NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 - PECAHNYA TITIK NADIR

Ledakan itu menghantam gendang telinga dengan kekuatan brutal, mengirimkan gelombang kejut panas yang merenggut napas dari paru-paru.

Badan mobil lapis baja Varell terangkat dari aspal sebelum akhirnya menghantam tanah dengan suara logam yang berkeriut mengerikan, terbakar hebat dalam kobaran api oranye yang melahap malam. Di atas aspal basah yang dipenuhi genangan air hujan, aku terbaring di bawah lindungan tubuh Adrian. Pria itu menindihku rapat, menjadikan punggung dan bahunya sebagai perisai dari serpihan besi membara serta pecahan kaca yang berhamburan ke segala arah.

Aroma bahan bakar yang terbakar dan bau mesiu langsung memenuhi rongga hidung. Kulit leher Adrian bergesekan dengan pipiku; napasnya yang berat dan teratur berhembus panas di dekat telingaku, sementara sebelah tangannya masih erat mencengkeram bahuku untuk memastikan tidak ada serpihan tajam yang menembus mantelku.

"Kau terluka?" suara bariton Adrian bergetar rendah di dekat kepalaku, penuh desakan mendesak yang disembunyikan di balik nada dinginnya.

Aku menggeleng lemah, jemariku mencengkeram erat kerah jas kemejanya yang basah oleh keringat dan air hujan. "Tidak... aku baik-baik saja."

Sebelum Adrian sempat bangkit, deru tembakan membabi buta kembali merobek udara. Bastian dan operator Varell yang tersisa langsung merespons dari balik reruntuhan dinding beton, membalas tembakan ke arah sudut-sudut gelap tempat bayangan anak buah Darmawan mulai merangsek maju menembus asap tebal.

Adrian mengangkat tubuhnya setengah, menarikku agar ikut merangkak ke balik reruntuhan dinding pos satpam yang tersisa di tepi gang. Gerakannya cepat, terukur, dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah tengah jalan, tempat Darmawan berdiri tadi.

Namun, di balik kepulan asap hitam yang membumbung tinggi, sosok berpayung hitam itu telah raib tanpa jejak, menyisakan kekosongan yang terasa begitu mengejek.

"Dia sengaja melempar umpan untuk memancing kita keluar dari bunker," geram Adrian dingin, rahangnya mengetat keras hingga otot di pipinya menonjol. Ia melirik sekilas ke arah lenganku yang tergores pecahan aspal. "Jangan lepaskan pandanganmu dariku sedetik pun."

Bastian berlari setengah jongkok mendekati posisi kami, napasnya memburu dengan magasin kosong di tangan. "Tuan Besar, jalur evakuasi darurat via darat sudah sepenuhnya diblokade. Kendaraan cadangan kita hancur total. Kita terjepit di sektor ini."

Aku menarik napas dalam-dalam, menepis sisa getaran di ujung jemariku, lalu menegakkan tubuh di balik dinding pelindung. Peringatan terakhir yang diucapkan Darmawan sebelum pemicu bom ditekan masih berputar liar di dalam kepalaku—tentang Edward Arlena, ayah angkat yang selama ini kusebut pelindung, ternyata menempatkanku sebagai bagian dari bidak catur mereka.

Edward sengaja membiarkanmu hidup sebagai umpan...

Kata-kata itu menghantam logikaku lebih keras daripada hantaman ledakan barusan. Jika Edward sejak awal mengetahui peran busuk itu, maka brankas rahasia di rumah lama Menteng, seluruh dokumen kepemilikan saham Arlena Holding, bahkan kematian Ethan di masa lalu... semuanya memiliki arti yang jauh lebih gelap dari sekadar perebutan harta keluarga.

"Kita tidak akan mundur," kataku dengan suara dingin yang memotong kepanikan di udara.

Adrian menoleh, menatapku lekat-lekat. Tidak ada keraguan di manik matanya yang kelam; yang ada hanyalah persetujuan bisu dari seorang pria yang siap membakar dunia demi berdiri di sisi wanita pilihannya. "Apa yang ada di kepalamu, Nadia?"

"Rumah lama keluarga Arlena di Menteng," kataku tajam, menatap lurus ke mata Adrian. "Darmawan tidak mungkin meninggalkan jejak tanpa alasan. Dokumen asli tentang perjanjian pendirian sindikat sembilan belas tahun lalu tidak disimpan di Kastel Nice. Dokumen itu ada di ruang kerja pribadi Edward.

