Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelombang Emosi dan Gerbang Harapan
Akhirnya bisa up lagi kemarin di sini ada gangguan jaringan lag parah beb susah mau update dan kebetulan author juga sibuk terima kasih yang masih sabar menunggu HAPPY READING GUYS
...masih belum bisa update gambar jaringan ga stabil ...
...----------------...
Lautan manusia kian memadati jalanan utama Kota A. Emosi massa yang tersulut bagai api menyambar bensin meletup-letup di udara. Mereka berjalan berbondong-bondong merangsek maju, menyerbu kediaman mewah milik Plumkin, sang Pemimpin Kota yang terbukti memakan uang suap darah dari bisnis haram Boni.
"TURUNKAN PLUMKIN!"
"TURUNKAN SEKARANG JUGA!"
Gema teriakan ribuan demonstran memekakkan telinga. Seorang pria di atas mobil komando terus melontarkan provokasi dengan pengeras suara, membakar amarah massa hingga mencapai puncaknya. "Saudara-saudara! Ayo kita runtuhkan kepemimpinan bajingan sialan itu hari ini!"
"Di mana Boni?! Serahkan Boni pada kami!"
Tiba-tiba, seorang pemuda dengan mata sembap merebut pengeras suara itu secara paksa. Dadamu naik-turun menahan kepedihan mendalam.
"Adik saya adalah salah satu korban penculikan siang bolong oleh orang-orang Boni! Plumkin, saya tahu kamu mendengar ini! Serahkan Boni kepada kami!" teriak pemuda itu histeris. Ia sangat yakin Boni kini tersembunyi berkat perlindungan sang Pemimpin Kota.
"BENAR! SERAHKAN BONI!"
"PLUMKIN SIALAN!"
PRANGGG!
Suara kaca jendela lantai dua rumah Plumkin pecah berkeping-keping. Lemparan batu pertama mendarat telak, disusul oleh batu-batu berikutnya karena Plumkin tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
"KELUAR KAU, PLUMKIN SIALAN!"
PRANG! PRANG!
Massa mulai brutal. Batu, kayu, dan botol kaca beterbangan menghancurkan fasad kediaman megah tersebut.
TRING! TRING! TRING!
Tiba-tiba, di tengah riuhnya amarah massa, denting notifikasi berdering serentak dari ribuan ponsel yang dipegang oleh para demonstran. Dua berita utama (hot news) meledak di jagat maya pada detik yang sama.
Berita pertama diunggah oleh akun anonim (Unknown). Unggahan itu memamerkan foto Boni yang sudah terkapar bersimbah darah, tak berdaya bagai bangkai, disertai caption tegas:
[ Seluruh korban penculikan kini berada di tempat yang aman. Keluarga Veradoux dan Keluarga Lauren telah turun tangan sepenuhnya. ]
Berita kedua datang dari unggahan akun @Liam. Sebuah video memperlihatkan kantor polisi utama Kota A yang sudah porak-poranda. Oknum-oknum polisi korup tampak babak belur dihakimi massa yang mengamuk, dengan caption:
[ Para polisi bajingan sudah ditaklukkan. ]
Suasana di lapangan seketika berubah riuh. Sebagian besar demonstran yang tadinya beralih brutal di rumah Plumkin kini merubah arah tujuan. Mereka bergerak menuju kediaman utama Keluarga Veradoux—keluarga penguasa yang kini memegang kendali penuh atas penyelamatan para korban.
"Kalian lanjutkan! Saya ingin mencari adik saya!" teriak pemuda yang memegang pengeras suara tadi. Ia melemparkan miknya lalu berlari kencang memotong kerumunan, mengekor rombongan yang bergerak ke markas Veradoux.
Di ruang kerjanya, Nicky Veradoux memukul meja kayunya hingga bergetar hebat. "Michel sialan! Kenapa harus diunggah sekarang?!" teriak Nicky geram.
Tok! Tok! Tok!
Wiliam melangkah masuk dengan raut tegang. "Tuan, ribuan orang mulai memadati area depan gerbang kediaman Veradoux. Mereka tidak berteriak atau merusak, mereka hanya berdiri berkumpul... tapi jumlahnya semakin lama semakin membendung."
