-sampai Sian merasa sudah cukup mengenal perempuan tersebut, meskipun mereka baru bertemu sekarang.

Sebenarnya, ia ingin sekali mengajukan berbagai pertanyaan. Namun, rasanya kurang sopan jika ia sampai mencampuri urusan yang bukan ranahnya. Bagaimanapun, di sini ia hanyalah teman Jay yang kebetulan mengetahui kisah di antara mereka.

Namun, sebelum sempat mempertimbangkannya lebih jauh, sebuah pertanyaan terlanjur meluncur dari mulutnya.

“Nama kakak, Sua, ya? Kak Sua?”

Gerakan perempuan itu yang hendak menuangkan pasta ke dalam piring seketika terhenti. Ia berdiam sejenak sebelum akhirnya berbalik menatap Sian.

“Jay sering cerita?”

Sian mengangguk. “Iya. 2 tahun terakhir ini dia sering cerita soal kakak. Sampai gumoh aku dengarnya,” kekehnya, seolah-olah sedang mengadukan kebiasaan buruk sahabatnya sendiri.

Perempuan itu kemudian menghampiri Sian sambil membawa sepiring pasta yang sudah siap disajikan.

“Makasih banyak, ya, Kak!” Sian menyambutnya dengan mata berbinar sebelum langsung melahap hidangan di hadapannya.

Namun, setelah beberapa suapan, ia baru menyadari bahwa perempuan itu sudah duduk di hadapannya. Sian pun menghentikan makannya sejenak dan mengangkat wajah.

“Maaf, kak. Lapar banget hehe.”

“Iya, enggak apa-apa. Makan aja sampai kenyang.”

Sian hanya mengangguk antusias.

Beberapa saat kemudian, setelah makanannya habis dan air minumnya tandas, Sian baru menyadari bahwa sejak tadi hanya dirinya yang makan.

Sial, kenapa baru sadar sekarang, sih?

“Pikiran kakak pasti lagi kalut banget, ya?”

Perempuan itu hanya tersenyum simpul, tak memberikan jawaban.

“Tenang aja, Kak. Soal Jay, aku bakal coba bantu. Kakak nggak usah mikirin itu, dan semua yang terjadi juga bukan salah kakak.”

Bjir, bijak banget gue, batinnya, diam-diam bangga pada diri sendiri.

“Makasih, ya…”

“Sian. Nama aku Sian,” katanya sembari mengulurkan tangan.

Perempuan itu menyambut uluran tangannya. “Makasih, Sian.”

...[...]...

#•• masa lalu

••• masa sekarang

1
tak tahu
jadi laki emang harus gentle
tak tahu
baju hitam gak buat cuma berduka aja kali🙄
Yavarnie: nahh bener tuh
total 1 replies
tak tahu
keren2 kak
Yavarnie: makasih banyakkk
total 1 replies
Yavarnie
INI ADA YANG BACA NGGAK SIH?
SAY HI, DONGGG
Yavarnie: huhu thank you udah bacaa
total 2 replies
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga ya di novel baruku😁
senjani jingga: terimakasihhh❤️❤️
total 2 replies
Yavarnie
aneh, ya, datang ke gereja bukannya ibadah, malah buat nemuin seseorang wkwk
tak tahu: si jay emang aneh2 ja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!