Adrian mengangguk singkat. Ia memberi isyarat tangan kepada Bastian tanpa mengalihkan pandangannya dariku. "Kumpulkan unit cadangan taktis terdekat. Kita ubah arah perburuan."

Empat puluh menit kemudian, bayangan mobil van utilitas hitam milik Varell berhenti tanpa suara di depan gerbang besi tempa rumah tua keluarga Arlena di kawasan Menteng.

Rumah kolonial berlantai dua itu tampak gelap gulita, dikelilingi pohon-pohon tua berukuran besar yang menutupi pencahayaan lampu jalan. Tidak ada penjagaan ketat di luar; tempat itu sengaja dibiarkan kosong seolah mengundang siapa saja untuk masuk ke dalam perangkap yang telah disiapkan.

Kami melangkah turun dari kendaraan dengan senjata siap di tangan. Bastian membuka pintu utama dengan kode bypass digital yang bekerja dalam senyap.

Begitu pintu terbuka, aroma debu tebal, kayu tua, dan bau samar lilin lebah langsung menyambut kami. Di dalam ruang tamu utama, lampu gantung kristal antik dibiarkan menyala remang-remang, memantulkan bayangan panjang di atas lantai marmer yang mengkilap.

"Periksa setiap sudut. Jangan sentuh apa pun sebelum saya berikan aba-aba," titah Adrian kepada dua operator di belakangnya.

Aku berjalan melangkah melewati ruang tamu menuju ruang kerja pribadi Edward Arlena di ujung koridor lantai dasar. Pintu kayu jati berukir itu setengah terbuka, menampilkan meja kerja mahoni besar di tengah ruangan yang diterangi oleh sebatang lilin menyala di atas piring perak.

Seseorang baru saja berada di sini. Lilin itu masih meleleh hangat.

Aku melangkah masuk, jemariku meraba permukaan meja kerja yang dingin. Di atas meja tersebut, tergeletak sebuah kotak kayu mahoni kecil berukir inisial EA—Edward Arlena. Di sebelah kotak itu, sebuah laptop lama tertutup rapat dengan sebuah amplop putih bersih di atasnya, bertuliskan namaku dengan tinta hitam yang rapi: Nadia Arlena.

Adrian menyusul masuk ke dalam ruangan, berdiri tepat di belakang bahuku dengan siaga penuh, sementara matanya mengawasi jendela besar yang menghadap ke halaman belakang.

"Jangan dibuka sendiri," cegah Adrian pelan, tangannya menahan pergelangan tanganku yang hendak merobek amplop tersebut.

"Aku harus tahu, Adrian," kataku lirih, menatap mata kelamnya dengan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Ini jawabannya."

Dengan gerakan perlahan, aku membuka amplop putih itu dan mengeluarkan selembar surat bertuliskan tangan. Baris-baris kalimat pertama langsung mencengkeram dadaku:

Nadia, jika kau membaca surat ini, artinya Darmawan telah memilih jalannya sendiri dan kau telah menemukan jalan kembali ke rumah yang salah. Maafkan aku karena tidak pernah memberitahumu kebenaran di malam kebakaran itu. Kau bukan diselamatkan dari mereka... kau diciptakan untuk menghancurkan mereka dari dalam.

Aku menahan napas. Tanganku bergetar hebat saat membaca paragraf berikutnya.

Kunci dari seluruh rahasia dewan bayangan tidak ada di Jakarta maupun di Paris. Dokumen kepemilikan saham utama Arlena Holding yang asli... disembunyikan di dalam brankas pribadi di bawah lantai kamar tidur ibumu di vila tua Puncak. Dan orang yang memegang kunci kombinasinya saat ini... adalah satu-satunya saksi hidup yang mengkhianati Helena malam itu.

Tepat saat kalimat terakhir kubaca, suara derap langkah kaki berat tiba-tiba terdengar berderap dari lantai atas rumah tua tersebut, disusul oleh suara ketukan pelan dari arah jendela kaca belakang yang menghadap ke taman gelap.

Adrian langsung menarikku ke belakang tubuhnya, mengangkat senjatanya tepat saat kaca jendela pecah berkeping-keping dan sebutir peluru tajam melesat menembus ruangan, menancap tepat di bingkai foto mendiang Edward Arlena di dinding.

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!