"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengatakan Yang Sebenarnya
Aku baru saja selesai mengantar Hamzah pulang. Tadi kami sempat ngopi bersama, bernostalgia tentang banyak hal, bahkan saling berbagi cerita.
Kuparkirkan mobilku di halaman pondok. Seperti biasa, suasana pondok masih ramai. Angin kali ini berembus cukup kencang. Udara sore terasa agak dingin, padahal matahari masih bersinar cerah.
Aku membuka pintu mobil, lalu memandang sekeliling pondok. Beberapa santri terlihat sedang piket dan melakukan berbagai kegiatan sore.
Aku berjalan menuju asrama.
Namun, langkahku terhenti ketika pandanganku tanpa sengaja tertuju ke halaman rumah Ustadz Syaiful.
Kulihat beberapa wanita yang kukenal berada di sana. Ada Hammad juga.
Iya, aku tidak salah lihat.
Itu Hammad.
Dan di sana… ada Aisyah.
Ah…
Seketika kepalaku terasa berdenyut. Jantungku pun berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang kembali mengusik pikiranku.
Aku harus berpikir cepat.
Aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan sekarang juga.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Aku harus segera menyampaikan semuanya kepada Aisyah.
Aisyah yang pertama kali kutemui dulu.
Aku membersihkan diri sebelum kemudian menghampiri rombongan dari pondoknya Umi. Setelah selesai bersih-bersih, aku mengabari Aisyah agar keluar sebentar.
Yah, aku akan menyelesaikan masalah ini sekarang.
Aku melangkah menuju rumah Ustadz Syaiful. Kulihat Aisyah sudah berdiri di depan gerbang sambil menggerak-gerakkan kakinya. Sepertinya dia gugup.
“Assalamu’alaikum,” sapaku.
“Wa’alaikumussalam,” jawabnya.
“Aku sebenarnya bingung mau mulai dari mana.”
Aku mulai berbicara. Dia hanya menunduk, masih terus menggerak-gerakkan kakinya.
Aku pun menarik napas panjang.
“Sebelumnya, aku minta maaf. Sungguh, aku minta maaf sebesar-besarnya.”
Dia kemudian mengangkat kepalanya. Ada rasa kecewa yang jelas terlihat di sana.
Yah, aku telah melukainya.
Lebih tepatnya, aku telah melukai hatinya.
Namun, karena semuanya sudah seperti ini, aku tidak boleh goyah. Aku harus menyelesaikannya.
“Maaf karena aku telah memberimu harapan palsu. Sebenarnya, semua ini bermula dari kesalahpahaman. Lebih tepatnya, aku yang salah paham,” jelasku.
Dia mengernyitkan dahi.
“Jadi, sebelumnya Ustadz Syaiful menawarkan ta’aruf dengan keponakan beliau, yaitu Aisyah. Beliau mengirimku ke pondok Umi untuk bisa mengenalnya. Tapi ternyata, yang kutemui adalah kamu. Seseorang yang memiliki nama yang sama.”
Aku berhenti sejenak.
“Sungguh, aku minta maaf.”
Dia mengangguk pelan. Bahkan tidak satu kata pun keluar dari mulutnya.
Mungkin dia tidak sanggup mengatakan apa-apa.
“Aku minta maaf,” ulangku lagi.
Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari mulutku sejak tadi.
“Baiklah. Ada yang mau disampaikan lagi?”
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah menjawab salam. Sejak tadi dia hanya diam.
“Tidak ada. Kalau dari Aisyah?” tanyaku.
Entah kenapa kalimat itu justru keluar dari mulutku.
Seharusnya aku tidak bertanya seperti itu.
Dia hanya menggeleng.
Kemudian dia pamit untuk masuk.
Aku masih berdiri di luar gerbang, memandang punggungnya yang perlahan menjauh.
Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dada.
Sepuluh menit kemudian, barulah aku masuk ke rumah Ustadz Syaiful.
Namun, entah kenapa, langkahku terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.
Aku mengetuk pintu sebelum masuk.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Suara Ustadz Syaiful terdengar dari dalam.
Aku melangkah masuk. Beberapa orang yang tadi kulihat masih berada di ruang tamu. Ada Ustadz Syaiful, istri beliau, Hammad, dan beberapa wanita dari pondok Umi. Mereka memang hendak menjenguk Ummu Aisyah.
Dan di antara mereka, ada dua Aisyah.
Aisyah yang baru saja kutemui tadi, dan Aisyah, keponakan Ustadz Syaiful yang memang sejak awal hendak dikenalkan kepadaku.
Suasana di ruang tamu terasa cukup hangat. Mereka sedang berbincang ringan, sesekali diselingi tawa kecil.
Aku memilih duduk di sisi ruangan yang agak jauh dari mereka.
“Dari mana, Alam?” tanya Ustadz Syaiful.
“Tadi mengantar Hamzah, Ustadz.”
“Oh, begitu.”
Beliau mengangguk. Percakapan pun kembali berlanjut.
Aku mencoba bersikap biasa. Namun, pikiranku masih tertinggal di depan gerbang tadi.
Wajah Aisyah.
Tatapan kecewanya.
Dan kalimat singkatnya.
Baiklah. Ada yang mau disampaikan lagi?
Aku menghela napas pelan.
Sesekali, kulirik ke arah Aisyah yang tadi kutemui.
Kulihat wajahnya masih tampak berat. Ada sesuatu yang jelas sedang ia sembunyikan. Namun, ia berusaha menutupinya dengan tetap ikut berbincang bersama yang lain.
Aku kembali menundukkan pandangan.
Entah kenapa, melihatnya berusaha tersenyum justru membuat rasa bersalahku semakin besar.
Aku tahu, mungkin permintaan maafku tidak cukup untuk menghapus kekecewaan yang telah kubuat.
Tak lama kemudian, azan Maghrib mulai terdengar dari masjid.
Percakapan pun perlahan berhenti.
Sebelum berpisah, kami bersama-sama mendoakan kesembuhan untuk Ummu Aisyah.
“Semoga Allah segera mengangkat sakit beliau dan memberikan kesembuhan yang sempurna,” ucap Ustadz Syaiful.
“Aamiin,” jawab kami hampir bersamaan.
Setelah itu, mereka pun berpamitan.
Satu per satu mereka keluar dari rumah Ustadz Syaiful.
Aku hanya diam memperhatikan.
Hingga akhirnya, yang tersisa di ruang tamu hanyalah aku dan beberapa orang dari keluarga Ustadz Syaiful.
Pandangan mataku kembali jatuh kepada Aisyah yang tadi kutemui.
Dia sempat menoleh ke arahku.
Pandangan kami bertemu.
Aku segera mengalihkan pandangan.
Entah kenapa, aku masih merasa bersalah.
Sangat bersalah.
Aku memang sudah mengatakan yang sebenarnya.
Namun, mengatakan kebenaran ternyata tidak selalu membuat hati menjadi lega.
Kadang, kebenaran justru meninggalkan luka pada seseorang yang sama sekali tidak berniat untuk terluka.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