NovelToon NovelToon
Kau Milikku! Saudara Tiriku

Kau Milikku! Saudara Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / BXB
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: zean amora

sebuah kisah dua orang asing yang ditakdirkan menjadi keluarga. tanpa tau bahwa pertemuan mereka akan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zean amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 30

"Zean" Arine berteriak dari kejauhan.

"kalian mau kemana? " tanya Arine. Faris kemudian menjawab jika ia akan membawa Zean pulang. karena kondisi tidak memungkinkan. satu satunya cara yaitu mengamankannya. jika tidak, wartawan itu nantinya akan menekan Zean kembali.

Emmhmm gitu.. jawab Arine. ia mendekat dengan mereka dan mencoba beriringan.

"Aku ikut membawa Zean deh. " ucap Arine.

🙄alasan, gumam Faris.

"Huh? apaaa!? "

hehe, ga ada kok😁

merekapun pulang dengan Zean ditutupi jaket.

...

Mereka hampir sampai di rumah ketika langkah Zean tiba-tiba melambat.

Dari kejauhan, ia melihat beberapa mobil terparkir di depan rumahnya.

"Zean siapa mereka? " tanya Arine

Faris ikut menoleh. Dahinya mengernyit saat melihat beberapa orang berdiri di halaman rumah, sementara beberapa lainnya tampak sedang mengeluarkan barang-barang dari dalam.

Zean terkejut. sekarang apalagi?

Zean berlari dan diikuti oleh 2 temannya itu.

"Ayoo, cepat.. " ucap orang itu.

"tunggu. siapa kalian? apa yang sedang kalian lakukan? " tanya Zean.

mereka kemudian menoleh, hanya sekejab. setelah ketua mereka menyuruh melanjutkan pekerjaannya.

"Hey! kalian ga denger huh? berhenti" Ucap Faris sedikit berteriak.

"Zean, barang barangmu.. " Arine melihat pakaian dan barang miliknya dikeluarkan.

"Apa yang kalian lakukan huh? " Zean berjalan dan merampas barang barangnya.

"Nak. mundurlah, rumah ini akan dirobohkan" ucap salah satu pekerja disana.

'dirobohkan? ' batin Zean tak percaya.

"Apa hak kalian melakukan itu. ini rumahku. atas izin siapa kalian ingin merobohkannya" ucap Zean.

Seorang pria yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sana akhirnya menghampiri mereka. Berbeda dari para pekerja, pria itu mengenakan jas hitam dan membawa sebuah map tebal di tangannya.

"Karena tanah ini bukan milikmu." ucapnya.

Zean terdiam.

'Apa?'

Pria itu membuka mapnya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

Zean membuka lembaran lembaran itu diikuti 2 temannya. Zean tak paham bagaimana cara membacanya. Arine kemudian menjelaskan nya. ia tau karena kebetulan mamanya kan punya toko.

"Tanah ini merupakan tanah yang sebelumnya berada di bawah penguasaan pemerintah. Kami sudah memperoleh hak atas tanah tersebut melalui proses yang sah untuk pembangunan disini" ucapnya

"Pembangunan Cafe nak" lanjutnya..

Zean menggeleng pelan.

"Ga. rumah ini sudah ditempati keluargaku selama bertahun-tahun. "

"ya, saya tahu itu. "

"Kalau begitu, kalian tidak bisa begitu saja mengusirku!"

Pria itu menatapnya dengan tenang.

"Bisa, jika kamu tidak memiliki bukti kepemilikan yang sah."

Zean terdiam.

"Mana sertifikat tanah atas nama ayahmu?"

Zean tidak menjawab.

"Surat hak milik? Dokumen pengalihan? Bukti bahwa tanah ini pernah diberikan secara sah kepada keluargamu?"

Tidak ada satu pun yang bisa Zean tunjukkan.

Selama ini, ia bahkan tidak pernah tahu dari mana sebenarnya rumah itu berasal. Yang ia tahu hanyalah rumah tersebut sudah menjadi tempat tinggal keluarganya sejak ia kecil.

"Rumah ini..." suara Zean melemah,

"bukan ilegal."

"Saya tidak mengatakan rumahnya ilegal ( Pria itu menutup mapnya)yang bermasalah adalah status tanahnya. Tidak ada bukti kepemilikan yang sah atas nama keluargamu."