"Tetap awasi secara ketat! Jangan sampai massa terpancing provokasi dan jadi kacau!" perintah Nicky tajam seraya kembali memfokuskan pandangannya pada layar laptop.
"Baik, Tuan," sahut Wiliam paham, lalu berbalik cepat.
"Michel... menyusahkan saja," gerutu Nicky gusar.
Tak ingin informasi yang setengah-setengah memicu kerusuhan baru, Nicky mengambil tindakan cepat. Jemarinya menari di atas keyboard, merilis daftar resmi seluruh korban yang berhasil diselamatkan dari lima lokasi markas Boni empat markas cadangan dan satu markas utama.
Detail data yang dipublikasikan Nicky luar biasa rinci:
...Bayi (usia 6 bulan ke atas): 50 anak (Laki-laki/Perempuan)...
...Balita: 40 anak (Laki-laki/Perempuan)...
...Anak-anak: 100 anak (Laki-laki/Perempuan)...
...Gadis Remaja (14–19 tahun): 70 orang...
...Pria Remaja (15–19 tahun): 30 orang...
...Wanita Muda (20–30 tahun): 50 orang...
...Pria Muda (20–30 tahun): 15 orang...
...Wanita Dewasa (35–45 tahun): 20 orang...
Total Keseluruhan Korban Selamat: 375 Orang.
Nicky melampirkan galeri foto wajah para korban satu per satu agar publik tidak berasumsi liar. Di akhir unggahan, ia menuliskan pesan resmi:
[ Untuk setiap keluarga yang kehilangan anak, saudara, atau orang tua: Ini adalah foto-foto korban yang berhasil kami selamatkan. Bagi keluarga yang ingin menjemput, harap membawa bukti foto beserta dokumen identitas korban secara lengkap. ]
Unggahan itu seketika memicu gelombang emosi haru di seluruh penjuru kota. Tangis kebahagiaan pecah di mana-mana bagi mereka yang menemukan wajah orang tercintanya di dalam daftar. Namun, tak sedikit pula tangisan histeris dari keluarga yang mendapati nama anggota keluarga mereka tak tertera di sana.
"I-itu adikku! Itu benar-benar adikku!" teriak pemuda tadi histeris saat melihat foto adiknya terpampang di layar ponsel. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju rumahnya untuk mengambil seluruh berkas dokumen yang diminta.
"Anakku... Anakku masih hidup! Ya Tuhan, terima kasih!" tangis seorang ibu pecah di tengah jalan. Wanita paruh baya itu berlutut bersyukur sebelum akhirnya terbirit-birit pulang untuk mengumpulkan kartu identitas sang anak.
Di depan gerbang besi kediaman Veradoux yang menjulang tinggi, Wiliam melangkah keluar menemui lautan massa yang menanti dalam kecemasan.
"Tolong berikan ruang, Teman-teman," ujar Wiliam dengan suara lantang namun tenang.
Luar biasa. Tidak ada bentrokan, tidak ada lemparan batu, dan tidak ada teriakan kemarahan. Seluruh massa berbaris rapi dan patuh, seolah mereka mengerti betul bahwa pria di hadapan mereka adalah perantara menuju keselamatan anggota keluarga mereka.
Seorang pemuda yang napasnya bersandungan berlari mendekati Wiliam seraya mendekap map tebal. "Tuan! A-adik saya ada di daftar itu!"
"Kamu membawa identitas lengkapnya?" tanya Wiliam memastikan.
"Bawa! Saya bawa semuanya! Kartu keluarga, akta, foto, semuanya lengkap!" jawab pemuda itu mantap dengan mata berkaca-kaca.
Wiliam menatapnya sebentar lalu tersenyum tipis. Ia menggeser pintu gerbang besi yang tebal.
"Masuk," ujar Wiliam membukakan jalan menuju gerbang harapan bagi mereka.
Bersambung 🫰🏻🤗
semoga perbedaan kasta tidk jdi penghalang...