Zean menatap rumahnya.

"Jadi kalian mau mengambilnya?" tanya Arine.

"Ya. Kami sudah memperoleh hak atas tanah ini. Dan bangunan yang berdiri di atasnya akan dibongkar untuk pembangunan proyek baru." jawabnya.

"Zean? " Faris menoleh ke arah Zean. seakan tau akan tatapan Faris, Zean menggeleng.

Arine yang melihat itu, ia menghampiri para pekerja itu yang sibuk mengeluarkan barang barang Zean.

"Hey pak! katakan pada pekerjamu untuk berhenti. Zean tidak akan pindah. pasti ada kesalahan di dokumen kalian itu" ucap Arine berusaha menghentikan mereka terus mengeluarkan barang barang Zean. tetangga Zean? mulai berdatangan..

Zean menatap barang-barangnya yang berserakan di halaman. Tangannya mengepal.

"Kalau aku tidak mau pergi?" tatap Zean tajam pada pria itu.

Pria itu menghela napas.

"Begini saja. Kalau kamu merasa memiliki hak atas rumah ini, buktikan secara hukum."

Zean terdiam.

ia tak tahu harus bagaimana. ia benar benar tertekan. ia melihat teman temannya yang berusaha menghentikan pekerja itu, membuat adanya sesak. kenapa ia selalu menyulitkan mereka.

belum sempat pria itu melanjutkan, Zean berjalan dan ikut menahan pekerja itu.

"Nak. minggirlah. kami tidak punya waktu meladeni kalian" ucap pekerja itu, mulai kesal. pekerjaan mereka diganggu.

"Ga. kalian gabisa mengambil rumah ini"

'Aku ga bakal biarin mereka rampas rumah ini. rumah ini satu satunya kenangan yang tersisa dari ayah'

"Sudah dibilang minggir!"

Pekerja itu kembali mencoba mengambil barang yang berada di dekat Zean.

"Nggak!"

Zean menahannya.

Karena kesal, pekerja itu akhirnya mendorong Zean hingga tubuhnya terjatuh.

"Zean!” Arine segera menghampirinya.

Faris ikut maju.

"Hei! Jan main kasar dong" ucap Faris tak Terima. tapi dihentikan oleh Arine. ia takut Faris memukulnya.

Suasana semakin memanas.

Namun, sebelum mereka sempat melakukan apa pun, terdengar suara seorang wanita dari arah belakang.

"Apa yang terjadi disini? " ucap seseorang.

Semua orang terdiam.

Zean perlahan menoleh.

Seorang wanita dengan stelan mahalnya berdiri beberapa meter dari mereka. Tatapannya langsung tertuju pada Zean yang duduk di tanah.

kemudian ia beralih kepada para pekerja yang memenuhi halaman rumah.

Zean terkejut melihat sosok itu.

itu Clara.

Clara mengepalkan tangannya melihat putranya itu dibuat duduk penuh abu dibawah sana.

"Apa yang kalian lakukan di rumah putra saya?"

Pria berjas yang sejak tadi memimpin para pekerja maju beberapa langkah.

"Kami sudah menjelaskan kepada putra anda bu. Tanah ini telah kami peroleh secara sah dan akan digunakan untuk pembangunan cafe. Rumah yang berdiri di atasnya harus dikosongkan." jelas pria itu.

"Kami memiliki dokumen yang mendukung hak kami atas tanah ini."

Clara terdiam sejenak.

"Kalau begitu, kita buktikan."

Pria itu mengerutkan kening.

"Maksud Ibu?"

"Besok saya akan datang bersama pengacara."

Zean menatap Clara tak percaya.

Clara kembali menatap pria itu.

"Saya tidak mengatakan tanah ini milik kami. Saya juga tidak akan mengklaim sesuatu yang tidak bisa kami buktikan.Tapi selama belum ada penyelesaian yang jelas, kalian tidak bisa memperlakukan anak saya seperti tidak punya hak apa-apa."

mereka saling menatap satu sama lain.

Pria itu menarik napas panjang. Dan, mengatakan..

"Baiklah. Akan kami berikan kesempatan. Kami akan kembali besok. Dan siapkan bukti penguat untk menyakinkan kami" ucap pria itu. entah kenapa, aura Clara sesak dan menekannya. ditambah penampilannya, sepertinya ia bukan orang sembarangan.

"Silakan. Bawa semua dokumen yang kalian miliki. Saya juga akan membawa pengacara. Setelah itu, kita selesaikan semuanya secara hukum."

Pria itu mengangguk singkat.

Ia kemudian memberi isyarat kepada para pekerja.

"Berhenti. Kita pergi untuk sekarang" ucapnya.

Satu per satu para pekerja mulai menghentikan aktivitas mereka. Barang-barang Zean yang sudah dikeluarkan dibiarkan begitu saja di halaman.

tapi sebelum mereka pergi. Clara menghentikan mereka.

Clara menatap Zean yang masih dibantu Arine berdiri. Tatapannya kemudian beralih kepada para pekerja.

"Tunggu dulu,"ucapnya dingin.

"Saya ingin bertanya... siapa yang mendorong anak saya sampai terjatuh?" ucap nya dingin.

Tak ada yang menjawab. Clara mengedarkan pandangannya. Dan ia melihat salah satu pekerja disana yang berkeringat ketakutan.

Clara melangkah mendekati pekerja yang tadi mendorong Zean.

"Kamu?"

Pria itu terdiam, lalu mengangguk kecil.

"Bu, saya hanya—" Clara langsung memotong ucapannya.

"Saya tidak peduli apa alasannya,"

"Saya ingin kamu minta maaf pada putra saya. Kamu boleh menjalankan pekerjaanmu, tapi kamu tidak berhak mendorong anak saya."

Pria itu akhirnya menatap Zean. ia kemudian beralih menatap Clara. Clara benar-benar membuatnya tertekan.

"Maaf." ucapnya final.

Clara masih menatapnya beberapa detik mendekatinya, sebelum berkata,

"Tidak ada lain kali. ini yang terakhir. jika nanti saya melihat kamu kembali melakukan nya. bahkan tangan itu tak akan kuat menyentuh abu " ucapnya.

setelah itu, merekapun pergi.

Zean hanya berdiri diam.

Arine yang melihat itu, dia maju dan berterima kasih pada Clara.

"Iya bu. terima kasih sudah membantu Zean" lanjut Faris.

Clara tersenyum melihat teman teman putranya ini setia padanya.

"tidak masalah, Saya mamanya. sudah tugas saya melakukannya" ucapnya santai.

teman temannya sedikit terkejut, mereka sudah tau. tapi, mereka tak menyangka akan mendengarkan sendiri dari Clara.

Zean langsung mendongak mendengar hal itu. bisikan demi bisikan mulai terdengar, (tetangga Zean yang menonton tadi. belum pergi beb)

dalam sekejab, Clara menjadi dingin lagi. ia menatap tetangga Zean itu dingin.

"Dramanya sudah selesai ibu ibu. tidakkah kalian punya pekerjaan yang lebih penting daripada mengurusi urusan orang lain? " ucapnya. dan semenit kemudian, mereka bubar.

"terima kasih" kini Zean yang mengatakannya.

Clara kemudian mendekati Zean yang menatapnya. ia sangat prihatin dengan kondisi putranya ini.

"Huh.. apa kematiannya se menyakitkan itu hm? sampai kau berantakan seperti ini" ucap Clara. hal itu langsung mendapatkan tatapan kesal dan tak suka dari Zean.

Clara ingin mengusap mata Zean yang bengkak parah itu, tapi Zean langsung menepisnya.

"Setidaknya ia lebih baik dan benar benar berperan sebagai seorang ayah untk putranya. daripada orang lain yang berpura-pura melakukannya" ucap Zean.

Clara tersenyum dan bahkan sedikit tertawa.

Zean, Faris, dan Arine, terkejut melihatnya.

'apa mama Zean ini ada kelainan? ' batin Faris.

"apa maksud tawa ibu itu? " tanya Arine,.. setelah itu, Clara menghentikan tawa tipisnya itu.

dia mengikis jarak diantara dirinya dan Zean. kemudian berkata.

"Kau benar-benar berliannya mama Zean" ucapnya.

hanya satu kalimat, tapi mampu Zean pahami jika ia secara tak sengaja mengatakan bahwa Zean lebih dominan gen darinya.

ia hanya mengepalkan tangannya. tak berniat menjawab.....

....

kalau ada typo bilang yaa...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!